
Malam harinya Amora merasa tak enak. Semua mansion cemas karena tangisannya. Apalagi saat dirinya melihat ke arah Duke Thedelso, cemas, khawatir bergabung menjadi satu.
Emma sudah pergi beberapa waktu lalu, saat dirinya berpura-pura untuk tidur. Padahal dalam pikiran Amora masih penuh tentang apa yang akan dia lakukan sebelumnya.
"Amora...."panggil seseorang dalam silir keheningan malam.
"Siapa?" jawab Amora terburu-buru melihat sekitar. Terlihat spirit mulai mengelilinginya, bukan lagi berbentuk panjang seperti asap, melainkan bintik-bintik kuning seperti kunang-kunang.
"Amora," suara itu datang kembali dari spiritnya.
"Apa? Kalian... Bisa berbicara?!" tanya Amora masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Amora...." panggil terus titik-titik cahaya itu.
Amora mengerti kemungkinan itu adalah bentuk spirit yang tidak sempurna. Sudah menampilkan bentuk dan juga suara, tapi belum jelas. Bentuknya masih absrak sederhana, dan kalimat yang terbatas.
Beberapa saat kemudian para spirit itu mulai mengelilingi Amora. Tipis kulit mereka saling bertemu perasaan hangat membuat Amora terdiam sesaat.
"Kalian itu spirit ya? Entah kalian tau atau tidak jika saya bukanlah Amora yang sebenarnya, tapi sepertinya kalian tau karena kalian selalu memanggil namaku," jelas Amora sembari mencoba untuk memeluk sebagian dari cahaya kuning itu.
Beberapa saat kemudian titik itu berubah menjadi siluet orang. Memiliki dua tangan dan kaki, dengan sayap yang membuat mereka bisa terbang mengelilingi Amora.
Beberapa saat kemudian spirit itu terbang menjauh, pergi ke jendela kamar Amora yang terbuka. Beberapa saat kemudian Amora melihat sosok laki-laki dewasa yang berdiri di sana.
Mata Amora terhenti bibirnya terbuka, sosok yang pernah dia gambarkan dalam Visual novelnya. Memiliki wajah yang cantik, tapi jelas tampang dia adalah seorang pria.
"Anda siapa?" tanya Amora langsung setelah beberapa saat terpaku melihat.
"Kamu yang siapa? Membuat para dewa mengutus ku untuk datang," ucapnya berlanjut berjalan menghampiri Amora. "Untuk sekarang kamu mungkin harus tidur sekarang, Amora."
"Tunggu! Ka-" seketika semuanya menjadi tabu, bayangan tentang orang itu perlahan menghilang. Semuanya kembali menghitam, hingga beberapa saat mimpi indah tentang dia dan keluarga Amora sebelumnya.
Perlahan Amora menerjapkan mata. Sinar matahari sudah masuk, menandakan hari sudah pagi. Terlihat jelas Emma mulai datang, membereskan tirai lantas mengepak buku-buku yang berserakan di meja.
"Selamat pagi Emma," ucapan Amora di pagi hari. Sedikit mengucek mata dan mulai tersenyum simpul.
Amora merasa tak enak akan kejadian kemarin. Saat dirinya menangis dan berteriak seperti orang gila. Emma terlihat sangat cemas, bahkan ikut menangis.
"Anda merasa baik hari ini Nona?" tanya Emma sembari mempersiapkan pakaian untuk Amora.
"Baik," jawab Amora perlahan. Amora memainkan jarinya. Sesekali dia melihat Emma.
"Anda perlu sesuatu?" tanya Emma menyadari Amora yang diam-diam menatapnya.
"Maaf, ma-maaf untuk yang kemarin. Emma pasti cemas," ucap Amora perlahan.
Emma justru menampilkan senyumannya. Perlahan dia mulai duduk di sebelah Amora, dan mengusap kepalanya. "Saya malah senang, kejadian kemarin saya jadi paham Anda juga merindukan rumah dan ibu Anda. Anda selalu terlihat ceria dan senang, membuat saya berpikir jika Anda baik-baik saja. Ternyata jauh dari itu, dalam diri Anda mencoba untuk baik-baik saja," penjelasan Emma panjang sembari memeluk Amora. "Nona Amora, Anda masih kecil tak apa-apa, tak perlu bersikap dewasa cukup menikmati masa menjadi anak-anak dan mengatan apa yang Anda rasa," lanjutnya.
