
"Jelaskan, kamu berniat untuk membunuh Diana!" teriak Chandler sembari mempersiapkan pedangnya untuk di layangkan pada leher Amora.
"Tidak, bukan saya," rintihan serta tundukan kepala hanya bisa Amora lakukan. Dirinya tak memiliki pembelaan. Jangankan untuk pembelaan, bahkan bukti entah darimana menuju semua padanya.
"Pembohong, aku sudah menahan ini. Kamu juga yang membunuh ayah, dasar pembunuh."
"Saya sudah bilang yang sebenarnya Chandler, kenapa kamu tidak mempercayai saya? Tak pernah kah kamu menganggap ku sebagai adik? Kakak?" suara pelan dan lembut dengan air mata yang keluar dari Amora.
"SIALAN!"
...SLASH! ...
Suara pegang langsung memenggal kepala Amora. Selang beberapa waktu kemudian, investigasi di lakukan. Penyebab dari keracunan diana adalah bunga merah yang di bawa oleh pelayan istana. Hal itu membuat Chandler Frustasi hidup dengan penuh penyesalan. Akhirnya dia mengakhiri hidupnya sendiri di atas makam Amora sebagai permintaan maaf.
TAMAT....
"AKH!!!! Akhirnya selesai...." Desah panjang seorang perempuan muda sembari meregangkan badannya. Di depan laptop miliknya, dalam posisi tengkurap di atas ranjang.
Amora Lidya itulah nama asli dari seorang penulis muda. Berfokus pada tulisan dengan gendre fantasi, membuat banyak orang yang merasa kagum denganya. Di usia yang masih belia, dia berhasil masuk di Universitas ternama serta menjadi novelis terkenal. Bahkan, tak jarang novelnya di angkat menjadi sebuah film.
Dalam kesuksesan Amora, tak semerta kehiupan sosialnya juga baik. Tak seperti tokoh utama perempuan yang selalu di cintai dan supel. memiliki banyak teman serta ahli dalam pergaulan sosialita, amora justru menjadi anak yang pendiam dan tak banyak bicara.
Hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu, tak memiliki kegiatan apapun. Fokus pada kuliah dan menulisnya saja. Meskipun begitu, Amora tetap menikmatinya karena dia menjalankan apa yang dia suka.
Ini adalah Novel fantasi yang baru saja di selesaikan. Menjelaskan tentang cinta segitiga antara Diana, Theodor, dan juga Chandler. Diana adalah seorang Sanit (Orang yang memiliki anugrah dari dewa untuk mendapatkan kekuatan) yang dapat membantu kesembuhan berbagai penyakit. Dia cantik dan hidupnya hanya mengabdi untuk gereja. Sikapnya yang alus membuat semua orang suka dengan Diana. Begitu pula Theodor dia adalah putra mahkota dari Kerajaan Guineva tempat terjadinya cerita. Sedangkan Chandler, dia adalah anak tertua dari Grand Duke Thedelso. Dia memiliki adik angkat bernama Amora.
Di ceritakan jika Grand Duke Thedelso memiliki hubungan gelap dengan ibu Amora, tapi setelah ibunya Amora meninggal dia di rawat oleh Grand Duke Thedelso. Hubungan antara Amora dan Chandler tidaklah baik bahkan sejak Amora pindah ke mansion milik Grand Duke Thedelso. Hingga mendekati akhir cerita, Grand Duke Thedelso kecelakaan. Para petinggi menuduh Amora sebagai pelakunya membuat hubungan Chandler dan Amora semakin dingin. Hingga, kecelakaan terjadi. Diana orang yang di cintai Chandler keracunan saat pesta minum teh dengan Amora. Tentu saja, Amora langsung di eksekusi oleh Chandler.
Tak berselang lama hasil investigasi muncul. Menjelaskan tentang keracunan Diana ternyata tak ada hubungan nya dengan Amora. Itu membuat Chandler frustasi dan mengakhiri hidupnya sendiri.
Begitulah akhir dari novelnya. Dimana happy Ending dengan Diana dan Theodor menikah, di atas kematian dari Amora juga Chandler.
