
Stelah kejadian itu, Amora lebih banyak belajar tentang spirit. Dirinya harus kuat, setidaknya mempelajari untuk mempertahankan keluarganya sekarang. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Mungkin saja dia sudah mati karena satu hal yahg dia ingat adalah kematian dirinya sendiri.
Seminggu setelah kejadian itu, Chandler mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Akademi. Dia mulai menjahit pakaian khusus untuk pergi le akademi. Amora dengan senang hati menemaninya.
Terlihat para anak bangsawan yang akan pergi ke Akademi juga ada di sana. Beberapa adalah perempuan yang memandangi Chandler dengan kagum.
"Wah, apakah dia putra dari Duke Thedelso?" kata seorang anak bangsawan di tengah kerumunan.
"Benar, rambut putihnya benar-benar halus, saya tak menyangka bisa bertemu dengannya," timpal salah seorang yang lain.
"Lihat-lihat, badannya benar-benar berisi, padahal dia masih seumuran kita."
"Wajahnya juga tampan, Kira-kira siapa yang beruntung menikahi dia."
Percakapan para putri bangsawan yang terkagum-kagum dengan Chandler. Mereka tidak tau, jika Chandler hanyalah second male dari sebuah cerita. Kesempurnaan dia tentang wajah, badan, fisik, akademi, bahkan ilmu pedang semua itu sirna hanya karena dia bukanlah tokoh utama.
'Jadi seperti ini kehidupan pemeran sampingan, tanpa di lihat orang lain. Aku memang tidak terlalu menyoroti kehidupan Chandler dalam cerita, bahkan sekarang menjadi blankspot bagi ceritaku sendiri,' batin Amora bergumam melihat kekaguman mereka terhadap Chandler.
Sedikit perasaan bersalah pada Amora. Mungkin dia terlalu mengagungkan kisah cinta Diana dan juga Theodor. Tanpa melihat akibat dari apa yang dia tanggung, kehidupan tokoh sampingan bahkan bisa lebih berat daripada orang biasa di kehidupan novelnya.
"Em.. Permisi," panggil seseorang yang membuat Amora langsung terbangun dari lamunannya.
Seorang anak laki-laki yang sepertinya pemalu, menatap Amora dengan ragu. "Saya boleh duduk di sana?" tanya dia.
"Oh, Kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Duduklah," jawab Amora menanggapinya. Menepuk tempat kosong di sebelah nya.
"Terimakasih banyak," jawabnya.
Dengan gugup dia melangkah. Duduk di sebelah Amora, badannya terlihat sangat tegang membuat Amora tak sanggup untuk berbicara apa-apa.
"Apakah kamu akan menjahit untuk pergi ke Akademi?" tanya anak itu kembali.
"Tidak, yang sedang menjahit itu kakak saya," jawab Amora sembari menunjuk ke bilik dimana Chandler tengah di ukur untuk pembuatan bajunya.
"Saya juga, saya kemari untuk menenami kakak saya," jawabnya. "Ah-! Maaf atas ketidak sopanan saya, seharusnya saya mengenalkan diri saya dahulu. Nama saya adalah Tremy Schwarz, putra pertama dari keluarga Schwarz. Dan di sana, ada kakak saya putri pertama keluarga Schwarz," jelas Tremy.
Amora berdiam, bibirnya sedikit terbuka. Tak menyangka dia bakal bertemu dengan tokoh sampingan lain secepat ini. Bahkan Amora tak bisa memperkirakan sebelumnya, dia akan bertemu dengan Tremy Schwarz.
Tremy Schwarz adalah anak kedua dari keluarga Viscount Schwarz. keluarga yang di kenal dengan pembuatan alat perang seperti pedang dengan kualitas tinggi. Ringan, tapi kuat dan mematikan bahkan perlengkapan untuk prajurit istana di buatkan langsung dari keluarga ini.
Siapa sangka, anak yang pemalu ini akan menjadi tyrant di masa depan. Setelah Theodor naik takhta dia ingin melakukan pembersihan secara menyeluruh. Bahkan kelurga Marquez Schwarz turut merasakan pembersihan itu. Untuk itu Tremy melakukan pemberontakan, dan Chandler lah yang menyelesaikan pemberontakan.
'Apakah dia benar-benar Tremy Schwarz?' batin Amora melihat dengan seksama wajah dari Tremy. Tangan Amora tanpa sadar mulai memegangi wajah Tremy. Dirinya melihat sekilas, dari mulai pipi, mata, dan hidungnya. 'Terlihat dari mana pun akan tetap terlihat seperti Tremy, tapi apakah benar dia itu Tremy yang akan menjadi tyrant di masa depan?'
