Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 30 : Itu Ra-ha-si-a



"Apa yang kamu bilang...." ucap Duke dengan tatapan yang sangat mengintimidasi, apalagi pada Edelweis. Mungkin untuk kesatria lain tatapan itu seperti tatapan macan yang ingin memakan, lain hal dengan Edelweis. Dia hanya bisa tersenyum simpul saat tau jika itu adalah tatapan kecemburuan.


"Ucapkan dengan benar Edelweis," lanjut Thedelso.


"Ya, Nona Amora yang memberikannya. Dia bilang jika itu untuk hadiah Tuan Muda nanti," ucap Edelweis mengulangi kalimatnya tadi.


"Kenapa dia bilang itu padamu, bukan pada saya!" ucap Thedelso tambah menatap dingin Edelweis.


"Saya tidak tau, intinya Tuan Duke saya ingin meminta izin pada Anda. Coba lihat, itu adalah inovasi senjata yang baru saya yakin Anda belum pernah melihatnya, tapi sekarang lihat bagaimana putri Anda memikirkan itu," ucapan Edelweis langsung membuat Thedelso diam.


Dengan wajah yang masih sama dia melihat kertas dari Edelweis. Bukannya merasa ada yang aneh, dirinya malah tersenyum halus. "Dia memang jenius," gumam Thedelso. "Kirim ini ke tempat biasa, saya ingin hasilnya bagus dan bisa di gunakan segera," lanjutnya.


Edelweis menundukkan kepalanya, seperti paham jika itu akan terjadi. Dia kembali keluar, membawa kertas itu. Melihat sekilas Edelweis melihat sisi lain yang membuat Edelweis seperti ragu. "Apakah Nona Amora sudah tau?"


Lain hal dengan Amora, selesai mengganti pakaiannya. Dalam sebuah ruangan dengan Tremy yang sudah duduk duluan di sana. Perlahan Amora menjinjit, lantas duduk di sebelah Tremy.


"Tremy!" ucapnya berharap untuk mengagetkan.


Bukannya terkejut, Tremy malah diam melihat Amora.


"Apa?" tanya Amora melihat Tremy yang masih melihat nya dengan kaku. "Tremy?" lanjutnya.


Beberapa saat kemudian Tremy duduk seperti biasa. Lantas dia menghela napasnya. "Amora, apa yang kamu berikan pada Sir Edelweis?"


"Eh-? Kertas?"


"Apa yang ada di dalam kertas itu?" tanya Tremy kembali.


Amora mulai terdiam. "Emmm, rahasia. Itu adalah hadiah yang ingin saya berikan pada kakak, sebentar lagi juga ulang tahun Tremy, saya ingin memberikan hal yang sama juga jadi itu... Rahasia," jawaban Amora menatap Tremy dengan senyumannya.


Jawaban yang cukup untuk membuat Tremy tak bertanya lagi. Menatap Tremy dengan salah satu jarinya tepat di bibir dengan tatapan senyuman sendu yang bisa membuat Tremy terpana.


"Biasa saja!" jawaban Tremy ketus mulai membaca buku asal berpura-pura.


Pelajaran sihir di mulai dengan madam Schwarz yang mengajar. Selain keluarganya, madam Schwarz dan juga Tremy juga tau dengan keberadaan Airy. Hanya saja keberadaan Airy tidak di sebarkan demi kebaikan Amora juga Airy sendiri.


"Amora, kamu menggunakan Airy kembali?" ujar madam Schwarz saat melihat Airy.


Dengan sihirnya dia bisa merasakan mana yang keluar dari sana. Meskipun Airy menggunakan sedikit mananya, tetap saja dia tidak bisa lari saat madam Schwarz memeriksa nya.


Sebenarnya hal itu tidak di perlukan, tapi saat semakin besar kekuatan Airy di gunakan Diana pasti akan merasakannya. Dia takut jika terjadi sesuatu di masa depan, maka Airy benar-benar harus di jaga dengan benar.


"Iya madam, saya menggunakannya untuk menggambar sesuatu," jawab Amora sedikit gugup.


"Untuk apa?"


Madam Schwarz hanya bisa menghela napasnya. Meskipun telah lama menjadi guru Amora, tapi Amora masih saja tertutup padanya.


