Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTURE 51 : Awal Rencana Diana



"Diana yang menceritakan ini Chandler, bukan hanya Duke Thedelso tapi nanti juga kamu," jelasnya. Tatapan tak percaya masih Chandler nampak dari wajah Chandler. "Saya tau Chandler, tapi kamu adalah sahabat saya, saya tak mau kehilangan kamu. Ingatkah semuanya ini karena Amora ke gereja, dialah yang membawa semua ini," lanjut Theodor.


Dengan napas yang masih memburu, Theodor mencoba untuk menjelaskan maksudnya dalam mansion itu. Chandler lain sisi, dia masih melihat ke luar, terlihat jelas Amora yang masih merenung di sana. Ingatlah Chandler kembali berulang saat dia melihat Amora dalam dengan kekuatan nya yang keluar.


"Anda tak tau Yang Mulia, merekalah yang menginginkan kekuatan Amora. Diana seperti itu, dia itu cemburu atau rencana gereja," sela Chandler masih tak sepaham dengan Theodor.


"Tidak, dia adalah seorang sanit! Kita meminta berkat pada dia, dialah orang yang di berkati oleh dewa!"


"Apakah Anda pernah melihat sosok dewi yang sebenarnya? Saya pernah melihat nya," jawab singkat Chandler.


Perdebatan panjang terjadi di sana. Cekcok antara dua sahabat itu berlangsung lama. Satu hal, Theodor ingin agar Chandler baik-baik saja, tapi Chandler tau semua itu bukan masalah Amora. Belum lagi saat Chandler tau cerita yang sebenarnya, andaikan Amora tidak menggunakan spiritnya untuk memberkati senjata itu maka pasukan akan kalah telak. Belum lagi cerita Madam Schwarz dengan perjanjiannya pada Duke Thedelso membuat Chandler yakin jika Amoralah yang harus dia lindungi


Lain hal dengan Diana, dirinya masih sibuk menulis sebuah diary pada buku kuno miliknya. "Hem, harusnya setelah ini aku pergi ke akademi lalu mendekati Chandler. Membuat dia nyaman dengan ku, lalu memanfaatkan Amora dengan Amelia," gumam Diana masih sibuk menulis serta menggambarkan beberapa sketsa.


"Author kesayangan ku memang tak pernah salah, bersyukurlah bunuh diri itu bisa membuatku langsung masuk ke badan Diana," lanjutnya.


Perlahan Diana melangkahkan kakinya. Mengikuti lorong istana yang lebih besar dari apa yang pernah dia bayangkan sebelumnya. Beberapa pelayan mulai membungkukkan badannya pada Diana. Raut angkuh tak bisa Diana sembunyikan apalagi itu adalah hak yang belum pernah Diana dapatkan baik kehidupan lalu maupun saat dia masih di gereja.


"Membungkuk lah, lagipula sebentar lagi aku adalah ratunya, hanya perlu menyingkirkan hama tak berguna," gumamnya sesaat melihat pelayan yang memberi hormat padanya.


Dengan menata wajahnya sedikit riasan tipis di sana. Dengan wahah tersipu malu Diana mulai mengetuk pintu kamar istana. "Yang Mulia, saya Diana meminta izin untuk masuk," ucapnya.


"Kamu tidak perlu meminta izin untuk itu Diana, kamu tau saya sudah menganggap mu sebagai keluarga," jawab penguasa kekaisaran itu.


Sudah beberapa bulan setelah kejadian pembantaian itu, kekaisaran mengangkat Diana sebagai anak asuh. Entah alasan apa, tapi itu benar-benar membuat mansion Duke cemas.


"Ada perlu apa Diana, sungguh kebetulan kamu datang kemari."


"Yang Mulia, maaf saya meminta ini tapi sungguh saya sangat mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan. Gereja menyediakan banyak buku sebelumnya, jadi jika tak masalah saya ingin juga sekolah untuk mengembangkan bakat saya," jelas panjang Diana.


Inilah kesempatannya, saat Chandler juga Diana berada di satu akademi perasaan tumbuh pada diri Chandler. Dia sangat mencintai Diana, hingga tak ragu untuk membunuh adiknya sendiri.


"Kamu ingin pergi ke akademi dengan Theodor? Boleh saja, siapkan baju mu kereta akan pergi sebentar lagi," jawab Yang Mulia Maverick.


