Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTURE 46 : Waktunya Anda Kembali



Amora perlahan melangkahkan kakinya, terlihat sebuah tangga emas yang entah membawanya kemana. Dia mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan sesaat Amora sampai di sebuah taman, mata Amora membulat saat taman itu terlihat cantik bercahaya dalam gelapnya malam.


Sesaat Amora melihat sebuah bunga yang bercahaya, sama seperti anak tangga itu. Bunga itu ada, berjalan hingga dia menunjukkan dalam sebuah gereja putih di sana.


Suara alunan itu seketika membuat Amora ingat pada ibunya.Calista dia dulunya pengiring lagu dalam gereja, sebuah pesta juga menggunakan calista sebagai pengiringnya. Mereka berdansa dalam iringan lagu milik Calista.


"Ibu~ IBU!" teriak Amora langsung berlari ke arah sumber suara. "Aku tau aku tak berhak untuk mengatakan itu, tapi kamu adalah ibuku... Aku merindukanmu," lanjut Amora kembali.


Dengan napas yang masih tersenggal Amora melihat Calista yang bermain piano di sebelah altar. Sesaat Amora sadar jika tak ada kursi jamaah yang berjajar di saja. Hanya sebuah lantai dansa dengan sinar yang menerangi setiap inci ruangan itu.


"Ibu?" ucap lirih Amora melihat Calista yang masih sibuk bermain pianonya.


Sesaat suara piano itu terhenti, Calista dengan lembut tersenyum pada Amora. Berbalik dengan dengan rambut terurainya. "Kamu datang sayang? Lama sekali tak bertemu hm?" ucap Calista sembari mengulurkan tangannya.


Tanpa pikir panjang, Amora berlari lantas memeluk Calista. Tangisan tak dapat Amora tahan, dia lelah dengan kehidupan. Sihir ataupun yang lain, sebuah balas dendam, dan teka-teki ataupun yang lain membuat Amora muak.


"Kamu kelelahan? Tak apa kamu bisa istirahat sebentar, tapi bukan waktunya untuk berhenti sekarang sayang," ucap Calista dengan sentuhan lembutnya.


Usapan yang selalu Amora dapatkan saat kecil dulu. Ingatan masa lalu Amora tiba-tiba datang saat masa kecilnya dulu. 'Inikah ingatan sebelum kematian?' batin Amora.


"Bukan, kamu masih belum selesai sayang. Bukankah ada alur yang harus kamu selesaikan sekarang," ucap Calista sesaat membuat mata Amora melebar.


"Ibu tau!" teriak Amora terkejut.


"Heem, saat kamu sudah meninggal kamu tau apa yang di inginkan sebuah kehidupan."


"Aku yang membuat cerita ini ibu, aku takut aku ingin menyudahi nya," balas Amora.


"Semuanya akan berakhir jika sudah berakhir sayang, tapi sekarang belum selesai untuk kamu."


Entah kenapa posisi Amora dan Calista semakin menjauh. Lambaian tangan Calista terlihat jelas oleh Amora. Sebuah rantai tiba-tiba datang mengikat tubuh mereka berdua.


...CRAK...


Bunyi itu tepat menandakan jika rantai yang saling terhubung putus begitu saja. "Tidak! Ibu!!!" teriakan Amora saat dirinya benar-benar menjauh dari Calista. Silauan cahaya seketika menyeruak membuat Amora menerjapkan matanya.


Sesaat Amora melihat sosok wanita di sana. "Ibu?" ucapan Amora masih teringat akan sosok Calista.


"Anda sudah bangun Nona?" pertanyaan yang keluar dari wanita itu. Sayang sekali, dia adalah Madam Schwarz yang entah sejak kapan ada di sampingnya. Senyuman lega Madam Schwarz lakukan, sembari mengecek nadi dari Amora.


"Syukurlah Anda baik-baik saja, Tery cepat panggilkan Tuan Duke jika Nona Amora sudah sadar," ucap Madam Schwarz.


Amora masih bingung dengan apa yang terjadi. Hal terakhir yang dia ingat jika Diana ada di kamarnya untuk mengeluarkan sihirnya untuk mempengaruhi Chandler.


"Saya mohon jangan membicarakan apapun dulu, sekarang bagaimana memulihkan kesehatan Anda," sela Madam Schwarz pada Amora.


