
"Saya tidak dapat dua kamar, semuanya penuh. Katanya besok lusa ada festival pemberkatan jadi orang-orang dari banyak tempat ramai-ramai datang kemari," ucapan itu terus terngiang dari ucapan Chandler.
Amora duduk di depan jendela, tanpa sadar jika banyak orang yang benar-benar sibuk di luar sana. Ini adalah festival pemberkatan, sebuah festival yang sangat terkenal di tempat itu. Pendeta Cleo akan mengeluarkan tongkat sihir lalu mensucikan nya. Setelah itu air tempat bekas tingkat sihir di sucikan akan di alirkan di gereja. Orang-orang meminum air itu untuk kesembuhan ataupun mengabulkan keinginan.
Keajaiban itulah yang selalu Amora lihat. Asap biru muda akan benar terlihat lalu melakukan keajaiban.
"Amora, kenapa kamu hanya bediam?" tanya Chandler lantas duduk di depan Amora.
"Ini festival pemberkatan kakak, ini festival pemberkata," ucap Amora dengan wajahnya yang gembira. "Dulu ibu suka mengiringi musik untuk festival pemberkatan masa-masa yang indah," lanjut Amora.
"Kita akan kesana besok, lagipula festival nya lusa kita bisa pulang setelahnya," jawab Chandler.
"Kakak tau, saat festival pemberkatan Pendeta Cleo selalu mengeluarkan cahaya seperti spirit berwarna biru, mungkin aku bisa bertanya tentang Spirit yang aku punya setidaknya ini bisa berguna," jelas Amora.
Tatapan Chandler seperti tidak percaya. Dia memundurkan badannya lantas menggelengkan kepala kuat. "Tidak, kamu harus menjaga ini Amora. Tidak tau apa yang akan terjadi nanti jika orang-orang di sini tau jika kamu memiliki spirit, mungkin akan melakukan hal yang sama seperti daerah Duke!" ujar Chandler dengan kuat.
"Pendeta Cleo seperti sosok ayah bagi anak-anak di tempat ini kakak, dia tidak akan melakukan hal seperti itu," balas Amora. Tatapan Chandler masih saja tidak percaya. Dia memalingkan wajahnya tanda tidak setuju tanpa ucapan. Amora memegang tangan Chandler yang ada di depannya, sontak tatapan Chandler yang masih tidak percaya menatap Amora. "Lagipula jika terjadi sesuatu, Chandler Thedelso ada di sini dengan aku. Dia mendapatkan gelar Duke di usianya yang belia, juga melawan kekuatan Diana apa yang harus aku risaukan?" pertanyaan Amora sebagai lanjutan dari ucapannya.
"Itu adalah dua hal yang berbeda Amora, tolong paham!" ucapan Chandler menekankan ucapannya. "Jika di sana karena mereka tau tanpa sengaja, tapi sekarang?! Kamu ingin memberitahu mereka?!"
Pertanyaan Chandler membuat Amora terdiam. Dia tidak menyalahkan Chandler atas rada cemasnya. Lagipula Chandler hanya ingin Amora tetap aman. Di lain sisi Amora juga ingin bertanya pada Pendeta Cleo.
"Aku tau Amora kamu juga percaya pada pendeta di sini, apalagi mereka yang membantu mu selama ini, tapi mohon mengertilah," ucapan Chandler melemah berusaha untuk memohon pada Amora.
Tatapan itu membuat Amora bimbang. Amora mengangguk paham dengan ucapan Chandler. Mereka saling mengaitkan kelingking sebagai janji satu sama lain. Sekarang Amora benar-benar tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Pendeta Cleo karena janjinya.
Keesokan harinya, seperti jani Chandler sebelumnya jika mereka akan datang menemui Pendeta Cleo. Mereka menggunakan kereta kuda yang di sewa, melihat tempat itu benar-benar berubah semenjak terakhir kalo Amora pergi dari sana.
"Kamu kenikmatan pemandangannya?" tanya Chandler saat Amora benar-benar terdiam melihat keluar.
"Ini adalah tempat yang dulu aku tinggali? Ini berbeda dari yang aku pikirkan," jawaban Amora dengan senyuman senang.
