
'Tremy, bisakah saya percaya? Saya tak ingin kecewa, tapi bisakah saya percaya?'
Tanpa sadar hari sudah menjelang malam. Entah apa yang di bicarakan oleh Duke Thedelso dan juga madam Schwarz membuat mereka berbicara begitu lama. Sama halnya dengan Amora, dua mulai membuka pikirannya terhadap Tremy. Dirinya mempelajari sihir, hal yang benar-benar mirip seperti spirit, tapi ada hal yang berbeda dari keduanya antara spirit juga sihir.
Sifat yang lembut, hangat, dan cenderung menyembuhkan itu terjadi jika spirit. Lain hal dengan sihir, itu akan memiliki efek samping baik pemakai maupun yang terkena nya. Amora sudah merasakan sensasi itu sendiri. Rasa seperti listrik perlahan sihir itu mulai menyerap dalam tibuhnya. Akan tetapi, lain hal dengan kekuatan Diana. Benar-benar seperti spirit bahkan Amora tidak percaya.
"Amora?" panggil seseorang yang membuat dia tersentak.
Dalam dingin malam, Amora menatap keluar jendela. Sudah beberapa tahun sejak dirinya masuk ke novelnya itu, dan ajaibnya semuanya masih hidup. Kecuali dengan ibunya, Calista. Dia juga mendapati banyak kenyataan di luar alur yang dia ciptakan. Tatapan kosong Amora melihat cahaya bulan terang membuat duke Thedelso penasaran.
"Amora?"
"Ayah-! Astaga Ayah membuat saya terkejut!" ucapan Amora dengan senyuman seperti biasa. Menatap Duke halus lantas dia duduk di depan Amora.
"Apa yang kamu lakukan, bukankah sudah terlalu malam untuk terjaga?" tanya Duke sembari memperbaiki rambut Amora.
"Hehe, saya merindukan kakak," jawab Amora dengan kekehan pelan.
Tentu saja jawaban itu tak sebenarnya benar ataupun salah. Mungkin dia tengah merindukan Chandler sekarang, tapi di saat yang bersamaan dia juga memikirkan masa depan.
"Padahal kamu baru beberapa minggu ditinggal Chandler, saya tidak kira kamu akan dekat dengannya."
"Heem-! Saya juga! Ah-! Ayah, lihat kakak memberikan saya sebuah surat. Katanya dia berlatih untuk menunjukkan wujud sihir, Anda tau seperti Tr-"
"Amora...." entah apa yang terjadi pada Duke Thedelso, dia menghentikan tangan Amora yang tengah menjelaskan apa yang dia dia pikirkan. Dengan senyuman halus Duke Thedelso seperti memikirkan sesuatu yang dalam. "Kamu, harus berlatih berpedang."
"Eh-?"
...****************...
Siang tadi saat Madam Schwarz datang dia berdiskusi dengan Duke Thedelso masalah kekuatan Amora. Pasalnya kerajaan sudah tidak bisa di percaya. Apalagi dengan Diana di dalamnya, membuat para ahli ilmu magis takut untuk masa depan kerajaan.
"Mungkin kerajaan akan baik-baik saja, selama Yang Mulia ada di tahtanya, tapi bagaimana jika Yang Mulia tiada? Mungkin selanjutnya adalah Pangeran," ucap Madam Schwarz sesaat beranjak dan melihat keluar jendela.
"Pergerakan saya juga di batasi Anda pasti sudah tau itu, Elizabeth," jawaban Duke Thedelso penuh dengan tekanan di akhir kalimatnya.
Elizabeth Schwarz, atau lebih dikenal dengan nama Madam Schwarz. Dia adalah seorang penyihir terkenal pada masanya. Jauh sebelum di temukannya Diana, Elizabeth lah yang membantu dalam menyembuhkan penyakit dan luka. Akan tetapi, dengan pengaruh yang begitu besar gereja takut jika pamornya untuk mengikat rakyat akan hilang. Beberapa kali Elizabeth di minta untuk menjadi pelayan gereja, tapi dia selalu menolaknya.
