Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 18 : Hampir Saja Kami Melakukannya.



Setelah perdebatan itu Amora langsung menarik Chandler untuk pergi. Bukan karena Amelia yang membuat Amora takut, melainkan Tremy. Dia masih saja tersenyum menatap Amora. Meskipun terlihat lemah, dia seperti binatang. Mengintai musuh dan memakannya. Perasaan merinding bagi Amora, apalagi dia tak tau jelas masa kecil Tremy.


Di sisi lain, Amelia masih saja melihat kepergian Chandler juga Amora. Dia yang semula melebarkan kipasnya, kini menutup. Membuat senyuman simpul di bibir kecil Amora terlihat jelas dari saja.


"Tremy."


"Ya?"


"Kamu menyukai dia?"


"Cukup, dia menarik."


"Bagaimana jika kita berganti rencana. Saya dekati kakaknya, jika dia tak suka kamu yang harus melakukannya. Kadang, wanita lebih mementingkan perasaan daripada logika."


"Saya paham, tentu saja Kakak."


Sebuah sandiwara antara kakak adik yang sangat sempurna. Merencanakan jauh dari apa yang bisa di pikirkan Amora. Jelas, meskipun dia adalah penulisnya tapi dia tidak menulis dengan jelas latar dari tokoh sampingan di novelnya. Belum lagi jika kali ini bukanlah cerita alur novel yang dia tau. Dimana semuanya bisa berpikir sendiri, tanpa peduli itu ada atau tidaknya dalam skenario.


Amora duduk diam dalam kereta kuda. Tepat di depannya, Chandler yang terus memandanginya. "Kakak?" tanya Amora seketika membuka pembicaraan.


"Kamu kenal dengan Tremy?" ucap Chandler langsung tanpa basa basi apapun.


Di sisi lain, Amora nampak terkejut. Dia membuka bibirnya perlahan, memiringkan kepalanya tanda kebingungan. "Maksud kakak?"


"Kamu dan Tremy, kamu bahkan memegangi wajahnya tadi," jelas Chandler kesal.


"Ah... Itu Tremy seperti anak yang aku kenal dulu," jawab Amora sebagai alasan.


Untungnya Chandler tak tau jelas tentang masa lalu Amora. Tentang hidupnya, ataupun sosialnya. Saat bilang dia memiliki teman laki-laki, kemungkinan Chandler tak akan tau kebenaran jika dia tak memiliki teman.


"Jadi, kamu bukan suka dengan Tremy?" tanya Chandler memastikan.


"Tidak, orang yang saya suka adalah kakak," jawaban polos dari seorang anak kepada kakaknya.


Tentu saja itu adalah hal yang wajar menurut Amora. Akan tetapi, tidak menurut Chandler. Terlihat jelas dari wajahnya yang memerah. Sesekali dia memalingkan wajah, dan mencuri pandangan pada Amora yang tengah kebingungan.


"Kakak?" tanya Amora kembali melihat Chandler yang berperilaku aneh.


"Kakak?" panggil dia kembali. "KAKAK!" teriakan Amora di akhir membuat Chandler malah tersentak kejut.


Dia melihat wajah Amora yang berbinar, merasakan hawa sedih dari sana. "Kakak marah dengan Amora? Kakak kenapa?" tanya gadis kecil itu mencoba untuk meraih tangan Chandler di depannya.


sayang jarak posisi antara Chandler dan juga Amora cukup jauh. Tentu, tangan kecil Amora tak akan sampai. Dia mengingat pelajaran etika, bagaimana dia harus duduk dengan sopan.


Di lihat dari bagian mana pun, Chandler tataplah Chandler. Bangsawan gagah yang membuat para wanita kagum. Meskipun di usia sekarang, tak bisa di pungkiri daya tariknya bahkan di penatu. Sebuah jarak antara dia dan Chandler, lantas tatapan sedih Amora lakukan.


"Saya pikir saya membuat kesalahan, membiarkan adik saya merasa sendirian padahal satu kereta dengan saya," ucap Chandler beranjak dari tempat duduknya.


"Amora?!" tanya Chandler yang bingung saat adiknya tiba-tiba menangis.