"Saya melihat ibu tadi, ibu mengajak untuk berdansa, tapi seketika dia bilang untuk pergi, padahal saya masih ingin lebih lama dengan ibu," jelas Amora perlahan.


Beberapa hari setelah kejadian itu berlalu, Madam Schwarz menceritakan jika malam hari tiba-tiba Barier datang padanya. Dia menceritakan jika saat itu Diana menyemar sebagai Barier untuk mempengaruhi Chandler. Bahkan Tery yang sebelumnya ada di sana tak menyadari hal itu.


Kisah Amora yang tiba-tiba berubah hawanya menjadi seorang kesatria dengan pedang cahaya yang ada di tangannya. Mengutuk Amora dan mengatakan hal yang tidak berguna.


Saat itulah Amora pingsan setelah muntah darah. Mereka sudah memanggilkan dokter, tetap saja dokter tak tau apa yang terjadi pada Amora.


Sesampainya di mansion, Madam Schwarz dengan Tery melihat Chandler dengan wajah cemasnya. Tery saat itu bahkan tidak menyangka Chandler bisa menampilkan wajah cemasnya. Selama ini Tery hanya tau jika Chandler berpura-pura peduli pada Amora.


Saat di rasa cukup baik, Madam Schwarz berbagi berdua dengan Chandler. Duduk di kamar dengan Amora yang masih pingsan. "Jadi, apakah Anda ada pembelaan Tuan Duke?" tanya Madam Schwarz langsung membuka pembicaraan.


"Diana itu jahat, dia membenci dan iri pada Amora entah kenapa, tapi kemarin saya tau dia iri pada kekuatan spirit Amora. Diana bilang jika kekuatan itu harusnya miliknya, dan Amora merusak alur cerita kesukaannya, jadi saya harus melindungi Amora," penjelasan panjang Chandler pada Madam Schwarz.


Anggukan kecil Madam Schwarz sembari meneguk teh miliknya. "Tery mengatakan jika sebelumnya kamu berubah sikap pada Amora, maksudnya apa? Saya tak melihat hal seperti itu saat saya kemari tadi," ucap Madam Schwarz.


Tatapan tajam Madam Schwarz tak bisa Chandler sembunyikan. Perasaan menekan dengan kuat hingga Chandler menenangkan dirinya sendiri.


"Ini adalah rencana Theodor, dia bilang jika ingin membunuh Diana maka harus membuat Amora menjauh dari Diana atau Diana akan memberikan kutukan pada Amora-"


"Apakah Anda takut jika kutukan itu akan mengarah para Anda, seperti Duke Thedelso sebelumnya?" tanya Madam Schwarz langsung menyela ucapan Chandler.


"Tidak, saya tidak takut jika saya berakhir seperti ayah, tapi bagaimana jika nanti Amora sendiri? Saya tak bisa melindungi dia," jawaban Chandler dengan penuh percaya diri.


Seperti tidak ada jawaban lain dari Madam Schwarz. Dia mendekatkan wajahnya pada Chandler, sedikit mengusap wajahnya. "Jika seperti itu, saya akan bantu sedikit Anda untuk bertahan lebih lama, jangan membuat saya kecewa karena ini adalah permintaan terakhir Tuan Duke Thedelso," jelas Madam Schwarz.


Sesaat Madam Schwarz tersadar jika dia tengah melakukan minum teh dengan Amora. "Anda baik-baik saja Madam?" tanya Amora menyadari jika raut wajah kosong pada Madam Schwarz.


"Jika ibu tak sehat, saya bisa mengantarkan ibu pulang," balas Tery menyadari hal yang sama dengan Amora.


Senyuman simpul terjadi pada Madam Schwarz, sosok tegas yang belum pernah dia melihat sebelumnya. "Tidak seperti kami harus pulang sekarang," balas Madam Schwarz.


"Ibu? Sungguh? Bagaimana jik-"


"Kenapa dia di rumahnya sendiri Tery," sela Madam Schwarz pada anaknya sendiri.


Lain hal dengan Madam Schwarz yang terlihat tenang, lain hal pada Amora. "Saya ingin pergi, apakah itu tak apa?"


"Kenapa? Anda tak perlu pergi Tuan Duke akan menjaga Anda di sini."