Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 37 : Biarkan Saya Menunjukkan Itu



Amora tidak ingat apa-apa, yang dia tau hanyalah duke yang bunuh diri di depannya. 'Mimpi, itu mimpi 'kan? Katakan jika itu mimpi, aku tidak mau menangis karena kematian seseorang lagi,' batin Amora.


Dia merasakan tenang, dalam gelap karena matanya yang terpejam. Ingin Amora membuka matanya, tapi itu tidak bisa. Perasaan dia seperti mengambang, benar-benar hal yang tidak bisa dia deskripsikan dengan benar.


Silir sebuah pelukan hangat pada tubuh Amora. Sesaat dia melihat bisa mengerjap mata, pemandangan yang asing baginya.


"Aku sudah mati!" celetuk Amora saat dia melihat tempat itu.


Kekehan pelan tercipta dari seorang wanita. Dia mengusap kepala Amora, lantas memperlihatkan wajahnya. Rambutnya emas dengan mata bening seperti kristal. Cantik, itulah kata yang paling bisa mendeskripsikannya.


"Apakah kamu malaikat?" tanya Amora kembali. 'Oh? Dia sejenis shinigami, tapi ini lebih cantik astaga! Jangan-jangan ini reinkarnasi ke dunia Anime, di mana hantu saja bisa jadi cantik!' batin Amora menggelora, antara senang, sedih, terkejut, ataupun yang lainya.


"Hi, kamu Amora ya? Amora De Thedelso, nama yang cantik. Akan tetapi, aku merasakan kamu tak seharusnya di sini bahkan kamu berhasil melawan kekuatan ku untuk mengendalikan tubuhmu," ucapnya. Suara lembut dan halus, dengan nada rendah nya.


"Anda malaikat bukan? Harusnya Anda tau siapa saya, saya Amora tapi memang benar saya bukanlah pemilik tubuh asli ini. Entah kemana saya bisa datang ke sini," jawab Amora menanggapi ucapan perempuan itu.


"Saya tau, saya yang membawa kamu," ujar perempuan itu.


Amora langsung membulatkan matanya. Dia melihat ke arah wanita itu. Dia membelalak tak percaya sekaligus bingung harus berkata apa. Apakah itu pemberkatan, ataupun sebuah kutukan.


"Bukankah Amora!" teriak Amora masih tidak percaya.


"Ya, saya yang mengizinkannya. Bukankah kamu yang membuat kami semua? Jadi saya bingung haruskah memberikan hormat bagi Anda?" tanya nya kembali. "Maaf atas ketidaksopanan saya, saya Isnin. Jadi Amora ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, dan kamu harus lihat kebenaran yang tidak bisa di rubah."


Amora hanya diam saat dia masih merasakan badannya yang melayang. Sesaat matanya berat, lantas dia memejamkan matanya untuk sesaat. Saat itu juga sebuah ilusi untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.


Sebuah tempat di mama hijau belum ada rumah sama sekali. Di sana terlihat beberapa orang yang berkumpul.


"Saya tidak percaya! Para manusia bodoh itu membangkang!" teriak salah satu perempuan itu.


'Diana?' gumam Amora saat melihat perempuan itu tak percaya.


"Kamu yang salah Diana! Harusnya kamu yang mengayomi mereka dengan kasih sayang! Bukan menghukum dan menyesatkan!" teriak salah seorang lagi menimpali.


Benar itu adalah Isnin. Sebuah adu mulut antara Diana dan Isnin. Beberapa perempuan yang lainya hanya tertunduk lesu untuk melihat mereka bertengkar.


"Tidak bisa, kamu harus menghentikan itu Diana!"


"Bukankah mereka itu terlalu sombong?! Isnin! Kamu harus lihat mereka hanya datang kepadamu saat mereka butuh! Sad-"


"Bukankah harusnya seorang Dewi seperti itu? Mereka datang saat mereka butuh bantuan, maka kita harus mengayomi mereka."


Saat itu bayangan akan Isnin dan Diana terlihat jelas. Mereka beradu mulut satu sama lain dengan Diana yang pergi begitu saja. Saat itu seolah pecahan ingatan tiba-tiba datang. Suasana gelap kembali menyapa.


