
Setelah mendengar ucapan itu, semuanya langsung terdiam. Beberapa
orang yang menghalangi Amora juga menatap Amora seperti tak percaya. Langkah kaki
terdengar di antara keheningan itu, saat Pendeta Cleo langsung datang tepat di
depan Amora.
“Amora? Itu kamu sayang?” ucapan itu menggema di antara mereka. “Saya pikir saat kamu pergi kamu tidak akan kembali, maafkan kami,” lanjutnya
berbicara.
“Tidak apa pendeta, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan.
Apakah Anda ada waktu sebentar?” pertanyaan itu dengan tatapan kaku dari Amora.
Dari raut wajahnya saja terlihat jika dia ingin berbicara
serius sekarang. Ini menjadi hal yang aneh bagi Cleo. Seorang datang tak begitu
saja datang, tapi dia datang dengan sesuatu yang ingin dia tanyakan. Begituah manusia,
datang di saat mereka butuh jawaban atas sebuah pertanyaan. Ketidakberdayaan,
atau rasa putus asa itu membut mereka lebih gampang terjerumus dalam kegelapan.
“Jika kamu sampai datang jauh seperti ini, pasti ada hal
sangat penting yang ingin kamu bicarakan. Mari,” ucap pendeta itu menggandeng
tangan Amora.
Chandler awalnya ingin ikut, sayang sekali dia tak bisa
pergi. Beberapa orang di sana masih mencegat Chndler. “Kalian kenapa? Saya dating dengan Amora!” teriak Chandler saat itu
juga.
“Pendeta Cleo hanya menginginkan Amora, Anda tak bisa pergi,”
balas yang lainnya.
Amora melihat ada keributan di sana, Chadler masih bersusah
payah untuk pergi sedangkan para penjaga tidak memperbolehkannya.
“Kakak, tenanglah aku di rumah sekarang. Ada hal yang ingin
aku bicarakan, tolong beri aku waktu
sebbentar,” ucap Amora.
“Tidak, mereka itu aneh,” baas Chadler menatap tajam di
depannya.
“Baiklah, beberapa menit saja!” ucapan Amora dengan nada
meningginya.
Chandler terdiam di sana, menyadari rasa keras kepala Amora.
Anggukan perlahan Chandler lantas pergi begitu saja. Begitu pula dengan Amora, gandingan
tangan Cleo yang sudah lama tidak dia rasakan.
“Jadi, Nona Duke apa yang membuat Anda jauh-jauh kemari?”
pertanyaan yang di layangkan Cleo saat mereka sudah berjalan beberap waktu.
“Amora, tetap kamu adalah ayah bagi kami semua pendeta. Tolong
jangan panggi aku seperti yang lainnya,” ucap Amora membalas panggilan Cleo
sebelumnya.
“Bukankah harusnya tidak sopan memanggil demikian?”
“Baiklah pendeta, entahh dulu ataupun sekarang Anda masih
suka menggoda,” balas Amora..
Hanya kekehan pelan Cleo di sana. Menggenggam tangan Amora untuk
lebih menjaganya. Langkah kaki mereka terus melaju, melewati lorong yang
membuat Amora terpaku. Dia tertegun melihat gereja itu. Meskipun banyak hal
berubah, tapi keadaan gereja benar-benar sama.
Sebuah taman tempat terakhir Cleo membawa Amora jalan-jalan.
Mereka saling berhadapan, duduk di antara taman bunga yang tengah mekar
sekarang. Beberapa orang dating menghampiri kedunya, memberikan teh sebagai
awal untuk membuka jamuan.
“Terimakasih,” ucap Amora sesaat mereka memberikan teh pdanya.
“Maaf jika teh ini tak sesuai dengan indra perasa mu Amora.”
“Sudah aku bilang pendeta, aku ini sama saja.”
Balas Amora hanya membuat Cleo terkekeh perlahan. Dia metelakkan
cangkirnya lantas mengetunya perlahan dengan menggunakan tangannya.
“Apa yang bisa saya bantu Amora?” pertanyaan itu Cleo
layangkan setelah mereka berdiam.
Tatapan Amora tulus lurus kedepan. Menatap Cleo dengan penuh
kelancangan ku sebelumnya, tapi bagaimana Anda bisa mendapatkann tongkat suci yang sebelumnya ada tidak
memilikinya?”
