Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTURE 49 : Pergi Berdua, Chandler dan Amora



"Selama kamu ada di sini akan selalu aman Amora, berjanjilah untuk tidak kabur. Mansion dan tempat ini membutuhkanmu. Mungkin sebelumnya cara saya salah, tapi saya berjanji untuk melindungi mu dengan cara yang benar, Amora."


Ucap panjang Chandler membuat Amora terdiam. 'Melindungi dengan cara yang salah?' batin Amora fokus pada kalimat itu. Entah hanya perasaannya, atau memang selama ini cara pandang dirinya yang salahbpada Chandler. Mungkin ada suatu hal yang bahkan para pelayan tak tau. Dari sekian lama hanya Barier yang selalu ada di samping Chandler, dan menahannya untuk pergi.


Malam hari tiba, perapian sudah ada seperti biasa. Hangat hal yang sama seperti yang sudah dia rasakan dari lama. Memang bukan hal yang Amora nantikannantikan sebelumnya, tapi lain hal sekarang karena ucapan Chandler sebelumnya.


Pagi hari cuaca semakin dingin saja, berarti waktu mereka semakin menipis. Semakin tipis waktu bagi Amora untuk menemukan naga itu. Dengan menggunakan jubahnya perlahan ia berjalan menuju kamar Barier.


"Barier, ayo kita ha-" ucapan Amora terhenti saat ada banyak orang di sana. Beberapa pengawal, dokter, bahkan Chandler. "Kakak? Ada apa ini?" tanya Dara masih bingung dengan situasi.


"Barier demam karena kemarin menyelimuti kamu dengan jubahnya ingat? Dia tidak tahan dingin," jawab Chandler santai.


Chandler melihat Amora yang sudah siap dengan jubahnya. Perlahan tangan Chandler menggenggam tangan Amora tanpa sarung tangan di sana. "Cukup dingin tahun ini, jika ingin pergi jangan lupa menggunakan sarung tangan," ucap Chandler sembari memberikan sarung tangan miliknya.


Tentu saja bukan ukuran yang tepat bagi Amora. Jika di lihat kembali, bahkan ukuran jauh lebih basar dari Amora.


Balasan senyuman Amora menandakan terimakasih dengan wajahnya. "Ini hangat," ujarnya.


"Nona, maafkan saya. Saya pikir saya bisa melakukannya tapi ternyata tidak bisa. Saya tak bisa menemani Anda," ujar Barier melihat Amora yang menampilkan wajahnya kecewa.


"Tak masalah, mungkin bukan sekarang. Saya izin permisi dulu, kamu beristirahat lah Barier," jawab Amora.


Setelah beberapa saat menundukkan badan, Amora bergegas keluar. Perasaan cemas Amora rasakan, masalahnya jika dia telat sedikit saja menakutkan jika Diana berhasil menguasainya. Kemungkinan Tremy dengan jiwa kesatria nya akan memimpin pemberontakan, lalu dia akan terbunuh oleh Diana atau Theodor.


"Apa aku pergi sendiri saja ya, jika terlambat aku tak mau nanti Tremy yang akan menjadi korbannya," gumam Amora.


"Tremy kenapa?" pertanyaan yang keluar dari suara kakaknya.


Chandler tanpa sadar mengikuti nya, Amora terlalu cemas sampai tidak menyadari hal itu. "Kamu ingin pergi sendiri? Memang ada apa? Saya ini kakak kamu Amora, katakan sesuatu jangan membuat saya khawatir!" ujar Chandler dengan nadanya yang meninggi.


Mungkin sebelumnya Amora akan percaya, tapi sekarang tidak. Memang sikap Chandler sudah jauh berubah, bahkan bisa di bilang jika dia kembali seperti semula. Akan tetapi tidak untuk sekarang, perasaan cemas dan ragu Amora.


"Tidak ada apa-apa, saya izin ke kamar dulu kakak."


"Saya ikut."


"Tidak! Saya hanya akan pergi ke kamar."


"Apakah kamu sangat menginginkan pergi dengan Barier? Amora, kamu bilang hanya ingin jalan-jalan, bagaimana dengan saya?" pertanyaan yang Chandler layangkan sontak membuat Amora diam.


