Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 26 : Kembali ke Ibukota [FLASBACK]



Tepat setelah makan malam, Calista dan Thedelso kembali ke rumah mereka. Thedelso terlihat murung dan diam, bahkan sedari mereka makan malam. Ada sesuatu yang Thedelso pikirkan, apalagi setelah dia bertemu dengan orang di panti itu.


"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Calista penasaran tepat saat mereka sudah sampai di rumah.


"Katakan yang sebenarnya, kamu itu siapa Calista!" jawaban dari Thedelso yang meninggikan suaranya.


"Apa yang Anda katakan, saya ca-" ucapan Calista terhenti saat dirinya tiba-tiba di cekik oleh Duke Thedelso. Napasnya terbata, dirinya mencoba untuk melepaskan tangan Duke Thedelso, tapi gagal. "Ap... Le-pas!" ucapan terbata Calista.


"Saya pikir Anda adalah orang yang jujur dan lugu, apa yang telah kalian rencakan. Saya tau dirimu yang sebenarnya, kenapa... kenapa bukan dokter itu yang ada di panti asuhan!"


"Le-pas-kan.... Thedelso.... " lirih Calista benar-benar tidak bisa berbicara lagi. Dirinya seketika lemas, dia berpikir mungkin saat itulah dirinya akan meninggal. Akan tetapi, entah dari mana tiba-tiba Thedelso melepaskan tangannya lantas mundur menjauh dari Calista.


Calista terbata dia tak bisa berbicara, hanya batuk singkat membuat dirinya pasrah tersungkur di lantai. Malam itu suasana hangat dari keduanya tiba-tiba berubah menjadi dingin. Thedelso yang tanpa ucapan kini pergi meski di luar turun hujan. Memakai jubahnya lantas pergi meninggalkan rumah Calista.


Calista seolah tidak memiliki tenaga. Dirinya terlelap dalam kesakitan yang masih terasa. Hingga pagi tiba, entah kenapa dia sudah ada di kamarnya. Melihat ke bawah, keadaan kosong dimana tidak ada Thedelso di sana.


"Hmph, apa yang saya pikirkan," ucapan Calista pada dirinya sendiri.


Perasaan sepi dia rasa. Tanpa rasa waktu berjalan begitu saja membuat dia mulai terbiasa dengan kehadiran Thedelso. Akan tetapi sekarang berbeda, suasana sepi padahal yang selalu dia rasakan kini menyakitkan.


Seperti biasa Calista pergi ke pasar, bertemu dengan orang untuk membeli beberapa barang dapurnya.


"Calista, astaga lama sekali tak bertemu," panggil seorang penjual sayur sembari melambaikan tangannya.


"Selamat pagi, iya saya sibuk akhir-akhir ini," ucapan Calista membuat alasan.


"Ah, kalian pasti seperti pengantin baru setelah lama tidak bertemu."


"A-?"


"Seolah kami tidak tau saja, jika suami mu datang bukan? Bukankah kalian selalu bersama? Seperti pengantin baru saja," penjelasan penjual itu lantas membuat Calista ingat akan Thedelso.


Aneh sekali, dirinya tidak memiliki hubungan apapun. Bahkan Thedelso hampir membunuhnya. Setelah itu Calista kembali ke rumahnya. Betapa terkejut nya dia saat mendapati Thedelso yang penuh dengan darah di sekujur tubuhnya.


Diri Calista seketika merinding melihat itu. Barang yang dia bawa terjatuh begitu saja. Entah dari mana air mata itu datang, membuat Calista langsung duduk lemas di lantai rumahnya.


"Kenapa... Kenapa...." pertanyaan Calista dengan nada gemetar nya.


"Saya sudah menemukan dokter itu, seperti yang di perintahkan saya langsung membunuhnya. Inilah saya Calista, anjing kerajaan," jelas Thedelso tanpa pikir panjang.


Entah apa yang terjadi, tentu saja Calista tau sebutan itu. Bagi pengawal setia yang selalu menemani Maverick melakukan perang. "Anda, Duke Thedelso?"


