
"Amora... Amora yang melakukan itu," ucap Diana dengan terbata.
"A-amora! Beraninya dia melakukan ini!" ucap Theodor ingin pergi dari sana. Belum sempat dia pergi, tangan Theodor sudah di tahan oleh Diana.
"Jangan, saya ingin pergi dari sini Yang Mulia," ucap Diana.
Keadaan menjadi ricuh sekarang dengan tidak ada anggota keluarga Duke Thedelso berada di ruang pesta. Padahal ini adalah pesta untuk Chandler, tapi tidak ada satupun orang di sana.
"Ada yang tidak benar," kata Tremy beranjak untuk pergi.
"Tinggu! Tremy!"
"Saya tak bisa membiarkan ini kakak, pasti ada sesuatu."
"Saya tidak mencegah mu, biarkan saya ikut. Ada hal yang ingin saya lihat," sela Amelia.
Keduanya saling pergi ke sana. Menyusuri lorong yang ribut dengan para pelayan mansion. Di tengaj perjalanan, mereka bertemu dengan Barier di sana. Matanya biru seperti biasa membuat Amelia dan Tremy sedikit merasa lega.
"Tuan Edelweis, apa ada sesuatu?" tanya Amelia.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan ini, saya harus segera pergi ke rumah Anda untuk memanggil Madam Schwarz," jelas Barier.
Amelia langsung pagan jika permasalahan ada hubungannya dengan kekuatan Amora. Melihat dari Diana yang terluka juga cahaya emas tadi. "Tremy pergi lah dengan Tuan Edelweis," ucap Amelia langsung berlari ke arah kamar Amora.
"Kaka! Kenapa!"
"Saya akan di sini untuk memastikan jika Nona Duke tidak apa-apa!" balas Amelia.
Kekuatan spirit menguras energi dari orang yang memilikinya. Baik saat dia mengeluarkan spiritnya atau sekedar untuk memberi berkat. Jika tidak bisa mengendalikan kekuatan spirit itulah yang akan mengendalikan tubuh orang yang memiliki. Itu merupakan bahaya yang besar apalagi saat kekuatan spirit sepenuhnya menguasai tubuh.
Amelia pernah di ceritakan masalah pembantaian gereja oleh ibunya. Saat itu rumor mengatakan jika sesuatu mempengaruhi Amora membuat dosa yang menjadikan para pendeta bahkan harus meninggal dunia. Amelia tau, itu bukanlah sesuatu yang buruk. Belum lagi saat para gereja hanyalah berbohong tentang kekuatan Diana, mereka ingin untuk mengambil Amora dan menjadikannya bidak dalam Kekaisaran.
"Tuan Duke," ucap Amelia sesaat memasuki kamar. "Biarkan saya mengembalikan kesadaran Nona Duke dahulu, apakah terjadi sesuatu?" tanya Amelia cepat langsung mengarahkan tangannya pada tubuh Amora yang sudah pingsan.
Cahaya keluar dari tangan Amelia menandakan dia sudah mulai menggunakan sihirnya. Keringat mulai keluar dari wajah Amelia. Entah dia kelelahan karena berlari barusan, atau mungkin mengenal sesuatu yang dia takuti.
"Apa yang terjadi, saya merasakan panas pada tangan Nona Duke!"
"Entah darimana pedang itu keluar dari tangan Amora laku melukai Diana, setelah Diana pergi pedang itu menghilang lantas Amora pingsan," jelas Chandler.
Tak ada balasan dari Amelia. Sekarang dia tau darimana luka yang ada di tubuh Diana itu. Sekarang Amelia hanya fokus untuk menyembuhkan Amora.
Ada hal yang aneh di sana, tubuh Amora benar-benar tidak merespon sihir penyembuhan yang Amelia lakukan. 'Ini, apakah Nona Amora sudah menyerah dengan kehidupan?' batin Amelia.
Amelia paham ini bukanlah waktu yang tapat untuk mengungkapkan spekukasinya. Chandler cemas, dia merasa khawatir tentang keadaan adiknya itu. Hal jauh seperti apa yang di rumorkan jika Chandler tidak peduli pada Amora. Wajah cemas itu bukanlah wajah yang di buat hanya untuk sebuah pencitraan belaka. Belum lagi Chandler juga orang yang tidak peduli akan statusnya membuat Amelia tidak yakin itu adalah wajah Chandler yang sebenarnya.
