Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 42 : Masa Lalu dan Masa Kini



"MAS! Kamu tidak bisa melakukan ini, padaku ataupun Amora!" suara teriakan seorang wanita.


"Kamu! Tidak berguna! Sama seperti anak perempuan yang kamu lahirkan!" balas seorang pria terus memukuli wanita itu.


"Aku akan pergi!" balas wanita itu.


"Pergilah! Dan bawa anak perempuan mu itu! Kamu tau seberapa tidak berguna nya dia. Harusnya dia itu belajar bukan membuat tulisan cerita aneh seperti ini!"


"Mas! Jangan merobeknya!!"


Pertengkaran rumah tangga adalah hal yang biasa. Teriakan, pukulan, tamparan, memperlihatkan siapa yang kuat di antara dua orang itu. Hanya dua orang yang bertengkar, tapi anak-anak yang menjadi korban.


Di sudut kamar, seorang anak perempuan dengan penuh memar di tangan meringkuk memegangi kakinya. Tatapannya tepat ke seluruh ruangan, napasnya tidak teratus seperti cemas akan sesuatu. Teriakan dua orang tadi masuk ke kamarnya, membuat anak perempuan itu semakin mengeratkan tangan pada kakinya.


Bibinya datar tidak bergeming sesaat terbuka saat pintu kamarnya terbuka. Anak itu kembali dalam posisi terjaga.


"Mama!" teriak anak perempuan itu langsung memeluk wanita tadi.


"Amora, kamu melakukannya dengan baik juga sekarang. Mama bangga," ucapnya.


Sejujurnya Amora bahkan tidak yakin, mamanya itu tidak terlihat baik. Wajahnya seperti memar juga rambutnya berantakan. Itu adalah keadaan yang wajar untuk Amora lihat setelah pertengkaran mamanya dengan ayahnya.


Beberapa hari hal yang sama terus terjadi. Amora juga melihat mamanya yang menangis, tapi saat Amora datang senyuman palsu dia paksakan.


Pagi itu seperti berbeda. Amora tidak melihat ayahnya. Ibunya bersiap untuk pergi, apalagi dengan koper medium yang dia bawa.


"Mama! Mama mau kemana?" tanya Amora menghalau mamanya yang akan keluar rumah.


Seketika langkah wanita itu terhenti. Berbalik menampilkan senyuman palsunya seperti biasa.


"Mama mau kemana?" tanya Amora kembali.


"Mama akan pergi," jawab wanita itu.


"Pergi? Bolehkah Amora ikut?"


Usapan lembut tanganya pada kepala Amora. Sesaat pelukan hangat kembali dia lakukan tanpa adanya ucapan. "Tidak, kamu tidak boleh ikut."


"Tapi Amora mau ikut."


"Amora dengar, kamu harus tetap di sini. Amora, mama yakin dengan apa yang kamu lakukan kamu akan menjadi orang besar, sukses dengan menjadi apa yang kamu inginkan. Oleh sebab itu, percayalah itu dan terus berusaha untuk melakukan yang terbaik Amora. Kamu mendengarkan mama 'kan?"


Itu adalah kalimat terakhir yang mama ku katakan sebelum dia pergi membawa kopernya. Awalnya aku percaya dengan apa yang dia katakan. Aku akan menjadi seorang yang sukses dengan karya ku, tulisanku, ataupun sesuatu yang aku mau. Akan tetapi aku tersadar saat berita kematian mama ku muncul dan beberapa polisi datang ke rumah.


Berita mengatakan jika seorang wanita dewasa telah membunuh laki-laki sebaya atau sekitar lebih tua darinya. Menggunakan pisau dia tusuk berkali-kali pada sebuah bar, lantas dia bunuh diri.


Seorang wanita kuat yang aku harapkan sekarang dia menjadi pembunuh juga bunuh diri dengan tangannya sendiri. Sekuat apapun wanita, akhirnya menjadi gila. Menyisakan anak-anak dengan harapan untuk hidup tanpa adanya harapan yang mereka bicarakan sebelumnya.


Sesaat Amora merasakan badannya tergoncang akan sesuatu. Entah darimana ingatan Amora beralih menjadi mimpinya sekarang. Tanpa sadar air mata menetes dari mata Amora.


"Kenapa Anda tidur di sini Nona? Tubuh Anda akan terasa sakit nanti," ucap Barier mengangkat tubuh Amora lantas meletakkannya pada ranjang kamar.


Amora terus terdiam saat dia memikirkan mimpinya barusan. Mimpi yang benar-benar terlihat nyata dari masa lalunya. 'Apakah ini juga mimpi, jika benar bagaimana aku harus bangun? Kematian?' batin Amora sembari melihat telapak tangannya.


