
"Tuan Tremy! Kenapa Anda kesini!" teriak Edelweis saat melihat Tremy turun.
"Bagaimana bisa saya tau jika saya melihat siapa dalangnya!" teriak Tremy.
Tremy mengaktifkan kekuatannya. Sihir elemen api dan air yang paling sering untuk Tremy gunakan. Menyalurkan sihir dari tubuh untuk dia alirkan ke pedangnya. Satu dua tebasan semuanya bisa Tremy lakukan. Sembari mengaktifkan kekuatannya untuk melihat orang-orang itu semuanya.
Tak habis ada habisnya para prajurit itu, Tremy menyadari jika mereka bukanlah manusia. Itu terlihat jelas dari aura yang mereka keluarkan. "Sial! Harusnya kalian tau! Akibatnya karena mengganggu mansion ini sebelum acara ulang tahunku!" teriak Tremy.
Sesaat Tremy melibas para prajurit itu. Meskipun beberapa saat kemudian mereka juga kembali seperti semula. "Di mana Tuan Thedelso?" tanya Tremy melihat geram para prajurit yang tidak ada habisnya.
"Kamu seperti tidak tau saja, kemunculan ini mengakibatkan kutukannya semakin kuat. Madam Schwarz tengah menanganinya," ucap Edelweis.
Tentu saja, kutukan itu telah mencapai batasnya. Seorang yang sudah menahannya lama, kini bergulat antara nyawa atau kematian putrinya.
Semuanya benar-benar tidak terduga sekarang. Banyak prajurit yang sudah tumbang, tapi tidak ada tanda-tanda prajurit bayangan itu berkurang. Tremy dengan Edelweis juga mulai kelelahan. Sesaat kemudian terlihat jelas saat ada cahaya datang. Menampikkan sebuah angin kencang membuat Edelweis dan Tremy langsung terdiam
Cahaya itu seperti meriam, langsung memporak-porandakan pasukan bayangan. Semuanya runtuh dalam sekali serangan. Edelweis dan Tremy sama-sama terdiam. Mereka melihat darimana arah cahaya itu datang.
Terlihat jelas Amora dari balkonnya, membawa senjata yang baru saja Edelweis berikan padanya.
Edelweis dan Tremy sama-sama membulatkan mata. Melihat Amora yang sudah setengah berdiri di balkon kamarnya. Wajahnya terlihat marah, memegangi senjata yang bahkan lebih besar dari badannya.
"Apakah senjata nya memang sebesar itu, atau saya yang hanya merasa berbeda," ucap Tremy tidak percaya melihat apa yang ada di depannya.
"Tidak, memang itu mirip tapi saat saya memberikannya pada Nona Amora, itu jauh lebih kecil dari itu," jawab Edelweis yang masih sama-sama tercengang melihat nya.
Di sela-sela diamnya meraka, Amora sudah bersiap meletakkan senjata itu kembali di tangannya. Tatapan nya tajam melihat kedepan, dengan aura marah, terlihat jelas bahkan dari penampakan Amora dari jauh. Sebuah selimut kabut mulai menutupi tubuhnya.
Perlahan Amora mulai melihat ke depan. Saat yang bersamaan, Amora langsung menekan pelontar nya. Lima hingga sepuluh anak panah melayang dari sana. Terlihat panah itu berubah menjadi api yang menggelegar. Menjadi cahaya terang dengan kecepatan yant membuat angin kencang di sekitar area pertarungan.
"Kenapa! Saya ingat hanya menaruh satu tempat untuk satu anak panah," ucap Edelweis sedikit menutup mata karena debu yang berterbangan sesaat setelah anak panah itu di lesatkan.
"Saya hanya memberikan berkat pada senjata nya," sekilas ucapan Amora teringat kembali oleh Tremy. Saat itu Tremy langsung tersadar jika itu bukanlah senjata biasa. Amora menggunakan spiritnya untuk memberkati senjata yang akan dia berikan pada Chandler.
"Tidak bisa, tidak bisa di lanjutkan atau-" Tremy langsung saja berlari ke arah Amora.
"TUAN! Anda akan kemana!" teriak Edelweis.
Tremy tidak menjawab apapun. Dirinya hanya fokus untuk melihat Amora. Saat dia sampai di bawah balkon kamar Amora. Amora benar-benar sudah marah, napasnya memburu bahkan tidak bisa dia kontrol sendiri.
