Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTURE 44 : Hanya Ilusi Diana



"Tolong jangan bercanda, saya menghabiskan masa remaja saya untuk Anda,” jawab Barier menampakan wajah sombongnya. “Jadi Tuan Duke Thedelso, adik Anda mungkin akan pergi sekarang lalu apa yang akan kamu lakukan?!” lanjutnya.


Ketenangan kembali terasa apalagi saat Barier mengatakan hal itu. Dahi Chandler mengerut tanda dis berpikir keras. wajahnya yang menampilkan kecemasan terlihat jelas tidak seperti saat dia bersama Amora.


"Jangan hanya diam saja! Saya tau Anda hanyalah berpura-pura, dan semuanya yang Anda lakukan demi Amora. Tolong katakan sesuatu, atau adik mu benar-benar pergi," kelas Barier merasa khawatir.


kematian Duke Thedelso sudah mengguncang Chandler. Sosok yang sangat dia kagumi kini hilang. Masalah lain saat orang-orang bilang jika Amora adalah kutukan. Theodor bilang jika semuanya terjadi saat Diana mulai datang ke istana. Yang mulia mulai condong ke Diana, hubungan dekat antara Yang mulia dan Duke Thedelso menjadi renggang karena ulah dari Diana itu sendiri.


Chandler kembali melihat ke arah nakas. Orang melihat itu mungkin senjata kutukan, sebuah perang di mansion yang membuat Duke Thedelso meninggal. Rumor mengatakan jika Amora yang membunuh Duke Thedelso dengan senjata itu. Akan tetapi Chandler juga tau mana yang harus dia percaya. Edelweis bilang jika Duke Thedelso membunuh dirinya sendiri setelah gagal membunuh Amora. Bahkan Tery di sana untuk melindungi Amora.


"Barier, saya tau Amora tidak nyaman di sini, tapi inilah rencananya bukan? Diana itu harus kita waspadai, semakin dia tidak curiga semakin baik," jelas Chandler membenarkan posisinya.


"Bagaimana dengan Amora? Anda seperti mengindahkan apa yang Pangeran Theodor katakan, tapi bagaimana dengan adik Anda sendiri? Kepercayaan itu juga penting," balasan Barier sama-sama berdiskusi.


Chandler terdiam, begitu pula dengan Barier. Dirinya mengacak rambutnya sendiri, bingung sebuah kata yang harus dia rangkai. Dalam batin Chandler, dirinya tak ingin melakukan apa yang Theodor lakukan, di sisi lain dia juga tak mau apa yang terjadi pada ayahnya terulang kembali.


"Besok ada pemberkatan di gereja, Anda akan pergi?" tanya Barier membuka pembicaraan kembali.


"Pemberkatan?" tanya Chandler seperti bingung.


"Ya, tentu saja Diana yang melakukannya atas nama para pendeta yang tersisa," laniut Barier.


"Apakah tak masalah jika membawa Amora untuk bertemu Diana? Saya ingat saat dia bertemu dengan Diana terakhir kali, Amora seperti ketakutan akan sesuatu," jelas Chandler merasa cemas.


"Saya akan bersama Nona Amora jika Anda merasa cemas," balas Barier langsung.


Pembicaraan berakhir di sana, lain hal dengan Amora dan Tery yang sama-sama bersepakat untuk satu hal. Setelah Amora memberkati mansion khususnya kamar tidur Chandler juga Barier, dia akan langsung pergi. Setidaknya dia berharap jika Chandler apa-apa selama dia pergi.


Perasaan kecewa seperti ada pada Tery. Dia melihat perilaku Chandler yang benar-benar tidak pantas pada Amora. Dia ingat pada perintah Duke Thedelso terakhir padanya untuk menjaga Amora. Pikiran tidak percaya juga memenuhi pikiran Tery saat melihat Chandler. Benarkah selama ini dia hanya berpura-pura, rasanya tidak terlihat seperti itu.


"Tery," panggil Amora melihat Tery yang diam dalam pikirannya sendiri.


"Maaf saya memikirkan sesuatu, bagaimana?" tanya Tery mengenai apa yang mereka diskusikan tadi.


"Tunggulah beberapa hari, butuh waktu untuk melakukan hal itu."


"Tuan Chandler bahkan tidak memperdulikan Anda, bisakah Anda tidak memperdulikan dia juga?!"


