
Sudah sekitar seminggu Chandler diam pada Amora. Melihatnya dia tidak suka saat Amora ada di sekitar mereka. Amora merasa cemas tentang kehidupan dirinya sendiri. Jika nanti benar-benar kembali menuju novel aslinya maka Amora akan mati segera.
"Aku tidak mau mati," gumam Amora. Sesaat Airy binatang sihirnya datang dengan mengitari Amora.
"Anda memangggil saya?" tanya Airy sesaat melihat Amora dengan perasaan cemas yang sama.
Binatang sihir dengan pengendali sihir adalah satu kesatuan. Keduanya bisa saling merasakan emosi yang lainya, karena binatang sihir adalah hasil dari sebuah perjanjian antara keduanya. Saling melengkapi dan mengerti, bisa seperti teman bahkan sodara.
Sesaat tatapan Amora pada Airy tidak bisa di bendung lagi. Air matanya keluar, saat itulah Amora menceritakan yang sebenarnya. Siapa dia, dan ketakutan akan kematiannya sendiri.
"Anda adalah pencipta?!" tanya Airy yang terlihat tidak terlalu terkejut.
"Bukan, saya hanyalah penulis Airy," jawab Amora.
"Ya, Anda pencipta. Yang hanya membaca, di sebut sebagai pengelana. Setau saya Diana juga seorang pengelana," jelas Airy mencoba untuk memahami apa yang Amora katakan.
"Airy, bisakah kamu pergi ke rumah Tremy?"
"Anda ingin pergi dari mansion ini? Bagaimana dengan Tuan Chandler?"
"Tapi saya sendiri takut akan kematian Airy. Sampai saat itu saya akan mempersiapkan agar kakak baik-baik saja," jelas Amora.
Airy hanya menganggukkan kepalanya paham. Setelah itu dia berubah menjadi burung pipit kecil dan terbang. Saat ini Amora ada di kamar Chandler. Barier selalu memintanya untuk tidur di sana. Entah apa yang terjadi di kamarnya, tapi yang jelas dirinya harus kesana.
Perlahan Amora mengatupkan tangannya. Menutup mata lantas serius untuk berdo'a. "Isnin saya harap perjanjian kita masih berlaku, saya ingin memberikan berkat untuk semua orang yang saya sayangi. Berikanlah sedikit kekuatan agar aku bisa melindungi dari kejauhan," saat itulah terlihat jelas sebuah cahaya menyeruak dari tangan Amora.
Pemberkatan, saat itu Amora melakukannya di kamar Chandler. Dia menyiapkan ingin membersihkan tempat yang sekiranya Chandler akan sering di sana. Mulai dari kamarnya, hingga ruang kerja Duke.
Saat masuk di ruang kerja, melihat itu Amora sedikit teringat akan Thedelso. Awal masuk ke mansion dia sangat takut pada Thedelso, hingga dia merasakan kasih sayang seorang ayah yang sebenarnya membuat Amora sedikit merasa lega.
Perlahan Amora melakukan hal yang sama saat dia di kamar. Melihat semuanya tidak ada yang berubah, sekilaa angin bisik datang menyapu rambutnya.
'Amora, tolong aku~' suara lirih itu tiba membuat konsentrasi Amora buyar saat suara Airy menggema datang ke kepalanya. 'TAMAN!' batin Amora seolah tau dimana keberadaan Airy sekarang.
Napas Amora tersenggal berlari menuruni tangga dan melewati beberapa lorong mansion. Meskipun sudah beberapa kali meminta dengan pakaian yang lebih sederhana tetap saja gaun berat untuk Amora.
Perlahan dia membuka sepatunya, berlari dengan kaki telanjang itu lebih cepat daripada menggunakan sepatu yang memiliki tinggi. Amora mengangkat gaunnya berlari secepat yang dia bisa. Setelah taman Amora melihat sekitar. Keringatnya turun tidak bisa dia bendung dengan napas yang tersenggal melihat kanan kiri mencari burung Phoenix bewarna oranye menyala.
"Airy!" teriak Amora tidak melihat ataupun merasakan Airy datang. "Airy!!!" teriaknya kembali.
