
'Apakah aku salah mengatakan sesuatu!' batin Amora berbicara sembari dirinya yang membeku.
Tak berselang lama, justru Thedelso menampilkan senyumannya. Perlahan dia melihat Amora alus sembari mengusap tangan kecilnya.
"Kenapa kamu membuat ayah takut?" pertanyaan Thedelso berbeda dengan yang Amora harapkan, tapin sikapnya itu jauh seperti yang dia kira. Perlahan Thedelso langsung mencium tangan Amora, memberikan senyuman alus dan mulai menghela napasnya. "Saya tidak marah, saya hanya takut kamu meninggalkan saya," lanjutnya.
Amora terdiam sesaat. Tak ada pikiran sama sekali untuk meninggalkan Thedelso ataupun mansion ini. Semuanya dia dapat dari sini, membuat Amora sudah cukup senang.
"Amora tak akan meninggalkan ayah," ucap Amora dengan bibir kecilnya. "Kata Emma kemarin ayah tidak makan malam, sekarang juga ayah tidak sarapan. Amora pikir, ayah membenci Amora dan tak ingin bertemu dengan Amora lagi," lanjutnya.
"Ayah tak mungkin melakukan itu, Amora adalah putri kesayangan ayah."
"Jika begitu, ayo makan bersama! Amora, ayah, dan juga kakak."
"Tentu saja, tapi Amora ada beberapa hal yang akan ayah lakukan terlebih dahulu, Amora pergilah dengan Chandler."
"Jika begitu, Amora akan menunggu ayah di meja makan. Cepat datang ya ayah!" teriak Amora beranjak dari tempat duduk nya.
Lantas dia berlari keluar, menghampiri Chandler dengan Edelweis yang masih menunggu di sana. Perlahan Amora menggenggam tangan Chandler, berjalan menjauh dari ruang kerja itu.
"Sepertinya hubungan kalian sudah membaik tuan," jelas Edelweis yang masuk sesaat setelah mereka pergi.
"Syukurlah, saya pikir kami akan terus diam," jelas Thedelso tersenyum singkat lantas berdiri dari tempat duduknya. "Oh, Edelweis masalah Theodor," lanjutnya.
"Ya, surat itu memiliki sample kerajaan, saya pikir itu benar di tulis oleh Pangeran Theodor," titah Edelweis
Perlahan Thedelso mulai berjalan ke mejanya, melihat ada sesuatu di sana. Selembar surat membuat Thedelso mulai memutar otak kembali.
"Saya tau ini sulit tapi saya yakin kamu adalah orang yang terbaik untuk ini Edelweis, saya percaya padamu."
Hingar bingar silir dingin sebuah hubungan yang dingin antara kerajaan dan juga keluarga Duke Thedelso. Sebuah ramalan mengatakan jika Maverick akan di bunuh oleh orang terdekatnya. Kutukan dari pihak gereja atas pembantaian yang sudah dia lakukan sebelumnya.
Sosok yang paling dekat dengan Maverick adalah Duke Thedelso. Orang kepercayaan Maverick bahkan semenjak mereka ada di Akademi. Menjadi tangan kanan kerajaan, bahkan orang-orang bilang dia adalah anjing kerajaan. Thedelso, yang selalu mengibaskan ekornya saat kerajaan meminta sesuatu darinya.
"Apa ayah sudah gila!" teriak Theodor seketika tau jika Maverick membawa Diana untuk tinggal di istana. "Ayah tau Duke Thedelso memiliki Amora, sebuah spirit akan menunjukkan spirit yang lainya! Mereka tak akan bisa bersama dalam waktu yang bersamaan! Ayah itu bukan pendeta yang bisa menguasai hal itu!" lanjut Theodor dengan teriakan tak hentinya.
"Kamu cukup kehilangan sopan santun mu Theodor," jelas Maverick masih cukup tenang dengan segelas wine yang dia tengguk perlahan.
Theodor tau setelah kepulauan dia dari gereja ada hal yang berubah dari ayahnya. Setiap orang kepercayaan ayahnya dia benar-benar mawas diri sekarang. Sebuah kutukan yang membuat Maverick cemas akan kematiannya sekarang.
Belum lagi dengan Diana yang membuat Theodor tak nyaman. Dia selalu tersenyum ceria, tapi ada maksud di baliknya. Entah dia adalah seorang yang memiliki anugrah spirit dari dewa, atau hal lain yang membuat orang-orang menjauh darinya.
"Ayah, Duke Thedelso sudah setia pada ayah. Dia selalu menemani ayah, bahkan saat di gereja saat dia tau sayalah yang menjadi sandra, bukannya dia menyelamatkan Amora malah dia ingin menyelamatkan saya," jelas Theodor mencoba untuk menjelaskannya pada Maverick.
Seolah tidak di dengar, Maverick justru memberikan tatapan tajam. Dirinya sedikit menggoyangkan botol wine yang ada di tangannya. Seketika Maverick beranjak dari tempat duduknya, lantas mulai berbisik pada Theodor.
