Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 12 : Pembantaian Istana.



"Dimana Theodor, bukankah dia bersama Chandler dan juga putrimu? Kenapa dia masih belum kembali?" selipan pertanyaan yang membuat Duke Thedelso sama-sama diam.


Saat itu mereka sadar jika kereta dari pangeran mahkota belum saja kembali. Secepat apapun kuda yang ditunggangi oleh Duke Thedelso harusnya tidak terpaut jauh dengan kereta itu. Seketika keduanya diam, seperti sama-sama tau apa yang terjadi.


"Apa rencanamu sekarang?" tanya Maverick.


"Saya menginginkan perjanjian ulang. Jika anak yang memiliki spirit tidak ingin ikut pergi ke gereja, maka mereka bisa menolak pihak gereja. Dan, bilamana pihak gereja tetap memaksa, itu adalah kehancuran bagi mereka," penjelasan panjang dari Duke Thedelso.


"Sungguh?" Helaan napas Maverick lansung membuka buku perjanjian. Dimana ada pulpen bulu yang tak perlu disini ada di dalamnya. "Atas nama Raja terdahulu, saya memulai perjanjian ini dengan murni darah pewaris tahta yang naik dengan sewajarnya."


Buku itu menjadi bercahaya. Seketika aliran spirit mulai keluar. Baik itu biru, hijau, ataupun kuning. Semuanya terasa berbeda, menjalani apa yang terlihat. Seketika keadaan itu berubah menjadi semula.


"Baik, kita butuh darah dari Pendeta agung yang sekarang. Jika dia tak mau, maka aku akan membunuhnya," ucapan Maverick lanjut beranjak dari tempat duduknya.


Mereka sama-sama diam saat ada si kereta kuda. Perjalanan panjang membuat mereka sampai di gereja beberapa hari kemudian. Tak ada sambutan seperti biasanya dia melihat sang raja. Tatapan tajam dari para pendeta di sana.


"Mereka seperti tau saja kita akan kemari," ucapan Thedelso masuk ke sana.


Beberapa saat kemudian ada beberapa pendeta yang menghampiri keduannya. Tengah-tengah kursi jemaah, tatapan keduanya saling bertemu.


"Yang Mulia, kami telah menunggu kedatangan Anda," jelas salah satu pendeta di sana.


"Saya kemari ingin membawa ingin memperbaharui surat perjanjian nya."


"Baik, tapi sayang pendeta agung sedang tidak ada. Dia mengambil anugrah dari dewa," jelasnya lagi sembari melihat ke arah Thedelso.


Seketika Thedelso paham apa yang mereka katakan. Gerakannya terlalu lambat, bahkan tak sadar jika pihak gereja sudah datang ke mansion miliknya.


"Yang Mulia! Saya izin undur dir-"


"AYAH-!"


Teriakan seseorang melihat Altar di tengahnya. Apa yang terlihat mungkin buruk, Theodor ada di sana dalam posisi tangan yang tengah dia salibkan.


Maverick mendengar itu benar-benar terdiam. Dia mulai melihat ke arah para pendeta. "Yang Mulia," ucap Thedelso ingin bertindak.


"Tenanglah mereka hanya ingin membuat kamu disini lebih lama," ucapan Maverick memenangkannya. "Kalian para pendeta sungguh memuakkan," lanjutnya.


Seketika Maverick mulai mengangkat tangannya. Memperlihatkan beberapa lingkaran sihir mulai tercipta dari sana.


"Anda tau Anda tak bisa melakukan itu di sini," ucap seorang pendeta lagi.


"Benarkah? Jika begitu tahanlah jika bisa. καταστροφή," saat itula semuanya terlihat jelas mengeluarkan sihir lantas cahaya yang menghancurkan orang hingga berkeping-keping.



"Apa, apa yang kalian lakukan," ucapkan terbata anak itu. Dia adalah Diana, sang sanit muda.


"Bukankah ini yang selalu Anda inginkan, hanya mengabulkannya," jelas Maverick.


Sesuatu yang sangat di luar akal. Maverick memerintah Thedelso untuk segera pulang dan mengambil darah pendeta agung di sana. Perintah resmi dari Maverick sedangkan dia tengah menyelesaikan sisanya di gereja.


