
"AMORA!!!"
Ada yang tidak Amora sadari sebelumnya tanag goa di dalam terbuat dari es tipis. Sesaat tanah itu retak dan pecah membuat Amora jatuh dari atas sana. Dengan badan yang masih kesakitan Amora mencoba untuk berdiri. Melihat sekitar entah es ataupun kristal.
"Airy! Kakak!" teriakan Amora mencoba keberuntungannya.
Ini adalah sebuah goa, harusnya teriakan menciptakan sebuah gema tapi tidak untuk sekarang. "Aneh sekali, dan dingin... Bagaimana aku naik ke atas," gumamnya.
"Amora," suara. panggilan namanya itu sontak membuat Amora membalikkan badannya. Terlihat jelas naga biru es tengah berendam di saja.
"Ernest!" teriakan Amora seperti menemukan sesuatu yang dia cari sebelumnya. "Aku sudah mencari mu dari lama!"
Ernest, adalah sebuah legenda pimpinan para monster sihir yang ada di hutan sana. Dia selalu berada di dalam goa, selain menetralkan badannya agar tetap dingin dia juga bersembunyi dari manusia yang ingin menaklukkan nya.
Ernest memiliki kekuatan yang besar di lain sisi banyak yang menginginkannya membuat kehidupan Ernest tidak pernah dalam keadaan tenang. Ernest, hanya beberapa orang yang tau. Amora sebagai pencipta nama Ernest, juga pembacanya. Karena para tokoh lebih mengenal Ernest dengan sebutan monster.
"Saya mendapat kabar jika Anda akan datang, saya menuntun Anda tapi tidak dengan mereka," ujar Ernest. Kepalanya dia majukan sembari mengendus aroma Amora serta memberi sambutan padanya. "Saya tau keperluan Anda, tapi saya tak bisa ikut," lanjutnya.
"Kenapa? Aku harus membawa kamu Ernest, atau Diana yang akan membawanya," sela Amora.
"Diana, dia juga pengelana. Percayalah, dia tak akan bisa membawa saya kecuali saya yang membawanya."
"Banyak hal telah berubah Ernest, dia tau lokasi kamu dia tau detailnya. Dia bisa menjerat-"
"Bagaimana dengan Anda? Anda juga hampir tiada."
Amora terdiam sesaat, dia bukan orang yang ahli untuk membujuk. Entah bagaimana, Amora hanya ingin membawa Ernest dan mengamankan nya. "Aku tau aku menciptakan kamu untuk Diana, tapi aku tak mau karena itu harus ada orang yang meninggal karena aku. Aku mohon bantu aku Ernest," jelas Amora.
Ernest masih terdiam di sana, dia menatap Amora begitu pula sebaliknya. "Bagaimana jika saya mengikuti Anda?"
"Entahlah, aku juga tak tau karena aku belum pernah hidup selama ini khususnya dengan badan ini," jawab Amora.
Perjanjian keduanya berlangsung di sini. Untuk pertama kalinya Ernest percaya pada manusia. Untuk sekarang rahasia Amora tak bisa dia sembunyikan baik dari Airy ataupun Ernest. Mengubah alur cerita yang entah dari mana ujungnya. Ini adalah awal perjalanan mereka, saat cerita Chandler dan Amora seharusnya sudah meninggal dunia.
Ini adalah cerita yang Amora buat sebelumnya, tapi sekarang berbeda dialah yang menjadi pemerannya. Yang Amora tau alur cerita dari Diana dan juga Theodor dengan apa yang akan terjadi, untuk sekarang Amora hanya harus melakukan sebelum semua hal buruk terjadi.
Istana Kekaisaran menjadi semakin suram. Raja sudah sakit-sakitan karena pengaruh Diana. Theodor yang sebelumnya tak terpengaruh, ternyata sudah terpengaruh dari lama. Dia memanfaatkan persahabatan antara dirinya dan Chandler untuk membuat cerita palsu.
Diana meminta Theodor untuk menjauhkan Chandler dari Amora, begitulah dia bisa membunuh Amora dengan cara seperti pada novel sebenarnya. Dengan bantuan dari kakak perempuan Tremy, Amelia, Diana bisa mengatur Amora untuk meracuni dirinya. Setelah itu karena marah Chandler membunuh Amora, lalu dia akan bunuh diri. Kehidupan Diana akan bahagia di istana dengan Theodor. Begitulah cerita yang seharusnya.
