Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 25 : Kebohongan dan Sandiwara [FLASHBACK]



"Anda memang seorang bangsawan, bisakah Anda bertutur kata yang sopan. Anda pikir saya adalah wanita seperti itu?" pertanyaan yang di layangkan Calista membuat Thedelso diam sesaat.


"Maaf, tapi mungkin Anda salah paham," ucapan Thedelso langsung menghampiri Calista. Melihat wajah terkejut Calista, dengan cepat Thedelso menahan tangannya dan mulai memperlihatkan sesuatu.


Tanda kekaisaran yang membuat Calista membulatkan mata lebar. "Benar, saya tengah mencari seseorang dan orang itu ada tepat di panti asuhan," jawab Thedelso dengan bisikan.


Dokter itu entah dari mana dia tau jika ada panti asuhan di pinggiran kota. Selama beberapa waktu ini, dia mengamati di mana dokter itu berada.


"Anda pasti tau tentang pembunuhan istri Duke yang ada di medan pertempuran, tiga tahun lalu," ucapan Thedelso dengan wajahnya masam.


"Apakah A-"


"Ya, saya di perintah langsung oleh raja untuk membereska orang-orang itu."


Calista lagi-lagi terdiam. Dirinya tak bisa berbicara apapun. Dia ingat jika sabelum Thedelso datang terlihat banyak yang yang datang. Akan tetapi, sekarang berbeda. Seolah semuanya pergi menghindar.


"Saya tidak bisa membantu apapun tuan, saya hanyalah pelukis awam," ucapan Calista langsung membereskan semua perlengkapan yang dia punya.


"Kamu bisa memberikan tempat tinggal pada saya, hanya beberapa hari sampai saya berhasil melakukan tugas saya," jawab Thedelso. "Saya akan memberikan lebih, kamu tau 'kan? Sebuah kehormatan jika rakyat memberikan pelayanan pada kesatria yang telah menjaga keamanan kerajaan ini. Jadi saya mohon, bantulah saya," lanjut Thedelso.


Calista hanya menghela napasnya. Dia tidak tau harus melakukan apa. "Hanya beberapa hari saja, saya belum pernah membawa seorang pria, jadi... Anda harus menanggung semua ucapan para orang-orang nantinya," jelas Calista.


Ternyata selama ini Calista berasalan jika dia sudah menikah dengan seorang kesatria kerajaan. Kebohongan itu yang selalu Calista bawa, melihat banyak bangsawan yang ingin menjadikannya sebagai istri entah keberapa mereka. Dengan alasan yang sama juga, Calista membuat orang-orang itu tak berani untuk datang ke rumah Calista. Saat orang-orang melihat Calista membawa pria ke rumahnya, tentu saja mereka akan berpikir jika itu adalah suami Calista.


"Jadi, kamu berbohong seperti itu kepada mereka?" tanya Thedelso melihat sekitar, dimana orang-orang mulai mengamati Calista dan Thedelso.


"Itulah yang bisa saya lakukan. Tempat terkecil ini siapa yang mau merambahnya, kalian para kerajaan tidak akan tau nasib orang seperti saya," jelas Calista sembari membuatkan minuman hangat pada Thedelso. "Maaf saya tidak memiliki apapun, silahkan," tawaran Calista duduk di meja makan sekaligus meja untuk ruang tamu.


Rumah yang kecil ini mungkin terlihat menjijikan bagi kaum bangsawan khusunya Thedelso. Lain hal dengan Calista, ini adalah tempat yang nyaman untuk dia membuat karya seni yang dia inginkan.


"Baiklah, mungkin saya harus jelaskan juga detailnya tentang bantuan apa yang harus kamu berikan, Calista."


Malam itu rumah Calista terlihat terang dengan cahaya lilin yanga menerangi di salah satu ruangan. Orang-orang akan berpikir jika itu terjadi karena pasangan suami istri yang lama tidak bertemu. Mereka tak tau perjanjian yang mengikat keduanya.


"Anda ingin melihat ke panti asuhan? Anda bisa melakukannya sendiri."


