
Setelag Chandler pergi ke akademi, jujur saja Amora merasa kesepian. Pasalnya dia tidak memiliki teman untuk bermain. Dia berharap sebelumnya jika Barier tidak ikut juga, tapi Chandler memaksa beberapa hal yang lebih masuk akal daripada dirinya.
"Ha....." helaan napas dari nona muda Thedelso dalam perpustakaan sepi.
Dia tengah mempelajari tentang sihir, atau kekuatan spirit yang ada dalam dirinya. Sudah lama sejak kejadian lalu, dimana dia bisa melihat wujud spirit, entah kemana sekarang berbeda.
Dalam buku itu, di jekaskan jika spirit menunjukkan wujudnya sesuai dengan kekuatan yang dia punya. Lebih tinggi kekuatannya maka akan lebih lama dan bentuknya lebih kompleks. sedangkan, saat kekuatan spirit lebih rendah maka itu akan lebih sederhana dan jarang untuk terlihat.
Amora kembali mengingat bagaimana spirit nya terlihat. Hanya sebuah titik cahaya, bahkan mereka hanya memamggil Amora. Jujur di saat yang bersamaan Amora sedih akan hal itu. Dia mulai menggenggam tangannya sendiri, menutup mata dan merasakan kekuatan datang dari sana.
"Saya tau kamu di sana, terimakasih sudah membantu saya. Saya akan lebih kuat nantinya, jadi bisa memanggil kalian. Jujur, ini bukanlah hal yang sebenernya tapi saya kesepian, saya harap bisa membuat kalian datang kemari dan menemani saya," gumam Amora dengan nada yang tulus.
Dia menggunakan bahasa yang sopan, belum pernah dia menerapkannya dengan benar. Pergaulan yang Amora tutup dengan putri bangsawan lainnya, membuat Amora tak terlalu butuh pelajaran etika.
"Amora!" tepuk seseorang tepat di pundak Amora membuat dirinya tersentak lantas melihat siapa orangnya.
"AYAH!" teriak Amora kegirangan.
Amora tau masa ini adalah masa-masa krusial. Awal kepergian Chandler entah darimana para monster datang. Legenda mengatakan saat sihir hitam datang, para monster akan terbangun untuk membalas dendam. Kemungkinan itu terjadi karena pembantaian para petinggi gereja yang membuat segel bagi para monster.
Amora melihat Thedelso, tak ada yang terjadi. Mungkin sebuah angan saat Duke Thedelso pergi berperang. Lagipula keadaan masih baik-baik saja.
"Bagaimana kabar ayah?" tanya Amora membuka pembicaraan.
"Ayah baik-baik saja, kamu tak bosan sendirian di sini?"
"Bosan, biasanya dengan kakak."
"Ayah tau, ayah ingin mengenalkan mu pada guru etika yang baru."
"Ha-! Memang Madan Collage kenapaa!"
Madam College nama yang asing bagi Amora, dia juga tidak ingat menuluskan itu di novelnya. Mungkin karena dia tak terlalu lengkap tentang masalah Amora apalagi saat dia hanyalah figuran.
"Sebenarnya tak ada masalah dengan Madam Collage hanya saja ayah ingin menunjuk guru etika yang memiliki anak, jadi kamu bisa bermain dengan dia. Lagipula, anaknya juga minat tentang sihir, seperti kamu Amora," penjelasan Thedelso serasa masuk akal.
Entah apa yang ada di pikiran Thedelso sekarang. Dia tak pernah mengira akan menggantikan madam Collage, guru etika terbaik hanya untuk mencari guru etika yang memiliki anak.
"Ayah, sungguh tak apa? Saya senang dengan Madam," tanya Amora mencoba untuk membujuk ayahnya.
"Tidak apa-apa, ayo sekarang kamu harus bertemu dengannya."
"Eh-?! Sekarang?!"
"Ayah kemari memanggil mu untuk itu."
"Ayah bisa minta tolong dengan kepala pelayan, atau Tuan Edelweis."
"Tidak, ayah juga ingin bertemu dengan putri ayah," jawaban singkat itu di akhiri senyuman Thedelso.
Senyuman yang hangat bagi Amora. Dirinya ikut tersenyum, menggandeng tangan Thedelso berjalan lambat hingga ke ruang tunggu. Kepala pelayan terlihat baru saja keluar, dengan membawa troli berisi beberapa cemilan dan juga poci teh.
"Selamat pagi kepala pelayan," sambut Amora dengan hangat.
Tanpa banyak tanya lagi Thedelso masuk ke ruangan itu. Terlihat seorang wanita yang tengah duduk sembari meneguk teh miliknya. Beberapa saat kemudian dia langsung paham jika Thedelso mulai masuk, lantas dengan cepat dia memberikan hormat.
