Becoming A Poor Princess

Becoming A Poor Princess
Momen haru yang berantakan



Peluh masih membasahi dahi lelaki yang telah benar-benar resmi memilikinya secara jiwa dan raga. Mata itu tertutup sempurna karena kelelahan. Beberapa helai surai peraknya menempel di dahi karena keringat yang belum kering.


Perlahan, Diana mengusap peluh milik suaminya. Bibirnya menarik senyum tipis lalu membubuhkan ciuman di hidung Ashlan. Kini, ia tak lagi menyimpan keraguan dan ketakutan apapun. Terlepas kemana garis takdir membawanya, ia telah siap untuk segala kemungkinan terburuk. Intinya berjuang. Ya, hanya itu yang harus dia lakukan demi mencegah takdir buruk. Andai pun segalanya tak mampu ia rubah, maka cukup dirinya saja yang berubah dan segala yang di sekitarnya akan mengikuti.


"Ada apa? Kenapa tidak tidur?" tanya pria yang matanya masih tertutup itu.


Diana menggeleng pelan. "Saya tidak mengantuk."


Ashlan tersenyum. Mata bernetra abu-abu itu akhirnya perlahan terbuka dan mengerjap beberapa saat. Yang dijumpainya pertama kali tentu wajah cantik sang istri yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.


"Apa Ratu masih kesakitan?"


Diana menggeleng kembali. Dagunya ia letakkan di lengan Ashlan sementara jari telunjuknya sibuk menggambar pola abstrak di dada bidang pria itu.


"Tidak. Hanya saja, memandangi wajah Yang Mulia jauh lebih menarik dibanding tidur," jawabnya dengan manja.


Ashlan tertawa lirih. Dan, hal itu semakin membuat Diana terpesona akan paras milik suaminya sendiri. Pada akhirnya, sejauh apapun dia mencoba menyangkal, namun kebenaran bahwa dia telah jatuh cinta kepada Ashlan tetap tak bisa dielakkan.


"Tidurlah, Ratu! Besok, kita harus pulang," bujuk Ashlan seraya menarik tangan sang istri agar melingkar di perutnya. Kepala wanita itu ia baringkan di lengannya. Satu kecupan hangat ia bubuhkan di pucuk kepala sang istri sebelum memejamkan kembali matanya.


"Selamat tidur," lirih Diana nyaris tak terdengar. Sedikit mendongak, ia merasa lega karena Ashlan sepertinya tak akan bermimpi buruk malam ini.


*


Kala pagi menyingsing, keduanya terbangun dan bersiap untuk kembali ke kerajaan Barat. Begitu semuanya telah siap, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari arah luar. Diana segera menyahut mempersilahkan masuk kala sang pelayan menyebutkan namanya.


"Yang Mulia Kaisar dan Putri sudah di tunggu di meja makan untuk sarapan." Begitu ucapan sang pelayan kepada mereka.


Diana mengangguk. Ia mempersilakan pelayan itu untuk pergi dan mengatakan akan menyusul beberapa saat lagi.


"Haruskah kita bergabung dengan mereka?" tanya Diana bimbang. Yang dia maksud mereka adalah Ayah, Bibi dan sepupunya. Mengingat hubungan mereka yang renggang, Diana rasanya begitu malas melihat wajah ketiga orang itu.


"Akan tidak sopan jika kita menolak undangan Kaisar Sean." Ashlan mendekat. Memegang kedua bahu sang istri seraya berusaha membujuk. "Beliau Ayah kandung Ratu. Tidakkah Ratu ingin merasakan bagaimana rasanya makan bersama Ayah kandung sendiri?"


Diana tertunduk sedih. Dari lubuk hati terdalam, Diana sebenarnya sangat ingin melakukan hal itu. Sarapan bersama Ayah, bercerita banyak hal, mengadukan banyak hal, juga mengeluhkan banyak hal. Ia berharap suatu saat nanti, dia dan Ayahnya bisa tertawa bersama. Bergurau bersama bahkan menangis bahagia bersama. Akan tetapi, akankah harapan itu terwujud suatu hari nanti? Bukankah 24 tahun sudah terlalu terlambat untuk memulai semua itu?


"Bagaimana jika kita tolak saja?" usul Diana gamang.


"Ini hari terakhir kita disini. Butuh waktu sebulan lagi, sampai kita kembali kemari. Apa Ratu tidak akan menyesal?"


Diana terdiam. Benar yang dikatakan suaminya. Butuh waktu sebulan lagi untuk kembali kemari. Lalu, haruskah ia melewatkan hari ini? Sebaiknya, tidak.


Sambil bergandengan dengan Ashlan, Diana menuju ke ruang makan. Sesampainya disana, ia sedikit terkejut karena khayalan dan ekspektasinya jauh berbanding terbalik.


Tidak ada Duchess Levrina dan Lady Verona di ruangan itu. Hanya ada seorang lelaki tua yang mencoba tersenyum lebar ke arahnya dengan canggung. Dekorasi dengan nuansa merah muda memenuhi ruangan. Bunga mawar berwarna senada juga tersebar indah di setiap pojok ruangan. Sementara, di atas meja makan tersedia aneka kue dengan model yang manis-manis. Lucu, menggemaskan dan sontak membuat senyum geli muncul di wajah Diana.


"Apa ini?" tanya Diana dengan tatapan bingung sekaligus takjub.


