Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 9 : Apa yang Kamu Lihat



Sampai di mansion, dengan perasaan enggan Amora turun dari kereta. Setengah sadar dia kembali, meninjakkan kaki dengan mata yang dia usap sesekali.


"Terimakasih atas tumpangannya Yang Mulia," ucap Chandler menundukkan kepalanya tanda hormat.


"Tak masalah, saya akan kembali dan membicarakan hal ini dengan ayah," Jawab Theodor. "Saya harap kamu bisa menunggunya sampai saat itu Chandler," Lanjutnya.


"Saya harap itu tidak akan lama," ucap Chandler menanggapi.


Sesaat kereta itu pergi. Chandler langsung di sambut dengsn Barier juga Edelweis. "Kami senang kalian kembali dengan selamat," ucap Edelweis.


Amora seperti tak peduli, mungkin karena efek mengantuk. Sesaat Emma datang, membawa Amora ke kamarnya.


"Tuan Edelweis, ayah dimana?" Tanya Chandler sesaat setelah Emma pergi membawa Amora.


"Ada di ruang kerjanya, saya di sini atas permintaan Tuan Duke untuk menyambut Anda," Jelas Edelweis.


Chandler menganggukkan kepalanya paham. Dia bergegas pergi ke ruang kerja Duke Thedelso. Membuka pintunya dengan terburu-buru tanpa mengetuk.


"Ayah!"


"Chandler, sepeti nya sopan-santun kamu mulai hilang."


"Bukan itu masalah sekarang, tapi ini tentang Amora," jelas Chandler cepat membuat Duke Thedelso langsung menatap nya sinis.


"Ada apa?"


"Amora adalah sanit, tingkat pertama," ucapan itu lantas membuat Duke Thedelso terdiam. Dia tau jika orang yang memiliki spirit akan di ambil oleh gereja.


"Siapa saja yang tau."


"Pendeta, jamaat, saya, dan juga Theodor. Kemungkinan jika itu adalah spirit murni makanya Amora tak tau, saya meminta Theodor untuk bilang ke Yang Mulia," Jelas Chandler.


Keduanya sama-sama terdiam. Gereja memiliki sistemnya tersendiri, tidak ada yang bisa melarang tempat suci itu kecuali perintah dari raja. Bahkan Duke Thedelso harus merelakan Amora jika itu yang di inginkan oleh Gereja.


"Saya tak ingin kehilangan Amora, ayah lakukan sesuatu!" lanjut Chandler dengan nada yang meninggi.


"Sampai sekarang jangan biarkan Amora keluar kamar, jika ada sesuatu bisa katakan pada ayah," jelas Duke Thedelso mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Ayah akan ke mana?" tanya Chandler khawatir.


"Melakukan apa yang seharusnya ayah lakukan dari lama."


Setelah kejadian itu, Duke Thedelso pergi untuk beberapa waktu. Tidak ada orang lain di mansion, berbeda dengan Chandler yang khawatir Amora nampak biasa saja.


"Anda khawatir nona?" Tanya Emma melihat Amora yang tengah memandangi Chandler dari balkon kamarnya. Terlihat Chandler yang sangat giat berlatih beberapa waktu ini, bahkan dia tak sempat untuk bersantai dengannya.


"Tidak ada, hanya saja kakak nampak sibuk akhir-akhir ini, apakah akan terjadi sesuatu?" tanya Amora mulai menunjuk ke arah Chandler.


Kekehan pelan justru Emma lakukan, sedikit menuang teh yang sudah hampir habis pada gelas Amora. "Menjadi kesatria bukanlah tugas yang mudah, Tuan Chandler seperti itu agar dia bisa menjadi kesatria yang kuat sama seperti Tuan Duke."


"Anda tidak tau? Setelah Anda kembali dari gereja Tuan Duke langsung saja pergi, dia bilang akan pergi ke istana untuk hal penting," jelas Emma.


"Ayah juga selalu sibuk, ha...."


"Jika ini membuat Anda merasa tenang, sebentar lagi istirahat makan siang. Untuk kelas Tuan Chandler juga sepertinya sudah selesai, jika Anda mau Anda bisa pergi dan-"


"Ayo Emma! Kita harus selesai!"