Tak ada yang menyangka, akhir plot twist seperti ini. Kebahagiaan di atas kematian seseorang. Tentu, banyak yang komplen dan mengakritik akhir dari ceritanya. Apalagi para pembaca yang menjadi Shipper antara Amora dan juga Chandler.
[Saya pikir tokoh utama di sini adalah Amora, dengan kakaknya Chandler. Setiap saat mereka di Terima kemalangan dan saling menyayangi dalam diam] tulis sebuah komentar di bab akhir itu.
[Author ada masalah apa sih sama Amora, kasian bet. Udah ibunya meninggal, ayahnya meninggal, dibunuh pula sama kakaknya] tulis komentar lain di sana.
[Gak mau tau! Pokoknya Amora sama Chandler harus bahagia, titik!]
Begitu lah komenan dari sekian banyak yang protes dengan akhir kematian dari si Amora juga Chandler. Akan tetapi, Amora sendiri tidak terlalu peduli. Sudah biasa dia di protes seperti itu oleh banyak pembacanya.
"MORA!" teriak seseorang membuat Amora langsung terbangun dari lamunannya. "Kamu kenapa sih mor? Jangan buat takut," lanjutannya.
Dia adalah Sabilal, teman dekat dari Amora. Dalam universitas yang besar ini dia hanya memiliki satu teman, itupun karena satu SMA. Sifat Amora yang pendiam membuat tak banyak orang dia kenal.
"MOR! Elah aku lagi ngomong sana kamu, jangan diam gitu ish bikin takut!" jelas Sabila kembali dengan menggoyangkan badannya.
Sabila yang melihat itu hanya bisa menghela napasnya. Melihat sahabatnya sendiri tengah sibuk di dunianya. "Kamu lagi sama aku, jangan fokus ke situ mulu. Lagian kenapa kamu buat Amora sama Chandler meninggal?"
"Biar alurnya menarik, jika tidak menarik bagaimana mereka akan melihat sekuelnya."
"Ck, benar-benar licik."
"Bukan licik bil, tapi strategi!"
Keduanya saling tertawa, sesekali memakan kudapan penutup dan minuman mereka. Hari minggu yang cerah, membuat Amora dan Sabila merencanakan untuk jalan-jalan. Baik itu hanya makan atau juga berbelanja.
"Mor, kenapa kamu pake nama kamu buat tokoh Figuran bukan tokoh utama? Mati pula," tanya Sabila membuka pembicaraan kembali.
"Aku nggak pandai buat nama, lagipula jika aku buat nama aku pake nama asli ntar di bilang ini cerita Based On True Story," jawaban Amora dengan kekehan karena bercanda.
"DIH! Itu yang baca juga liat-liat kali. Kamu gak takut apa?"
"Takut kenapa?"
"Amora mati di novel kamu, kamu gak takut kamu juga bakal mati nanti?"
"Gak lah orang cuma novel."
"Ya kamu tau banyak cerita yang mati terus ber transmigrasi ke novel mereka."
"Bil, Udah aku bilang itu hanya-"
"Aku tak mau mati...." Suara lirih yang membuat Amora langsung merinding seketika.
"Ada apa?" Tanya Bila melihat temannya yang kebingungan itu.
"Kamu dengar gak? Ada su-"
...TIN!!! TIN!!!! ...
Suara klakson mobil membuat Amora dan Bila langsung melihat ke sumber suara. Sebuah Minibus yang entah darimana datang ke cafe tempat mereka duduk. Tepat, Amora hanya diam melihat siluet kuning dari lampung depan mobil membuat dia tak bisa bergerak ataupun menghindar.
...BRAK...
"MOR! AMORA!!!" teriak bila langsung menghampiri Amora yang tertabrak.
Kecelakaan tak bisa di hindari, dengan Amora yang tertabrak. Sekilas dia melihat sahabat nya yang baik-baik saja, menangis dan berteriak. Entah kenapa dia tak bisa merespon, jangankan untuk berbicara bahkan bernapas saja sudah sulit. Sesaat pandangan Amora kabur, tapi dirinya merasa hangat saat Bila memeluknya. Hanya itu yang Amora rasakan, sebelum keaadaan hitam pekat benar-benar membawanya.
"Maaf, tapi aku tak mau mati...."