
Amora memegangi tangan Tremy kuat. Dia benar-benar gugup, pikirannya kacau apalagi dia tau jika betapa kerasnya pergaulan kelas atas. Amora sebelumnya berpikir jika dia tidak butuh untuk pergaulan seperti itu, tapi sekarang lain dengan adanya Tremy. Perlahan Tremy masuk, di lihat banyak orang yang langsung melihat ke arah mereka. Beberapa dari bangsawan muda langsung mendatangi Tremy.
"Tuan muda Schwarz, perkenalkan saya putri dari Viscount Dryan," ucap seorang anak perempuan memperkenalkan diri dengan anggunnya.
"Terimakasih telah mengundang saya Nona Dryan, Ini adalah Putri Duke Thedelso, saya harap tidak masalah mengajak nya sebagai pasangan saya," ucap Tremy langsung memperkenalkan Amora.
Dengan perlahan Amora berusaha untuk bersikap anggun. Mempraktekkan apa yang sebelumnya Madam Schwarz ajarkan padanya. Tetap saja, banyak orang yang menggunjingkan Amora. Meskipun dia adalah anak dari seorang Duke, bukan hal yang tabu jika dia adalah anak haram dari seorang wanita rendahan.
Sangat berbeda dengan Amora, Tremy begitu bersinar di pesta itu. Sikapnya sangat mempraktekkan seorang bangsawan. Amora merasa sesak di sana. Dia pergi untuk mengambil beberapa camilan, belum lagi dengan minuman yang dia ambil untuk menyegarkan tenggorokan.
"Ah, maaf saya tidak melihat Anda. Nona Thedelso," ucap seseorang dengan kipas yang menutupi sebagai wajahnya.
Matanya sangat tajam seperti melihat Amora tidak suka. "Tidak apa, saya permisi dulu," ucapan Amora langsung pergi dari aula pesta.
Perlahan Amora menyusuri lorong, benar-benar sepi tidak ada pelayan ataupun penjaga. Rasanya Amora muak dengan orang-orang di pesta, dia memang tidak cocok untuk acara seperti itu. Jiwa introvert nya tiba-tiba datang membuat dia muak.
Amora merasakan silir, terlihat itu adalah balkon. Amora mendekati nya, siluet beberapa orang terlihat dari sana. Amora terdiam dari balik mereka, tubuhnya terdiam saat tau para putri bangsawan tengah membicarakan nya.
"Saya tidak tau kenapa Tuan Muda Schwarz membawanya sebagai pasangan, padahal dia hanyalah anak haram," ucap seorang dari pembicaraan yang Amora dengar.
"Anda tau, katanya Madam Schwarz mengajarinya etika, bukankah itu seperti pencemaran bagi Madam Schwarz mendapatkan gelar Madam dengan sangat susah tapi dengan kekuasaan ayahnya dia di minta untuk mengajar Amora itu," timpal yang lainya.
Tubuh Amora benar-benar terhenti. Dia tidak bisa maju ataupun kembali. Tangannya berkeringat, wajahnya pucat mendengarkan orang-orang itu.
"Apakah kamu yakin jika Tuan Tremy membawanya sebagai pasangan itu bukan karena desakan Tuan Duke sendiri?"
"Saya yakin keluarga Marquez Schwarz tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu, bukankah dia hanyalah anak haram?"
"Benar-benar tidak meyakinkan, mungkin dia juga memaksa Tuan Tremy."
Pembahasan mereka benar-benar liar. Mata Amora memerah dengan air mata yang perlahan keluar dari sana. Perlahan kepala Amora mulai di pegang seseorang dari belakang, tepat di telinga.
"Anda hanya perlu pergi jika tidak suka, atau berbicara dengan mereka. Ingat bagaimanapun juga Anda adalah putri Duke Thedelso, seorang kesatria terhormat di Kerajaan ini," jelas Tremy.
Amora hanya diam melihat Tremy yang seperti marah. Wajahnya terlihat kesal, dia lantas melepaskan tangannya lalu menyibakkan tirai yang menjadi perantara di antara mereka. Terlihat beberapa anak bangsawan di sana, termasuk tuan rumahnya juga. Tremy memperlihatkan wajahnya yang benar-benar kesal. Dia menarik Amora menuju ke orang-orang itu.
