Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 5 : Chandler dan Amora



Amora berlari sekuat yang dia bisa. Paham kaki kecilnya jauh dari ekspetasi untuk lebih cepat. Hingga dia sampai di gerbang tepat beberapa waktu lalu dia sampai di mansion ini. "AYAH!" teriak Amora memanggil sembari berlari mendatangi Duke Thedelso.


"Amora, kenapa kamu kemari?" tanya Duke Thedelso kebingungan melihat Amora yang tiba-tiba datang.


"Amora bertemu dengan kakak, lalu dia teman kakak bilang jika ayah akan pergi, jadi Amora kemari. Tunggu!" Jelas Amora cepat memutari kereta kuda yang akan di gunakan oleh Duke Thedelso.


Dalam kebingungan, Duke Thedelso juga melihat sikap aneh Amora. Dia malah memutari kereta kuda, melihat setiap inci dari kereta kuda itu. Bahkan sesekali dia menggoyangkan keretanya nunggu memeriksa apakah ada yang kendur atau tidak.


Bagaimana tidak, Amora tau jika kematian Duke Thedelso adalah karena kecelakaan. Baut dalam. keretanya sedikit kendur, membuat kereta yang di tunggangi jatuh ke dalam jurang. Memang hal itu terjadi setelah sepuluh tahun Amora tinggal di sana, tapi melihat kematian ibunya membuat Amora berjaga-jaga jika kematian itu datang lebih cepat.


"Amora, apa yang kamu lakukan?" tanya Duke Thedelso melihat perilaku aneh putrinya.


"Me-Memas-Tikan Jika kreta ini aman di gunakan!" jawab Amora dengan penuh semangat sembari berusaha untuk memeriksa baut pada kereta kuda.


"Un-"


"Tuan, sepertinya Nona Amora adalah anak yang perhatian. Dia takut jika tuan sebagai ayahnya kenapa-napa, jadi mungkin dia seperti itu. Bayangkan akan Nyonya Calista pasti sangat membekas dalam diri Nona Amora," jelas Edelweis.


Edelweis dia adalah kesatria kepercayaan Duke Thedelso, atau ayah dari Barier. Sifatnya yang royal pada keluarga Duke tidak di ragukan lagi. Bahkan sesekali Edelweis yang di perintahkan untuk memata-matai Calista dengan Amora. Di sisi lain, Edelweis juga yang memberitahu pertama kali kondisi Calista, membuat Duke Thedelso langsung mengirimkan dokter dan pelayan untuk Calista.


Mendengar penjelasan itu, membuat Duke Thedelso malah sedih. Dia mengangkat badan Amora, lantas memeluknya. "Ayah akan kembali dengan selamat, itu janji." ucapan Duke Thedelso seolah meyakinkan Amora jika semuanya akan baik-baik saja.


Tanpa pikir panjang, Amora melihat raut wajah tampan dari Duke Thedelso. Dirinya sedikit menitiskan air mata, lantas memeluknya. "Janji, jangan meninggalkan Amora seperti mama...."


Di saat yang bersamaan, Chandler dengan Barier datang. Memberikan salam, melihat adegan ayah dan anak antara Amora dan juga Duke Thedelso.


"Salam untuk ayah, saya kira ayah sudah pergi," ucap Duke segera setelah sampai.


"Benar, saya harus cepat pergi," setelah itu Duke Thedelso langsung menurunkan Amora. Menurunkannya tepat di sebelah Chandler. "Jaga dia selama ayah tidak ada, dia adalah adikmu Chandler ini perintah. Begitu juga dengan kamu Barier," lanjut Duke Thedelso.


Amora hanya diam, dia sedikit mencerna apa yang tengah terjadi. 'Eh? EHHHH!!!! AKU TAK MAU DEKAT-DEKAT DENGAN CALON PEMBUNUHKU!!!' batin Amora berucap dengan raut wajah yang langsung berubah.


"Jangan khawatir, ayah pergilah dengan selamat. Tuan Edelweis, tolong jaga ayah saya," ucap Chandler percaya diri.


Seketika dia melihat raut wajah Amora, di sisi lain Amora yang di lihat seperti itu hanya bisa diam. Seolah nyawanya sudah keluar, apalagi tatapan smrik dari Chandler menurut Amora adalah tatapan kematian.


