Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 20 : Pergi ke Akademi.



'Ya, mungkin untuk sekarang saya lebih suka minum teh dan bermain daripada harus memikirkan bagaimana orang dewasa memperlakukan pasangan mereka,' batin Chandler melihat hal itu.


Amora juga sama. Setelah dia balik dari penatu, Amora tak berbicara dengan Chandler. Merasakan kesalahan yang dia buat, Amora hanya bisa melihat nya langit-langit dengan tatapan kosong. Memikirkan hal itu kemudian, sembari membayangkan hal tidak-tidak pada mereka.


'Aku seperti pelacur, akhirnya hampir saja, bagaimana jika nanti kita berciuman,' batin Amora menerka-nerka.


Dia terus saja tidak fokus. Baik dalam kelas etika, ataupun kelas lainya. Amora selalu saja bengong, dan diam. Lantas membuat Emma khawatir.


'Akh!!! Apakah ini termasuk tindakan pedofilia! Meskipun aku dengan Chandler juga sama-sama masih di bawah umur, atau mungkin pelecehan anak di bawah umur?! Kira-kira berapa lama hukumannya!!!' batin Amora bergejolak dia mulai mengacak rambutnya sendiri bahkan berguling-guling di tempat tidur.


"Nona... Nona!" ucapan Emma meninggi di malam itu. "Maafkan saya, tapi Anda terlihat tak baik. Apakah Anda memiliki masalah dengan Tuan Duke kecil?" pertanyaan langsung Emma setelah Amora kembali dari lamunannya.


"Tidak, hanya saja... Saya pikir saya membuat kesalahan Emma, dan itu membuat kakak tidak mau bertemu dengan saya."


"Kesalahan?"


"Iya."


"Bayangkan ini, bagaimana jika Tuan Chandler juga merasakan hal yang sama?" pertanyaan yang keluar dari Emma justru membuat Amora terdiam.


Dia belum pernah memikirkan itu sebelumnya. Yang ada dalam pikiran Amora sekarang, adalah bagaimana dia bisa memperbaiki hubungan kembali.


Emma lantas menyibakkan selimut pada Amora sedikit membuatnya berdiri, lantas merapikan baju tidurnya. "Bagaimana jika sekarang Anda menemui Duke Muda? Dia akan pergi besok setau saya," ucapan Emma lantas membuat Amora membuka matanya.


"Kakak akan pergi ke akademi besok?!" tanya Amora.


"Heem, iya," jawaban Emma masih saja tenang.


Dengan terburu-buru Amora pergi ke ruang kerja Chandler. Dia mendengar dari Emma, pekerjaan Chandler semakin dia perbanyak, selain kelas yang akan bertemu dengan Amora. Dia melewatkan kelas ekonomi, etika, ataupun yang lain. Malah lebih banyak membaca di perpustakaan, atau berlatih pedang.


Awalnya Amora ragu, kaki kecilnya terhenti tepat di depan kamar Chandler. Di sisi lain, Emma bersembunyi menandakan jempol nya untuk memberikan semangat.


'Aku tak mungkin akan di penggal di sini 'kan?' batin Amora cemas meskipun masih menampilkan senyum Baik-baik saja.


Belum sempat Amora mengetuk pintunya, pintu itu terbuka seketika. Memperlihatkan Chandler sama-sama dengan wajah terkejut nya. "Kakak?" panggil Amora terkejut.


Setelah itu pembicaraan mereka berlanjut. Berbincang-bincang sedikit, membuat kesalahpahaman di antara mereka menjadi pudar. Chandler sedikit lega karena hubungan mereka setidaknya sudah membain, di lain sisi dia juga akan pergi. Melewatkan waktu yang akan dia habiskan, selama dia akan tinggal di asrama.


"Kakak, ini sudah malam, kakak ingin tidur bersama?" tanya Amora.


Lantas itu membuat Chandler membulatkan matanya. Dia seperti tak percaya. Di lain sisi, wajahnya memerah memikirkan hal yang tidak seharusnya. Akan tetapi, Chandler langsung menggelengkan kepalanya. Tidur bersama bagi seorang anak kecil adalah hal yang wajar. Mengingat umur mereka masih sangat belia.


"Ayo," jawaban Chandler mengulurkan tangannya.


