Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTHER 64 : [Flasback] Masa Lalu Calista



FLASBACK


Saat mengetahui dirinya hamil, Calista benar-benar terpukul.


Dia sangat mencintai Thedelso, tapi tidak mungkin dia masuk dalam dunianya.


Thedelso adalah seorang panglima yang bahkan sudah memiliki keluarga. Dirinya yang


seharusnya tak masuk dalam cerita itu. Dengan cepat Calista pergi jauh, sejauh


mungkin hingga Thedelso tak bisa menemukanya lagi.


Hingga sampailah Calista pada tempat yang jauh di timur. Udaranya


lebih hangat daripada di tempatnya dulu. Calista tidak tau harus pergi kemana,


apalagi saat dia tidak memiliki uang sepeserpun. Dengan lungkai Calista dating ke


gereja. Menghampiri kepala pendeta yang ada di sana.


“To-long,” ucapan Calista terbata.


Tak lama setelahnya Calisa pingsan begitu saja. Kelapa pendeta


langsung membawa Calista ke dalam. Beberapa saat kemudian dokter dating dan


menyatakan jika Calista tengah hamil sekarang. Entah darimana datangnya Calista,


wanita tanpa moral yang dating ke tempat mereka. Itu adalah pertanda buruk bagi


Cleo. Awalnya dia menyarakan untuk mengusir Calista dari tempat itu, dia tak


mau Calista menyebabkan gereja mereka tercemar. Lain hal dengan Cleo, kepala


pendeta malah membuatkan rumah untuk Calista.


“Maaf atas kelancangan saya, tapi biasakah anda


memikirkannya lagi? Dia entah siapa baaimana jika nanti ada Wanita lain juga dating


untuk itu?” pertaanyaan Cleo pada kepala pendeta.


“Semua orang butuh kesempatan Cleo, ini hanyalah perasaan


saya tapi sepertinya dia akan membawa hal baik bagi kita,” jawab kepala


pendeta.


“Sungguh? Anda tak bisa menampung semua orang karena


perasaan Anda,” jawab Cleo.n


“Ini adalah keputusan saya, dan itu mutlak.”


Ucapan terakhir itu membuat Cleo diam. Dia marah sekalius


geram dengan kepala pendeta. Calista benar-benar hidup di ayomi oleh kepala


pendeta. Tentu saja, sumbangan dari para bangsawan kini berkurang karena adanya


Calista. Cleo tak bisa lagi menyimpan sisanya karena kepala pendeta lebih


melihat apaa saja yang di butuhkan untuk mereka.


Calista sangat ahli dalam perhitungan, membaca, bahkan


berbicara. Cleo semakin tak suka kepada kepala pendeta juga Calista, karena mereka


mengadakan perjanjian yang sama sekali tidak menguntungkan.


Pagi itu kepala pendeta pergi, untuk sementara Cleo dan Calista


yang akan mengurus gereja. Dalam dapur gereja, Calista tengah memasak untuk


parra tunawisma dan anak-anak di panti. Cleo dating dengan peasaan iri menatap


Calista yang memasak di sana.


“Ah, Anda di sana pendeta? Sekarang sudah waktunya ya? Bisa tolong


bawakan makanan ini untuk kita pergi sendiri?” tanya Calista


membukanoembicaraann dengan mereka.


“Saya banyak urusan, minta saja pada pendeta yang lain,”


jawab Cleo.


Perasaan iri tak bisa Cleo tahan lagi. Sekilas dia melihat


pisau yang ada di atas meja. Ingin sekali dia menusuknya tepat untuk Calista. Tanpa


sadar tangan Cleo menggengam pisau itu, mengarahkannya pada Calista.


‘Jalang sialan, harusnya kamu tidak merebut semuanya dari ku!’


batin Cleo.


Perlahan Cleo mendekati Calista, hingga sebuah deheman keras


membuat Cleo langsung melepaskan pegangannya. Tanpa di sadari, pisau itu mengarah


pada kaki Cleo dan tepat menancap kesana. Teriakan tak sanggup dia tahan


membuat Calista langsung berbalik ke arahnya.


“SIALAN SIAPA YANG TELAH MENGAGETKAN SAYA!” teriakan kuat


Cleo.


Wajah cemas Calista terlihat jelas dari sana. Dengan sigap


dia mencabut pisau itu dari kaki Cleo. Tak lama kemudian Calista menampilkan


menyembuhkan luka dalam pada kaki Cleo.