Dirinya tak bisa menjawabnya lagi jika itu bersangkutan pada Duke Thedelso. Helaan napas lagi-lagi Tery lakukan, bersiap untuk pergi dari tempat dia datang, jendela.


"Saya akan pulang, Anda bisa menghubungi saya kapanpun Anda mau. Datanglah ke rumah jika itu benar-benar mendadak," ucap Tery langsung pergi dari sana.


Lambaian tangan Amora menandakan kepergian Tery dari kamarnya. Tanpa pikir panjang Amora langsung pergi ke perpustakaan. membawa beberapa buku yang menurut nya pantas untuk di pelajari. Seperti pengobatan ataupun yang lain, tidak lupa dia melakukan pemberkatan pada perpustakaan.


"Terimakasih, atas tempat ternyaman dan pengerjaan yang sudah kalian berikan. Saya melakukan pembersihan akan hal ataupun niat buruk yang akan memasuki tempat ini, penolakan," ucap Amora.


Sesaat mata Amora menjadi bercahaya, lantas dengan ruangan itu juga. Setelah pemberkatan Amora merasa energi nya di kuras habis apalagi dengan ruangan sebesar itu. Pikirannya kosong, apalagi saat selesai. Perasaan pusing tambah membuat Amora tak bisa jenjang dengan kakinya.


Amora tak bisa menjaga keseimbangan badannya, sesaat mulai tersungkur jatuh. Lain hal seperti apa yang di harapkan, Amora tertahan oleh seseorang.


"Saya menangkapnya Anda, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Barier yang entah datang dari mana.


"Barier? Saya pikir kamu bersama kakak tadi," timpal Amora sesaat ada pada sofa yang ada di perpustakaan.


"Tuan Chandler? Tidak, saya sekarang tengah mencarinya. Dia tak ada di ruang pesta, jadi sekarang saya mencarinya. Saya melihat cahaya dari sini, jadi saya masuk ternyata itu Anda. Apa yabg Anda lakukan?" penjelasan Barier dengan pertanyaan di akhir kalimatnya.


Mata Amora tambah melebar, dengan jelas dia melihat Barier datang ke kamarnya dengn Chandler. Sontak apa yang terjadi, malahan Barier di sini mencari Chandler itu sendiri. Tanpa pikir panjang Amira berlari ke arah kamarnya. Tepat kamar di mana Chandler tidur setiap harinya. Di sana juga senjata yang sudah Amora berkati ada, satu-satunya alat yang bisa Amora gunakan untuk membunuh prajurit bayangan milik Diana.


Amora sadar mansion ini terpengaruh ilusi Diana. Bukan hanya Chandler, bahkan Tery, juga dirinya. Napas memburu Amora, matanya memerah takut sesuatu terjadi pada kakaknya.


Benar saja saat dia akan masuk terdapat kuncian sihir di luarnya. "Nona? Bisakah Anda beritahu saya ada apa?" tanya Barier masih tak sadar dengan apa yang terjadi.


"Kita bicarakan itu nanti, untuk sekarang bagaimana cara membuka GERBANG INI!" teriakan Amora sesaat memecahkan kunci sihir pada pintu kamar.


Dengan cepat Amora masuk, melihat Diana yang hampir mencium Chandler. Mungkin pandangan orang juga itu adalah adegan dewasa, lain hal dengan Amora. Dia melihat sebuah hal untuk pengambilan jiwa. Amora tau karena ibu Tery yang sudah mengajarkan padanya untuk mengambil jiwa seseorang dan menguasainya dalam sihir.


"PERSETAN! Jauhkan dirimu dari kakak ku!" teriak Amora langsung melayangkan pedang pada Diana.


Entah pedang Darimana tiba-tiba ada pada tangan Amora. Sama seperti sebelumnya pedang Amora bersinar emas. Sontak Diana langsung memundurkan badannya, merasa tak aman Diana mengeluarkan aura hitam pada dirinya.


"Sihir...." gumam Amora.


"KAMU SIALAN! HARUSNYA AKU YANG MEMILIKI SPIRIT ITU BUKAN KAMU!" teriakan Diana langsung memenuhi ruangan itu dengan aura hitam muliknya. Dengan sigap Barier melindungi Amora tepat ada di depannya. "Kamu harus pergi ataupun mati! Karena kamu telah merusak alur yang sangat saya suka! AMORA!!!"