Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 10 : Dia Sang Agung.



"Jika benar, Apa yang kamu lihat Amora!" ucapan Chandler menggenggam pundak Amora kuat. Jujur saja dia ketakutan, jika adiknya memiliki spirit yang sangat kuat para pendeta benar-benar akan membawa Amora. "Jelaskan Amora, atau saya tak akan bisa melakukan sesuatu. Katakan, sejujurnya saya benar-benar ketakutan sekarang. Ayah tengah tidak ada, jika seperti itu saya yang harus menjagamu," lanjut Chandler dengan penjelasan panjang.


Amora tersentak sekaligus terkejut. Dia belum pernah melihat ekspresi itu dalam Chandler. Bahkan, visual Chandler adalah tenang dan diam meskipun sesekali berbuat hal yang sangat tidak bisa di maafkan.


Napas Chandler memburu, beberapa saat kemudian deru langkah kaki mulai menghampiri mereka. "Tuan! Tuan Chandler!" teriak Barrier saat dirinya masih jauh dengan Chandler ataupun Amora.


"Maaf atas Kelancangan saya, tapi... Para pendeta sudah ada di gerbang," penjelasan singkat Barrier langsung membuat Chandler membuka mata. Dia melihat ke arah Amora yang masih diam mengusap tangisan. Di sisi lain, dia mendengar jika para pendeta sudah datang.


"Cepat kirim surat ke kerajaan, minta para pengawal untuk tidak membiarkan mereka masuk."


Ucapan cepat Chandler, menarik tangan Amora lantas membawanya ke kamar. Kamar milik Chandler, mendudukkan Amora di ranjang lantas dia berdiri dengan napas tersenggal.


Amora sadar, para pendeta itu sudah datang. Tanganya gemetar, perasaan dan hawa yang tak bisa dia tahan sebelumnya. 'Aku tak menyangka akan seperti ini, alur gelap apa yang sudah aku buat!!!!' gerutu Amora dalam batinnya sendiri.


Tangan dingin Amora tiba-tiba serasa hangat, saat ada Chandler yang memeganginya. Senyuman hangat, sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu saat Chandler cemas.


"Kamu takut? Sama saya juga, apalagi yang datang adalah para petinggi gereja. Mereka memiliki spirit yang kuat agar bisa membawamu, tapi percayalah kakak tak akan membiarkan itu," ucap Chandler. Seketika tangan Amora di cium singkat oleh Chandler, "Dengar, kamu berpikir jika saya menjauhi kamu Amora? saya ingin memperkuat diri agar bisa melindungimu. Bahkam ayah tak mampu melakukan itu, makanya dia pergi ke kerajaan untuk merencanakan undang-undang baru, karena tidak ada yang bisa melawan gereja kecuali kerajaan. Begitulah janji sihirnya," lanjutnya.


Tentu saja Amora yang kecil itu paham apa yang Chandler jelaskan. Dahulu, tempat bernama Guineva sekarang bukanlah tempat yang nyaman untuk tinggal. Ada sistem kerajaan yang padat dan penuh otorotas, dan juga kekuatan gereja yang sama-sama kuat. pertempuran spirit dari gereja, dan sihir yang di miliki kerajaan membuat kerajaan ini adalah padang kematian. Hingga sebuah keajaiban, sang dewa murka dengan kekuatan yang mereka punya. Menarik semua spirit dari keturunan gereja, dan kekuatan sihir dari kerajaan. Hanya beberapa orang yang di percaya dewa untuk memiliki spirit, sedangkan hanya orang yang berhati teguh dari kerajaan yang akan mendapatkan kekuatan. Sebuah cerita singkat dari berdirinya kerajaan.


Saat dua kekuatan sama-sama memiliki keterbatasan dalam menggunakan kekuatan mereka. Mereka sama-sama membuat perjanjian yang di ikrar atas nama dewa.


Helaan napas Amora, tak berpikir jika dirinya akan memiliki spirit juga. Melihat ke arah Chandler yang terus memegangi tangannya.


Tiba-tiba ketukan pintu kamar Chandler, mereka tau jika itu adalah para pendeta. "Kami datang dengan damai hanya ingin mengambil apa yang seharusnya milik kami," ucapan salah satu dari mereka.


