Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTURE 57 : Undangan Minum Teh, Nona Duke



"Nona Duke Thedelso mengundang Anda untuk minum teh besok," ucap salah seorang pelayan.


Amelia sedikit terheran dengan surat itu. Pasalnya Amelia dan Amora tidak terlalu dekat untuk minum teh bersama. Beberapa saat kemudian Amelia menuliskan surat balasan untuk Amora.


keesokan harinya Amelia pergi ke mansion Duke. Awalnya Tremy ingin ikut dengan Amelia, tapi dia menolaknya. Amelia beralasan jika ini adalah pesta minum teh yang seharusnya waktu bagi para bangsawan perempuan.


Dengan menggunakan gaun cerah juga hiasan kepalanya. Sehuah siluet hitam agar cahaya matahari tidak terlalu menusuk wajahnya.


Sambutan pelayan saat Amelia datang. "Selamat datang Nona Schwarz, Nona Duke sudah menunggu Anda di taman. Mari, saya antarkan Anda kesana," ucap salah seorang pelayan.


Dengan anggukan perlahan Amelia ikut pelayan itu. Saat melewati lorong di antara taman. Amelia melihat beberapa orang dengan hewan sihir di sana bahkan untuk orang yang tidak memiliki sihir atau spirit seperti Amora. Ini adalah hal yang aneh bagi Amelia, pasalnya hewan sihir tetap di anggap merusak bagi kekaisaran.


Hewan sihir banyak di temukan di perbatasan antara kekuasaan Duke dan ibu kota kekaisaran. Perbatasan antarabangsa daerah kekuatan Duke Thedelso dan juga raja Maverick. Daerah itu memang di batasi oleh aliran air yang cukup luas dengan hutan yang menjadi batasan. Hutan itu masih dalam kawasan Duke Thedelso, tapi masalah monster sihir yang keluar saat musim dingin membuat daerah itu kosong tidak berpenghuni. Duke Thedelso juga tidak terlalu memperhatikan daerah itu kecuali saat tanda-tanda monster sudah keluar dari sana.


Hal berbeda terjadi saat Amelia datang ke mansion Duke sekarang. Mereka malah melakukan pembiakan untuk monster sihir itu, melakukan pelatihan bahkan menjadi teman atau tunggangan para prajurit.


Wajah kagum tak bisa Amelia sembunyikan sesaat sebuah tepukan singkat membuat Amelia sadar saat dia terhenti di tengah jalan. "Anda baik-baik saja Nona Schwarz?" tanya pelayan itu.


"Maaf, saya merasa aneh saja apakah mata saya yang salah? Apakah kalian memelihara hewan sihir yang sedang di latih di sana?" tanta Amelia langsung menunjuk beberapa prajurit yang tengah menjinakkan hewan sihir berbentuk serigala itu.


Senyuman perlahan tercipta dari pelayan itu. Dia membungkukkan badan sembari menunjukkan tangannya kedepan sebagai tanda Amelia untuk melanjutkan jalannya.


"Ini adalah ide daru Nona Duke, dia bilang jika hewan sihir adalah hewan. Mereka di sebut monster hanya karena sedikit kekuatan padahal mereka juga hanya ingin mencari makan," jelas pelayan tersebut sembari berjalan di samping Amelia. "Dia, ini adalah Flare Nona Duke sendiri yang memberi nama. Beberapa waktu lalu dia menemukan Flare yang ingin menyerangnya saat pergi ke perbatasan, memang Tuan Duke sangat kuat sampai bisa untuk menundukkan Flare tapi Nona Duke meminta agar tidak membunuhnya. Nona Duke tau saat ini Flare sedang hamil, dia malah merawatnya hingga sekarang," jelasnya kembali.


Memang terlihat seekor serigala putih dengan tatapan tajam dan sebuah batas hitam di matanya. Terlihat dia adalah sosok yang kuat, punya kekuatan magis yang besar. Andaikan dia marah, belum tentu mansion akan tetap ada. Beberapa ekor serigala yang sama dalam ukuran yang jauh lebih kecil, Amelia lihat sebagai anaknya.


Entah darimana Amelia ingat tentang Duke Thedelso yang menyelamatkan para Penyihir yang sedang di buru. Dia malah membuka gerbang perbatasan untuk menyelamatkan para penyihir.


