
Entah masih efek bingung, ataupun kereta kuda yang berjalan terlihat Amora tak bisa berdiri dengan benar.
"Amora kamu baik-baik saja?" tanya Chandler khawatir.
"Maaf, tapi saya bisa sendiri," jawaban Amora dingin lantas duduk kembali.
Dia duduk sembari menampilkan wajah kebingungan. Chandler yang melihat itu, merasakan hal aneh akan terjadi pada mereka. Sesampainya di mansion, Amora langsung aaja turun. Meskipun dia tidak bisa berdiri dengan benar, nampak orang-orang tidak curiga. Mereka berpikir jika Amora merasa pusing karena kereta kuda..
"Nona, Anda baik-baik saja?!" tanya Edelweis memegangi tangan Amora yang gemetar.
"I-iya~" ucap Amora gemetar menampilkan senyuman yang aneh.
Seketika Edelweis tersenyum. Dia mulai membopong Amora. "Saya antarkan Anda ke kamar."
Di lain sisi Chandler menatap Amora dengan tatapan malu. Dirinya sadar telah membuat kesalahan, hampir mencium adiknya sendiri. Mengingat itu, tanpa sadar pipi Chandler memerah.
"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Barier yang masih setia di sebelah Chandler.
Tanpa menjawabnya, Chandler langsung pergi ke kamar. Mandi untuk memenangkan pikiran, setelah itu berlatih pedang.
Sudah seminggu semenjak kejadian itu, Chandler dan Amora kini jarang bertemu. Mereka sama-sana menghindari satu sama lain, kecuali saat makan bersama. Tanpa di rasa besok Chandler akan pergi, membuat dia kepikiran tentang hal itu.
"Besok kita akan pergi, tapi sepertinya hubungan Anda dengan Nona Amora belum juga baik, apa yang terjadi?" tanya Barier mencoba untuk mencari titik tengah di antara mereka.
Chandler tetap saja diam, menundukkan kepalanya pada meja. Lantas sedikit melihat Barier yang tengah berdiri tegap di depannya. "Barier," panggil Chandler.
"Ya?"
"Apa hukumnya jika kakak adik menjalani hubungan?"
"Setau saya menurut undang-undang Guineva itu tidak di perbolehkan."
"Bahkan saat mereka itu bukan sodara kandung?"
Pertanyaan aneh dari Chandler membuat Barier terdiam. Awalnya yang masih menatap tenang, kini mulai menghilangkan senyumannya. beberapa saat kemudian dia melihat Chandler. Wajahnya pucat serius, membuat dia seperti bisa meraba.
"Apa yang terjadi di antara Anda dan juga Nona Amora?" pertanyaan dari Barier setelah tau pertanyaan itu di tujukan untuk mereka sendiri.
"Kami tidak melakukan apapun."
"Jujurlah pada saya, karena saat nanti terjadi Anda bisa mempercayai saya," ucapan dingin dari Barier nampak khawatir.
Dia melihat ke arah Chandler. Terlihat wajahnya memerah, sesekali menyembunyikannya.
"Saya hampir menciumnya," gumaman singkat dari Chandler langsung membuat Barier membuka matanya.
Orang yang semula tersenyum dengan tenang, kini mulai merubah wajah seketika. "APA! AN-"
"Sudah saya bilang itu hampir Barier! Saya pikir kami akan berpisah, entah sampai kapan saya akan ada di asrama, tanpa sadar saya ingin memeluk dan menciumnya, tapi... Itu malah membuat hubungan saya dengan Amora renggang sampai sekarang," penjelasan panjang Chandler menyela ucapan terkejut dari Barier.
Barier terdiam sesaat. Mengira wajah Chandler yang sepertinya tak berbohong. Helaan napas dia lakukan, sembari memposisikan dirinya duduk untuk kembali tenang.
Beberapa saat kemudian Barier mulai menuangkan teh. "Anda mau?" tawarnya sembari menunjukkan poci teh yang ada di tangannya.
Jawaban itu lantas tak di tanggapi oleh Barier. Dia mulai menuangkan gula, lantas meminumnya.