Tak ada balasan apapun dari Chandler. Sebelah tanganya sudah bersiap, sebelah lagi ada untuk menjaga Amora. "Kaka sadar kaka tak akan menang bukan?" tanya Amora seketika membuat Chandler membalikkan kepalanya.


"Katanya dewa akan memberikan kekuatan untuk hati yang teguh. Jika keteguhan hati ini bisa melindungi kamu, saya harap dewa bisa merasakan itu," jelas Chandler.


Seketika mereka masuk. Aura yang benar-benar kuat. Yang datang bukanlah petinggi tapi benar-benar orang yang sangat di hormati. Pendeta Aldof.


"Pendeta Aldof, Anda sampai kemari. Apakah adikku benar-benar se istimewa itu?" tanya Chandler masih menodongkan pegang ke arahnya.


"Saya dengar Nona Amora memulai spirit Kuning, hal yang sangat langka, saya benar-benar ingin menjaga dia. Titipan dari dewa harus di rawat dengan benar," ucap Pendeta Aldof.


"Kami pikir kami sudah menjaganya dengan benar, lihat? Anda sendiri yang membuat Amora ketakutan."


"Mungkin todongan senjata itu yang membuat Nona Amora ketakutan."


"KAKAK-!"


"Jangan mendekat! Efek ini... Mungkin akan menyebar," ucapan Chandler terbata memegangi dadanya yang mulai sesak.


"Tenang saja, kekuatan spirit itu tak akan menyakiti penggunaan spirit yang lain."


"CUKUP! Saya bilang cukup!" teriakan Amora membuat Pendeta Aldof langsung melihat sinis ke arahnya. "Kekuatan spirit bukan untuk merampas sesuatu, harusnya itu untuk melindungi sesuatu," lanjutnya.


"Nona Amora, kamu tau bukan jika yang memiliki spirit adalah bagian dari gereja, Anda adalah anak dari dewa pantas kami sanjung dalam tempat yang tepat."


"Menurut saya inilah tempat yang tepat."


Beberapa saat kemudian Amora mulai merasakan dirinya yang mulai kabur. Badannya serasa di bawa mendekat ke sana, antara ketakutan dengan kekuatan kecil Amora untuk menahannya. "Saya tidak ingin ikut dengan ka- AH-!!!" teriakan Amora saat sebuah pisau menyayat salah satu lengannya.


Darah menes dari sana, di sisi lain pendeta Aldof sudah mempersiapkan cermin di bawa luka untuk menadahi lukanya. Sebuah darah dari pengguna spirit, di tadahkan dalam cermin ajaib. Mengadakan perjanjian bahwa pengguna spirit itu akan mengabdi pada yang mengikat selama masa hidupnya.


"TIDAK! Saya tak mau!" ucapan Amora terus memberontak tak ingin memberikan darahnya untuk ikatan itu.


"Tenang saja, saya akan membantu Anda-"


Kekehan pelan tiba-tiba Amora lakukan, melihat sinis ke arah pendeta Aldof. "Kamu pikir siapa bisa membawa saya, saya menolaknya!"



Tiba-tiba Visual Amora berubah, dia yang semula nya menjadi anak kecil ngerubah. Wajahnya tak terlihat karena silauan cahaya kucing keemasan. Beberapa yang lainya terkejut dengan suara nyaring seperti anak kecil berubah seperti wanita dewasa.


Pendeta Aldof dan yang lainya terbungkam, melihat sosok yang ada di depan mereka. Tak lain, sebuah senyuman simpul jika bisa membangkitkan dia dari yang agung.


Berbeda dengan Chandler yang tau itu bukanlah hal yang baik. Saat spirit bisa merubah wujud asli, belum tentu Amora bisa mengendalikannya. Secara tidak langsung, spirit itu akan sepenuhnya menguasai Amora.


"Tidak... Amora... TIDAK!!!" teriakan Chandler dari jauh saat badannya masih tak bisa di gerakan. 'Apa tekadku belum kuat? Adikku dalam bahaya di sana, aku... aku tak ingin kehilangan adikku juga!!' Batib Chandler berteriak berusaha untuk bergerak.


Hingga perlahan Chandler bisa menggerakkan badannya. Berlari laju membawa pedang yang dia jatuhkan sebelumnya. "Jika kamu melakukan itu, kamu tak bisa kembali. AMORA!!!!"


...CRANK...