
'Tunggu...Kereta kuda itu seperti.... Jangan-jangan!'
"EH-! NONA!!!! Anda akan kemana!" teriakan Emma tak Amora dengar. Dia hanya berlari ke kamar ibunya untuk memastikan.
Dalam cerita yang dia buat, Duke Thedelso akan datang ketika Calista meninggal. Saat itu Duke Thedelso akan datang untuk pemakaman dan membawa Amora. Dia sangat jelas ingat, jika kematian Calista saat umurnya menginjak tujuh tahun. Hal ini membawa Amora terkejut apalagi saat dia tau jika dirinya masih berusia lima tahun.
Untuk mempersiapkan itu, Amora mencari tau tentang Duke Thedelso. Melihat bagaimana kereta kudanya, serta lambang yang memperlihatkan seorang duke Thedelso. Singa dengan lilitan ular dan pegang, kereta putih dengan ornamen emas di pinggirnya. Hal yang tidak bisa Amora lupa, apalagi dengan kedatangan Duke Thedelso menandakan kematian Calista.
'Kenapa bisa melenceng seperti ini!' teriak Amora dalam batinya.
Hingga dia pergi ke kamar Calista. Melihat seorang wanita yang sudah terbaring lemah memegangi tangan seorang laki-laki. Entah siapa itu, dada Amora menjadi sesak. Sesaat dia tersungkur, tangisannya tak berhenti. Air matanya yang dia tak kira akan keluar kini malah membasahi badanya.
"Aku... Aku yang membunuh ibu....." gumam Calista di antara tangisannya.
"Nona! Maaf tuan saat melihat Anda datang Nona Amora tiba-tiba berlari ke kamar Nyonya Calista," ucapan Emma saat sadar jika Amora sudah ada di dalam kamar Calista.
Tugas utamanya untuk sekarang, adalah bagaimana Emma memisahkan Amora sejauh mungkin. Itulah tugas yang di berikan Duke Thedelso pada Emma. Sejak sakit-sakitan, Calista yang sudah entah sejak kapan tak pernah memberi surat kini malah meminta bantuan. Paham jika dirinya tak akan hidup lama, oleh karena itu dia meminta bantuan Duke Thedelso untuk datang saat kematiannya dan menjemput Amora.
Langkah tegas tiba-tiba datang menghampiri Amora. Dia masih menangis, lantas melihat sepasang kaki dengan sepatu mewah di depannya.
"Amora?" panggil dia dengan nada baddas nya.
"Maaf... Amora tak bisa menyembuhkan mama...." rintihan Amora yang tak bisa dia bendung.
Tentu saja Amora ada perasaan bersalah di dalamnya. Pasalnya dialah yang membuat cerita, maka secara tidak langsung dialah yang membunuh ibunya. Bukannya malah mendapatkan pukulan, Amora justru di peluk oleh Duke Thedelso. Dirinya di peluk hangat dengan tepukan lembut di punggungnya.
"Tidak apa-apa, terimakasih telah melindungi Calista. Amora," ucapan itu bukannya malah menenangkan malah membuat Amora tambah menangis.
Kini dia merindukan mamanya di dunia nyata. Apakah Mamanya baik-baik saja, atau mungkin dia sakit.
Setelah pemakaman Calista yang di pimpin oleh Pendeta Caleo, Amora membawa buku tebal yang dia pinjam sebelumya. Buku yang dia pinjam dari gereja beberapa waktu lalu.
"Anakku Amora, kamu pasti baik-baik saja nanti. Ibumu adalah orang baik jangan lupakan itu, dewa tak pernah membuat orang baik merasakan sakit," jelas Pendeta Caleo mencoba untuk menenangkan Amora.
"Jika seperti itu, mama tak akan dewa ambil dari Amora."
"Kadang mereka bukan mengambilnya, tapi menempatkan di tempat yang lebih baik."
Anggukan paham dari Amora seketika membuat Pendeta Caleo iba. Dia tak meyangka kematian Calista benar-benar membuat sesuatu yang berubah dari Amora. Sifat yang dulu periang dan juga suka membantu, kini malah lebih ke pendiam.
"Pendeta Caleo, saya mengembalikan buku ini, terimakasih juga sudah memakamkan mama dengan layak," jelas pelan Amora.