Camelia Arnest, itulah nama asli Diana di kehidupan sebelumnya. Dia menjadi penggemar berat dari novel yang di tuliskan Amora. Diana, dari visual bahkan hidupnya menjadi impian bagi Camelia. Dengan perasaan optimis dia bunuh diri dengan lompat dari apartemen miliknya. Hasilnya, dia berhasil masuk ke tubuh Diana.
Masa kecil Diana memang tidak terlalu di jelaskan, tapi menjadi cantik dan memiliki kekuatan adalah impian Camelia. Hingga akhirnya posesif Camelia untuk membunuh Amora menjadi semakin liar saat dia merasakan tatapan Chandler berbeda pada Amora.
"Tidak bisa seperti ini, harusnya semua perhatian itu! Kekuatan itu! Hanya untuk aku!" teriakan Diana memggema di kamarnya.
Ketukan pintu kamar Diana menandakan ada seorang di luar pintunya. "Diana, apakah kamu baik-baik saja?" tanya seseorang di luar sana.
Theodor, dia menjaga Diana sejak lama. Memberikan apa yang Diana inginkan, perhatian dan cinta.
Napas Diana yang semula memburu kini perlahan dia hentikan. Menjaga image sebagai sosok sanit yang perhatian juga baik hati. Senyuman manisnya, itulah yang menjadi kekuatan Diana menjerat hati banyak orang.
"Benar, tenangkan dirimu Camelia. Sekarang kamu adalah Diana bukan Camelia," gumamnya pada dirinya sendiri. Sesaat kemudian Diana membuka pintu kamarnya, senyuman manis dia layangkan pada Theodor yang sudah menunggunya. "Iya, saya baik-baik saja Theodor," jawabnya.
"Syukurlah, sekarang waktunya makan malam. Ayo."
"Terimakasih Theodor, tapi bagaimana keadaan Yang Mulia? Apakah dia akan makan bersama dengan kita?"
"Ayah? Tidak, keadaan nya menjadi semakin buruk. Kita harus cepat menyelesaikan ini Diana atau ayah bisa meninggal dalam waktu dekat," ucap Theodor panjang.
Diana sedikit mengubah cerita aslinya. Dia yang mengutuk ayah Theodor, tapi dia menceritakan jika itu adalah ulah Amora. Amora seperti benalu, butuh inang untuk hidup. Awalnya dia menjadi inang untuk ibunya, ibunya tak kuat dan meninggal saat Amora masih kecil. Saat itulah dia di bawa oleh Duke Thedelso. Kembali, Amora mengutuk Duke Thedelso untuk menjaganya tetap hidup.
Pada awalnya Theodor tak percaya apa yang di ceritakan Diana, apalagi di awal para pendeta gereja yang bersalah mau membunuh Amora. Akan tetapi, Diana menceritakan jika itu mencegah agar Amora tetap hidup. Semakin dia tumbuh dewasa maka akan semakin banyak nyawa yang harus tiada karena Amora.
Puncak kepercayaan Theodor saat Duke Thedelso membunuh dirinya sendiri. Rumor akan Amora sebagai kutukan menjadi menyebar, semenjak itu Theodor meminta Chandler untuk menjalankan rencananya.
Beberapa waktu setelah kematian Duke Thedelso, Theodor pergi ke mansion Duke. Di sana dia bertemu Chandler yang masih berduka serta menangani daerah kekuasaan bekas ayahnya.
"Chandler, ada yang harus kamu tau! Amora itu-"
"Saya menghargai Anda sebagai putra mahkota juga sahabat saya, tapi bagaimana Anda kemari dan ingin bilang jika adik saya itu pembawa kutukan?!" sela Chandler dengan nadanya yang meninggi.
"Sebagai sahabat mu, saya bilang seperti ini karena saya tak mau kamu berakhir seperti ayah mu! Duke Thedelso!"
"Ini bukan karena Amora, tapi Diana."
"Diana yang menderita ini Chandler, bukan hanya Duke Thedelso tapi nanti juga kamu," jelasnya.