"Kakak, saya takut benar-benar takut,"rintih Amora memeluk Chandler yang ada di bawah.


Badan mereka kini ada di lantai dalam kereta kuda. Tidak duduk di masing-masing kursi nyaman di sana. Amora tak bisa menahan tangisannya, memeluk Chandler kuat tanda dia bingung harus melakukan apa.


Dia kalah, perasaannya terhadap Chandler tak bisa dia tangkis lagi. Dia sungguh menyukai Chandler, orang yang akan memenggal kepalanya demi perempuan bernama Diana. Mungkin itu akan menjadi hari menyakitkan bagi Amora, saat melihat laki-laki yang dia suka membela wanita lain, bahkan membunuhnya.


'Malang sekali nasibmu, apakah kamu juga sama Amora? Sebenarnya kamu menyukai Chandler, tapi kamu tak bisa mengungkapkan nya?' tanya Amora pada dirinya sendiri. Jantungnya tak bisa berhenti berdegup dengan normal. Mungkin itu efek tangisan, atau pelukan dengan orang yang dia sayang.


"Terimakasih," ucap lirih Amora di sela-sela tangisannya.


Lain hal dengan Amora, Chandler terlihat tenang. Dia memeluk balik Amora, dengan senyuman tepat di bibirnya. Perlahan Chandler meregangkan pelukan, dimana dia melihat dengan jelas mata Amora yang sembab akibat air mata.


"Jangan menangis lagi, kamu lebih cantik saat tersenyum," ucap Chandler mengusap air mata yang tersisa. Tanpa sadar Chandler mulai menata rambut Amora yang menutupi wajahnya. Perlahan dia mulai mengusap bibir kecil Amora.


"Kamu jangan melihat atau menyentuh laki-laki lain seperti tadi Amora, saya cemburu asalkan kamu tau itu. Saya tak tau ini etis atau tidak, tapi saya pikir hanya saya yang berhak untuk kamu tatap dan usap seperti itu," lanjut Chandler kembali.


Dia menempatkan tangannya di leher Amora. Seketika wajah Chandler dekatkan dengan wajah Amora. Pelukan dari tangan Chandler menahan badan Amora agar tidak bergerak. Wajah mereka semakin dekat, membuat hawa panas di sekitar Amora.


'Tunggu! Kami akan berciuman?!' pikir Amora tak bisa lagi berpikir dengan jernih. Dia hanya bisa menutup matanya sembari menunggu sensasi ciuman pertama.


Jangankan untuk kehidupan sekarang, umur Amora yang masih belia. Bahkan saat dia ada di kehidupan yang lalu Amora tak memikirkan tentang laki-laki. Mungkin karena dia tak tau cara merawat diri, membuat Amora tak di sukai oleh para lelaki.


Kembali ke keadaan kereta. Hampir bibir mereka bertemu, tiba-tiba ada ketukan tepat di pintu kereta. "Tuan Chandler? Nona Amora? Apakah kalian baik-baik saja?" Tanya Edelweis selaku orang yang mengantar mereka.


Wajah kesal terlihat jelas dari Chandler. Dia melepaskan pelukannya, dan mulai memposisikan duduk biasa di depan Amora.


"Ya kami baik-baik saja," jawab Chandler dengan nada biasa.


"Saya khawatir soalnya Anda tetap diam di dalam sana, kita akan sampai di mansion tuan," ucap Edelweis.


"Baiklah," jawaban Chandler seketika tak ada balasan lain dari Edelweis. Dia merasakan keretanya kembali berjalan, dengan Amora yang masih diam terpaku mencerna apa yang akan terjadi jika Edelweis tidak mengetuk pintunya.


"Amora, kita akan segera sampai di mansion," ucap Chandler menggoyangkan badan Amora yang masih terdiam karena terkejut.


"Amora? Amora!" bentak Chandler langsung membuat Amora bangun.


Entah masih efek bingung, ataupun kereta kuda yang berjalan terlihat Amora tak bisa berdiri dengan benar.


"Amora kamu baik-baik saja?" tanya Chandler khawatir.


"Maaf, tapi saya bisa sendiri."