Hingga entah darimana Diana datang, gereja bilang jika dia adalah sorang Sanit. Keagungan besar, membuat rakyat kini kembali berpaling. Bukan karena iri akan ke pamoran gereja, Elizabeth justru mencurigai Diana. Dia sesekali berkonsultasi dengan Maverick dengan tingkah kotor gereja. Semuanya berjalan lancar, hingga kutukan itu datang dan membuat Diana justru ada di kerajaan sekarang.
Lain hal dengan Amora, dia memiliki hal yang istimewa dimana Diana tidak mempunyai nya. Berkat Dewa. Dari situlah para pendeta berusaha untuk menyerap energi Amora, tapi gagal. Malah mereka sendiri menjerumuskan diri dalam kematian. Kerajaan semakin pasif dalam urusan gereja, tapi lebih sensitif pada Duke Thedelso membuat Elizabeth paham jika gereja belum menyerah apalagi dengan adanya Diana.
"Saya tau, entah kenapa saya merasa ada yang aneh, apakah gereja benar-benar mati atau mereja sengaja mati?" pertanyaan yang keluar dari Duke Thedelso membuat Elizabeth membuka matanya.
Dia bukanlah wanita yang bodoh. Dia langsung paham apa yang Duke Thedelso sangka padahal baru menjadi kalimat asal. "Jangan berpikir ini jelas sebuah rencana!"
"Saya juga tidak tau, tapi kenapa tiba-tiba maverick ingin menghancurkan gereja? Dan gereja seperti tidak ada perlawanan."
"Saya tidak tau, untuk kedepannya bukankah anakmu terlalu lembek Duke?"
"Apa maksud mu?"
"Saya tau Anda sangat menyayangi nya, tapi bukankah lebih baik jika Anda juga mengajari Nona Duke sedikit bela diri," jelas Elizabeth.
Tentu saja dunia yang keras untuk tubuh lemah. Hukum alam dia yang kuat yang akan bertahan. Di sisi lain, Elizabeth juga meyayangkan sikap Duke yang terlalu mengekangnya.
Sore hari tiba, Elizabeth akan memulai pelajarannya tiga hari lagi untuk persiapan. Di sisi lain, saat bulan sudah kembali ke posisinya tepat di depan kamar Amora dia melihat sosok Amora yang berbeda. Dengan mata kosong menatap langit malam yang cerah. Di sinari oleh bulan, juga lilin kamar yang remang-remang. Terlihat sikap Amora seperti orang dewasa, bahkan jauh lebih dewasa.
"Calista...." gumam Duke Thedelso bergumam atas apa yang di lihatnya.
Tepat sebuah kisah cinta yang miris karena status sosial. Setelah di tinggal oleh istrinya terdahulu, Duke Thedelso merasakan patah hati, kesepian, hingga seorang pelukis membuat hatinya berdebar. Sosok yang sangat cantik juga perhatian, tapi sayang dia memiliki tubuh yang lemah.
"Calista, bagaimana bisa!"
"Anda sudah harus kembali ke tempat yang seharusnya, Tuan Duke," ucapan polos seorang wanita yang tengah hamil muda.
"Bagaimana bisa saya meninggalkan kamu sendirian, apalagi dalam keadaan mengandung seperti itu. Sa-"
"Tuan, Anda memiliki putra 'kan? Jangan lupakan dia. Saya hidup di pantai asuhan, tempat yang sangat tidak mengenakan saat saya tidak merasakan kasih sayang. Ini adalah permohonan saya, saya tak ingin putra Anda merasakan hal yang sama di saat dia masih memiliki ayah di sampingnya."
Setelah itu Duke Thedelso pergi dari tempat Calista. Berbulan-bulan tidak ada kabar membuat Duke Thedelso cemas. Dia ingin kembali, tapi Calista sudah pergi. Saat perang terjadi, dia tidak pernah mendapatkan kabar dari Calista. Hingga surat dari Calista datang setelah enam tahun. Pernyataan tentang dirinya yang sakit, dan tidak akan hidup dengan lama lagi.
[Tolong jaga dia, Amora putri dengan nama yang kamu berikan]
Kalimat dalam surat yang selalu Duke Thedelso ingat.
Ingatan masa lalu itu tiba-tiba kembali, saat tersadar dia masih melihat Amora yang terdiam.
'Benar, setidaknya dia harus belajar menjaga dirinya,' batin Duke Thedelso. "Amora...."