Seketika Amora melihatnya. Wadah tempat dimana burung hinggap untuk makan, di sanalah Airy sekarang. Bukan untuk sekadar minum ataupun makan, melainkan kematian Airy yang bisa Amora lihat.
"TIDAK! AIRY!" tetiak spontan Amora langsung memegangi tangan Chandler. "Jangan! Jangan Airy juga!" teriak Amora sembari terisak.
"Amora! Apa yang kamu lakukan! Pergilah!" saat itu kekuatan Chandler jauh dibandingkan Amora. Seketika tubuh Amora terpental langsung pada pilar lorong yang melewati taman.
Sekilas telinga Amora berdengung. Penglihatannya sedikit buram. Terlihat sekilas wajah Chandler yang menatap dirinya. "Berikan sedikit kekuatan, Isnin," gumam Amora meletakkan tangan di depannya. Seketika lingkaran cahaya tercipta mengeluarkan medan yang membuat Chandler maupun Barier yang ada di sana terpental menjauh dari Amora.
Dengan lungkai Amora menuju ke tempat burung itu. Memegangi kepalanya yang masih sakit karena benturan. Sekilas Amora melihat Chandler yang tengah terduduk, di bantu Barier umur berdiri. Dengan wajah yang penuh air mata Amora pergi membawa Airy tanpa mengucapkan apapun lagi.
Amora ingin pergi ke kamarnya, lagi-lagi beberapa prajurit di sana mencegah. Tidak lain kamar Chandler yang menjadi pilihannya. Di sana Amora berhasil untuk menyembuhkan Airy, tapi tetap saja dia terlihat sangat lemah.
"Kenapa Airy, kenapa...." gumam Amora sembari terus menyembuhkan Airy dengan spirit yang dia punya.
"Sayang sekali Amora, maaf saja saya tidak bisa sampai ke rumah Tuan Tremy. Saya bahkan tidak bisa melewati taman," balas Airy lirih.
"Kamu melakukan kesalahan?"
"Tidak, saya yakin. Tuan Duke pasti sangat waspada belakangan ini," jelas Airy. Perlahan dia mengubah bentuk tubuhnya, kembali keadaan pipit kecil dengan warna oranye cerah seperti biasa. "Maaf Amora, jika di perbolehkan saya ingin istirahat beberapa hari saya harap tidak masalah," lanjutnya.
"Sebanyak apapun yang kamu butuhkan Airy," jawab Amora.
Saat itulah cahaya terang kembali meredup. Amora sendirian di kamar itu. Perasaan risih dirinya saat ada Barier kini justru membuat Amora merasa sendirian. Di pojok ruangan Amora meringkukkan kaki, melihat sekitar dengan seksama.
"Saya merasakan kembali kehidupan sebelumnya," gumam Amora di selingi dengan mata yang mulai terpejam kelelahan.
Di lain sisi, Chandler masih terduduk memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat spirit yang Amora keluarkan. Lantas dia menangkalkan pakaiannya. Terlihat jelas terdapat bekas luka di sana.
"Anda sudah terluka karena melawan prajurit kerajaan, sekarang pasti akan lebih parah karena nona Amora menggunakan spiritnya pada Anda. Meskipun ini hanyalah jurus penangkal, tapi bisakah Anda me-"
"Kamu hanya perlu menutup lukanya Barier, tidak usah mengatakan hal lain," sela Chandler.
Sesaat Barier duduk di depan Chandler. Membereskan peralatan yang sebelumnya dia gunakan. Tatapan Chandler seperti kosong menatap luka di badannya.
"Apa sungguh seperti ini Barier, Theodor juga anggota kerajaan. Saya takut jika dia pada akhirnya akan mengkhianati kita. Saya sudah melepaskan semuanya, bahkan Amora agar tidak terlibat dalam masalah ini," penjelasan Chandler setelah sesaat terdiam.
"Saya pikir begitu, saya juga cemas, tapi menurut saya sudah terlambat untuk mundur."
"Kenapa?"
"Entah pada Pangeran Theodor ataupun pada Nona Amora. Anda melihat nya sendiri saat dia menatap Anda tadi, dia seperti marah, takut, juga kecewa."