"Apa yang kamu lakukan dengan adik saya, nona?" ucap seorang perempuan dengan menapakkan kipas tepat di tangan Amora yang tengah memegangi wajah Tremy.
Terlihat seorang anak perempuan, seumuran Chandler. Dia memiliki wajah yang dingin, nampak terlihat dia cukup sombong.
"Saya bertanya, sopankah Anda seperti itu? Bisa lepaskan wajah adik saya?" ucapnya kembali.
'Adik?! Jangan-jangan dia adalah Amelia Schwarz!!!' mata Amora semakin membuka, terlihat jelas wajah terkejut darinya.
"Maaf, saya hanya penasaran dengan wajahnya," jawab Amora gugup memegangi gaunnya.
Keringat pertama mulai jatuh dari wajah Amora. Terlihat jelas tangannya kini basah, dengan genggaman tangan yang dia lakukan pada gaunya. Bagaimana tidak, saat dia bertemu dengan salah satu alasan kenapa dia bisa meninggal.
Amora ingat jelas, Amelia itu menyukai Chandler. Akan tetapi, Chandler tidak pernah menganggapnya, bahkan cenderung mengabaikannya. Dia sering menunjukkan rasa suka itu, dengan mentah Chandler menolaknya. Tanpa sadar sikap cemburu tanpa alasan dari Amora membuat rencana untuk meracuni Diana. Memang usaha itu gagal, apalagi kenyataan jika Diana adalah seorang sanit. Bukannya malah terkena tuduhan, dia malah melibahkan semuanya kepada Amora.
"Saya belum pernah melihat kamu, kamu bangsawan darimana?" tanya Amelia melihat Amora dengan tatapan rendah.
"Kakak, jangan seperti itu, dia bilang jika kakaknya ada di sini."
"Dia berani menyentuhmu, kamu itu anak laki-laki Tremy, jangan biarkan sembarangan orang menyentuhmu."
Benar-benar aura yang kuat, jelas sekali dia pemimpin dari kalangan kelas atas. Amora hanya diam, dia tak menyangka akan ada pertemuan seperti ini. Amora gugup, bibirnya seolah terkunci membuat Amora seperti orang aneh di sana.
"Apakah kamu tuli? Saya-"
"Maafkan saya, apakah adik saya membuat kesalahan?" ucapan dari seorang anak laki-laki yang membuat Amora tenang.
Terlihat jelas Chandler datang, membelakangi Amora dan tersenyum simpul ke arah Amelia. Tatapan dari Chandler memang terlihat ramah, tapi di balik itu terpancar aura gelap yang membuat jelas Amelia langsung diam.
"Ternyata itu Anda, maaf atas ketidak sopanan saya Tuan Chandler Thedelso," jawaban Amelia sembari membungkukkan badannya.
'Dia benar-benar hebat, bagaimana tidak dia masih saja tenang meskipun terlihat ketakutan,' batin Amora melihat dari balik tubuh Chandler.
"Tidak apa, apakah adik saya membuat kesalahan?"
"Tidak ada, hanya saja dia memegangi wajah adik saya. Anda tau, itu kurang sopan bagi para bangsawan."
"Dia masih kecil."
"Adik saya juga masih kecil, ngomong-ngomong Tuan Chandler, maaf atas ketidak sopanan saya tapi saya belum pernah melihat adik Anda sebelumnya, apakah dia benar-benar adik Anda?"
Chandler hanya diam, dia mulai menggenggam tangannya kuat. Terlihat Chandler cukup tak senang dengan Amaya, "Anda bukanlah bagian dari keluarga Thedelso, apakah kami harus memberitahu semuanya apa yang terjadi di sana?"
Setelah perdebatan itu Amora langsung menarik Chandler untuk pergi. Bukan karena Amelia yang membuat Amora takut, melainkan Tremy. Dia masih saja tersenyum menatap Amora. Meskipun terlihat lemah, dia seperti binatang. Mengintai musuh dan memakannya. Perasaan merinding bagi Amora, apalagi dia tak tau jelas masa kecil Tremy.
"Tremy."
"Ya?"
"Kamu menyukai dia?"
"Cukup, dia menarik."
"Bagaimana jika kita berganti rencana. Saya dekati kakaknya, jika dia tak suka kamu yang harus melakukannya. Kadang, wanita lebih mementingkan perasaan daripada logika."
"Saya paham, tentu saja Kakak."