Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 28 : Ada yang Salah



"Saya tau ini adalah kesalahan saya, keegoisan saya membuat saya pergi untuk membawa Amora. Akan tetapi, sungguh saya tidak bisa lagi menjaganya. Berbagai pengobatan sudah saya lakukan, tapi tadi malam saya bermimpi jika inilah waktu saya untuk pulang."


Suara itu terdengar jelas dari bibir seorang dengan senyuman indah yang selama ini Thedelso kenal. "Calista...." rintihan Thedelso saat dia terbangun dari mimpinya.


Malam yang cerah dengan bulan dan bintang, sama seperti dulu saat dia bertemu dan berpisah dengan wanita yang dia sayang.


Perlahan Thedelso mulai berjalan ke arah balkon kamar. Terlihat dia yang berjalan-jalan di taman sana. Terlihat seorang anak setengah remaja berjalan-jalan dengan lampu yang terlibat berbeda.


Perlahan Thedelso turun dari kamarnya. Pergi ke taman tempat dimana anak itu berada. "Amora...." panggil Thedelso membuat Amora tersentak seketika.


"Ayah! Astaga ayah mengagetkan saya," ucapan Amora seketika cahaya lampu itu menghilang.


Duke tau jika cahaya itu adalah bentuk spirit dari apa yang Amora pelajari selama ini.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Thedelso spontan mendekati Amora.


"Berbicara dengan kakak, kakak bilang saat siang asramanya sangatlah berisik jadi saya berbicara di malam hari," ucapan Amora kembali memunculkan cahaya spiritnya.


Raut wajah Thedelso bingung juga terkejut. Jelas bagaimana tidak dirinya bahkan tidak tau cara komunikasi apa yang di lakuka oleh keduanya. Amora hanya menampilkan senyuman nya, lantas memegangi tangan Duke dengan lembut. Saat itu juga sebuah siluet kuning, menandakan spirit keluar oleh Amora.


"Halo? Amora, kenapa tadi tiba-tiba menghilang?" sebuah suara datang yang entah dari mana membuat Thedelso langsung terkejut seketika.


Lain hal dengan Amora yang seperti biasa melihat itu, dia menatap Duke dengan senyuman manisnya. "Kakak, ayah di sini," ucapan Amora menatap Thedelso lembut.


"Ayah? Tumben sekali ayah datang."


"Ya, sepertinya saya kepergok saat berjalan di taman kali ini," jawaban Amora.


Perbincangan mereka menjadi semakin panjang. Dengan Thedelso tau juga keadaan Chandler di sana. Dia sudah mempelajari banyak sihir, bahkan ini termasuk dari perkembangan sihir yang dia cari. Semakin cepat dia memperlajari akan semakin bagus, karena secepat itu pula dia akan lulus dari akademi.


Pembicaraan itu semakin dalam, hingga Thedelso menampilkan senyuman tulusnya. "Chandler," panggil Thedelso di sela-sela percakapan mereka.


"Ya ayah?"


"Bisakah kamu menjaga adikmu ini? Ini adalah permintaan saya."


"Kenapa ayah berbicara seperti itu? Saya akan selalu menjaganya, bukankah saya selalu melakukan itu?"


"Benar, kamu selalu melakukannya bahkan ayah tidak perlu cemas lagi saat meninggalkan kalian berdua," ucapan Thedelso dengan senyuman menatap Amora.


Seketika suasana yang tenang dan hangat kini menjadi tenang. "Ayah akan meninggalkan saya dengan kakak?"


"Maksudnya saya tidak perlu cemas saat meninggalkan kalian berdua bersama, kalian akan saling menjaga 'kan?"


"Tentu saja, apa yang ayah katakan?!" ucapan Chandler meninggi dengan lanturan dari Thedelso.


"Tidak ada, ayah hanya tenang kalian benar-benar menjadi anak ayah. Ayah sungguh bahagia."


Ucapan itu menjadi penutup dia dan Chandler. Begitu juga dengan Amora yang langsung berjalan ke kamarnya. Dengan pikiran yang penuh dengan pikiran liar.


"Airy," ucapan yang keluar dari bibir Amora. Seketika terlihat sebuah peri yang keluar dari cahaya kuning emas seperti biasa. Lambat laun sosok itu terlihat jelas dengan kepala, badan, tangan, kaki, juga sayap kecilnya.