"Para hama itu sudah cukup menjijikkan karana menginjakkan kaki mereka di sekitar mansion Duke Thedelso, apakah mereka tidak tau siapa yang mereka lawan," gunam Amora menyiapkan kembali senjata di tangannya. Sesaat dia akan melepaskan senjata itu kembali.
"AMORA!" teriak Tremy langsung membuat Amora berhenti. "Jangan lakukan itu kembali! Sekarang bukan waktunya! Anda harus menyimpan spirit Anda!" teriak Tremy.
Nadanya benar-benar dingin, tidak ada senyuman biasa yang dia tampilkan. Bahkan saat di pesta teh, meskipun Amora ingin kuat dia hanya bisa menangis. Sekarang Amora seperti orang yang berbeda.
"Jangan lakukan itu, atau tu-"
"A-mo-ra," suara berat dari seseorang yang sudah. tidak Amora dengar. Saat yang buruk itu, akhirnya Duke Thedelso keluar.
Menghampiri Amora dalam kamarnya. Terlihat Duke mengeluarkan aura hitam pekat, bahkan untuk pedangnya. Pedang itu adalah suci milik keluarga Duke yang sudah di turunkan dari generasi ke generasi. Bukti dari kesetiannya pada kerajaan, membuat Duke terikat dari generasi ke generasi. Sebuah pegang suci yang bahkan tercemar oleh kekuatan sihir yang ganas.
"Ayah, saya sudah menunggu mu, lama sekali Anda datang," ucap Amora dingin.
"Kita bertemu lagi, bukan kah ini pertemuan yang membosankan, Isnin," ucap Thedelso.
Suara yang berubah seperti seorang wanita. Thedelso tersenyum pada Amora, tapi Amora tidak takut sama sekali. Dirinya mengarahkan panahnya tepat pada Thedelso. "Kamu tau ini ada senjata yang telah saya berkati untuk menghilangkan orang seperti kamu, Diana," jawab Amora.
Ternyata keduanya sama-sama tidak sadar sekarang. Amora di pengaruhi oleh Dewi tertinggi Isnin, sedangkan kekuatan sihir Diana benar-benar sudah menguasai tubuh Thedelso itu sendiri.
Isnin dan Diana seperti cahaya dan kegelapan. "Saya bisa menghilangkan mu di sini Diana," ucap Isnin mengarahkan panahnya dan bersiap untuk menembak.
"Lakukan saja, maka kamu akan menjadi seperti saya. Seorang pembunuh, apa bedanya?" ujar Diana dari bibir Thedelso.
"Tentu saja, kita berbeda."
"HENTIKAN! Aku mohon, dia adalah ayahku!" suara terngiang dari kepala Amora sendiri. Isnin tak bisa menahannya. Teriakan itu langsung membuat Amora tersadar dan akan mengembalikan kesadaran akan tubuhnya.
"Aku mohon, adalah ayahku, jangan membunuhnya!" teriak kembali Amora terngiang-ngiang dalam kepalanya. Isnin seperti tidak bisa mengendalikan tubuh Amora kembali. Padahal inilah kesempatan untuk mengembalikan Diana ke tempat asalnya.
"Sudah aku tau menguasi emosi manusia adalah hal yang paling mudah untuk memanipulasi mereka," ucap Diana.
Saat itu juga terlihat jelas jika Thedelso mengangkat pedangnya. Sesaat ingin membunuh Amora dengan kekuatan itu.
"Ayah?" ucap Amora benar-benar kembali sadar. Saat itu juga tatapan mata emas Amora berbinar Terlihat jelas mengkilap menatap Thedelso dengan sejuk dan pasrah.
Saat itu Thedelso benar-benar terhenti, dirinya meneteskan air mata. "Maafkan saya, saya tidak bisa memenuhi janji saya. Calista," ucap Thedelso.
...SLASH!...
Saat itulah Thedelso langsung mengibaskan pedangnya pada dirinya sendiri. Dia bunuh diri tepat di depan Amora. Saat itu Thedelso langsung terdiam. Dirinya terjatuh duduk dengan darah yang mengalir dari badannya.
"TIDAK! APA YANG TERJADI! AYAH!!!!" teriak Amora langsung memeluk Thedelso.
"Tidak! Aku mohon jangan ambil ayahku juga! Dewa!! Aku mohon berikan kekuatan untuk menyelematkan nya! AYAH!!!!!!"