Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 69 : Sisi Lain Chandler Thedelso



"Beristirahatlah, kembali ke ibumu, Amora."


Senyum seringai terlihat jelas dari wanita itu. Terlihat, tepat sebelum tubuh Amora benar-benar tertutup oleh gading merah itu, matany membuka. Mengeluarkan nyala api membara pada matanya.


"Seorang ibu tidak akan membuat anaknya meninggal dunia, matilah!" teriakan Amora mengeluarkan pedang nya. Entah darimana itu datang, pedang dengan nyala api yang sebelumnya ada untuk melawan Diana.


Dengan sekali tebasan, di saat yang bersamaan pedangnya juga memotong kepala wanita itu. Gerakannya sangat cepat, bahkan raut wajah terkejut tidak sempat berubah. "Ka-kamu... Kamu anak yang di bicarakan itu," ucapnya terakhir hingga terbata.


Sesaat semuanya seolah terhenti. Dengan napas yang terengah Amora menjatuhkan pedangnya. Tetesan air mata tidak bisa dia bendung, apalagi saat dia membayangkan tengah membunuh ibunya sendiri. Badan Amora lemas seketika, saat itu dia jatuh dan tidak sadarkan diri.


Entah bagaimana gereja itu gemuruh tanda runtuh. Chandler yang melihat nya tau gereja itu akan segera rata dengan tanah. Ingin Chandler pergi, tapi tubuh Airy dan Ernest yang terluka tak bisa dia tinggalkan begitu saja.


"Ernest," panggil Chandler menyenatkan tubuh Airy pada tubuhnya. "Maafkan saya, tapi saya mencemaskan Amora," lanjut Chandler.


Sesaat dia berlari masuk ke dalam gereja, naik setiap tangga yang mulai tak datar pijakan nya. Dari atas sudah banyak bata yang berjatuhan, Chandler bahkan harus melindungi kepalanya sendiri agar tidak terluka. Lain hal beberapa saat kemudian, matanya melebar saat itu Chandler langsung berlari ke atas dengan cepat.


Siluet hitam dengan untaian rambut panjang di sekitarnya. Jelas itu adalah Amora. Napas Chandler seperti tertahan, dia yang semula berhati-hati kini berlari dengan kencang.


Entah bagaimana kaki Chandler melangkah begitu saja. Hingga badan itu jatuh tepat membuat Chandler bisa menangkapnya. "Amora? Amora!" teriakan Chandler sembari memeluk badan lungkai Amora. "Kenapa kamu selalu seperti ini, di kehidupan lalu ataupun sekarang kenapa saya harus kehilangan kamu! Amora!" teriakan Chandler menggema dari dalam gereja.


...FLASHBACK...


Dalam cerita asli novel, sesudah Chandler membunuh Amora, dia merasa ada yang hilang dari kehidupannya. Sepi, mansion duke sepi bahkan jauh dari sebelumnya. Chandler mendengar jika kematian ayahnya adalah akibat dari Amora. Dia memiliki rasa benci oleh Duke Thedelso karena kematian ibunya. Duke Thedelso meninggalkan mereka dan tidak pernah datang saat Calista masih sakit hingga akhirnya meninggal dunia.


Meskipun sudah di rawat dari kecil, kebencian Amora pada keluarga duke tidak akan pernah hilang. Itulah yang Chandler dengar dari seorang Sanit terpercaya dari kerajaannya, Diana. Hanya ada satu sanit di setiap tempat, dan tidak ada yang lain. Jika mereka memiliki kekuatan pastilah itu sihir hitam yang tentu saja dilarang.


Kemunculan Diana saat di umumkan oleh gereja menjadi berkat yang luar biasa. Mereka semuanya di berkati oleh kekuatan seorang sanit. Hingga sebuah kabar burung muncul jika putri keluarga Duke Thedelso juga memiliki kekuatan.


Awalnya Chandler tidak percaya, tapi dia melihat sendiri saat ayahnya, Duke Thedelso, tengah melihat kekuatan mulik Amora.


"Kekuatan apa itu! Katakan!" teriakan Chandler langsung masuk dan mengayunkan pedangnya.


"Chandler tunggu! Dia adalah adik kamu!" teriakan Duke Thedelso mencoba untuk menahan Chandler.


"Adik? Saya tidak pernah menganggapnya sebagai adik ayah! Bahkan saat awal dia datang dia hanyalah pembawa ben-" ucapan Chandler terhenti saat tamparan kuat melayang ke wajahnya.