"Ha...." helaan napas Barier setelah dia meminum teh itu. "Setau saya tak masalah, asalkan tidak dengan hubungan darah. Tapi belum pernah ada yang sampai menikah, karena rata-rata jika bangsawan memiliki anak lain selain dari istrinya mereka akan menyembunyikannya. Jikapun tidak di sembunyikan, hubungan tidak sedarah itu menjadi canggung, dan akhirnya anak yang tidak sah itu pergi, atau membalas dendam," jelas Barier.
Tentu saja itu mengarah pada pertanyaan Chandler sebelumnya. Tentang hubungan dia dan Amora. Helaan napas Chandler lakukan, sembari tersenyum miris.
Dia terlalu bertindak gegabah. Membuat Amora justru menjauhinya. Bahkan di saat terakhir dia bisa melihat Amora, dirinya malah terdiam menunggu harapan untuk datang.
"Sekarang apa? Besok kita akan pergi tuan, lebih baik Anda menemui Nona Amora," jawaban Barier atas wajah khawatir Chandler.
"Saya takut, bagaimana jika dia berteriak."
"Ya, setidaknya Anda mencoba daripada tidak sama sekali," jawaban santai Barier.
Beberapa saat Chandler memainkan jaringannya. Melihat ke arah jam yang sudah hampir menunjukkan tengah malam. Bisa saja dia mengganggu Amora yang istirahat, tapi saat besok bisa saja dia tak bisa melihat Amora dalam beberapa waktu.
Chandler mulai beranjak dari kursinya. Dia tak peduli apa yang terjadi. Langkah mantap dari Chandler terasa, hingga dia membuka pintu ruang kerjanya. Terlihat Amora dengan lilin tepat berada di tangannya sebagai penerang di antara hawa hitam mansion duke.
"Kakak?" panggilnya.
Chandler seolah kaku. Dia melihat Amora tulus, beberapa kali dia mengusap pipi Amora lantas memeluknya.
"Saya kira tak akan melihat mu lagi Amora, maafkan saya...." ucap Chandler langsung tanpa basa basi.
Amora melihat ke dalam, terlihat Barier yang tengah duduk tenang. Entah hal apa yang mereka bicarakan, tapi Amora memberikan kode untuk membantunya. Melepaskan pelukan Chandler yang mulai membuatnya sesak.
"Ka-"
"Tuan, saya permisi. Sepertinya kurang etis jika kalian membicarakan itu di sini."
"Benar juga, kamu ingin masuk Amora?"
"Tak masalah, lagipula saya juga ingin membicarakan sesuatu dengan kakak."
Jawaban yang biasa bagi Amora, tapi lain hal bagi Chandler. Dia melihat itu seperti Amora akan pergi. Entah sejak kapan dia mulai se emosional ini, apalagi menyangkut tentang Amora.
"Kakak?" pertanyaan yang keluar dari Amora setelah mereka cukup lama terdiam.
"Maafkan saya, tentang kejadian kemarin. Saya benar-benar memikirkan itu, saya merasa malu saat bertemu denganmu Amora, hingga saya akan pergi," penjelasan Chandler tanpa di minta.
Bibirnya seolah beegerak sendiri, menjelaskan apa yang seharusnya dia jelaskan dari lama. Tatapan Amora diam melihat Chandler, lantas sedikit tertawa.
"Saya tau, saya juga ingin melakukan itu. Saya tak bisa berpikir jernih beberapa waktu ini, jadi kakak mungkin bukan cuma kakak saja yang meminta maaf, tapi saya juga. Maafkan saya," jawaban Amora dengan senyuman mekar di wajahnya.
Entah dia sudah menantikan ucapan itu, atau mungkin hanta perasaan Chandler. Amoral nampak terlihat manis juga malam ini. Gaun tidurnya cocok untuk Amora. Badan kecilnya, wajahnya menjadi pemanis saat senyuman tercipta.
Entah siapa yang salah, tapi keduanya sama-sama tak mau berbicara. Terus diam dalam sebuah ketidak jelasan, tak ada pertanyaan maaf atau ungkapan marah. Sekarang Chandler paham, Amora juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Gugup, canggung, apalagi saat keduanya masih anak-anak. Umur yang sangat jauh untuk mereka membangun hubungan.
'Ya, mungkin untuk sekarang saya lebih suka minum teh dan bermain daripada harus memikirkan bagaimana orang dewasa memperlakukan pasangan mereka.'