
"Ini berakhir saat kita menyerah," sesaat Amora langsung membuka mata, tersadar dari tidurnya.Dia ingat itu adalah kata-kata yang dia ucapkan saat dia akan berhenti menulis.
Saat itu Amora tengah mengerjakan novelnya ini, tapi tidak ada yang membaca hingga entah darimana para pembaca itu datang dan pengikutnya mulai meningkat."Ini berakhir saat kita menyerah," ucap Amora kembali dalam bentuk gumaman. "Benar, aku yang membuat ini aku juga yang menghancurkannya. Sekarang aku di sini untuk memperbaiki itu semuanya," lanjutnya.
Tanpa di sadari Amora melihat sepasang tangan kekar yang ada di lingkar pingggangnya. Mata Amora membuka saat tau Chandler tidur sembari memeluknya.
"Kakak!" teriakan Amora terkejut. "Masih terlalu cepat sekarang, jika kamu butuh sesuatu katakan saja," balasan Chandler masih malas untuk melepaskan pelukannya.
"Kakak lepas, ak-"
"Kamu bermimpi sesuatu yang buruk? Tak masalah, aku masih ada di sini," jawaban Chandler masih dengan gumamannya.
"Tidak, jadi lepaskan sekarang kakak."
Bukannya melepaskan pelukan Chandler malah semakin mengeratkannya. Mata Chandler kini membuka, wajahnya datar dengan rambut yang setengah berantakan. "Kamu berbohong, saat kamu tidur kamu menangis memimpikan sesuatu yang aneh. Saya tau," jelasnya.
Bibir Amora membungkam begitu saja, dia tak bisa percaya jika itu yang terjadi padanya. Memang jika dia bermimpi aneh, tapi bukan hal yang buruk juga menurutnya.
"Aku merindukan ibu, banyak hal yang aku pikirkan sekarang mungkin itulah sebabnya jika aku bermimpi buruk," balas Amora.
"Besok adalah upacara pemberkatan, kamu tak perlu khawatir sekarang tidurlah atau kamu akan sakit sebelum upacara itu di adakan."
"Sejujurnya kakak, aku merasa aneh dengan gereja, aku harap aku tidak menjadi pembangkang nantinya," balasan Amora.
Chandler terdiam begitu saja, beberapa saat kemudian pelukan hangat dia layangkan kepada adiknya. Chandler tidak mengucapkan apapun, menandakan jika dia lelah untuk sekarang.
"Beristirahatlah," ucap Amora.
"Bukan untuk saya, tapi kamu."
Malam itu Amora sedikit tenang, meskipun banyak hal yang dia pikirkan. Malam berganti, pagi-pagi Chandler membangunkannya. Mata Amora perlahan membuka dengan silauan yang menyeruak masuk begitu saja.
" Bangun sekarang atau nanti kita akan terlambat di upacara pemberkatan," ucap Chandler membangunkan Amora dengan cara menggendongnya.
"Upacara pemberkatan di lakukan siang hari kakak, kakak sendiri yang bilang untuk tidak terburu-buru."
"Kalo begitu baiklah, awalnya saya ingin mengantarmu pergi ke makan ibu mu Amora," ucap Chandler santai.
Seketika Amora langsung membuka mata, tanpa ucapan lagi dia mulai beranjak dari Chandler. Amora langsung bersiap untuk pergi, bahkan menggunakan gaun dengan dengan sangat rapi.
"Aku harus membeli bunga terlebih dahulu nantinya, tapi kakak aku bahkan tidak tau di mana makam ibu."
"Ya, sepertinya kami sudah mempersiapkan itu," balasan Chandler.
Dia membuka tirainya, terlihat sebuah kereta kuda sudah bersiap di depan sana. Itu adalah hal yang sudah di siapkan Chandler sebelumnya. Dia sengaja menyewa kereta kuda yang dekat dengan gereja. Di sana mereka pasti tau makan Calista ada di mana.
Dengan mata berbinar Amora mengarahkan pandangannya ke luar. Seperti lupa dengan kejadian tadi malam wajah Amora benar-benar berubah.
"Kamu beli bunga itu? Itu jarang untuk di beli. Biasanya mereka akan membelikan mawar, sedangkan kamu membeli Edelweis, Amora?" pertnyaan Chandler membuka pembicaraan.
"Edelweis, bunga keabadian. Sejujurnya ibu tidak pernah bilang jika dia menyukai bunga apa, tapi Edelweis ini menandakan meskipun ibu tiada aku masih bisa bersama dengan dia," Jelas Amora.