"Anda memanggil saya, Nyonya?" ucap peri itu.


Peri itu adalah hasil dari perjanjian spirit antara dia dan pemilik kekuatan. Wujud dari spirit yang sebenarnya, mengadakan perjanjian untuk lebih bisa berbicara. Dalam hal ini Sihir tidak mampu meniru wujud spirit yang kadang berwujud peri atau hewan sendiri.


Airy, jenis spirit tingkat rendah yang berhasil Amora panggil. Semakin besar wujudnya, makan akan semakin besar pula kekuatan mana yang di perlukan. Airy termasuk dalam jenis Spirit tingkat rendah.


"Airy, saya memikirkan sesuatu," ucap Amora masih terlentang di ranjang tidurnya.


"Anda terlalu memikirkan itu," jawaban Airy singkat terbang di atas wajahnya.


"Benarkah? Apakah semuanya akan baik-baik saja? Saya takut."


"Pastinya, kekuatan Anda adalah kekuatan yang langka. Apalagi dengan keberadaan Diana, Anda pasti merasa tidak aman."


Anggukan Amora sesaat lantas duduk dari posisi sebelumnya. Dia melihat Airy yang masih terbang di sisinya. Beberapa saat kemudian Airy kembali duduk di pundaknya.


"Anda memikirkan sesuatu?" tanya Airy bingung melihat wajah Amora yang masih tidak berubah dari sebelumnya.


"Tidak ada, hanya saja sebentar lagi kakak ulang tahun ya Airy, tahun-tahun sebelumnya saya tidak memberikan apa-apa, sekarang saya memikirkan hadiah untuk kakak," jelas Amora beranjak dari ranjangnya. Beberapa saat kemudian Amora menuju ke meja belajarnya. Terlihat dia membuka nakas dan mengambil beberapa kertas kosong juga pena dari sana. "Airy, bisakah kamu membantu saya?" tanya Amora sembari menunjukkan kertas itu.


"Apa yang bisa saya lakukan?" tanya Airy dengan wajahnya yang serius.


"Hehe, gambarkan saya sesuatu," jawab Amora dengan wajah senyum nya.


Airy nampak terkejut dengan apa yang di katakan Amora. Dia lantas duduk di meja dengan kertas dan pena yang sudah Amora siapkan sebelumnya.


"Anda begurau? Saya bisa membantu Anda dalam menyembuhkan, atau melakukan sesuatu hal yang besar dan Anda hanya menyuruh saya untuk menggambar?!" ujar Airy dengan wajah yang sedikit kesal.


"Kamu tau Airy saya tidak terlalu membutuhkan itu sekarang, lagipula aku harus menyembunyikan mu sementara waktu. Ibarat saja ini trial, jadi lakukan dengan benar."


"Ini penghinaan bagi saya," ujar Airy langsung menempatkan pena besar itu pada tubuhnya.


Beberapa saat kemudian Amora menundukkan kepalanya. Tepat di hadapan Airy, dia langsung melihat apa yang Amora ingin gambarkan. Airy dan Amora ibarat sesuatu yang sudah bersama. Mereka bisa mengerti dan mengetahui tanpa harus berbicara. Sebuah perjanjian suci yang mengikat mereka, membuat mereka menjadi mengerti satu sama lain.


Airy seketika membuka mata kecilnya. Di ikuti Amora yang menyadari Airy sudah melakukan tugasnya. "Apa kamu sudah bisa melakukannya Airy? Aku tidak percaya dengan kemampuan menggambar ku," ujar Amora mengusap kepala kecil Airy.


"Apa yabg Anda pikirkan? Anda seperti membuat sesuatu yang berbeda," tanya Airy kebingungan dengan apa yang dia lihat dari Amora.


"Hehe, itu panahan dengan pelontar," jawab Amora sembari kekehan dengan candaan.


"Anda pasti bercanda bagaimana bisa Anda membuat itu dengan detail?"


"Makanya Airy, aku sudah bilang aku tidak pernah dengan kemampuan menggambar ku jadi aku minta bantuan mu."


"Aku akan berusaha, Amora."