Dia menunjuk ke arah Duke Thedelso. Di sana, bersiap untuk membawa Amora dalam kereta kudanya. Sejujurnya Amora tak mau ikut Duke Thedelso, apalagi dia tau kematiannya ada di sana. Akan tetapi, Amora juga tak tau harus pergi kemana. Dia ingin di gereja saja, tapi dia tak bisa menjadi beban gereja.
"Pendeta, apakah saya akan selamat?" tanya Amora begitu saja.
Itu membuat Pendeta Caleo langsung menyeritkan dahinya bingung. Dia tak tau apa maksud dari Amora. Berbeda dengan Amora yang mengucapkan itu sadar saat kematian tak bisa dia hindari, malah lain dengan Pendeta Caleo yang memikirkan kecemasan seorang anak lima tahun di tempat baru. "Ya, kamu pasti akan selamat. Duke Thedelso adalah orang yang dermawan, saya yakin jika anakku bisa bertahan di sana," ucapan Pendeta Caleo halus.
Dirinya di antar ke kereta kuda milik Duke Thedelso. Di bantu untuk masuk terlebih dahulu. Sedangkan Duke Thedelso berbincang sebentar dengan Pendeta Caleo.
"Dia nampak sangat terpukul, kehidupan dia bahagia hanya dengan Calista tapi sekarang dia menganggap semuanya telah hilang. Dia adalah anak kebanggaan gereja sebelumnya, tapi kami menyerahkan Amora karena Anda adalah ayahnya. Saya harap Anda bisa menjadikan mansion Anda seperti rumah bagi putri kami," pesan Pendeta Caleo dengan nada lembut nan alus.
Duke Thedelso paham apa yang di ucapan oleh Pendeta Caleo. "Saya paham, terimakasih telah menjadikan gereja ini tempat yang nyaman bagi Amora. Jika Anda tak keberatan apa buku yang Amora bawa?"
"Itu, dia sering meminjam buku di perpustakaan gereja. Dia pandai dan suka belajar, untuk kemarin terakhir dia meminjam buku tentang umur panjang dan pengobatan, sepertinya dia sadar jika saat itu Calista sudah sakit-sakitan."
"Terimakasih, saya akan menyumbangkan beberapa amal untuk perpustakaan gereja."
"Terimakasih Tuan Duke Thedelso, oh ya ini... Mungkin Anda membutuhkannya," ucapan Pendeta Caleo memberikan sebuah buku tulis pada Duke Thedelso. "Ini adalah milik Calista, dia mempercayakan saya untuk menyimpannya saat terakhir dia pergi ke gereja," lanjutnya.
Duke Thedelso melihat buku catatan itu. Mulai dari dia menjalim hubungan dengannya, sampai tanda-tanda akan penyakit yang dia derita. "Terimakasih banyak," Ucap Duke Thedelso.
"Tak masalah, saya pikir Anda yang paling pantas untuk mendapatkannya."
Setelah perbincangan singkat ini, Duke Thedelso masuk ke dalam kereta. Dengan Amora yang sudah duduk sembari menundukkan kepalanya. Dengan buku tebal yang dia pangku, mengusap beberapa kali, memeluknya, lantas menempatkannya kembali dalam pangkuannya.
Dalam perjalanan, Amora hanya diam Begitu juga dengan Duke Thedelso. Dia tak berbicara apapun, dengan bibirnya yang seolah terkunci atau mungkin canggung dengan orang asing yang ada di depan mereka.
"Kamu suka membaca, Amora?" sebuah pertanyaan untuk membuka pembicaraan.
"Heem, A-Amora suka."
"Bagus, saya juga memiliki perpustakaan di rumah saya. Saya memiliki anak laki-laki, usainya lebih di atas kamu beberapa tahun dia suka membaca juga jadi aku pikir kalian akan menjadi akur."
Mendengar kata itu dari Duke Thedelso, member Amora malah gemetar. Dia ingat betul kematiannya oleh Chandler. Sejak awal dia belum memiliki rencana, membuat Amora juga bingung bagaimana untuk merubah alur ceritanya.
Hingga tak terasa mereka sampai di mansion milik Duke Thedelso. Mereka di sambut baik oleh para pelayan. Hingga Amora melihat seorang anak laki-laki di depannya. Menatap terus seolah tak bisa berpaling.
"Amora, lihat ini ya dia adalah kakakmu Chandler."