Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTHER 63 : Berkat yang Diberikan



Setelah mendengar ucapan itu, semuanya langsung terdiam. Beberapa


orang yang menghalangi Amora juga menatap Amora seperti tak percaya. Langkah kaki


terdengar di antara keheningan itu, saat Pendeta Cleo langsung datang tepat di


depan Amora.


“Amora? Itu kamu sayang?” ucapan itu menggema di antara mereka. “Saya pikir saat kamu pergi kamu tidak akan kembali, maafkan kami,” lanjutnya


berbicara.


“Tidak apa pendeta, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan.


Apakah Anda ada waktu sebentar?” pertanyaan itu dengan tatapan kaku dari Amora.


Dari raut wajahnya saja terlihat jika dia ingin berbicara


serius sekarang. Ini menjadi hal yang aneh bagi Cleo. Seorang datang tak begitu


saja datang, tapi dia datang dengan sesuatu yang ingin dia tanyakan. Begituah manusia,


datang di saat mereka butuh jawaban atas sebuah pertanyaan. Ketidakberdayaan,


atau rasa putus asa itu membut mereka lebih gampang terjerumus dalam kegelapan.


“Jika kamu sampai datang jauh seperti ini, pasti ada hal


sangat penting yang ingin kamu bicarakan. Mari,” ucap pendeta itu menggandeng


tangan Amora.


Chandler awalnya ingin ikut, sayang sekali dia tak bisa


pergi. Beberapa orang di sana masih mencegat Chndler. “Kalian kenapa? Saya  dating dengan Amora!” teriak Chandler saat itu


juga.


“Pendeta Cleo hanya menginginkan Amora, Anda tak bisa pergi,”


balas yang lainnya.


Amora melihat ada keributan di sana, Chadler masih bersusah


payah untuk pergi sedangkan para penjaga tidak memperbolehkannya.


“Kakak, tenanglah aku di rumah sekarang. Ada hal yang ingin


aku  bicarakan, tolong beri aku waktu


sebbentar,” ucap Amora.


“Tidak, mereka itu aneh,” baas Chadler menatap tajam di


depannya.


“Baiklah, beberapa menit saja!” ucapan Amora dengan nada


meningginya.


Chandler terdiam di sana, menyadari rasa keras kepala Amora.


Anggukan perlahan Chandler lantas pergi begitu saja. Begitu pula dengan Amora, gandingan


tangan Cleo yang sudah lama tidak dia rasakan.


“Jadi, Nona Duke apa yang membuat Anda jauh-jauh kemari?”


pertanyaan yang di layangkan Cleo saat mereka sudah berjalan beberap waktu.


“Amora, tetap kamu adalah ayah bagi kami semua pendeta. Tolong


jangan panggi aku seperti yang lainnya,” ucap Amora membalas panggilan Cleo


sebelumnya.


“Bukankah harusnya tidak sopan memanggil demikian?”


“Baiklah pendeta, entahh dulu ataupun sekarang Anda masih


suka menggoda,” balas Amora..


Hanya kekehan pelan Cleo di sana. Menggenggam tangan Amora untuk


lebih menjaganya. Langkah kaki mereka terus melaju, melewati lorong yang


membuat Amora terpaku. Dia tertegun melihat gereja itu. Meskipun banyak hal


berubah, tapi keadaan gereja benar-benar sama.


Sebuah taman tempat terakhir Cleo membawa Amora jalan-jalan.


Mereka saling berhadapan, duduk di antara taman bunga yang tengah mekar


sekarang. Beberapa orang dating menghampiri kedunya, memberikan teh sebagai


awal untuk membuka jamuan.


“Terimakasih,” ucap Amora sesaat mereka memberikan teh pdanya.


“Maaf jika teh ini tak sesuai dengan indra perasa mu Amora.”


“Sudah aku bilang pendeta, aku ini sama saja.”


Balas Amora hanya membuat Cleo terkekeh perlahan. Dia metelakkan


cangkirnya lantas mengetunya perlahan dengan menggunakan tangannya.


“Apa yang bisa saya bantu Amora?” pertanyaan itu Cleo


layangkan  setelah mereka berdiam.


Tatapan Amora tulus lurus kedepan. Menatap Cleo dengan penuh


kelancangan ku sebelumnya,  tapi bagaimana Anda bisa mendapatkann tongkat suci yang sebelumnya ada tidak


memilikinya?”