Maverick kini benar-benar dalam pengaruh Diana. Dia tak sadar mana yang benar ataupun tidak saat sudah berhubungan dengan Diana. Beberapa kali dewan istana menjelaskan keadaannya, para rakyat mulai tak suka dengan Maverick. Akan tetapi, Maverick melihat nya sebagai pemberontakan pada istana.


Di hari yang bersamaan, Theodor juga Chandler di minta untuk pergi ke Akademi. Ini adalah perintah dari Maverick sendiri sesuai yang di minta Diana.


Perjalan ke lorong Diana bertemu dentan Thedelso, di sana dia berbicara pada Edelweis. "Sungguh? Kenapa Yang Mulia sampai meminta Chandler untuk pergi ke Akademi!" ujar Duke Thedelso merasa aneh.


Senyuman simpul Diana lakukan, sentikan jari tepat membuat samar kabut hitam yang menuju Duke Thedelso dan Edelweis. "Ayah yang baik, tapi sungguh sekarang tidak akan lagi. Mari kita selesaikan Amora, pertama dari ayah mu," gumam Diana.


Sesuatu yang belum pernah Diana lihat sebelumnya. Dia melihat jika sihirnya tak bisa mempan pada Edelweis ataupun Thedelso. Samar Diana melihat ada batasan di sana dengan warna kuning emas milik Amora.


"Dia... Dia memberkati kedua orang itu, sama seperti di gereja," gumam Diana.


Marah, kesal, dan iri menyelimuti Diana. "Aku harus cepat membereskan anak itu," ucapnya.


Perlahan Dara mendekati Duke Thedelso dan juga Edelweis. Menampakkan matanya yang memerah seperti ular. Ingin Diana melakukan hipnotis nya tapi tetap tidak bisa.


"Maaf Duke Thedelso, Anda tau rahasia saya Anda adalah orang yang tidak beruntung," ucapanya.


Sesaat sihir hitam benar-benar pekat seperti benang hitam keluar dari tubuh Diana. Edelweis yang ingin melindungi Duke Thedelso bahkan tak bisa menahannya. Begitu pula dengan Duke Thedelso yang mulai ada di bawah kendali Diana.


"Saat kamu dekat dengan Amora, kutukan ini akan semakin kuat. Bunuh dia, Thedelso," ucap Diana.


Itu adalah keadaan yang singkat tapi efeknya lama. Bahkan semakin lama akan semakin kuat. Thedelso sudah mencoba untuk menghilangkannya, bahkan Madam Schwarz tidak bisa. Saat itu Madam Schwarz paham jika Diana memiliki kekuatan yang lebih besar darinya.


Waktu telah berjalan, Diana akhirnya masuk Akademi dengan Theodor. Kelas Diana di mulai, di sinilah dia harus memulai awal rencananya.


Pertama Diana harus mendekati Amelia, kakak dari Tremy. Amelia adalah anak yang kompetitif, tapi masa remaja membuat Amelia goyah akan perasaannya.


"Mana anak itu, Amelia Schwarz," ucap Diana.


Sesaat Diana melihat ke arah kerumunan orang. Dialah yang menarik anak sebayanya untuk masuk ke dalam kumpulan sosialnya.


"Permisi, selamat pagi. Saya adalah Diana-" ucapan Diana terhenti bingung apa yang harus di katakan saat dirinya tidak memiliki marga untuk di banggakan.


Beberapa dari mereka melihat Diana rendah, bahkan Anelia sendiri. "Saya tau, Anda adalah anak yang di bawa Yang Mulia," ucap salah satu dari mereka. Menutupi bibir ranum dengan kipas bordiran, tapi tak bisa di sembunyikan jika ada senyuman ejeka di baliknya.


"Lagipula itu sudah menyebar saat gereja mengambil anak yang memiliki spirit, bahkan putri haram dari Duke Thedelso," balasnya yang lain.


"Tak masalah Diana, saya tau kamu pasti bingung marga kamu siapa ataupun tidak memiliki marga," balas Amelia.


Benar-benar kelas sosialita yang jauh dari pandangan Diana. Mereka saling melihat dengan tatapan yang sama. Memojokkan salah satu di antara yang lain agar terlihat sama.


"Benar, tapi seharusnya kalian waspada kenapa saya bisa masuk ke istana."