Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTURE 70 : Pengulangan Waktu dan Penebusan Dosa.



"Apakah kamu pernah menganggap saya sebagai adikmu, kakak?"


Seketika Chandler terbangun dari tidurnya dia teringat akan ucapan dari Amora. Tepat sehari setelah dia membunuh adiknya di pesta itu. Banyak orang yang menganggap Chandler adalah orang yang kejam, tapi di lain sisi dia juga di puji oleh kekaisaran karena membubuh orang yang meracuni Diana.


"Apa ini kepalaku pusing sekali," rintih Chandler dengan dengungan di kepala. Sudah beberapa hari ini terjadi, mungkin setelah dia membunuh Amora.


Membunuh bukanlah hal yang asing bagi Chandler. Dia sudah di latih untuk hal ini apalagi saat di Akademi. Akan tetapi sekarang berbeds, Chandler justru merasa bersalah atas kematian Amora.


"Aku, apakah aku melakukan hal yang be-" ucapan Chandler terhenti saat ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya kuat.


"CHANDLER! CHANDLER!" teriakan itu terdengar kuat di dampingi dengan suara ribut dan ketukan pintu. "CHANDLER! KELUAR!" teriakan itu kembali.


"Tuan Tremy! Anda sangat tidak sopan menabggil duke hanya dengan nama," salah seorang pelayan yang menahan Tremy untuk masuk.


"Persetan, apakah karena gelar ini dia sampai membunuh adiknya sendiri?"


"Dia membunuh pengkhia-"


"Jangan pernah katakan itu! Apakah kalian tau! selama ini Amora mebagan semuanya sendiri!"


Pintu kamar Chandler perlahan terbuka, terlihat Chandler yang masih lusuh menggunakan piayama. "Apa yang terj-"


...BUGH...


Pukulan kuat Tremy langsung mengarah pada Chandler. Jangankan untuk berbicara, Chandler bahkan membuka mata tanda terkejut dengan apa yang terjadi.


"Tremy, kendalikan dirimu! Mana sopan santun mu! Madan Schwarz, tidak pernah mengajarimu seperti ini!" teriak Chandler sembari mengusap bibirnya yang berdarah.


"Madam Schwarz? Heh, bahkan ibu yang meminta saya untuk datang kemari. Anda tak pantas untuk hidup," ucap Tremy. "Apakah Anda tau apa yang selama ini Amora rasakan? Anda hanya berpikir jika dia adalah penjahat karena Anda terbuai akan perasaan Anda terhadap Diana!" lanjut Tremy.


Saat itu Chandler hanya diam, dia melihat Tremy yang masih berteriak dengan beberapa penjaga yang menahannya. Tangan Chandler mengangkat, menandakan untuk melepaskan Tremy. Beberapa dari mereka ragu, hingga salah seorang melepaskan Tremy.


"Lepaskan!" teriak Chandler. Para pelayan akhirnya melepaskan Tremy. Dengan sikap siaga untuk menjaga agar Chandler tidak di pukul lagi.


"Kamu juga tidak tau apapun tentang saya Tremy, kamu hanya melihat temanmu yang terbunuh, tapi saya... Saya kehilangan adik sekaligus orang yang saya sayangi," balas Chandler.


"Orang yang kamu sayangi? Lebih baik Anda lihat ini, harusnya Anda menyelidiki dulu bukan malah terbawa emosi dan membunuh orang tak bersalah!" ucapan Tremy meninggi dengan melemparkan sebuah amplop bewarna. peach dan juga kotak kepada Chandler. "Saya pergi, semua keluarga Schwarz akan pergi. Kami tidak di sambut lagi di sini." lanjutnya.


Amplop itu sudah terbuka, dengan stampel khas keluarga Duke Thedelso. Belum lagi dengan kotak itu, itu adalah sebuah busur panah dengan pelontar jadi penggunaan hanya perlu membidiknya.


Setelah kepergian Tremy, Chandler mengambil amplop itu Tulisan tangan khas Amora tepat di dalam sana.


"Tremy sebentar lagi kak Chandler ulang tahun, saya ingin kamu membantu saya untuk membuatkan sebuah panah modelnya mungkin rumit jadi saya ingin kamu memilih pembuat senjata terbaik. Kakak di serang di bagian punggung nya jelas dia kurang bisa pertempuran jarak jauh, tapi dengan ini kakak hanya perlu mengarahkan. Saya sudah mengumpulkan uang dari hasil kerja saya sendiri, bukan dari kekayaan Duke jadi kita tidak perlu khawatir. Ini desainnya, berikan padaku sebelum Pesta kedewasaan kakak. Ya, saya tau balasan mu pasti untuk tidak memperdulikan kakak saya lagi, tapi saya menyayanginya. Dia adalah anggota keluarga saya yang tersisa, dan saya tidak ingin kehilangan dia lagi. Balas pesan ini jika kamu membutuhkan uang untuk pembuatannya. Salam hangat, Amora Thedelso."


Tanoa sadar Chandler langsung memeluk surat itu, sisi lain dari Amora yang belum dia tau. Chandler hanya tau jika Amora membencinya, apalagi setelah dia menuduhnya dalam rencana pembuluhan Duke Thedelso. Belum lagi saat di kamar Chandler, Amora hampir di pukul olehnya dengan kekuatan penuh.


