Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 38 : Diana Ternyata Kamu Juga?



"AKH!!!! DUKE BODOH!" teriak seorang perempuan dalam sebuah gereja. Sepi tidak ada jamaat sama sekali. Hanya patung seseorang Dewi dengan dua lainya ada di samping kanan dan kiri.


Wanita itu menatap patung Dewi. Mengobrak-abrik semuanya yang dia bisa. "Dasar! Harusnya akulah yang menang! Duke bodoh! Dia bunuh diri hanya untuk anak itu, ini tidak benar... Ini tid-" lantas dia merasakan darah mengalir dari perutnya. Bibirnya juga sudah berdarah bahkan semakin dia bergerak darah itu akan semakin banyak keluar.


"Brengsek, kamu yang merencanakan ini. Isnin!" teriak Diana tergeletak di antara kursi-kursi jamaat. Metelakkan tangannya pada luka yang dalam itu, sesaat dia mengeluarkan sihir untuk membantu menyembuhkan nya.


"Aku ingat betul ini adalah novel cerita dimana Diana yang sebagai tokoh utamanya. Kenapa... Kenapa malah anak haram itu!" teriak Diana lagi. "Aku akan kembalikan alur novel ini ke semestinya. Ini adalah impian ku sebagai Diana dan menikah dengan Theodor, tapi kenapa ini berubah dan malah aku yang jadi antagonis nya!"


Diana diam kembali, mencoba untuk lebih fokus. Dirinya mengingat kehidupan lalu, saat dia masih menjadi murid SMA. Dirinya suka membaca buku, dan buku yang paling dia suka adalah ini. Author favoritnya tidak pernah mengecewakan dalam membuat cerita historical. Penuh dengan intrik dan emosi.


Meskipun Amora dan Chandler harus mati, itu adalah hal yang wajar bagi setiap cerita. Dialah yang paling setuju atas kematian Amora juga Chandler. Membuat kehidupan Diana dan Theodor nyaman tanpa adanya cinta yang terbati.


Bisa di bilang kehidupan dulu dia fanatik terhadap Diana juga Theodor. Hingga dalam sebuah kecelakaan dia malah ber transmigrasi ke tubuh tokoh yang paling dia suka Diana. Awalnya semuanya berjalan lancar, dia memiliki kekuatan dan di angkat gereja. Meskipun tau itu adalah sihir buatan yang sangat menyakitkan, tapi dia menahannya. Hingga waktunya tiba, awal pertemuan Diana juga Theodor.


"Ini adalah waktunya, aku tidak menyangka transmigrasi itu benar-benar ada! Apakah aku benar-benar menjadi Diana yang akan di agungkan ke depannya!!" teriak Diana masih tidak percaya hari yang telah lama dia tunggu bertemu dengan pujangga hati.


"Theodor, aku da- Eh?" ucapan Diana terhenti saat dia naik ke atas altar. 'Siapa anak perempuan itu, aku yakin benar jika kursi itu untuk putra Duke dan Pangeran,' batin Diana melihat perempuan di sebelah Theodor dengan seksama.


"Apakah kamu melihat pangeran? Bukankah dia sangat mengagumkan?" tanya seorang pendeta yang mendampingi Diana di altar gereja.


"Ya, tapi siapa anak perempuan di sebelah pengeran?" tanya Diana penasaran.


"Ah, itu adalah putri haram keluarga Duke. Sebelahnya lagi adalah Duke muda. Katanya ibu dari anak perempuan itu sudah meninggal, makannya Duke membawanya," jelas pendeta itu.


Diana menyeritkan dahinya, paham jika mereka berdua adalah Amora juga Chandler. 'Jadi dia adalah Amora, seingat ku dia akan kesini satu atau dua tahun lagi, kenapa malah secepat ini? Tak aku sangka, benar-benar seorang yang berbahaya jika aku biarkan kamu hidup. Amora, terbunuh lah dengan kekuatanku ini," batin Diana bergumam.