Tanpa pikir panjang Amora langsung berlari ke arah tempat latihan Chandler. Dia melihat beberapa pengawal, Barrier, dan Chandler tentu saja. Terlihat napak tampan dengan wajah alus dan juga keringat di badannya.


'Aku memang tak pernah salah dalam memilih visual di novel ku,' batin Amora berbangga diri. "KAKAK-!" teriakan Amora membuat orang-orang yang ada di sana langsung melihat ke arah Amora.


Terlihat beberapa orang yang melihat kagum ke arah Amora, berlari dengan senyum manisnya. Lain hal dengan Chandler yany langsung paham dengan keaadan itu. Melihat semuanya dengan tatapan membunuh dan mengintimidasi.


"Kakak.... Ah... Capek, Kakak sudah selesai berlatih?" tanya Amora sembari terbata saat menghampiri Chandler.


"Sudah, saya akan berbesih dan berganti pakaian, tapi Amora kenapa kamu kemari?" tanya Chandler langsung memegangi tangan Amora, mengajak berjalan perlahan keluar dari arena latihan.


"Amora dengan kakak hari ini selesai latihan, jadi ayo main dengan Amora."


"Tidak bisa, saya ada kelas tambahan. Sekarang Amora, pergilah ke kamar dan belajar, bukankah ayah meminta mu untuk diam?" ucap Chandler.


Tanpa di rasa Amora mulai menghentikan langkah kakinya. Tatapannya ke bawah, dan mulai menangis.


Amora tau jika seorang yang memiliki spirit harus pergi ke geraja untuk menjadi Sanit. Pelayanan ke masyarakat adalah hal yang terpenting untuk menyalurkan kekuatan dari sang dewa. Entah itu benar atau tidak, itulah alur yang dirinya buat sebelumnya. Saat di Dunia nyata, belas kasihan terhadap Diana yang di pisahkan dari kedua orang tuanya membuat Chandler dan Theodor saling berebut untuk menyelamatkan Diana dalam belenggu gereja.


Hingga Chandler membuat keputusan untuk membunuh para pendeta. Pada akhirnya Diana memang terbebas dari belenggu gereja karena Chandler, tapi dia malah pergi ke pangkuan Theodor. Dengan alasan, Chandler adalah pembunuh yang tidak bisa Diana maafkan.


Derita tragis yang dia buat untuk kakaknya sendiri, tapi sekarang dia malah merasakannya. Serasa Chandler dan Duke Thedelso akan membiarkan orang gereja itu membawa nya.


"Amora, kenapa kamu ha-"


"Apakah kakak akan mengirin ku ke Gereja?" pertanyaan Amora menyela perkataan Chandler saat dia memanggilnya.


"Apa? Apa maksud mu?" tanya balik Chandler kebingungan.


"Kakak, dan ayah apakah kalian akan mengerahkan ku pada gereja?!" ucapan Amora kini meninggikan nadanya. Mengangkat kepala lantas menampakkan wajah yang basah karena air mata. "Jangan pikir saya tidak tau, jika anak yang memiliki spirit akan di bawa gereja untuk menjadi Sanit. Apakah kakak akan melakukan itu? Oleh sebab itu kakak tak mau bermain dengan Amora lagi, dan tidak menganggap Amora di sini?!"


Tangisan Amora kencang, sesekali doa mengusap wajahnya. Lain hal dengan Chandler yang kebingungan, pasalnya itu adalah rahasia. Selain orang-orang kerajaan, sebuah rahasia bahkan dia sembunyikan dari para pelayan. Entah sejak kapak Amora tahu, sampai menangis seperti itu.


"Darimana kamu tau? Apakah Emma-"


"Saya tau, saya memiliki spirit, saya bisa melihat masa depan. Sebuah hal buruk akan terjadi, para pendeta itu akan kemari dan kakak hanya akan diam? Amora tak ingin pergi...." rintihan Amora menjelaskan semuanya.


Itu lebih dari yang Chandler duga. Setiap spirit memiliki kekuatan nya masing-masing. Setau dia spirit emas kekuningan hanya memberikan kejayaan dan kemakmuran, tak bisa melihat ke masa depan.


"Jika benar, apa yang kamu lihat Amora!"