Perjalanan ternyata cukup jauh, Amora yang sebelumnya berpikir jika Calista di makamkan sekitar gereja sekarang tidak. Entah apa yang Amora lewatkan kenapa dia malah hal yang paling mendasar.
Sampai di pemakaman umum, terlihat Chandler seperti tau dia akan kemana. Dengan langkah kaki pasti dia mulai menuntun Amora. Menaiki beberapa anak tangga, lalu berbelok ke salah satu makam di sana. Tulisan Calista tertera di sana, ini adalah makam milik ibunya.
"Makan milik ibumu, saya tak membutuhkan banyak waktu untuk menemukannya. Hanya perlu sedikit menyuap pihak gereja agar mereka mau berbicara," jelas Chandler.
Tanpa mengucap apapun lagi Amora langsung menghampiri makam itu. Dengan perlahan dia memegang batu nisan milik Calista. Entah darimana, sebuah bayangan tentang sebuah ruangan dengan salib dan tenggorak yang menempek di tembok. Tepat atas salib itu terdapat kepala yang masih meneteskan darahnya.
"Mama?" gumam Amora.
Matanya membuka melihat pemandangan aneh itu, ingin dia berlari menghampiri Calista sayang tidak bisa. Seketika badan Amora terhuyung lemas. Untung saja Candler dengan cepat menangkap Amora sebelum dia jatuh.
"Ada apa?" tanya Chandler khawatir.
"Aku melihat pemandangan aneh, a-"
"Amora!" teriakan itu lantas membuat Amora langsung menghentikan ucapannya.
Angin kencang mulai berhembus membuat daun-daun yang masih muda bahkan harus meninggalkan tangkainya.
"AMORA!" teriakan itu kembali menyeruak membuat Amora tersentak.
"Airy, AIRY!" teriakan Amora itu memanggil hewan sihirnya.
Sontak cahaya pahas mulai keluar perlahan menjadi siluet burung yang terlihat jelas. "Ada apa, lama kam-" ucapan Airy terhenti seketika saat dia melihat keadaan yang kacau. "Kenapa kamu memanggilku di saat yang buruk," lanjutnya langsung pergi menjauh.
"Air-"
"Dia sudah tau apa yang harus di lakukan kakak, ada yang aneh di sini. Harusnya sebuah kekuatan tidak seharusnya di sini," ucapan Amora perlahan.
"Ini tidak adil jika Anda hanya memanggil Airy, biarkan saya juga mengabdi," ucapan berat itu tiba-tiba datang dari belakang Chandler juga Amora.
Itu adalah Ernest, dalam bentuknya yang sudah tidak kecil lagi. Hewan sihir dengan kemampuan besar kini ada di hadapan mereka. "Ini adalah waktunya pengabdian saya, entah kapan saya hisa bertahan tapi saya pikir ini adalah waktu yang tepat."
"Ernest, darimana kekuatan ini?"
"Gereja."
"Tempas suci seharusnya tidak ada kekuatan sihir yang masuk!"
"Benar, tapi bagaimana jika tempat itu bukan lagi di lindungi oleh spirit dewi Amora? Mereka hanya menyebutnya gereja, lantas menutup mata dengan banyaknya nyawa yang sudah mereka renggut secara paksa."
Amora dan Chandler diam begitu saja saat mendengarkan ucapan Ernest. "Jadi kita kemari bukannya mendapatkan jawaban malah mendapati kenyataan jika mereka juga sama seperti Diana," ucap Chandler penuh geraman.
Sesaat Chandler langsung membopong Amora lantas menaiki Ernest. "Saya bukan orang yang memiliki perjanjian denganmu, tapi pergilah sekarang ke gereja Ernest, saya muak dengan semua ini," ucap Chandler.
Tanpa berpikir lagi Ernest langsung berlari. Naik ke atap rumah, melompat dari satu tempat ke tempat yang lainya. Sesaat gereja dengan khas ornamen putihnya, mereka sudah di selimuti oleh warna merah darah.
"Perjanjian darah, ini adalah sihir perjanjian darah!"
.
.
.
Halo semuanya! Makasih buat kalian yang selalu dukung dan Support Arthor ya. Kedepannya author minta banyak dukungan dari kalian untuk selalu Like, komen cerita, dan favorit cerita author. Jika kalian ada Kritik saran langsung tulis saya ya. author harap kalian bisa stay dan suka. terimakasihsemua!