Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTURE 45 : Badan tak Menyatu Dengan Jiwanya



"KAMU SIALAN! HARUSNYA AKU YANG MEMILIKI SPIRIT ITU BUKAN KAMU!" teriakan Diana langsung memenuhi ruangan itu dengan aura hitam muliknya. Dengan sigap Barier melindungi Amora tepat ada di depannya. "Kamu harus pergi ataupun mati! Karena kamu telah merusak alur yang sangat saya suka! AMORA!!!"


"Jika begitu lawan saya sekarang," ucapan dingin Amora tiba-tiba tercipta dari bibirnya.


Barier juga tak bisa melihat Amora karena kecepatan gerakannya. Sontak Amora langsung mengayunkan pedangnya, terlihat siluet cahaya yang memecahkan aura hitam yang ada di ruangan itu. Diana yang semula tak terlihat, kini terlihat jelas. Wajah panik tak bisa Diana sembunyikan lagi, apalagi saat melihat aura Amora yang lebih kuat dari nya.


"Kamu akan mati! KAMU AKAN MATI!" teriakan Diana langsung menghilang begitu saja.


Setelah kepergian Diana, Amora langsng kembali seperti semula. Napasnya memburu dengan tubuh yang gemetar. Pedang yang semula ada di tangannya juga menghilang. "Barier...." panggil Amora perlahan. "Tolong periksa apakah senjata yang aku simpan masih ada," lanjutnya.


Tanpa merubah posisi dirinya dengan membelakangi Barier. Amora menatap keluar jendela. Dia merasakan sakit yang begitu dalam di dalam tubuhnya. Ada sesuatu yang ingin keluar tapi dirinya tahan. Ingin Amora pingsan, tapi dia tahan.


Tak berselang lama Barier mulai melihat senjata Amora yant masih di nakasnya. "Ini masih ada, Nona senjata Anda masih ada," ucap Barier dengan nada senang.


Begitu pula dengan Amora, perasaannya lega saat tau Diana tak mengincar itu. Selain untuk senjata, setidaknya itu bisa menjaga Chandler dari pengaruh Diana. Entah kenapaa, pengaruh Diana masih saja bisa masuk ke kamar ini. Kamar dimana ada senjata suci.


"Syukurlah tidak apa-apa," ucap Amora membalikkan badannya. Terlihat jelas bibir Amora sudah penuh dengan darah. Tangannya gemetar dengan bercak merah. "Barier, saya ingin tidur sebentar," ucap Amora kembali.


Tanpa sadar dirinya luruh, tak kuat untuk menahan badannya lagi. Seketika itu juga Amora pingsan, melihat siluet Barier yang beranjak untuk menghampirinya. Perasaan hangat Amora rasakan, seperti pelukan seseorang. Itu membuat perasaan hangat bagi Amora, hingga seketika semuanya gelap.


Dengan sigap Chandler memeluk Amora. Dirinya merasa takut dan terkejut dengan apa yang terjadi. Chandler dari awal memang sudah menyadari jika Barier itu adalah Diana, apalagi dari gaya bicaranya. Itulah alasan kenapa dia mengajak Barier ke kamar Amora. Benar saja, ilusi Diana hilang dan membuat Chandler melihat Diana sebagai Diana bukan Barier.


Barier adalah orang yang tegas, saat dia memarahi Amora pasti Barier akan menahannya. Barier juga tak memiliki sikap sombong yang di tutur kan oleh Diana.


Chandler hanya ingin mengetahui apa yang di inginkan Diana. Diana menginginkan tubuhnya, sama seperti ayahnya dulu, sang raja, juga Theodor.


'Jika kamu menginginkan badanku silahkan saja, adalkan jangan Amora,' batin Chandler saat Diana akan menciumnya.


Sesaat semuanya berubah saat Amora dan Barier yang asli datang. Sebuah hal yang tak pernah Chandler lihat sebelumnya, Amora menggunakan pedang yang sangat bersinar. Dirinya bahkan tak bisa bergerak karena terkejut, apalagi saat melihat mata Amora. Bercahaya, seperti bukan manusia biasa.