Sampai mereka di kamar Amora. Terlibat Emma tersenyum simpul pada keduanya. Menundukkan kepala, lantas berbalik dan meninggalkan mereka.


"Saya juga, saya khawatir saya tak bisa melihat kamu lagi Amora dalam waktu yang lama," gumam Chandler menanggapi Amora.


Lain hal dengan itu, Amora terlihat sudah tertidur lelap. Chandler hanya bisa menghela napasnya, kekehan pelan lantas memainkan rambut Amora.


"Selamat tinggal, adikku sayang," ucapan itu terlontar dari bibir Chandler. Dia mulai mencium rambut panjang Amora. Bahkan merasakan aromanya.


Chandler seperti lega saat dia akan pergi ke asrama. Tidurnya benar-benar nyenyak, entah karena dia tidur dengan Amora atau pikirannya yang sudah tenang kembali.


Sayangnya, Chandler pergi sebelum Amora terbangun. Dirinya hanya bisa tersenyum, lantas mengecup dahinya.


"Kamu sungguh tak akan berpamitan dengan nona?" tanya Barier meyakinkan Chandler atas pilihannya.


"Ya, dia sangat lelap, saya tak tega untuk membangunkannya," jawaban Chandler seketika menaiki kereta kuda.


Silir Duke Thedelso berjalan, lantas masuk ke kereta kuda. Melihat Chandler yang sangat senang saat mereka akan pergi ke akademi. Berbeda di awal, saat Chandler memberontak tak ingin pergi.


"Kamu nampak senang hari ini," ucap Thedelso.


"Mungkin ya, mungkin juga tidak ayah. Saat kedewasaan ku nanti saya akan Kembali dimana saya juga melihat adik saya manis berganti menjadi wanita," ucapnya.


Kekehan pelan dari Thedelso, melihat ke arah Chandler. Dia mengusap kepalanya, lantas tersenyum hangat bagaikan orang tua.


"Kamu sangat mirip dengan ibumu Chandler," ucap Thedelso seketika membuat Chandler membulatkan matanya. "Ibumu pasti sangat bangga melihat kamu sekarang, bukankah dewa terlalu baik pada saya? Saat saya di berkahi oleh dua anak yang sama-sama berbakat seperti kamu dan Amora," lanjut nya.


Benar-benar ucapan yang hangat, dirinya seperti belum pernah mendengar itu. Duke Thedelso terkenal dingin dan tanpa ampun, sekarang malah dia menyeringai seperti bersyukur.


Di lain sisi Amora mulai terbangun. Dia sadar dengan Chandler yang sudah tidak ada di kamarnya. Seketika Amora mulai beranjak, dan mencari Chandler di sekitar mansion.


"Emma! Dimana kakak!" teriak Amora kuat.


"Tuan Muda sudah pergi ke akademi, dia bilang tak ingin membangunkan Nona karena Nona tertidur dengan pulas," jawaban Emma atas pertanyaan dari Amora.


Emma lantas membantu Amora untuk bersiap, sembari menunggu air untuk dirinya mandi. Mempersiapkan baju Amora, dan merapikan beberapa hal di kamarnya.


Amora tetap menampilkan wajah tak kecewa. Dirinya meringkuk, beberapa kali bergumam tanda tidak suka. "Setidaknya aku juga ingin mengantar kakak," gumam Amora dalam decakan amarahnya.


Emma yang melihat itu hanya bisa terkekeh pelan. Dirinya belum pernah melihat Amora marah. Biasanya Amora selalu mengiyakan semuanya, bahkan terkenal dengan orang yang sangat penurut. Beberapa orang bahkan menilai jika Amora itu lebih dewasa dari usianya. Melihat kelakuannya sekarang malah membuat Emma senang karena dia seperti anak-anak seusianya.


Amora melihat Emma. Kekehan serta senyuman pelan dia lakukan saat membereskan kamarnya. "Ada apa Emma?" tanya Amora masih terlihat wajah kesalnya.


"Tidak, tidak ada. Saya hanya jarang melihat Anda seperti ini, saya senang Anda seperti seorang anak pada umumnya," jelas Emma menampilkan senyuman tulusnya.


Dalam batin Amora, entah apa yang di pikirkan Emma. Amora melihat Emma dengan tatapan dingin juga datar. 'Apa yang selama ini di pikirkan orang-orang ini,' batin Amora.