"Kamu lihat Amora, dulu kami bersama. Akan tetapi, ada suatu hal yang membuat Diana pergi meninggalkan kami, hingga di pikir ada 3 Dewi utama tanpa Diana," jelas Isnin.


"Apa maksud kamu menunjukkan itu, sejujurnya saya tidak terlalu peduli Isnin saya hanya ingin kembali ke dunia saya," jawaban Amora dengan nada lesu.


"Tidak bisa, ini adalah dunia kamu sekarang," ucap Isnin langsung menanggapi keinginan Amora. "Kamu harus merubah alurnya, atau semuanya akan kembali sia-sia, saya akan membantu mu Amora," lanjutnya.


"Saya tidak bisa, saya bahkan tidak bisa mencegah kematian Thedelso ataupun Calista, ini benar-benar jauh dari apa yang saya tulis sebenarnya."


"Anda pasti bisa, Anda yang membuat ceritanya karena Anda lah menciptakan kami semuanya," jelas Isnin.


Dia mulai menyatukan dahinya atas dahi Amora. Membuat perasaan nyaman, hangat. Tiba-tiba Amora teringat akan Calista, juga pelukan Thedelso saat awal bertemu dengannya. "Kematian bukanlah akhir Amora, tapi sebuah kehidupan baru bagi mereka," ucap Isnin.


"Tetap saya itu akhirnya ini adalah akhir bagi saya."


"Amora, saya sudah bertemu dengan Diana sebelumnya. Di kehidupan lalu di mana kamu yang membuat cerita itu. Akhir yang bahagia, tapi tidak akan lama. Sekarang, kamu hanya perlu mengulangnya, saya memanggil mu kemari saya akan membantu mu juga," jelas Isnin.


Saat itu Amora hanya diam. Perasaan berat ada di punggungnya tidak bisa dia tahan. Hanya sebuah geraman tangan, hingga perasaan kantuk mulai datang.


"Waktu kita telah selesai, sayang sekali padahal saya masih ingin menunjukkan pada Anda. Saya akan menunggu Anda Amora, tolong jangan lupakan perasaan ini. Nona Thedelso," ucap Isnin.


Sesaat perasaan berat datang. Kepala Amora menjadi pusing, semuanya kembali menghitam. Amora menerjapkan matanya. Sadar dia telah kembali ke dunianya yant sebenarnya.


Amora mencoba untuk menggerakkan tangannya. Sesaat dia merasakan tantan lain ada di sana.


"Amora! Kamu sudah sadar, Syukurlah...." ucap seseorang langsung memeluk Amora.


Suara yang sudah lama Amora tidak dengar. Pelukan hangat di tubuh Amora, balasan sebagai kehancuran awal dari keluarga Duke.


"Kakak...." gumam Amora tidak bisa menahan air matanya lagi.


Itu adalah Chandler. Entah kapan dia kembali dari akademi, entah berapa lama Amora tertidur tapi yang pasti ingatan tentang penyergapan mansion Duke itu terlihat jelas bagi Amora. Ingatan tentang Duke sendiri yang bunuh diri di hadapannya membuat Amora benar-benar menangis di pelukan Chandler.


"Kakak, akulah yang membunuh ayah~" suara Amora lirih memejamkan wajahnya.


Entah apa yang di lakukan Chandler padanya nanti. Ingatan akan alur itu membuat Amora diam. Setelah kematian Thedelso maka Chandler akan menjadi dingin ke Amora karena menganggap dialah yang membunuh ayahnya.


"Bukan kamu, tapi Diana. Amora sadarlah, ayah sudah di kutuk dari lama dan spirit mu itu yang membuat kamu hidup!" balas Chandler melepaskan pelukannya. Mengusap air mata Amora lantas memeluknya kembali. "Kita tidak boleh percaya siapapun Amora, kita hanya punya satu sama lain. Mereka semuanya hanya menginginkan harta ayah, ingatlah mereka adalah musuh kita. Hanya percaya pada satu sama lain Amora," lanjut Chandler.