Dia memang akan melaksanakan pemberkatan untuk orang-orang gereja. Untuk menahan rasa sakitnya Diana akan menyebarkan itu secara merata ke jamaat, menyembuhkan tapi juga menyakitkan. Di saat yang bersmaan, Diana dapat mengutuk seseorang. Saat itu mata Diana membelalak saat melihat orang yang memiliki spirit lain seperti dirinya, Amora. Bahkan itu adalah spirit tertinggi yang Diana tau.


Pada akhirnya Diana sadar dirinya yang dulu merupakan dewi yang terbuang. Perasaan gelap itu semakin dalam membuat Diana semakin ingin membalas dendam. Satu kesempatan dia berhasil untuk memberikan kutukan pada Thedelso. Meskipun begitu, Thedelso juga bukan lawan yang mudah. Pada akhirnya setelah sekian lama dia berhasil menguasai Thedelso. Di akhir pertarungannya, bahkan dia tidak bisa membunuh Amora.


"Sial! Sial! Sial!!! Sudah aku lakukan semuanya! Bagaimana bisa! Mana yang salah!!!" teriak Diana sembari menyembuhkan luka di badannya. "Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka lalu mengembalikan kekuatan, tapi aku harus cepat," lanjutnya geram.


Sesaat terdengar ada langkah kaki datang. Diana langsung melihat ke pintu masuk, tak lama terlihat ada yang membukanya. Theodor, dengan senyuman palsunya dia membawa Satun tangkai mawar putih di tangannya.


"Bahkan kali ini gagal, Diana? Kamu mencoba untuk memisahkan Chandler dengan Amora, ternyata masih ada Marquez muda untuk menjaganya. Terkenal tuan Marquez muda juga tidak kalah dalam urusan sihir, saya tau karena kakaknya juga masuk ke Akademi," ucap Theodor langsung mencium bunga yang dia bawa.


Sesaat Theodor meletakkannya pada Altar. Menyatukan kedua tangannya, lantas menutup mata. "Keberkatan mu masih terus saya rasakan, tolong jagalah terus orang-orang yang benar dari seseorang yang ingin menyakiti satu sama lainnya," lanjutnya dalam ucapan berdo'a.


"Theodor! Sudahkah saya bilang saya itu bukan dari sini, saya itu perintis! Saya itu tau jalan ceritanya dan kamu harus menikah-"


"Saya harus menikah denganmu dan menjadi bahagia. Dengan kematian Chandler dan Amora," sela Theodor.


Diana kemudian diam, dia tidak bisa berbohong saat rasa sakit itu menyeruak masuk ke dalam tubuhnya. Theodor sesaat berbalik, melihat kearah Diana.


"Siapa yang menciptakan cerita kejam seperti itu Diana? Dewa tidak akan pernah ingin agar umatnya terluka," ucap Theodor duduk di depan Diana. "Lihat, kamu yang terluka parah di sini. Meskipun Duke mati, tapi saya juga tidak akan meremehkan bagaimana kekuatan dari Chandler juga Marquez muda. Jangankan untuk mereka berdua, Anda bisa melihat saya sebagai contohnya. Bahkan sudah bertahun-tahun berlalu, tapi berkat Amora masih melindungi saya atas kekuatan sihirmu di istana," lanjutnya.


Diana benar-benar geram ada sesuatu yang tidak beres dengan cerita itu. Dia berhasil masuk ke istana, membuat sihir yang menjadikannya seperti anak yang istimewa. Bahkan sang raja bisa mengagungkan dirinya, tidak satu kecuali Theodor. Bahkan berkat dari gereja saat mereka masih kecil, melindunginya kerat seperti penjaga. Diana juga tak bisa asal memerintahkan untuk menghancurkan kelurga Duke atau kutukan akan berbalik ke arahnya.


Senyuman tipis Diana seperti mengejek Theodor. "Sekarang kamu bisa tertawa seperti ini, tapi sampai kapan kekuatan itu akam melindungi? Hingga saat itu tiba lebih baik turutilah aku Theodor atau kamu akan menerima akibatnya," jelas Diana.


"Aku menantikan saat itu Diana, saat kamu terbunuh dan di penggal sebagai pembohong semua orang," balas Theodor.