"Saya tidak bisa, para orang di dalamnya pasti akan merasa curiga kenapa orang seperti saya ada di pantai asuhan. Kamu bisa menggunakan alasan ini untuk memperkenalkan saya kepada pengurus panti."


Ucapan itu membuat Thedelso terkekeh pelan. Dirinya perlahan melihat Calista yang perlahan naik untuk masuk ke kamarnya. Dalam remang cahaya lilin, Thedelso melihat sepucuk surat yang dia bawa. Gambaran tangan dari Chandler, "Jika nanti saya memberikan ibu baru kamu juga tidak akan tau, iya kan?"


Keesokan harinya seperti janji Calista dia membawa Thedelso ke pantai asuhan. Banyak yang melihat Calista dan Thedelso saat berjalan. Di sisi lain, juga banyak yang merasa iri karena keberadaan Thedelso. Sungguh di sayangkan, saat banyak bangsawan yang menginginkan Calista dia malah sudah memiliki pasangan. Ibarat kebohongan yang simpang siur justru kini semuanya percaya dengan drama yang mereka bawakan.


"Calista," panggil Thedelso dalam perjalanan ke panti. "Jika kamu bilang saat kamu sudah menikah dengan kesatria, kenapa tidak ada yang curiga? Maaf saja hidup mu-"


"Saya bilang jika dalam pertempuran kali ini suami saya jarang kembali untuk mempertahankan kerajaan. Saat itu terjadi harta tidak di pikirkan lagi, yang penting suami saya selamat. Lalu saya bilang, kami juga sering berbalas surat, itu lebih penting bagi saya," sela Calista menjelaskan semuanya


Thedelso mengangguk paham. Belum pernah dia melihat orang semandiri Calista. Perasaan yang dingin, kini kembali menghangat. Jika di bolehkan, dia ingin merasakan cinta sekali lagi.


Akhirnya sampai juga mereka di pantai asuhan. Dengan cepat Calista di peluk oleh kepala panti. Terlihat dia sangat menyayangi Calista sebagai mana putrinya sendiri. Sesaat pelukan itu, kepala panti langsung melihat ke arah Thedelso dengan tatapan ybingung sekaligus curiga.


"Calista apakah di-"


"Benar, dia adalah suami saya Madam Abigail," jelas Calista.


Wajah terkejut nampak jelas dari orang yang di sebut madam itu. Dia melihat Thedelso, "sepertinya saya pernah melihat Anda?"


"Hahah... Tentu saja Madam, dia adalah kesatria."


"Sudah tiga tahun semenjak selesai perang, kenapa Anda baru berniat menemui putri saya?!"


"Madam, dia pasti memiliki alasan An-"


"Saya tau ini memang salah saya, saya bertahun-tahun meninggalkan Calista sendirian bahkan dia harus berjuang keras untuk hidupnya. Setelah melihat nya menjual lukisan, saya langsung menyadari kesusahan apa yang Calista dapatkan," sela Thedelso dengan bungkukan badan.


Bukan hanya Abigail yang terkejut, tapi juga Calista. Memang mereka berencana untuk bersandiwara, tapi Calista tidak menyangka sandiwara Thedelso benar-benar epik. Dia membuat Madam Abigail langsung terpana. Orang yang awalnya ingin memarahinya, kini berbalik justru memeluk dan merasa kagum.


"Astaga, anakku kamu pasti merasa tak tenang juga. Saat hidup dan mati mu ada di medan perang, sekarang perang sudah berakhir akhirnya kamu bisa kembali," sambut Abigail dengan mudah.


Memang Thedelso merupakan Duke terkenal. Bahkan hanya namanya saja semua di negri itu akan tau. Akan tetapi, saat mereka tau nama dari Duke Thedelso, banyak orang yang tidak tau wajahnya. Apalagi bagi mereka orang-orang yang ada di pinggiran kerajaan. Sekarang inilah kesempatan bagi Thedelso untuk masuk, mencari sosok dokter yang katanya ada di panti asuhan ini.


Dengan seksama Thedelso melihat sekitar. Mulai dari sudut panti, bahkan setiap inci bagian ruangan itu. Hingga dia melihat ruang perawatan. Tanpa pikir panjang, Thedelso langsung masuk.


"Selamat si- Anda siapa?!"