"Apa kau suka?" tanya sang Ayah dengan wajah tegang. Takut, jika idenya ternyata tidak disukai oleh sang putri.


"Buahhahahahha..." Diana tertawa lebar saat mengintip isi gelas yang berada di atas meja. Segelas susu hangat.


"Memangnya, ada anak kecil di kerajaan ini? Ayah ingin memberi susu ini untuk siapa? Anak bayi?" tanyanya sambil menghapus jejak air mata karena terlalu keras tertawa.


Ayolah! Kenapa harus susu hangat? Kan, bisa menyediakan teh. Lagipula, mereka semua adalah orang dewasa. Apa tidak ada minuman yang jauh lebih mendukung untuk suasana mereka?


"Ayah menyiapkannya khusus untukmu," kata Kaisar Sean dengan wajah tertunduk.


Sontak, tawa Diana terhenti. Rasa tidak enak mendadak menghampiri. Astaga! Lihatlah raut wajah Ayahnya saat ini.


"Ayah akan minta pelayan untuk menggantinya jika kau tidak mau," ucap pria tua itu lesu.


"Tidak usah, aku suka susu hangat." Tidak tahu kenapa, Diana rasanya tak rela jika minuman itu di enyahkan setelah dia tahu bahwa Ayahnya menyiapkan itu khusus untuknya. Gelas susu tersebut dipegangnya erat sambil memberi isyarat kepada pelayan yang hendak mengambilnya untuk menjauh kembali.


"Benarkah?" Seketika, wajah Kaisar Sean kembali cerah. "Kalau begitu, duduklah! Kaisar Ashlan juga!" ucapnya mempersilahkan.


Diana dan Ashlan duduk berdekatan di sebelah kanan Kaisar Sean yang duduk di posisi kursi menghadap ke arah pintu. Meja panjang yang muat untuk 32 orang itu hanya diisi mereka bertiga. Sekitar 6 orang pelayan wanita tampak berdiri dengan wajah terus menunduk jauh di belakang Kaisar Sean. Bersiap, jika Raja-nya memerlukan sesuatu.


"Di, ingin coba kue ini?" Kaisar Sean berdiri. Sebuah kue berwarna cokelat ia perlihatkan kepada sang putri dengan antusias. "Dulu, kau sangat suka kue rasa ini," imbuhnya dengan wajah sumringah.


Deg!


Ada yang nyeri di hati Diana mendengar ucapan sang Ayah. Matanya mendadak memanas. Ada cairan bening yang menuntut untuk di keluarkan akibat ucapan sang Ayah.


"Darimana Ayah tahu jika aku suka kue ini?" tanya Diana dengan suara serak ketika Kaisar Sean meletakkan sepotong kue itu di atas piringnya.


Kaisar Sean tersenyum getir. Lelaki tua itu mengusap matanya yang mulai memerah.


"Dari sejak kau kecil, Ayah selalu tahu apapun yang kau suka dan tidak kau suka. Termasuk bahwa kau alergi serbuk sari bunga Aster dan pernah demam sampai tak sadarkan diri karenanya saat kau berusia 8 tahun."


Nafas Diana tercekat. Matanya membola mendengar penuturan sang Ayah. Kilasan kenangan itu berputar dengan jelas dalam memorinya. Tentang Diana Emerald yang sesak nafas dan mengalami demam lalu jatuh tak sadarkan diri setelah menghirup bau bunga Aster yang bermekaran di halaman belakang tempatnya di asingkan. Kala itu, sebelum Diana benar-benar tak sadarkan diri, ia seperti melihat sang Ayah yang berlari kearahnya dengan cemas. Namun, ketika ia tersadar di keesokan harinya, para pelayan mengatakan bahwa Ayahnya tak pernah datang.


"Jadi, Ayah benar-benar datang saat itu?"


Kaisar Sean tak menjawab. Ia sibuk mengusap kedua matanya yang semakin memerah karena menahan tangis.


"Apa Ayah juga yang meminta agar bunga-bunga Aster dimusnahkan?"


Kaisar Sean tersenyum. "Izinkan Ayah menebus 24 tahunmu mulai saat ini, Anakku!"


Diana tak mampu mengucapkan apapun lagi. Ia mencoba untuk tak menangis namun ternyata tak semudah itu. Perasaan benci yang berusaha ia pupuk terhadap sang Ayah juga tiba-tiba menguap begitu saja. Ia bahkan bingung sendiri. Kenapa semuanya begitu cepat untuk ia lupakan? Segala sakit hati itu langsung sembuh kala sang Ayah berucap dengan lirih dan bergetar. Ternyata, sosok Ayah yang ia kira telah menelantarkannya selama ini ternyata tidak sungguh-sungguh membuangnya. Dalam diam, sang Ayah menjaganya dengan cara yang tak diketahuinya.


"Kenapa aku dan anakku tidak boleh masuk, hah? Aku ini ipar Yang Mulia. Kalian ingin dihukum penggal karena lancang mencegatku?"


Teriakan didepan pintu membuyarkan segala momen haru Ayah dan anak. Terlebih, ketika pintu itu di dobrak paksa dan menampilkan dua sosok wanita yang paling di benci Diana.


"Lancang kau, Levrina!" teriak Kaisar Sean penuh amarah ketika wanita itu dan anaknya melangkah masuk tanpa rasa canggung.