Dia percaya sebuah keajaiban pasti akan terjadi, hanya saja tidak ada reaksi untuk tubuh Amora saat ini. Ini seperti bunuh diri, Amora membiarkan dirinya untuk sakit bahkan menolak sihir penyembuhan dari Amelia.
Perlahan angin membawa rambut Amelia bergoyang. Ini adalah dalam kamar, tidak ada jendela yang terbuka. Malam hari juga tidak ada angin yang sangat untuk membawa rambut rapi Amelia bergoyang perlahan.
Sesaat entah darimana kelopak bunga itu datang, menyerbak membuat Amelia sadar jika dia sudah tidak ada lagi di kamar. Dalam sebuah gereja dengan wanita dewasa yang memainkan piano dengan lembutnya.
Banyak orang yang menari untuk mereka. Berdansa mengikuti alunan musik dari wanita itu
"Ibu!" teriak seseorang membuatmu Amelia melihat ke sumber suara. Itu adalah Amora dengan berlari sembari memeluk tubuh wanita itu.
Musik terhenti, orang-orang yang menari juga telah pergi. Sepengetahuan Amelia jika ibu dari Amora sudah meninggal dunia, karena sebuah sakit keras. Itulah yang membuat Amora di bawa oleh Duke Thedelso ke mansion nya. Sekarang Amelia melihat wajah dari ibu Amora, membuat dia sadar ini adalah perbatasan dari dunia nyata dan juga kematian.
"Ibu, aku ingin dengan ibu," silir suara itu dari Amora.
Dugaan Amelia benar jika Amora sudah menyerah dengan kehidupan. "Tunggu! Nona Duke! Tu-" Amelia ingin membawa Amora kembali, tapi entah kenapa angin dengan kelopak bunga itu membawa Amelia pergi. "Tunggu!" teriakan Amelia.
Sesaat Amelia tersadar jika dia tidak di kamar Amora. Dia berada di kamar dengan banyak pelayan juga Tremy dan Madam Schwarz yang ada di sana.
"Ibu, apa yang terjadi?" tanya Amelia masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Kamu melihatnya? Melihat apa yang di lihat Amora?" tanya Madam Schwarz.
Amelia menundukkan kepalanya, dia tak bisa menyembunyikan apapun masalah sihir dengan ibunya. "Saya melihat Nona Duke tidak ada harapan untuk hidup, bahkan dia menolak sihir penyembuhan dari saya. Saya menggunakan sihir penyerapan untuk tau apa yang terjadi dengan Nona Duke, tak sangka dia sudah ada di perbatasan antara alam kematian dan kehidupan," jelas Amelia.
"Kamu tau itu sangat berbahaya apalagi kamu juga ikut ke sana, untunglah kamu masih bisa kembali Kakak," timpal Tremy yang ada di sebelah Amelia.
"Saya tau, bagaimana keadaan Nona Duke?"
"Dia baik-baik saja, mungkin ada sesuatu membuat dia ingin hidup kembali. Mungkin dia mendengar suara mu di sana Amelia," ucap Madam Schwarz.
"Jika begitu, saya ingin melihat bagaimana keadaan Nona Duke," ujar Amelia sembari beranjak dari ranjang nya.
Tanpa sadar tangan Amelia di tahan oleh Tremy. "Kaka pulang saja dengan saya, kakak butuh banyak istirahat," ucapnya.
"Dia benar Amelia, biar ibu saja yang di sini. Lagipula, ibu tidak mempertaruhkan jika spirit Amora masih belum stabil itu akan sangat berbahaya bagi kamu," jelas Madam Schwarz.
Amelia menuruti apa gang ibunya katakan itu. Dalam perjalanan pulang setelah itu Tremy kembali pergi ke mansion Duke. Beberapa waktu telah berlalu. Amelia mendapatkan kabar jika Amora tambah membaik. Hingga sebuah keadaan membuat Amelia bingung saat surat undangan ada untuknya.
"Dari siapa?" tanya Amelia pada pelayanannya.
"Nona Duke Thedelso mengundang Anda untuk minum teh besok."