Pertanyaan yang di layangkan Amora lantas membuat Cleo


terdiam sesaat. Tentu saja Amora tau jika sebelumnya pendeta Cleo hanya akan


berdoa, memberkati air yang ada di gereja untuk para umat meminumnya. Akan tetapi,


sekarang berbeda. Dia menggunakan tongkat untuk pemberkatannya.


Ini yang sudah lama menjadi permasalahan gereja. Festival pemberkatan


makin lama makin sedikit orang yang mempercayainya. Meskipun ini ampuh untuk


beberapa keadaan, tetap saja banyak dari mereka yang kecewa.


Amora mendengar rumor ini dari orang-orang yag ada di


penginapannya. Mereka, khususnya para orang tua membandingkan saat Calista


masih hidup dan saat sudah tiada. Amora yang penasaran akan pembicaraa itu diam-diam


mengupingnya. Beberapa orang berbisik bilang jika itu adalah hasil dari sebuah negosiasi


dia dengan para kekuatan lain di sana. Tatapan Amora membulat seketika, ingtan dia


akan Diana.


Tatapan lurus Amora membuat Peneta Cleo terdiam. Senyuman tulus


dia layangkan pada Amora. “Sebuah berkat membuat saya bisa mendapatkan itu Amora,


mugkin sang Dewi paham jika di sini membutuhkan orang yang bisa menjadi sosok


penolong baginya,” ucap Cleo.


“Bagaimana bisa mendapatkan berkat itu pendeta Cleo?”


“Berkat itu di berikan bukan di cari Amora.”


“Tapi aku membutuhkannya.”


“Berkat untuk diri sendiri adalah sebuah dosa karena


keegoisan, banyak yang membutuhkan berkat untuk diri merkea yang membutuhkan bukan


hanya untuk satu orang!” ucapan pendeta Cleo dengan meninggi membuat  Amora terdiam.


Tatapan tegas Amora lantas luntur seketika. Tidak mungkin


dia bilang jika dia membutuhkan banyak kekuatan untuk melawan kekuatan yang lebih


darinya. Amora tidak menggunakan itu untuk dirinya sendiri, atau mungkin benar hal


itu terjadi. Dia hanya memikirkan bagaimana bisa mempertahankan mansion Duke dari


kemungkinan perang besar nantinya.


“Pendeta Cleo, apakah berkat itu bisa dating pada orang


biasa?” pertanyaan Amora dalam sebuah gumaman kecil.


“Saya belum pernah melihat itu. Be-lum per-nah,” ucapan Cleo


mendikte perlahan ucapan itu. Sesaat kemudian cleo berdiri dari tempat duduknya.


“Saya harus pergi dulu Amora, datanglah besok mungkin pertanyaan mu akan


terjawab mnantinya,” lanjut Cleo lantas meninggalkan Amora begitu saja.


Langkah cepat Cleo lakukan, lantas dia pergi ke ruangannya. Dengan


cepat dia mengalihkan rak buku yang ada di sana. Terlihat jelas sebuah lingkaran


dengan gambar pentagon di dalamnya. Merah darah yang terlihat sudah mongering tapi


masih terlihat jelas beekasnya. Tanpa piker panjanga, Cleo mengiris tangannya


sendiri. Meneteskan tepat di gambar itu, lantas terbuka sebuah pintu sambutan


untuk Cleo.


Langkah mantap Cleo dalam lorong hitam. Tidak lama kemudian


dia sampai tepat di yang belum ada orang yang tau di sana. Sosok Wanita yang


masih terlihat wajahnya meskipun hanha kepalanya saja. Sebuah kerrang yang ada


di bawahnya, yang di kaitkan dalam sebuah kayu berbentuk salib itu.


“Calista, kamu sungguh luar biasa bahkan saat kamu sudah


tiada kamu masih bisa memberikan berkat mu untuk kami semua. Sekarang, apakah putri


mu juga memiliki hal yang sama?” pertanyaan yang Cleo layangkan pada dirinya


sendiri. Perlahan dia membuka sebuah peti yang penuh dengan bercak darah. Darah


itu berasal dari kepala Calista yang masih utuh di sana. Menetes secara


perlahan pada peti itu.


Perlahan Cleo membuka petinya, terlihat sebuah tongkat tepat


ada di dalamnya. Dengan elusan pperlahan Cleo mengangat tongkat itu. “Terimakasih


banyak, tapi aku harus mempersiapkan mu untuk besok.”