Sesaat Amora teringat akan ucapan Chandler beberapa waktu lalu. Dia mencurigai jika Amora dan Barier ada hubungan. Sebuah pertanyaan yang rumit bahkan hal yang belum pernah Amora pikirkan sebelumnya.


Hujan salju mulai turun dengan deras di sana. Terlihat jelas dari jendela, pantulan bayangan di antara mereka dengan dengan salju deras yang perlahan jatuh. "Aku butuh bantuan kakak, tapi aku tak bisa mengatakannya sekarang. Bisakah kakak percaya?" tanya Amora.


Senyum simpul tercipta dari Chandler sesaat menggenggam tangan Amora. "Akan saya siapkan kudanya," kata Chandler.


"Tunggu, mungkin kakak juga menginginkan ini. Aku juga akan mengambil sarung tangan milikku sendiri."


Yang Chandler tidak tau kawasan ini adalah kawasan yang penuh dengan berlian, saat Chandler dan Amora sudah meninggal maka otomatis wilayah Duke Thedelso masuk dalam Kekaisaran kecuali wilayah ini. Hingga Tremy yang menemukannya lalu menjadi perantara sihirnya untuk memulai pemberontakan. Sayang sekali sekuat apapun berlian itu tak bisa menandingi naga sihir yang di taklukkan Diana.


Chandler dan Amora hanya pergi berdua karena permintaan Amora. Semakin sedikit orang yang tau, maka akan semakin baik. Sekarang Amora berjalan menyusuri hutan, mencari sebuah goa yang dingin setidaknya cukup dingin untuk para monster itu beristirahat.


"Apakah masih jauh?" tanya Chandler melihat arah jalan mereka yang tidak jelas.


"Entahlah, aku juga tidak tau," jawab singkat Dara.


"Ya, sudah dua hari salju ini tak berhenti, semakin dingin semakin cepat para monster itu keluar," balas Chandler di antara perjalanan mereka.


Dengan mengeratkan pelukannya pada Amora agar menghangatkan badannya. Mata Amora melebar saat dia melihat gua tepat ada di depan mereka.


"Itu! Tapi sepertinya kita harus berjalan," ujar Amora.


"Tunggu, sebentar," dengan cepat Chandler turun lantas menurunkan Amora. "Apakah benar di sini?"


"Entahlah, akupun tak tau," jawaban sama yang Amora sebutkan sebelumnya. Perlahan Amora memgepalkan tangannya, di sana Airy yang tiba-tiba keluar. "Sudah lama Airy," ujar Amora.


"Lama sekali, kamu sekarang semakin tua saja Amora!"


"Aku bahkan belum dewasa, Airy aku minta tolong untuk kamu masuk dan melihat apakah ada sesuatu di dalam sana."


"Hewan sihir? Huem... Baiklah saya pergi!" ucapan Airy langsung pergi masuk ke dalam goa itu.


Perlahan terlihat jelas jalan dengan aura biru keluar dari sana. Itu adalah tanda-tanda dari Airy jika jalan mereka aman. Patutnya cahaya Airy adalah merah oranye tapi sekarang biru, menandakan ada sesuatu energi di dalamnya yamg membuat cahaya Airy berbias.


"Dia akan baik-baik saja?" pertanyaan yang keluar dari Chandler.


Melihat goa gelap dan dingin ini tentu saja membuat Chandler khawatir. Apalagi jika Airy terlihat seperti burung gereja biasa. Kecil dan rapuh tidak seperti milik Chandler yang terlihat kuat.


"Kakak terlalu meremehkan Airy, dia tak selemah kelihatannya," jelas Amora sembari terus menyusuri goa itu.


"Saya tak suka di sini Amora, ada sesuatu yang berbeda," ucap Chandler kembali. Perasaan risihnya tak bisa dia sembunyikan.


Tak bisa di pungkiri, lulusan terbaik akademi seperti Chandler memiliki kepekaan yang tinggi. Bahkan jika dia tidak memiliki sihir murni Chandler bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tempat ini.


"Mungkin aku juga harus berterimakasih pada kakak juga, karena kak Chandler kekuatan Airy juga bisa me-"


"AAKKHH!" teriakan menggema itu jelas dari Airy.


"Airy!" teriak Amora langsung berlari menuju ke dalam goa.


"Amora tunggu! AMORA!!!"