"Apakah sesuatu itu adalah kertas yang kamu berikan pada Sir Edelweis?" tanya Tremy menyerobot percakapan antara Madam Schwarz dan juga Amora.


"Tremy sudah beberapa kali ibu bilang, tidak sopan jika kamu berbicara di antara orang yang berbicara," jelas Madam Schwarz. Dirinya yang tegas memang cocok untuk mentor dalam hal etika. "Jadi Amora, apa yang dj maksud Tremy barusan?"


"Em... Itu sebuah gambar, saya tidak bisa memberitahu karena itu adalah hadiah!" jelas Amora kembali bedanya sekali menggunakan nada yang meninggi.


"Saya tidak masalah Amora, lagipula Airy adalah milikmu. Tapi kamu harus sadar, Airy itu istimewa kamu harus menjaganya."


"Maaf Madam Schwarz, saya hanya ingin menggambar sesuatu agar menjadi sempurna, karena itu adalah hadiah. Sebentar lagi kakak akan menjadi dewasa, sebelum pesta kedewasaan saya ingin kakak mendapat hadiah yang spesial," jelas Amora menggunakan nada yang mulai perlahan.


Hari ini Amora mulai belajar sihir, bagaimana dia menggunakannya dan bagaimana cara memanggil hewan sihir. Hewan sihir sama seperti Airy, tapi dia tidak memiliki pikiran sendiri. Dia terikan akan tuannya, entah tuan itu jahat ataupun baik. Hewan sihir akan melayani orang yang telah membuat ikatan dengannya. Berbeda dengan spirit yang memiliki pemikiran dan tidak bisa di ikat dengan paksa.


"Jadi, antara hewan sihir itu mana yang membuatmu tertarik Amora?" tanya Madam Schwarz setelah menjelaskam dasar-dasarnya.


"Regus, saya suka Regus. Karena dia berbentuk serigala, dan serigala itu kuat," jawab Amora dengan nada yang semangat.


"Kamu sebelum memilih juga di lihat bagaimana kemampuan mu Amora," jelas Tremy mengalihkan tangan Amora dari hadapannya.


"He?! Madam Schwarz menawari saya tentu saja saya jawab," jelas Amora dengan lugunya.


Lain hal dengan Tremy dan juga Amelia, meskipun sudah di ajar etika oleh Madam Schwarz perilaku Amora tidak berubah jauh. Mungkin memang sejak kecil dia seperti itu, merasakan zona nyaman tanpa terikat oleh sesuatu.


"Amora, pilihanmu memang bagus, tapi benar kata Tremy. Kamu ha-" ucapan Madam Schwarz terhenti saat ketuka pintu pada ruangan tersebut.


Seorang penjaga mansion tiba-tiba datang. Wajah terengah melihat ke arah Madam Schwarz. Dia meminta Madam Schwarz untuk pergi ke ruang Thedelso secepatnya. Lantas tanpa pikir panjang Madam Schwarz langsung pergi, meninggalkan Tremy dengan Amora sendiri.


Awalnya mereka belajar untuk memanggil hewan sihir. Beberapa kali gagal, khususnya Amora yang belum terbiasa dengan sihir di tubuhnya. Lain hal dengan Tremy yang mampu mengeluarkan hewan sihir tingkat rendah seperti kelinci ataupun burung.


Tanpa di sadar hari yang siang, sore, kemudian malam. Dalam kamar Amora dengan beberapa pelayan yang masih melayani mereka berdua. Tremy juga di minta untuk menginap karena ibunya belum melesaikan urusannya.


Di balkon kamar, mereka berdua duduk di temani dengan teh juga beberapa camilan. "Saya bosan," celetuk Amora menempatkan kepalanya pada meja.


"Kamu bosan? Ingin melihat bintang? Katanya malam ini adalah malam yang bagus untuk melihat bintang," balas Tremy.


"Sungguh? Tapi bintang tidak terlalu jelas di sini, harusnya di tempat yang gelap."


"Saya memiliki tempat yang bagus Amora. Izinkan sa-ya," ucapan Tremy sembari membopong Amora.


Sontak mata Amora membuka lebar, saat Tremy mulai mengajak Amora keluar dengan tiba-tiba. Dengan sihir milik Tremy, dirinya melompat dari balkon kamar.


"TREMY!!!!"