Dengan menaiki kuda, Thedelso kembali ke mansion nya. Suasana yang mencekam dengan beberapa pelayan dan juga penjaga yang melihat ke arah kamar Chandler ketakutan.


"TIDAK!!! Aku mohon tidak! Jangan! TuhanN Dewa, sesuatu yang ada sana jangan ambil saudari saya! Saya mohon!!!" teriak Chandler sembari memeluk badan Amora Terlihat kamar Chandler dengan posisi yang saya seperti saat di gereja.


Terlihat jelas mayat para pendeta berserakan di sana. Dengan darah yang terus mengalir keluar, membuat bau amis kamar.


"AYAH! AYAH!" teriak Chandler mulai menyadari keberadaan Thedelso. "Spirit itu mulai merubah Amora, dan semua ini terjadi... Ayah!" jelas Chandler sembari terus berteriak karenan ketakutan.


Entah mana yang lebih mengerikan, antara Amora yang berubah menjadi monster atau Chandler yang selamat dari kejadian itu. Sungguh hari itu adalah hari bekabung bagi semuanya. Kerajaan di penuhi dengan berita pembantaian para anggota gereja. Bahkan pendeta agung telah meminggal dunia. Lainnya, justru Diana malah memilih berpihak pada gereja.


Spirit sesuatu anugrah yang bisa berubah menjadi senjata. Hal yang sangat menakutkan, saat spirit itu mulai menguasai tubuh dari orang yang memiliki spirit. Saat itulah dia tidak sadar apa yang dia perbuat, menjadi sebuah senjata mematikan tanpa mengenal lawan atau teman.


Beberapa hari setelah kejadian itu, Amora makin bingung dengan alur novelnya sendiri. Begitu berantakan, chaos, dan banyak darah dimana dia benar-benar menghindari itu. Hal yang menakutkan terjadi, spirit yang ada dalam kekuatannya malah membunuh yang lain.


Dari informasi yang dia dapat sekarang, jika Diana di asuh oleh kerajaan sudah pasti jika dia akan makin dekat dengan Theodor. Kematian gereja akibat Maverick atau sang Raja sendiri. Kematian Pendeta agung bukan karema Chandler, tapi dirinya sendiri.


"Emma..." rintihan Amora mulai merasa bingung dengan apa yang terjadi.


"Anda membutuhkan sesuatu nona?" tanya Emma seketika datang menghampiri Amora.


"Tidak ada, saya hanya bingung. Apakah semuanya akan baik-baik saja?"


"Anda cemas dengan apa yang terjadi? Tidak apa Duke Thedelso akan menyelesaikan semuanya," jelas Emma mencoba untuk meyakinkan.


Amora hanya diam, melihat sekitar dimana ada para penjaga yang tengah berlatih pedang. Di sana juga Chandler ikut duel dengan Barier. Detakan jantung Amora kencang, entah apa yang membuatnya sesak. Dia merasa tak cocok untuk berada di dunia ini, tiba-tiba tangisan mulai keluar dari Amora, membuat Emma langsung memeluknya.


"Anda tak apa Nona?!"


Amora hanya memangis, merasakan masalah yang timbul jauh lebih dari apa yang dia kira. Dia mulai mengingat bagaimana dia saat masih menjadi mahasiswa biasa. Dia selalu berharap untuk pergi ke dunia novelnya sendiri, tanpa sadar sebuah takdir kejam menunggunya disini.


"Saya takut... Saya merindukan rumah, saya ingin pulang. Saya merindukan mama, saya juga merindukan teman-teman saya...." ucapan Amora dalam rintihan tangis yang terbata.


"Apa yang Anda katakan, ini ada rumah Anda," jelas Emma mencoba untuk meyakinkan Amora.


Lain hal dengan itu, Amora terus saja menangis kuat. Yang tidak Emma tau kenyataan jika dia bukanlah Amora yang sebenarnya. Entah darimana dirinya harus berbicara menjelaskan itu pada keluarganya. Semuanya semakin tak masuk akal, jauh dari alur cerita yang dia buat sebelumnya.


"Kamatian."