"Dia memang seperti ayahnya," gumam Amelia.


Belum lama dia berjalan, sampailah dalam sebuah tempat di tengah taman. Di sana terlihat Amelia yang duduk sendirian dengan syal putih yang melingkar ke badannya. Rambutnya terurai lembut terlihat cantik bahkan untuk Amelia sendiri.


"Nona Amora, Nona Schwarz telah datang," ucap pelayan yang membawa Amelia untuk ke sana.


"Ah-! Selamat datang Nona Schwarz, saya menyambut Anda di sini. Jika tak masalah bagi Anda untuk minum teh di luar dalam keadaan dingin seperti ini? Saya suka salju dan saya pikir minum teh akan lebih nikmat saat menikmatinya dengan suasana yang dingin," ucap panjang Amora.


Amora Thedelso lahir dan hidup bukan sebagai wanita bangsawan, entah dia sudah berlatih atau memang terbiasa ucapannya mulai di tata. Memang sikapnya masih jauh dari kata anggun, tapi Amelia menyadari itu, aura Amora sebagai sanit bukanlah hal yang bisa di bohongi.


"Saya tidak masalah jika anda merasa nyaman Nona Duke," jawab Amelia menundukan kepalanya.


Tatapan singkat Amelia lakukan pada pelayan yang ada di belakangnya. Pantas, menyebutkan nama bangsawan bagi seorang pelayan ada tindakan yang tidak sopan, tapi saat melihat tingkah lakunl Amora sepertinya Amelia sadar itu adalah permintaannya.


Mereka duduk bersebelahan dengan teh dan kue kering sebagai pendamping. Tidak lupa juga sebuah dessert cake lembut ada di antara mereka.


"Saya belum pernah melakukan pesta teh sebelumnya, saya harap ini sudah termasuk dalam etika pesta teh menurut Anda Nona Schwarz," ucap Amora membuka pembicaraan mereka.


"Di undang oleh Nona Duke adalah sebuah kebanggaan bagi saya, ini ada pesta teh gaya Anda."


"Amora, panggil saja saya Amora."


Amelia terhenti sesaat, Amora memang keras kepala. Kode etik Amelia dia hanyalah anak dari Viscount, untuk mengucapkan nama bagi seorang putri Duke bukanlah hal yang sopan. Amelia mencoba untuk tetap memanggil Amora dengan sebutan yang benar, tapi Amora tetap tidak menerimanya.


Helaan napas Amelia lantas menatap simpul Amora. "Baiklah Nona Amora, tapi setidaknya Anda juga memanggil saya dengan nama. Setidaknya bukan saya saja yang tidak merasa tidak enak akan hal itu," jelas Amelia.


Kekehan pelan Amora terlintas dalam perbincangan mereka. "Ya, saya tak masalah akan hal itu. Nona Amelia," jawab Amora.


Mereka kembali menikmati teh yang di sajikan. Sesaat mata Amelia terlintas di syal milik Amora. Itu adalah bukan buku yang biasanya di buat untuk syal.


"Syal Anda bagus, terlihat lembut menggunakan bulu apa?" tanya Amelia membuka pembicaraan kembali.


"Ini? Dari bulu hewan sihir, Flare," jawab Amora.


Flare, sesuai penjelasan dari pelayan tadi itu adalah nama bagi hewan sihir yang rawat oleh Amelia. Berbentuk Serigala tak sangka jika rambut mereka sangat lembut.


"Anda suka menamai hewan-hewan sihir itu Nona Amora?" tanya Amelia.


"Ya, saya kenalkan ini adalah Airy," ujar Amora tiba-tiba mengeluarkan burung miliknya.


Hewan sihir berbentuk burung keluar dari tangan Amora. Sebuah bentuk perjanjian jika hewan sihir dapat melebur dengan tubuh tuannya.


Bentuk burung pipit yang sangat cantik, tapi Amelia tau dalam keadaan tertentu itu bisa berubah menjadi Phoenix yang mengagumkan dengan sihir api utamanya.


"Hewan sihir Anda hebat sekali," ujar Amelia mengusap perlahan bulu Airy.


"Sungguh, dan kenalkan dia adalah Ernest."


"MONSTER!"