"Nona?" panggil Barier kembali. "Anda memikirkan sesuatu?"


"Tidak ada," jawab Amora ringan.


Sesaat Amora kembali menatap Barier, senyuman palsunya. Dia mempelajari itu jauh sebelum dirinya di lahirkan kembali. Amora melihat tangan Barier, sudah lama dia tidak memperhatikannya. Dulu tangan Barier tidak sekuat itu, tapi sekarang berotot dan kuat.


"Anda pasti sangat kuat ya Barier, kamu bisa menjaga kakak nantinya," ucap Amora.


"Maaf?" pertanyaan Barier sesaat terkejut dengan apa yang Amora katakan.


"Tidak ada," ucapan Amora kembali menatap Barier seperti sebelumnya. "Maaf, saya sedikit merindukan ibu Barier. Entah kemana tadi saya memimpikannya, dia terlihat cantik dengan usapan lembutnya sebelum dia pergi dan meninggal dunia," jelas Amora langsung memalingkan wajahnya.


"Apakah ini ada hubungannya dengan Tuan Duke? Maaf atas perlakuan kasarnya pada hewan sihir Nona. Sekarang banyak sekali mata-mata, itu juga untuk menjaga Nona."


"Saya tau, itu karena kakak mendapatkan gelar Duke secara mendadak, tapi saya benar-benar merindukan ibu saya Barier. Saat ada kesempatan nanti maukah kamu menemani saya ke negri timur? Saya ingin menemui ibu juga Pendeta Cleo," ucap panjang Amora.


Barier benar-benar seorang yang setia apalagi pada keluarga Duke. Bagaimanapun juga Amora tetap bagian dari keluarga Duke. Hanya anggukan menandakan kesanggupan Barier atas permintaan Amora.


"Terimakasih Barier, jika seperti itu kamu boleh pergi. Saya ingin istirahat kembali," jawab Amora.


"Baiklah, saya pamit. Jika Anda butuh sesuatu Anda bisa langsung memberitahu pada saya."


Sesaat kepergian Barier wajah Amora berubah total. Tatapan senyuman nya seketika luntur di gantikan wajah lesunya. Sesaat Amora melihat keluar. Di sanalah dia mulai melihat tekad untuk segera pergi dari mansion itu.


Beberapa hari telah berlalu. Seperti biasa Amora selalu tidur di kamar milik Chandler. Dia tidak boleh keluar sembarangan, kecuali saat Barier menemaninya. Seperti penjaga dalam bentuk rumah Amora hanya bisa meratapi nasibnya.


Hari besar tiba. Ulang tahun Chandler di rayakan. Itulah pesta pertama dalam masa duka semenjak kematian Duke Thedelso. Saat itu banyak orang yang datang, khususnya para bangsawan wanita muda. Mereka mengincar Chandler sebagai pasangan mereka.


Di sela huru hara pesta, tidak terlihat adik Chandler di sana, Amora. Seperti yang Barier katakan dia tidak di izinkan untuk datang dalam masalah keamanan. Amora tau itu hanyalah alibi dari Chandler untuk mengurungnya saat dia mengundang Diana juga Theodor.


"Anda pasti sedih, saya akan membawakan sesuatu dari sana Nona," ucap Airy dengan setia menunggunya.


Di pinggir jendela kamar Amora di sanalah dia mengintip germelap pesta dengan Airy dalam wujud pipit nya. "Lama sekali saya tidak melihat itu, jika kakak merasa bahagia aku tak masalah Airy," jawab Amora menanggapi dengan tatapan tidak teralih dari ruangan pesta.


Airy tau jika Amora ingin pergi kesana. Tanpa pikir panjang Airy pergi begitu saja. "Airy! Jika kamu ketahuan kakak kamu bisa di bunuh!" teriak Amora mencoba untuk menghentikan Airy.


Seperti tidak mau dengar, Airy langsung pergi menjauh. Beberapa saat Amora hanya memandangi ruangan pesta sendirian. Benar-benar sendirian. Sesaat dia teringat saat dia pergi ke pesta dengan Tremy. Dia benar-benar membantunya dalam pergaulan kelas atas. Entah sejak kapan Amora tidak melihat temannya itu.


"Ah...." helaan napas Amora mengingat saat para bangsawan muda mulai menggunjingnya. Sesaat Tremy datang untuk membantu. "Tremy, entah kenapa aku sedikit merindukan dia sekarang. Apakah dia datang?"


"Anda merindukan saya?"