"Kamu lupa salah satu peraturan istana adalah untuk tidak percaya pada siapapun Theodor," birik Maverick membuat Theodor merinding.
Dalam kerajaan Guinea terdapat tiga Dewi agung yang mereka percaya. Ada Isnin, Dewi tertinggi sebagai ibu dari para spirit. Termasuk sosok yang di percaya membawa spirit cahaya, warna kuning sebagai penanda. Lalu Dewi Abies, sosok yang membawa spirit ke suburan, warna hijau sebagai penanda, memiliki kekuatan spirit tingkat dua. Dan Edwin, sosok yang membawa spirit penyembuhan, warna biru sebagai penanda, memiliki kekuatan spirit tingkat tiga.
Konon di ceritakan spirit memiliki maksud untuk saling melengkapi, tapi di sisi lain juga saling membunuh. Keduanya saling ingin terlihat saat merasakan ada kekuatan spirit lain. Beberapa saat kemudian, sebuah kenyataan jika kerajaan memiliki dua pengendali spirit justru akan membuat kerajaan menjadi tidak stabil. Tidak seperti gereja yang mampu menetralisir spirit dengan adanya imam besar, tapi untuk sekarang pihak gereja sudah tidak ingin mengurus hal seperti ini.
"Dewi Isnin, saya tak tau apa yang terjadi dengan ayah saya, saya takut ada terjadi sesuatu padanya. Untuk sekarang, tolong lindungi dia dari kekuatan jahat lainya," ucap Theodor sembari berdo'a dengan menakupkan kedua tangannya.
Seketika bayangkan sesuatu keluar dari Theodor. Seolah ingatan yang kembali, membuat Theodor langsung memegangi kepalanya sakit.
"Sial, setelah pulang dari gereja kenapa saya merasakan hal seperti ini!" umpat Theodor merasa kesakitan.
Beberapa saat kemudian suara langkah kaki membuat Theodor terjaga. Kikihan pelang tanda khas suara anak perempuan.
"Mengumpat di hadapan Dewi tertinggi adalah hal yang sangat tercela, Yang Mulia," ucap Diana.
Dengan senyuman yang menakutkan, tertawa sedikit memeluk leher Theodor yang tengah tertunduk kesakitan.
"Pergilah! Akh-!" ucap Theodor masih merasakan sakit di kepalanya.
"Saya di sini hanyalah ingin membantu Yang Mulia, mengamankan tahta dari seorang yang ingin mengambilnya," Ucap Diana kembali, sembari mengibaskan gaunnya perlahan.
"Kamu yang membuat ayah berpikir jika Duke Thedelso akan melengserkan kedukaan nya!"
"Bukan saya, saya tak melakukan apapun. Saya hanyalah di minta, untuk mempertahankan kerajaan dari Spirit."
"Licik!"
"Saya sungguh tak melakukan apapun Pangeran, sejujurnya anak perempuan Duke Thedelso adalah kesalahan. Dari ramalan, hanya ada satu penguasa spirit di sini, jadi bukankah salah satunya harus hilang?"
"Jika memang salah satunya harus hilang, itu adalah kamu Diana bukan Amora."
"Jahat sekali, padahal saya melihat masa depan Anda itu suami saya....."
Ucapan Diana menempelkan dahinya pada dahi Theodor. Sebuah bayangan pesta pernikahan dan pawaii besar membuat semua orang bersorak, untuk Theodor dan Diana.
"TIDAK!!!!"
...****************...
...Yth. Duke Thedelso...
Maaf jika saya mengirinkan surat tidak resmi ini. Saya tidak tau apa yang terjadi dengan ayah saya, tapi harap Anda bisa mengerti. Saya bingung harus mengatakan ini dari mana, tapi sungguh saya ketakutan. Tidak hanya dengan ayah saya, tapi juga dengan Diana. Saya Sering bermimpi hal aneh sejak Diana datang ke istana. Ayah menjadi fokus pada tahtanya, dan selalu mengawasi Anda. Tentang ramalannya, ayah saya sungguh percaya jadi saya harap Anda baik-baik saja khususnya Amora. Untuk beberapa waktu saya tak bisa pergi, jadi mungkin saya hanya akan mengirim surat tanda saya hidup karena saya sudah tak tahan lagi. Duke Thedelso, Diana itu mengerikan entah kemana Dewi Edwin mengirim pengendali spirit seperti dia. Dia menakutkan, tatapannya, senyumannya, bahkan tanganya yang dingin terasa dia bukanlah manusia. Jika saya boleh meminta, kirim kan Edelweis untuk menjadi mata-mata, karena dia adalah orang yang sangat berbakat dan terpercaya. Saya harap surat ini sampai di tangan Anda dalam keadaan utuh.
^^^Hormat Saya^^^
^^^Pangeran Theodor.^^^