"Ini adalah hukuman karena mengutuk adikmu sendiri Chandler. Ayah kecewa, harusnya kalian saling menjaga tapi karena perasaan mu pada Diana, kamu begitu membenci Amora," ucap Duke Thedelso.


Dengan cepat Duke Thedelso membawa Amora pergi dari sana. Geraman kesal terlihat jelas dari wajah Chandler. Dia memalingkan wajahnya melihat Amora dengan wajah khawatirnya.


Hari berganti, bulan, dan tahun. Entah kenapa tiba-tiba Duke Thedelso di minta untuk ke istana oleh raja. Saat itulah Chandler melihat Amora yang tengah memegangi kereta kuda yang akan di pakai oleh Duke Thedelso. Dia seolah mengalirkan sesuatu membuat Chandler penasaran tapi tidak mau mendekat. Hingga kejadian itu terjadi, kecelakaan yang menewaskan Duke Thedelso. Saat itu Chandler langsung menyalahkan Amora karena dialah yang memegangi kereta kuda itu sebelumnya.


...BRAK...


Suara benturan kuat tubuh Amora pada dinding kamar. Kamar yang gelap dan dingin, ini adalah milik Chandler. "Katakan apa yang kamu lakukan pada kereta kuda ayah!" teriakan Chandler sembari memegangi kerah baju Amora.


"Sa-saya tidak melakukan apapun, saya tau akan terjadi sesuatu jadi saya memberkatinya. Saya memberkati agar ayah baik-baik saja," ucapan Amora terbata sembari menangis kuat.


"Hentikan sandiwara mu ini Amora! Hentikan! Mungkin selama ini saya kasar, tapi ayah tidak! Kenapa harus ayah!" teriakan Chandler lagi menambah kuat genggaman tangannya.


"Saya sungguh tidak melakukan apapun, percay-" ucapan Amora terhenti saat tumbukan tangan Chandler mengarah padanya. Untungnya, Chandler memukul tembok tepat di samping wajah Amora. Meskipun tangannya berdarah, tapi tembok itu juga retak karena pukulan Chandler.


Napas Chandler berat dengan mata yang memerah. Menatap Amora kuat tepat di depan wajahnya. "Bahkan saat saya sudah menyukaimu, kamu melakukan ini pada ayah saya. Kenapa, kenapa Amora?" tanya Chandler sesaat setelah itu pergi dari sana, meninggalkan Amora yang menangis dan terhuyung di lantai.


Chandler tak bisa memendam perasaannya, dia memiliki perasaan atas adiknya Amora. Sejak awal, entah bagaimana dia bisa tersenyum dengan tingkah anehnya. Banyak cibiran tentang Amora, tapi dia bahkan tidak peduli. Hingga kekuatan Amora muncul, itu membuat Chandler bingung. Harus percaya pada temannya Theodor atau adiknya.


Kejadian ini benar-benar membuat Chandler patah hati. Duke Thedelso, ayah sekaligus keluarga Chandler satu-satunya malah di bunuh oleh perempuan yang dia sayangi.


Chandler seolah tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, tapi dia juga tak bisa memenjarakan Amora. Pesta kerajaan datang, semuanya di undang bahkan Amora dengan Chandler. Meskipun mereka datang bersama tapi mereka hanya diam tak pernah saling berkata.


Semula pestanya berjalan dengan baik, tapi semuanya berubah saat Diana mulai tersedak dan keracunan. "Apa-apa yang kamu masukkan dalam minuman saya!" teriakan Diana pada Amora.


Benar, itu adalah minuman yang di berikan oleh Amora. mengandung sebuah racun yang bisa sangat membunuh.


"Saya hanya diminta untuk membawakan minumannya," ucap Amora membela diri.


"Membawakan minuman! Apakah kamu seorang pelayan!" teriak Theodor memojokkan Amora.


Gemuruh cibiran datang daru kaum bangsawan, Chandler tak kuat mendengar itu hingga dia mendekati Amora dan langsung mengayunkan pedangnya.


"Kakak-"


Ucapan Amora kaku saat Chandler menundukkan badannya dan membuat dia terduduk.


"Harusnya saya melakukan ini dari lama," ucapan Chandler mengayunkan pedangnya.


"Apakah kamu pernah menganggap saya sebagai adikmu, kakak?"