Air mata tak bisa Chandler tahan, apalagi saat dia melihat senjata itu sungguh senjata yang cantik. Bahkan ada tulisan Chandler Thedelso, menandakan ini hanya di buat untuknya. Amora bekerja keras untuk membantu Chandler dalam pertempuran khusunya jarak jauh.


"Apa ini ayah! Andaikan ayah di sini, ayah pasti tau apa yang sedang terjadi," ucapan Chandler pasrah dengan keadaannya.


Chandler sudah tidak minat apapun lagi. Dia hanya ingin mati tepat dimana ayah, ibu, dan orang yang di cintai nya sudah pergi. Sebuah kehidupan lain berharap dia bisa di pertemukan kembali.


Suara gemuruh orang-orang tiba-tiba terdengar. Chandler melihat ke jendela, dimana banyak orang berkerumun di sana.


"Ada apa di sana?"


"Ada apa ini?" tanya Chandler pada sekerumunan orang di sana.


"Maaf Tuan Duke, kami di perintahkan oleh Raja untuk mengiringi mata-mata yang menjadi pelayan istana. Dia juga yang terbukti meracuni Nona Diana. Maaf Tuan Duke, Anda pasti terkejut karena adik Anda bukanlah pelakunya," penjelasan seseorang itu.


Dengan mata yang melebar terkejut Chandler menyerobot di setiap kerumunan. Tepat di tengah alun-alun dia melihat pelayan itu. Dia, dia yang di tunjuk Amora sebelumnya. Amora bilang jika dia minta untuk mengantarkan minuman, pelayan itu yang menyuruh Amora.


"Ini adalah jebakan," gumam Chandler.


Terlihat Raja, Theodor, Diana tepat ada di atas altar eksekusi. Mereka sehat saja dan masih bersama, sedangkan Chandler sendirian. Tangan Chandler gemetaran, pikirannya kosong, sesaat dia melihat senyuman Diana tepat saat mata mereka berdua tak sengaja bertemu. Senyuman itu tanda kemenangan.


Dengan terburu-buru Chandler keluar dari kerumunan itu, dia kembali ke mansionnya. Mengambil kuda dan pedangnya. Beberapa pelayan panik saat Chandler terlihat tidak tenang. Mereka bertanya, Chandler kenapa tapi tidak di balas. Tanpa bicara Chandler langsung pergi begitu saja.


Di pemakaman, Chandler membawakan sebuah bunga yang dia ambil saat di perjalanan. Meletakkan pedangnya tepat di atas makam Amora.


"Saya belum pernah mengakui ini, tapi saya mencintaimu Amora. Sepertinya perbuatan saya sebelumnya salah, saya ingin bersamamu tepat dunia ini saya tidak bisa melakukannya sendiri," ucap Chandler bersiap untuk menusukkan pedangnya pada lehernya sendiri.


Silir angin datang, perlahan dia melihat siluet tangan putih yang menahan pedangnya. "Jangan bunuh diri atau kamu akan mati sia-sia," ucapnya.


Dengan cepat Chandler mengayunkan pedangnya, tapi perempuan itu juga cepat beralih. Dia yang semula di belakang Chandler kini tepat duduk di atas nisan Amora.


"Siapa kamu!" teriak Chandler mengarahkan pedangnya.


"Ha, kamu terlalu mudah untuk membunuh seseorang Chandler itulah kenapa adikmu ada di bawah sana. Penyesalan? Tidak, kematian cukup mudah bagimu."


"Apa yang kamu mau?!"


"Penebusan dosa, kamu membunuh seorang yang tidak bersalah, maka kamu harus menebusnya."


Chandler terdiam saat itu melihat ke arah perempuan.


"Saya ingin jiwamu kembali ke masa lalu Chandler, jika kamu mati kamu hanya akan menjadi hantu yang penuh dengan penyesalan. Datanglah," ucap permpuan itu mengulurkan tangannya.


Awalnya Chandler ragu, tapi perlahan dia meraih uluran tangan itu. Sesaat Chandler melihat ke bawah, perempuan itu lambat laut menjadi pudar dengan wajah seringai penuh dengan senyuman.


"Perbaikilah," kata terakhir yang Chandler dengar dari wanita itu.


...SRAK...


Suara kepala yang terpenggal, kematian Chandler tepat di atas kuburan Amora dengan alasan yang belum dinketahui. Semuanya mengira Chandler bunuh diri, tapi ini aneh bagaimana bisa ada orang menahan kesakitan yang dalam sekaligus meneganggal kepalanya sendiri.


Di sisi lain, Chandler terbangun terkejut. Dia sadar tengah tertidur di meja belajar.


"Anda tak masalah tuan?" ucap Barier tepat berada di depannya.


"Barier! Saya kembali!" teriak Chandler senang apalagi melihat tubuhnya yang kembali mengecil.


"Maksud Anda tuan?" tanya Barier bingung.


"Sa- Ada apa itu?"


"Oh sudah datang, Adik perempuan Anda sudah tiba-tiba di mansion."


...FLASHBACK END. ...