"Hormat saya pada Tuan Duke Thedelso," jawabannya dengan anggun dan sopan.
Lain hal dengan Duke Thedelso yang merasa senang. Amora justru terdiam saat melihat wanita itu adalah Madam Schwarz. Amora langsung lemas seketika tau siapa orang yang akan mengajarinya. Dia mengingat bagaimana Tremy nanti menjadi tiran berdarah dingin dengan Amelia yang menjadi penggeraknya.
"Selamat pagi Madam Schwarz, saya senang Anda mau datang kemari untuk menerima permintaan saya," ucap Thedelso langsung duduk dengan Amora di sebelah nya.
Terlihat Tremy juga ikut dengan Madam Schwarz. Ucapan lembut dari Madam Schwarz tidak tau masa depan anaknya.
"Menolak permintaan Anda adalah hal yang buruk bagi saya."
"Saya tau, Anda memang tak pernah di ragukan tentang masalah etika. Saya senang, saya dengar putri Anda juga masuk ke akademi tahun sekarang."
"Benar, putri pertama saya. Dia bilang bertemu dengan Nona Duke muda, dia sangat manis meskipun sering bersikap spontan," ucapan dari Madam Schwarz menatapnya.
Dia paham bagaimana Amelia mengadukan itu pada ibunya. Sikap yang menggebu-gebu dari Amelia selalu saja di tangani baik dengan Madam Schwarz. Di balik percakapan sesama orang tua, Amora merasa tak nyaman. Dia melihat sekitar, dimana Tremy memandanginya tersenyum dengan tenang.
'Bukalah topeng mu itu dasar muka dua, kasih satu untuk kakak mu yang tak punya muka,' gerutu batin Amora karena merasa takut juga kesal dengan senyuman Tremy.
Tepukan dari punggung Amora membuat dia sedikit tersentak. Mungkin paham dengan tatapan Tremy yang membuat Amora tidak nyaman. Dia lantas memeluk Amora perlahan dari samping badannya.
"Tuan Schwarz muda sepertinya sangat tertarik dengan Amora ya," ucap Duke Thedelso langsung membuat Tremy sadar akan senyuman nya.
"Ahah... Maaf atas kelancangan saya Tuan Duke, tapi saya teringat beberapa waktu lalu saat saya bertemu dengan Nona Duke muda, dia bilang jika saya tampan, sungguh itu adalah hal yang memalukan bagi saya. Saya tidak bersiap dengan benar sekarang, saya harap masih terlihat tampan," jawaban Tremy layaknya anak polos yang lainya.
'Kamu bodoh atau bego! Kenapa bilang seperti itu dasar bochil!!!!' teriakan batin Amora memundurkan tempat duduknya karena terkejut.
Amora tersentak saat itu, begitu juga dengan Madam Schwarz. Tentu saja, bahasa yang di gunakan oleh Tremy itu sopan, tapi membicarakan hal itu bukanlah hal yang wajar. Perlahan kipas yang semula menjadi pajangan di meja, kini di angkat oleh Madam Schwarz. Dengan tenang memperbaiki posisi Tremy, dan memberikan kode padanya.
"Ah, maaf atas ketidak sopanan saya," ucapan Tremy kembali tenang seperti bangsawan muda..
Aura dari Madam Schwarz memang tak bisa di pungkiri. Dia benar-benar bisa mengatur anak-anak bagaimana menjadi bangsawan yang anggun.
"Amora, mungkin kamu bisa mengajak Tremy untuk berjalan-jalan?" sapa Duke Thedelso dengan senyuman.
"Maaf?"
"Jika Nona Duke muda tak masalah, bisakah Anda mengajak saya untuk berkeliling?" tanya Tremy menyela pembicaraan.
"Ayah...." kata Amora ragu untuk menerima tangan Tremy yang dia ulurkan padanya.
"Nona, maafkan saya tapi menolak ajakan adalah hal yang tidak sopan. Jikapun Anda tak bisa, lalukan dengan benar. Untuk sekarang ada beberapa hal yang ingin saya katakan dengan Tuan Duke, bisakah Anda memberikan kami privasi sebentar?" penjelasan yang tenang dari Madam Schwarz membuat Amora diam. Dia tau itu adalah pengusiran secara halus.
Beberapa saat kemudian Amora dengan Tremy pergi dari sana. Menyisakan Thedelso dengan Madam Schwarz.
"Bagaimana menurut mu Bianca? Saya tak percaya Madam Collage adalah mata-mata kerajaan," ucapan dari Thedelso langsung pada intinya.
"Memang benar, dan kekuatan yang sangat besar, tapi tenang saja saat dia masih terasa belum terancam maka tidak akan terjadi apa-apa."