"Apa yang kalian bicarakan? Sebuah ketidaksopanan jika seorang membicarakan tamu bahkan untuk tuan rumah," ucap Tremy melihat semuanya dengan tatapan kesal. "Saya pikir kami akan di sambut baik di sini, ternyata hanya di permalukan oleh bangsawan seperti kalian," lanjutnya.
Semuanya terdiam melihat Tremy yang marah. Satu persatu semuanya terlihat jelas bagian dari keluarga mana saja mereka. Mereka yang awalnya membicarakan dengan bangga kini hanya bisa terdiam. Rasanya jika keluarganya Schwarz dan Thedelso yang bersatu akan menjadi momok mengerikan bagi mereka.
"S-saya tidak apa-apa, Tremy saya ingin pulang," sela Amora di sela-sela keheningan mereka.
"Tentu saja kita akan kembali, sudah cukup Anda di permalukan di sini. Saya pikir Tuan Duke pantas tau tentang apa yang terjadi," ucap Tremy langsung membawa Amora pergi.
Sebelum Amora benar-benar pergi, Tremy melihat kembali ke arah para putri bangsawan tadi. "Saya pikir ini yang pertama dan terakhir, itu juga jika kalian masih ada ke depannya," lanjut Tremy.
Amora hanya diam, saat kembali juga demikian. Terlebih lagi Tremy yang merasa tidak enak karena dia lah yang membawa Amora kesana.
"No-"
"Amora, nama saya Amora. Itu tidak adil jika saya memanggil saya dengan nona tapi saya memanggil kamu dengan nama."
"Saya merasa tidak sopan."
"Lalu bagaimana dengan saya? Saya menganggap kamu sebagai teman Tremy, tapi kamu menganggap saya seperti itu."
Tremy terdiam sesaat, mereka mulai dalam keadaan yang sangat tidak nyaman. "Amora," panggil Tremy memecah keheningan di antara mereka.
"Amora, saya sudah memanggil Anda seperti itu, apakah saya boleh meminta sesuatu dari Anda?"
"Tentu saja! Apakah kamu bercanda, kamu selalu bisa meminta apapun Tremy, kita teman!"
Tremy menampilkan senyumannya. Menegang tangan Amora, lantas menciumnya sesaat. "Izinkan saya jika untuk berdansa dengan Anda saat hari kedewasaan saya, itu benar-benar akan sangat menyenangkan bagi saya."
Senyuman dari Amora yang semulanya ada perlahan mulai pudar. Saat dia meminta hal itu, Amora memalingkan wajahnya. Lantas menarik tangannya. "Saya tidak bisa," jawab Amora dengan cepat.
"Apa saya membuat kesalahan?"
"Tidak, sayalah yang bermasalah tremy. Kamu lihat saat pesta ini saja kamu di pesta teh hari ini? Kamu lihat kamu, dan nama keluarga Schwarz tercemar karena saya. Apalagi saat berdansa dengan mu nanti? Ti-"
"Anda masih memikirkan itu?" sela Tremy sebelum Amora bisa melanjutkan ucapannya. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, ingatlah Anda putri dari siapa," lanjutnya.
Amora terdiam, dia menundukkan kepalanya. Beberapa hal membuat Amora tak bisa berkata-kata. Kenyataan jika dia hanyalah anak haram tidak bisa di tolak, belum lagi karena dia membuat Duke dan istana menjadi berselisih.
Benar, urusan Amora dengan Diana belum selesai. Meskipun ini bisa di bilang sebagai masa tenang, Amora masih tidak bisa tenang. Dia merasakan sesuatu yant janggal, rasa ketakutan mulai menyeruak masuk ke dalam pikirannya.
"Anda lebih sering diam dari biasanya," ucap Tremy langsung menempatkan jarinya pada leher Amora. "Anda terlihat cemas, itu terlihat jelas dari wajah Anda. Jika Anda butuh sesuatu, ingat saya ada di sini untuk membantu."