Dia tidak bisa menyembunyikan lagi ekspresi serangnya. Benar-benar suasananya hati yang Amora pikir dia akan kehilangan itu sebelumnya. Semuanya menjadi lebih terlihat saat gereja sudah terlihat di depan Amora. Jingkrak kaki sesaat dia menaiki setiap anak tangga untuk masuk ke sana.
"Ayolah kakak, aku ingin kembali ke masa kecil lagi. Semuanya berubah kecuali gereja ini, Aku suka menari bahkan sebelum masuk ke gereja ini," ucapan Amora tanpa memperdulikan apa yang Chandler katakan.
Hingga mereka masuk ke sana. Sebuah nyanyian tanda mereka tengah berdoa. Chandler dan Amora duduk di paling belakang, melihat para anak muda yang tengah bernyanyi di depan mereka.
Beberapa saat kemudian mereka selesai. Amora merasa lega saat melihat jamaat yang mulai keluar dari gereja. Amora melihat di sana melihat seorang pria setengah baya yang mulai menghampiri anak-anak yang telah bernyanyi di sana.
Amora mulai berdiri, melangkahkan kaki untuk pergi menghampiri. Beberapa orang mulai mencegat Amora untuk tidak pergi lebih jauh lagi.
"Saya ada perlu dengan Pendeta Cleo," ucapan Amora lirih meminta untuk di izinkan pergi.
"Banyak orang yang membutuhkan Pendeta Cleo, apalagi besok adalah festival pemberkatan. Silahkan kembali lagi besok untuk menerima berkat," ucap salah seorang laki-laki yang mencegat Amora di sana.
Tanpa waktu yang lama Chandler menghampiri Amora. Dia langsung mengalihkan tangan mereka pada badan Amora. "Kami datang dari jauh dan tidak punya banyak waktu," jelas Chandler mulai kesal dengan salah satu laki-laki itu.
"Orang-orang memang datang dari jauh, banyak yang melakukan itu bukan hanya kamu!" ucapannya mulai dengan nada meninggi.
Chandler menjadi sedikit kesal apalagi dia adalah Duke. Geraman tangannya masih menjaga Amora dengan wajah kesal yang tak bisa dia sembunyikan. Lain hal dengan Amora, mencoba beberapa hal untuk membuat Pendeta Cleo menatapnya.
"PENDETA CLEO!" teriakan Amora seketika membuat banyak orang yang melihat ke arahnya. Itu adalah tindakan yang tidak sopan apalagi pendatang seperti mereka.
"Berani sekali kamu!"
"Gunakan akar kayu manis sebagai penawar racun makanan itu lebih ampuh daripada jahe yang di bakar lalu di tumbuk dengan halus," ucapan Amora cepat membuat orang di sana tambah terkejut melihat nya.
Itu adalah rumus yang Amora berikan sebagai hasil argumentasinya dengan pendeta Cleo. Saat tempat itu di landa oleh kelaparan banyak orang yang makan sembarangan. Mereka makan jamur beracun, atau bahkan makanan yang sudah terkontaminasi oleh tikus.
Itu adalah wabah keracunan yang berat bagi daerah itu. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat banyak orang gagal untuk mencari penawarannya. Hingga Pendeta Cleo mengusulkan jahe yang di sangrai lalu di tumbuk halus untuk mereka minum sebagai penawarannya.
Memang itu cukup ampuh dalam menanggulangi keracunan, tapi Amora tau jika ada cara yang lebih ampuh. Akar kayu manis, Amora tau karena dia sering keracunan makanan saat sendiri di apartemen nya. Amora sering telat makan, bahkan makanan nya sudah beberapa kadarluarsa. Akan tetapi, Amora sayang untuk membuangnya jadi dia makan selama itu masih enak di makan.
Hingga dokter yang selalu memeriksa Amora menyarankan untuk menggunakan kayu manis sebagai obat tradisional sebelum dia ke rumah sakit. Pelajaran yang dia bawa dari kehidupan sebelumnya berguna untuk menanggulangi keracunan. Hingga apa yang Amora lakukan menjadi hal yang orang-orang terapkan saat keracunan makanan.