Kematian tentang seorang dokter yang sudah berkhianat di kerajaan dengan cepat berkembang. Identitas Duke Thedelso sebagai seorang Duke juga sudah banyak di dengar. Bukan kesatria biasa, melainkan seorang Duke yang sudah di akui kehebatannya. Sejak saat itulah Calista juga menjadi cibiran banyak orang, tentang dirinya yang menjadi wanita kedua antara Duke dan istrinya terdahulu.


"Saya ingin membawa kamu ke mansion Calista, Maverick memerintahkan saya untuk kembali," ucap Thedelso seperti enggan meninggalkan rumah kecil itu.


"Anda harus pulang tuan, itulah tugas Anda."


"Saya tak bisa meninggalkan kamu Calista."


"Anda bisa, Anda selalu melakukannya."


"Sekarang berbeda."


"Saya sudah di cap buruk, saya tak ingin keberadaan saya membuat nama Anda juga buruk."


"Apa yang kamu pikirkan! Itu adalah kesalahan yang kita lakukan, jika kamu menerimanya saya-"


"Tuan Duke, saya harap Anda paham dengan apa yang saya maksud. Kadang di ibukota membuat sesak tentang kehidupan sosial di sana. Saya mohon saya harap Anda mengerti," ucapan dari Calista membungkam semua argumen yang akan Thedelso keluarkan.


Seperti mengiyakan semua hal yang Calista inginkan. Dia benar-benar wanita yang sederhana. Meskipun sudah tau sosok asli dari Thedelso, dirinya tak pernah meminta apapun. Bahkan hal sekecil gaun.


Karena desakan dari Maverick, Duke Thedelso akhirnya kembali ke ibukota. Sudah beberapa minggu semenjak kepergian Duke Thedelso, Calista mulai merasakan hal yang aneh. Seperti mual, muntah, bahkan dirinya lemas. Dia ingat terakhir kali dia melakukan itu, membuat Calista was-was.


Perlahan sore harinya Calista pergi ke panti asuhan untuk bertemu dokter di sana. Bukan dirinya tak mampu untuk pergi ke dokter umum, hanya saja dia tak ingin berita kehamilannya menyebar begitu saja.


"Selamat sore Madam Abigail," sapaan Calista setelah dirinya sampai di panti asuhan.


"Anakku Calista, astaga sudah lama sekali kamu tidak datang, masuklah."


"Terimakasih Madam, saya ingin bertemu dengan Tuan El saya pikir saya tak enak badan," ucap Calista langsung menjelaskan kedatangannya.


"Tuan El tengah pergi sebentar, kamu bisa duduk sebentar di sini Calista. Oh ya, bagaimana perasaanmu saat tau jika suami mu itu ternyata Duke Thedelso?"


"Saya terkejut, awalnya seperti di bohongi."


"Benar saja, ternyata dia sudah memiliki istri. Tapi istri nya sudah meninggal dunia."


Semuanya bercanda gurau seperti layaknya anak dan ibu. Calista hidup di panti asuhan itu menjadikan dirinya pengabdi untuk gereja. Madam Abigail adalah seorang viscount kaya dengan Tuan El sebagai dokter terkenal di sana. Pasangan yang tidak memiliki anak, tapi sangat miris dengan kondisi anak-anak di desa yang jauh dari ibukota. Mendirikan panti asuhan dengan kerja keras mereka sendiri. Sosok yang kuat dan sangat di kagumi bagi Calista.


"Calista, apakah Duke Thedelso kembali ke ibukota lagi?" pertanyaan yang keluar dari Abigail setelah lama berbicara dengan Amora.


"Iya, dia bilang jika ada panggilan mendadak dari Yang Mulia."


"Begitu ya, saya dengar sanit baru muncul dalam bentuk anak-anak, pastinya hubungan antara kerajaan dan gereja akan memanas."


Perkataan itu seolah menjadi penjelas dengan surat yang tiba-tiba saja datang dari Maverick. Begitu juga dengan Thedelso yang buru-buru pergi setelah malam itu.


"Calista? Kenapa kamu diam?"


"Maaf, sata hanya memikirkan sesuatu."


"Ha... Kamu pasti memikirkan bagaimana jika ada perang kembali, harusnya kamu tidak usah cemas dia adalah Duke Thedelso dia pasti akan menyelesaikan semuanya dengan mudah."