"Terimakasih Emma, tapi bagaimana ini? Bagaimana dengan ayah?"
"Anda mencemaskan Tuan Duke?"
"Emm kemarin ayah memelukku 'kan? Apa yang harus saya katakan?" ucapan ragu dari Amora justru di balas kekehan pelan Emma.
"Baiklah, saya juga tak tau, tapi untuk sekarang bukanlah Anda harus bertanya langsung?"
Seketika Amora di siapkan oleh Emma untuk sarapan. Dia mulai memandikannya, dan mendadani layaknya seorang putri. Amora, gadis cantik yang menjadi alasan kegaduhan antara pihak gereja dengan sang raja. Cukup membebani Amora, seorang tokoh sampingan yang belum pernah dia duga sebelumnya.
Saat itu dia langsung berjalan ke arah ruang makan. Tepat hanya Chandler yang menunggunya, dengan kursi Thedelso yang masih kosong.
Senyuman dari Chandler seolah menunggunya. Sambutan hangat tak berubah dari sang kakak. "Selamat pagi Amora," ucap Chandler sesaat Amora duduk di kursinya.
"Bagaimana keadaan mu? Lebih baik?"
"Iya, tapi...." ucapan Amora melihat kursi Thedelso yang masih kosong. "Apakah ayah juga baik?" lanjutnya.
"Ayah baik, tentu saja."
Amora duduk berdiam, memainkan jemarinya. Beberapa saat para pelayan menyiapkan makanan untuk mereka, tanda jika sarapan boleh di mulai tanpa kehadiran Thedelso di sana.
"Kita tidak menunggu ayah?"
"Tidak, ayah sibuk."
"Kakak, apakah ayah marah dengan Amora?" pertanyaan dari Amora membuat Chandler langsung menghentikan tangannya.
"Ayah? Tidak mungkin kamu adalah putri kesayangan ayah."
"Lalu kenapa ayah tidak kesini? Ayah tak mau makan bersama Amora lagi?"
"Mungkin kalian berdua salah paham," ucapan Chandler langsung tersenyum simpul pada Amora. Perlahan Chandler beranjak dari kursinya, berjalan ke arah Amora langsung mengajak Amora untuk pergi juga. "Ayo pergi ke ruang kerja ayah."
Kalimat akhiran yang membuat Amora membuka mata. Dia sedikit tersenyum simpul lantas tertawa. Kesalahan yang sudah dia lakukan sebelumnya, mungkin dia juga yang harus mengakhirinya.
Pagi itu mereka berjalan bersama. Melewati lorong, jalan, dan taman menuju ruang kerja Thedelso.
"Kakak, bagaimana jika ayah membenciku?" pertanyaan ulang Amora lakukan saat mereka sudah sampai di depan ruang kerja Thedelso.
"Sudah saya bilang, itu tidak mungkin Amora. Kamu takut?"
"Sedikit," jawabnya lagi.
Genggaman tangan dari Chandler sedikit menenangkan Amora. Perlahan Chandler mengetuk pintunya, tepat ada Thedelso dengan Edelweis di sana.
Thedelso langsung terdiam, melihat siapa yang datang. "Amora?" panggil nya dengan nada terheran.
"Ekhem, ayah Amora ingin berbicara, Berdua saja," ujar Chandler dengan penegasan di akhirnya.
Edelweis yang langsung paham seketika menundukkan kepalanya dan pergi. Begitu pula dengan Chandler. Kaki kecil Amora berjalan mendekat, dusuk di sofa tepat di depan Thedelso. Bagaimanapun juga, ukuran badan kecil Amora membuat dia kesusahan untuk duduk di sama.
"Biarkan ayah bantu," sela Thedelso langsung mengangkat Amora duduk di sebelahnya.
Perasaan canggung di antara keduanya. Melihat Amora yang memainkan jarinya, begitu pula Thedelso yang tak ingin berbicara.
"Ay-"
"Ap-"
Keduanya bertanya di saat yang bersamaan, membuat mereka kembali terdiam.
"Kamu bicara saja dulu Amora."
"Bagaimana dengan ayah?"
"Ayah akan mengatakannya setelah kamu berbicara."
"Emmm Ayah?" panggil Amora kembali, perasaan ragu saat bibirnya sudah setengah terbuka. "Ayah marah dengan Amora?" lanjutnya.
Hal yang tidak seperti Amora pikirkan. Tiba-tiba hening membuat Amora kembali menyesali ucapannya. 'Apakah aku salah mengatakan itu!'