
FLASBACK
Saat mengetahui dirinya hamil, Calista benar-benar terpukul.
Dia sangat mencintai Thedelso, tapi tidak mungkin dia masuk dalam dunianya.
Thedelso adalah seorang panglima yang bahkan sudah memiliki keluarga. Dirinya yang
seharusnya tak masuk dalam cerita itu. Dengan cepat Calista pergi jauh, sejauh
mungkin hingga Thedelso tak bisa menemukanya lagi.
Hingga sampailah Calista pada tempat yang jauh di timur. Udaranya
lebih hangat daripada di tempatnya dulu. Calista tidak tau harus pergi kemana,
apalagi saat dia tidak memiliki uang sepeserpun. Dengan lungkai Calista dating ke
gereja. Menghampiri kepala pendeta yang ada di sana.
“To-long,” ucapan Calista terbata.
Tak lama setelahnya Calisa pingsan begitu saja. Kelapa pendeta
langsung membawa Calista ke dalam. Beberapa saat kemudian dokter dating dan
menyatakan jika Calista tengah hamil sekarang. Entah darimana datangnya Calista,
wanita tanpa moral yang dating ke tempat mereka. Itu adalah pertanda buruk bagi
Cleo. Awalnya dia menyarakan untuk mengusir Calista dari tempat itu, dia tak
mau Calista menyebabkan gereja mereka tercemar. Lain hal dengan Cleo, kepala
pendeta malah membuatkan rumah untuk Calista.
“Maaf atas kelancangan saya, tapi biasakah anda
memikirkannya lagi? Dia entah siapa baaimana jika nanti ada Wanita lain juga dating
untuk itu?” pertaanyaan Cleo pada kepala pendeta.
“Semua orang butuh kesempatan Cleo, ini hanyalah perasaan
saya tapi sepertinya dia akan membawa hal baik bagi kita,” jawab kepala
pendeta.
“Sungguh? Anda tak bisa menampung semua orang karena
perasaan Anda,” jawab Cleo.n
“Ini adalah keputusan saya, dan itu mutlak.”
Ucapan terakhir itu membuat Cleo diam. Dia marah sekalius
geram dengan kepala pendeta. Calista benar-benar hidup di ayomi oleh kepala
pendeta. Tentu saja, sumbangan dari para bangsawan kini berkurang karena adanya
Calista. Cleo tak bisa lagi menyimpan sisanya karena kepala pendeta lebih
melihat apaa saja yang di butuhkan untuk mereka.
Calista sangat ahli dalam perhitungan, membaca, bahkan
berbicara. Cleo semakin tak suka kepada kepala pendeta juga Calista, karena mereka
mengadakan perjanjian yang sama sekali tidak menguntungkan.
Pagi itu kepala pendeta pergi, untuk sementara Cleo dan Calista
yang akan mengurus gereja. Dalam dapur gereja, Calista tengah memasak untuk
parra tunawisma dan anak-anak di panti. Cleo dating dengan peasaan iri menatap
Calista yang memasak di sana.
“Ah, Anda di sana pendeta? Sekarang sudah waktunya ya? Bisa tolong
bawakan makanan ini untuk kita pergi sendiri?” tanya Calista
membukanoembicaraann dengan mereka.
“Saya banyak urusan, minta saja pada pendeta yang lain,”
jawab Cleo.
Perasaan iri tak bisa Cleo tahan lagi. Sekilas dia melihat
pisau yang ada di atas meja. Ingin sekali dia menusuknya tepat untuk Calista. Tanpa
sadar tangan Cleo menggengam pisau itu, mengarahkannya pada Calista.
‘Jalang sialan, harusnya kamu tidak merebut semuanya dari ku!’
batin Cleo.
Perlahan Cleo mendekati Calista, hingga sebuah deheman keras
membuat Cleo langsung melepaskan pegangannya. Tanpa di sadari, pisau itu mengarah
pada kaki Cleo dan tepat menancap kesana. Teriakan tak sanggup dia tahan
membuat Calista langsung berbalik ke arahnya.
“SIALAN SIAPA YANG TELAH MENGAGETKAN SAYA!” teriakan kuat
Cleo.
Wajah cemas Calista terlihat jelas dari sana. Dengan sigap
dia mencabut pisau itu dari kaki Cleo. Tak lama kemudian Calista menampilkan
menyembuhkan luka dalam pada kaki Cleo.