'Apakah aku benar-benar akan mati lebih cepat....' batin Amora sembari membayangkan akhir dari Novelnya.


Seketika Duke Thedelso pergi dengan Edelweis. Maka selesai, itulah yang terjadi. Bahkan Amora lupa jika dia mencari Duke Thedelso karena dia ingin mengajaknya untuk minum teh.


"Wajah saya disini, bukan di bawah," kalimat singkat dari Chandler langsung membuat Amora menatap. Tatapan bingung, takut, dan terkejut. Di sisi lain kekehan pelan tercipta dari Barier melihat ekspresi Amora. "Apa kamu mau di sini saja?" lanjut Chandler.


"Tidak, awalnya Amora ingin mengajak ayah untuk minum teh ayah pergi ja- ASTAGA! Pesta minum teh nya! Amora ha-"


"Kamu sudah meminta pelayan untuk mempersiapkannya? Padahal itu sudah jadi?"


"Iya! Amora harus memberitahu Emma!"


"Kemarilah, jangan kemana-mana berlari dengan kaki kecilmu itu atau kamu akan tersandung dan jatuh lagi!" kalimat yang terdengar dingin dari Chandler. Amora dan Barier terkejut melihatnya. Apalagi Amora sebagai penulis novel tau persis Chandler itu dingin dan tak pernah memerhatikan Amora.


[Bayangkan jika sebenarnya Amora dan Chandler itu sebenarnya saling menyayangi. Jika putar sedikit saja, Amora lebih open dan Chandler percaya pada Amora maka tak akan saling bunuh apalagi penyelesan. Mereka mungkin saling menyayangi, tapi juga menyakiti] tulis sebuah komen pada awal bab kematian dari Duke Thedelso.


Seketika komen itulah yang Amora ingat. Mungkin seperti harapan pembaca yang merubah alur ceritanya. Mungkin benar dirinya sendiri yang membuat kehidupan karakter dalam novelnya terlalu dalam.


Amora terus diam, hingga sampai di taman dengan Emma yang sudah mempersiapkan semuanya. Chandler duduk bersebelahan dengan Amora, membuat dia sedikit gugup apalagi saat Chandler diam-diam melihat Amora.


'Apa iya aku terlalu jahat pada tokoh Amora dan Chandler? Sebenarnya mereka ingin saling menyayangi, tapi karena aku terlalu menginginkan alur yang bagus jadi membuat kehidupan mereka menderita,' batin Amora penuh dengan gejolak. Rasa bersalah dan sedih membuat Amora terus memainkan jari dan gaunya.


"Amora," panggil Chandler tiba-tiba.


"Ah-! I-iya."


"Apakah itu kebiasaan mu? untuk tidak menatap orang yang sedang berbicara denganmu? maksud saya, saya di sini bukan dibawah sana."


"Ti-tidak... Hanya saja An- Kakak adalah Chandler Thedelso, Amora merasa tak pantas untuk duduk bersama."


"Benarkah? Lalu bagaimana dengan ayah? Kamu memperlakukan ayah seperti benar-benar ayahmu, saya juga ingin seperti itu. Lagipula Amora," ucapan Chandler terhenti, mengusap kepala Amora. Sedikit memberinya senyuman, lantas kecupan di pipinya. "Kamu sangat manis, saya senang memiliki adik manis seperti ini."


Antara malu dan tak menyangka, Amora melihat Chandler dengan senyuman terkejutnya. Lain sisi Chandler hanya melihat Amora dengan senyuman lembut. "Ma-manis?!" ucap Amora terbata karena tak tau harus berucap apa.


"Iya manis, manis sekali. Jadi Amora jangan sungkan untuk mengatakan apapun pada kakak mu ini," ucap Chandler memeluk Amora.


'Kenapa dia bersikap seperti ini! Bukankah dia seperti ini hanya pada Diana!!!'


Benar, Chandler dirasa memiliki dua kepribadian. Dirinya yang sesekali menjadi dingin bahkan tanpa ampun membuat banyak orang menatapnya ngeri. Akan tetapi, saat dengan Diana dia malah menjadi lembut dan bersikap apapun demi Diana. Sekarang malah berbalik, apa yang Chandler lalukan pada Amora membuat dia kaki tak bisa berkata-kata.