Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTURE 61 : Hanya Pergi Berdua.



Malam harinya Amora tengah duduk di meja rias miliknya. Dia mulai menuliskan apa yang akan terjadi di masa depan untuk merencanakan apa yang seharusnya dia lakukan. Amora sudah cukup berdiam dan menerima keadaan kini dia harus melawan.


Saat tadi siang dia berbicara dengan Chandler, dia bahkan tidak ragu meski di anggap pemberontak oleh kekaisaran. Chandler dia akan melindungi daerah kekuasaan Duke Thedelso, karena itulah yang dia ayah mereka tinggalkan. Sangat tidak adil jika hanya Chandler yang mempertahankan daerah ini apalagi Amora lebih tau apa yang akan terjadi nantinya.


Terlihat Airy yang mulai terbang melingkari Amora, sedangkan Ernest yang masih tertidur di meja milik Amora.


"Akhir-akhir ini kamu lebih banyak murung Amora, ada apa?" tanya Airy lantas duduk kembali di meja tepat di depan Amora.


"Kamu di sini untuk mengganggu dia, bagaimana dia tidak diam Airy!" ucap Ernest menimpali.


"Setidaknya aku bukanlah penggangu seperti kamu," gerutu Airy.


Keduanya masih saja bertarung tapi sekarang hanya lebih ke adu mulut. Airy mendekatkan badannya pada buku yang ada di hadapan mereka.


"Aku sekarang harus menggunakan taktik, jika aku tau masa depan maka aku harus bersiap apa yanh akan terjadi selanjutnya," ujar Amora masih melihat kedepan. Tatapannya datar tapi bara semangat terlihat dari sana. "Tapi aku tidak tau apakah ini akan berhasil atau tidak, kehidupan lalu tidak ada masalah sihir ataupun hal seperti ini. Ini hanyalah cerita, sekarang aku takut karena sewaktu-waktu aku bisa meninggal dunia," lanjut Amora.


"Kamu tidak perlu merasa takut, kamu tidak sendirian Amora. Ada saya dan Airy, Tuan Chandler juga memerhatikan mu sekarang percayalah semuanya akan baik-baik saja," balas Ernest menanggapi.


"Hum! Untuk kali ini aku setuju dengan si tua itu," timpal Airy.


Amora merasa baikkan sekarang. Ernest merangkulkan kepalanya pada tangan Amora, begitu juga dengan Airy yang merasa cemburu. Benar-benar keduanya membuat Amora lebih baik dari sebelumnya.


Hilir hening saat merasa bersama, hanya di temani oleh musim dingin di antara mereka. Hingga ketukan pintu di depan kamar Amora, membuat mereka sontak melihat ke sumber suara.


"Amora, apakah kamu sudah selesai bersiap? Keretanya sudah siap, mari kita pergi," balas seseorang di depan sana.


Ya, hari ini mereka akan pergi ke timur tempat Amora di lahirkan. Selain untuk mengingat masa kecil, Amora juga ingin mengunjungi makam ibunya. Namun, ada hal tersembunyi dari niatan Amora yaitu tentang gereja di sana.


Gereja di timur sangat berbeda dengan apa yang menjadi landasan gereja di tempat Duke Thedelso. Tidak ada kekuatan, tidak ada sihir, hanya sebuah mukjizat dan energi yang saling menguatkan. Sosok pendeta di tempat Amora juga sangat ramah jauh berbeda seperti para pendeta yang menyokong Diana.


'Aku ,harap aku bisa menemukan jawabannya, mencari tau tentang kekuatan dari Diana itu dan menghancurkannya,' gumam batin Amora.


"Apakah Anda sungguh ingin saya tetap tinggal Tuan? Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu pada kalian?" pertanyaan Barier langsung membuat Amora tersentak dalam lamunannya.


Seperti yang Chandler katakan jika dia ingin pergi berdua dengan Amora. Chandler takut jika nanti Diana menyerang daerahnya saat tau Chandler tidak ada di sana, dan orang yang paling Chandler percaya untuk menjaga Daerahnya itu adalah Barier. Chandler juga percaya dengan kekuatan Barier oleh sebab itu dia meninta Barier untuk tetap tinggal.