"Kenapa kalian kemari," ucapan datar Chandler bertanya saat Barier juga masih terpaku menjaga jarak antara mereka.


"Saya mencari Anda, lalu bertemu dengan Nona Amora di perpustakaan saat itu Nona langsung berlari ke-"


"Apa yang kamu lakukan! Cepat panggilkan dokter, BARIER!" Selaan Chandler dengan bentakan yang sangat kuat.


Saat itu Barier langsung pergi tanpa berkata apapun lagi. Tanpa terasa tangisan Chandler dalam posisi memeluk Amora. "Saya mohon jangan kamu juga, kenapa semua orang yang aku sayang mempertaruhkan nyawa mereka? Ibu meninggal karena melahirkan ku, ayah juga bunuh diri karena tak ingin menyakiti keluarga ini. Jika kamu pergi, maka sia-sia apa yang selama ini saya lakukan, saya mohon bertahanlah... Amora...."


Pelukkan kuat Chandler dia tambahkan pada badan lemas Amora. Dengan sigap dia membawanya ke kasur, membasuh darah yang sudah penuh di wajah Amora sembari menunggu dokter yang datang.


Dokter tiba-tiba dengan terburu-buru, begitu pula dengan Barier. Tanpa kata Chandler langsung menjaga jarak agar membiarkan ruang untuk sang dokter.


"Tuan, pakaian Anda...."


"Ini darah Amora, kamu tak perlu khawatir Barier."


"Baiklah jika seperti itu Anda berganti pakaian dulu, saya yang akan menjaga."


"Bagaimana jika dia datang kembali?"


"Saya akan langsung menembaknya dengan senjata milik Amora ini. Saya bukanlah bangsawan, jikapun saya di tuduh karena percobaan membunuh anggota kerajaan itu tak masalah bagi saya," jelas panjang Barier mencoba untuk menenangkan Chandler.


Barier tau sikap peduli Chandler pada Amora, hanya saja rencana Theodor yang membuat sikap dingin pada adiknya. Sejujurnya Barier mulai tak mempercayai Theodor, bukan malah menjaga Amora, Amora justru lebih rentan di serang seperti sekarang. Tidak adanya Amora, Chandler akan di pengaruhi oleh Diana. Bersyukurlah ada senjata suci yang sudah di murnikan oleh Amora, itu membuat Chandler selalu sadar akan sihir Diana.


Beberapa saat berlaku, dokter masih belum selesai memeriksa Amora. Hingga helaan napas juga terlihat setelahnya.


"Apa-apaan itu!" teriak Chandler saat melihat dokter dengan wajah sedihnya. "Jangan jadi dokter jika kamu langsung menyerah!" teriaknya kembali.


"Sabar Chandler, dokter katakan apa yang terjadi?" tanya Barier mencoba untuk menengahi.


"Maaf Tuan Duke, hanya saja saya merasakan seperti badan dan jiwa Nona Amora sudah tak menyatu," ucap singkat dokter dengan nada takut.


Raut wajah terkejut Chandler saat dokter mengatakan hal itu. "MAKSUD KAMU APA!" teriak Chandler.


"Ma-Maaf Tuan Duke, tapi keadaan Nona Amora seperti jiwanya sudah tak ada, dia menyerah dengan keadaan dan tak ingin kembali ataupun melawan," lanjut ucap dokter terbata karena takut.


"Ini tak benar! Ini tak mungkin! Dia baik-baik saja beberapa waktu yang lalu!"


"Chandler, saya izin pergi ke rumah madam Schwarz, dia pasti tau apa yang terjadi. Ini bukan masalah fisik Amora, tapi spiritnya. Saya akan cepat," ucap Barier langsung pergi dari kamar itu meninggalkan dokter dan Chandler yang masih berharap di sana.


Chandler melihat dokter itu dengan garang, lain hal dengan dokter yang menundukkan kepalanya takut.


"Lakukan apa yang kamu bisa sekarang, setidaknya untuk memastikan Amora masih bernyawa," ucap Chandler tegas tapi dengan nada yang lebih pelan sekarang.


"Dia tak akan bisa melakukannya, karena ini bersangkutan dengan bakat Amora."