“Calista? Kamu… Kamu memiliki kekuatan?!” teriak Cleo masih


tidak percaya.


“Sudah saya bilang untuk tidak asal menggunakannya, kenapa


sekarang?” suara berat yang ada di antara mereka.


Itu adalah kepala pendeta, dia sudah Kembali. Dia juga yang


membuat deheman sinhkat itu, tau jika Cleo akan melakukan sesuatu yang buruk.


“Ini adalah waktu yang tepat kepala pendeta, mana mungkin


saya membiarkan pendeta Cleo terluka?” balas Calista.


Sesaat kepala pendeta meminta Calista untuk pergi dari sana.


Minggalkan Cleo sendirian dengan wajah yang masih tidak percaya. Ternyata selama


ini kepala pendetaa tau jika Calista memiliki kekuatan, tapi  diaa menyembunyiikannya. Alasannya dia tak


mau jika Calista di anggap sebagai dewi ataupun yang lainya. Ini adalah


kesempatan bagi Cleo untuk membuat kepala pendeta dan Calista tidak saling


percaya.


Pagi hari itu, Cleo pergi menghampiri Calista yang masih


berjalan-jalan di taman. “Hari yang indah Nyonya Calista,” sapa Cleo.


“Pendeta Cleo, tolong jangan teralu formal dengan saya. Saya


bukanlah bangsawan, jadi Anda cukup memanggil saya dengan nama saja,” jawab Calista


merasa tak enak dengan panggilan Cleo sebeluamnya.


“Nyoya tidak hanya untuk bangsawan, tapi juga untuk orang yang


kitab hormati. Begitu pula dengan Anda,” ucapan Cleo menyela. Beberapa saat


kemudian dia mulai  ikut beridiri di samping


Calista tepat saat dia tengah mengatur bunga-bunga. “Jika saya boleh bertanya,


darimana Anda mendapatkan kekuatan itu Nyonya?” lanjut Cleo.


Itulah niatnya, dia ingin menjadi seperti Calista


memiliki  kekuatan lantas bisa menguasai


tempat itu. Kepala pendeta adalah orang yang kuno, perlu untuk merubah tatanan


baru terlepas dari tangan golongan tua.


“Berkat, berkat itu di berikan bukan di cari. Maaf pendeta Cleo,


saya  tak bisa membantu Anda,” jawaban


tenang dari Calista membuat Cleo geram.


“Tapi, bagaimana?” pertanyaan itu terus dia layangkan pada


Calista.


Terlihat jelas juga wajah Calista yang bingung dengan


pertanyaan dari Cleo. “Saya juga tidak tau, itu dating begitu saja. Bagitulah,


berkat itu tidak di cari pendeta. Maafkan saya,” ujarnya.


Cleo makin kesal dengan Calista, dia langsung pergi begitu


saja. Beberapa hari kemudian banyak  berita tentang kekuatan Calista. Cleo juga ikut ambill adil untuk


menyebarkan berita itu. Karena rumor itu banyak orang yang dating ke gereja


khususnya bagi mereka yang  tidak


memiliki uang untuk berobat ke tabib atau sejenisnya. Awalnya kelapa pendeta tidak


setuju tentang hal itu, dia merasakan ada hal yang aneh jika nantinya kekuatan


Calista benar-benar di perlihatkan secara umum.


Sikap asih Calista mengalahkan argument itu, dia tetap


membantu meskipun kepala pendeta belum setuju. Hingga semakin banyak oran yang


tau akan kekuatan Calista. Sekarang bukan hanya kaum budak saja tapi juga


bangsawan. Ini membuat Cleo memikirkan untuk menawarkan harga pada pengobatan


Calista.


“Cleo, sudah lama sekali kamu tidak kemari, ada apa?” tanya


kepala pendeta melihat Cleo yang dating sendiri ke ruangannya.


“Bukankah Anda yang tidak memberikan ku kesempatan untuk


bertemu?” jawab Cleo dengan nada seperti bercanda. Tatapan Cleo tajam melihat ke


arah kepala pendeta, dengan senyum tipis mengeluarkan sebuah surat dari balik


jubahnya “Saya melihat jika banyak orang yang ke gereja


untuk sekarang, bagaimana jika kita menetapkan tarif masuknya?”