Pertanyaan yang di layangkan Amora lantas membuat Cleo
terdiam sesaat. Tentu saja Amora tau jika sebelumnya pendeta Cleo hanya akan
berdoa, memberkati air yang ada di gereja untuk para umat meminumnya. Akan tetapi,
sekarang berbeda. Dia menggunakan tongkat untuk pemberkatannya.
Ini yang sudah lama menjadi permasalahan gereja. Festival pemberkatan
makin lama makin sedikit orang yang mempercayainya. Meskipun ini ampuh untuk
beberapa keadaan, tetap saja banyak dari mereka yang kecewa.
Amora mendengar rumor ini dari orang-orang yag ada di
penginapannya. Mereka, khususnya para orang tua membandingkan saat Calista
masih hidup dan saat sudah tiada. Amora yang penasaran akan pembicaraa itu diam-diam
mengupingnya. Beberapa orang berbisik bilang jika itu adalah hasil dari sebuah negosiasi
dia dengan para kekuatan lain di sana. Tatapan Amora membulat seketika, ingtan dia
akan Diana.
Tatapan lurus Amora membuat Peneta Cleo terdiam. Senyuman tulus
dia layangkan pada Amora. “Sebuah berkat membuat saya bisa mendapatkan itu Amora,
mugkin sang Dewi paham jika di sini membutuhkan orang yang bisa menjadi sosok
penolong baginya,” ucap Cleo.
“Bagaimana bisa mendapatkan berkat itu pendeta Cleo?”
“Berkat itu di berikan bukan di cari Amora.”
“Tapi aku membutuhkannya.”
“Berkat untuk diri sendiri adalah sebuah dosa karena
keegoisan, banyak yang membutuhkan berkat untuk diri merkea yang membutuhkan bukan
hanya untuk satu orang!” ucapan pendeta Cleo dengan meninggi membuat Amora terdiam.
Tatapan tegas Amora lantas luntur seketika. Tidak mungkin
dia bilang jika dia membutuhkan banyak kekuatan untuk melawan kekuatan yang lebih
darinya. Amora tidak menggunakan itu untuk dirinya sendiri, atau mungkin benar hal
itu terjadi. Dia hanya memikirkan bagaimana bisa mempertahankan mansion Duke dari
kemungkinan perang besar nantinya.
“Pendeta Cleo, apakah berkat itu bisa dating pada orang
biasa?” pertanyaan Amora dalam sebuah gumaman kecil.
“Saya belum pernah melihat itu. Be-lum per-nah,” ucapan Cleo
mendikte perlahan ucapan itu. Sesaat kemudian cleo berdiri dari tempat duduknya.
“Saya harus pergi dulu Amora, datanglah besok mungkin pertanyaan mu akan
terjawab mnantinya,” lanjut Cleo lantas meninggalkan Amora begitu saja.
Langkah cepat Cleo lakukan, lantas dia pergi ke ruangannya. Dengan
cepat dia mengalihkan rak buku yang ada di sana. Terlihat jelas sebuah lingkaran
dengan gambar pentagon di dalamnya. Merah darah yang terlihat sudah mongering tapi
masih terlihat jelas beekasnya. Tanpa piker panjanga, Cleo mengiris tangannya
sendiri. Meneteskan tepat di gambar itu, lantas terbuka sebuah pintu sambutan
untuk Cleo.
Langkah mantap Cleo dalam lorong hitam. Tidak lama kemudian
dia sampai tepat di yang belum ada orang yang tau di sana. Sosok Wanita yang
masih terlihat wajahnya meskipun hanha kepalanya saja. Sebuah kerrang yang ada
di bawahnya, yang di kaitkan dalam sebuah kayu berbentuk salib itu.
“Calista, kamu sungguh luar biasa bahkan saat kamu sudah
tiada kamu masih bisa memberikan berkat mu untuk kami semua. Sekarang, apakah putri
mu juga memiliki hal yang sama?” pertanyaan yang Cleo layangkan pada dirinya
sendiri. Perlahan dia membuka sebuah peti yang penuh dengan bercak darah. Darah
itu berasal dari kepala Calista yang masih utuh di sana. Menetes secara
perlahan pada peti itu.
Perlahan Cleo membuka petinya, terlihat sebuah tongkat tepat
ada di dalamnya. Dengan elusan pperlahan Cleo mengangat tongkat itu. “Terimakasih
banyak, tapi aku harus mempersiapkan mu untuk besok.”