Lain hal dengan Barier yang cemas jika Diana justru menyerang Chandler dan Amora. Pasalnya sasaran Diana adalah Amora. Kemungkinan ini adalah kesempatan yang tepat untuk menyerang mereka berdua.


"Tolong izinkan saya tetap ikut Tuan Chandler," balas Barier masih memaksa.


Tatapan Chandler kuat melihat Barier yang masih khawatir. Bagaimanapun Barier memaksa Chandler tetap tidak ingin mengajak Barier pergi. Hingga akhirnya Chandler dan Amora tetap pergi berdua.


Saat di kapal rasanya benar-benar halus. Entahlah, Amora dulunya sangat suka dengan pantai. Dia suka melihat air tenang di sana. Tak berselang lama langit biru berubah warna. Waktu yang sangat cepat mereka lalui di sana. Langit kini berubah warna kuning jingga dengan bayangan matahari yang akan tenggelam di lautan.


"Kenapa kamun diam? Kamu benar-benar menikmati pemandangan," tanya Chandler menghampiri Amora dari belakang.


Tubuh Chandler menutupi sebagian tubuh Amora di belakang. Pelukan singkat di pinggang Amora, lantas di bahunya. Kepala Chandler dia taruh di pundak Amora. Amora yang melihat itu hanya tersenyum kaku, entah kenapa kakaknya malah mabuk lautan. Amora tidak pernah tau karena dalam cerita aslinya memang Chandler tidak pergi ke laut.


Dari awal keberangkatan Chandler terus saja di dalam kapal. Dia muntah dan menampilkan wajah yang tidak sehat. Bukan Chandler yang menjaga Amora, tapi malah sebaliknya. Pada akhirnya setengah perjalanan Chandler tidur dengan lelap. Pada waktu itulah Amora pergi ke luar untuk menikmati pemandangan.


"Ini sangat pusing," kata Chandler sembari memeluk tubuh Amora.


Kekehan singkat Amora lantas mengususap kepala Chandler yang masih menempatkan di pundaknya. "Kaka, jika kakak merasa pusing kenapa bangun? Kakak bisa tidur," ucap Amora lembut.


"Bagaimana jika nanti sesuatu terjadi padamu nanti?" tanya Chandler masih dengan gumamannya.


"Aku lebih cemas dengan kakak sekarang," balas Amora.


Keduanya masih terdiam dengan Chandler yang masih merengkukkan kepala di tengkuk Amora. Amora diam kembali menikmati pemandangan sedangkan Chandler di belakangnya masih sama terdiam karena pusing.


Beberapa hari kemudian mereka sampai di tempat Amora. Ini adalah ibu kota dari tempat Amora. Mereka harus sedikit ke tepi tempat di gereja milik Cleo.


"Selamat datang tuan, saya lihat Anda adalah pendatang saya tau penginapan bagus apalagi untuk pasangan muda," ujar salah seorang yang langsung menyambut mereka.


"Kami tidak perlu penginapan, kam-" ucapan Amora terhenti tiba-tiba saat Chandler menggenggam tangannya.


"Tunjukkan penginapan nya," ujar Chandler menyela.


Sekarang Chandler terlihat baik-baik saja. Chandler menampilkan aura bangsawannya, membuat beberapa orang menjaga jarak tanda takut dengan Chandler.


"Ma-mari tuan, saya antarkan," ucap orang barusan.


Beberapa saat berjalan mereka sampai di penginapan. Chandler dia berbicara untuk bertanya kamar kosong yang ada. Amora melihat sekitar, itu adalah hal yang menarik bagi Amora. Rasanya penginapan ini penuh dan ramai membuat orang tak biasa.


"Amora," panggil Chandler lantas menatap serius ke arah Amora. "Saya tidak dapat dua kamar, semuanya penuh. Katanya besok lusa ada festival pemberkatan jadi orang-orang dari banyak tempat ramai-ramai datang kemari," lanjut Chandler.