“Calista? Kamu… Kamu memiliki kekuatan?!” teriak Cleo masih
tidak percaya.
“Sudah saya bilang untuk tidak asal menggunakannya, kenapa
sekarang?” suara berat yang ada di antara mereka.
Itu adalah kepala pendeta, dia sudah Kembali. Dia juga yang
membuat deheman sinhkat itu, tau jika Cleo akan melakukan sesuatu yang buruk.
“Ini adalah waktu yang tepat kepala pendeta, mana mungkin
saya membiarkan pendeta Cleo terluka?” balas Calista.
Sesaat kepala pendeta meminta Calista untuk pergi dari sana.
Minggalkan Cleo sendirian dengan wajah yang masih tidak percaya. Ternyata selama
ini kepala pendetaa tau jika Calista memiliki kekuatan, tapi diaa menyembunyiikannya. Alasannya dia tak
mau jika Calista di anggap sebagai dewi ataupun yang lainya. Ini adalah
kesempatan bagi Cleo untuk membuat kepala pendeta dan Calista tidak saling
percaya.
Pagi hari itu, Cleo pergi menghampiri Calista yang masih
berjalan-jalan di taman. “Hari yang indah Nyonya Calista,” sapa Cleo.
“Pendeta Cleo, tolong jangan teralu formal dengan saya. Saya
bukanlah bangsawan, jadi Anda cukup memanggil saya dengan nama saja,” jawab Calista
merasa tak enak dengan panggilan Cleo sebeluamnya.
“Nyoya tidak hanya untuk bangsawan, tapi juga untuk orang yang
kitab hormati. Begitu pula dengan Anda,” ucapan Cleo menyela. Beberapa saat
kemudian dia mulai ikut beridiri di samping
Calista tepat saat dia tengah mengatur bunga-bunga. “Jika saya boleh bertanya,
darimana Anda mendapatkan kekuatan itu Nyonya?” lanjut Cleo.
Itulah niatnya, dia ingin menjadi seperti Calista
memiliki kekuatan lantas bisa menguasai
tempat itu. Kepala pendeta adalah orang yang kuno, perlu untuk merubah tatanan
baru terlepas dari tangan golongan tua.
“Berkat, berkat itu di berikan bukan di cari. Maaf pendeta Cleo,
saya tak bisa membantu Anda,” jawaban
tenang dari Calista membuat Cleo geram.
“Tapi, bagaimana?” pertanyaan itu terus dia layangkan pada
Calista.
Terlihat jelas juga wajah Calista yang bingung dengan
pertanyaan dari Cleo. “Saya juga tidak tau, itu dating begitu saja. Bagitulah,
berkat itu tidak di cari pendeta. Maafkan saya,” ujarnya.
Cleo makin kesal dengan Calista, dia langsung pergi begitu
saja. Beberapa hari kemudian banyak berita tentang kekuatan Calista. Cleo juga ikut ambill adil untuk
menyebarkan berita itu. Karena rumor itu banyak orang yang dating ke gereja
khususnya bagi mereka yang tidak
memiliki uang untuk berobat ke tabib atau sejenisnya. Awalnya kelapa pendeta tidak
setuju tentang hal itu, dia merasakan ada hal yang aneh jika nantinya kekuatan
Calista benar-benar di perlihatkan secara umum.
Sikap asih Calista mengalahkan argument itu, dia tetap
membantu meskipun kepala pendeta belum setuju. Hingga semakin banyak oran yang
tau akan kekuatan Calista. Sekarang bukan hanya kaum budak saja tapi juga
bangsawan. Ini membuat Cleo memikirkan untuk menawarkan harga pada pengobatan
Calista.
“Cleo, sudah lama sekali kamu tidak kemari, ada apa?” tanya
kepala pendeta melihat Cleo yang dating sendiri ke ruangannya.
“Bukankah Anda yang tidak memberikan ku kesempatan untuk
bertemu?” jawab Cleo dengan nada seperti bercanda. Tatapan Cleo tajam melihat ke
arah kepala pendeta, dengan senyum tipis mengeluarkan sebuah surat dari balik
jubahnya “Saya melihat jika banyak orang yang ke gereja
untuk sekarang, bagaimana jika kita menetapkan tarif masuknya?”