Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 31 : Ini Perintah



"TREMY!!!!!" teriak Amora saat Tremy seperti menjatuhkan dirinya begitu saja.


"Pfft, apa yang Anda takutkan?" tanya Tremy dengan kekehan pelan. "Buka mata Anda, lihatlah tempat ini. Ini adalah daerah kekuasaan Duke, tapi berbeda saat ini," lanjutnya.


Sesaat Amora membuka matanya. Merasakan hilir angin yang datang menerpa. Mata Amora sesaat membelalak melihat keindahan kota. Kota yang penuh dengan cahaya lampu, bukan listrik belum di temukan saat itu, tapi entah kenapa mereka memiliki cahaya di depan rumah mereka. Dalam-dalam rumah juga terdapat cahaya yang menyeruat keluar.


"Cantik," satu kata yang keluar dari bibir lembut Amora.


"Anda bilang ini cantik? Anda belum melihat ini, ayo saya bawa Anda ke suatu tempat," jelas Tremy langsung pergi.


Ini benar-benar aneh, setau Amora mereka hanya bisa terbang dengan jet ataupun alat canggih lainya. Lain hal dengan sekarang dimana mereka hanya menggunakan sihir dan mana.


'Andaikan tidak ada Witch Craze, apakah masa depan bisa seperti ini juga?' batin Amora dengan pikiran aneh yang datang di dalamnya.


Sesaat Tremy mulai turun. Di tempatkan mereka dalam pada rumput yang benar-benar luas, dimana Amora bisa dengan leluasa menatap langit. Amora belum pernah melihat itu sebelumya, bahkan di kehidupan dia saat masih menjadi mahasiswa. Terlalu banyak polusi langit yang membuat bintang bahkan yak bisa terlihat jelas. Sekarang Amora benar-benar tak bisa mengedipkan matanya karena keindahan cahaya bintang.


"Apakah Anda menyukainya?" pertanyaan yang keluar dari Tremy tepat di telinga Amora membuatnya terkejut. "Anda manis sekali, lihatlah wajah ketakutan itu."


"Saya tidak takut! Saya terkejut Tremy!" teriak Amora sedikit memukul Tremy.


"Pfftt, Anda harus melakukannya dengan keras itu bahkan tidak terasa di kulit saya."


"Jahat sekali!! Tremy!"


teriakan Amora seketika berusaha untuk memukul Tremy sekuat tenaganya. Akan tetapi sayang, Tremy masih benar-benar kuat. Dia berhasil mengelak, bahkan sesekali tertawa mengejek Amora.


'Benar apa yang kamu pikirkan, dia adalah calon Tiran masa depan,' batin Amora menggerutu sembari terengah-engah.


"Apakah Anda sudah selesai?" tanya Tremy kembali, menatap Amora yang masih menundukkan kepalanya dengan napas tersenggal.


"TIDAK!" teriakan mengejutkan Amora membuat Tremy juga terkejut.


Dia tidak bida mengelak pukulan Amora membuat dia terpeleset dan jatuh. Lain hal dengan Amora, entah dia terlalu lelah atau sesuatu dirinya terhuyung tepat ke badan Tremy yang terjatuh. Suasana menjadi hening saat Amora tepat berada di atas Tremy.


"Amor- Nona Duke?" tanya Tremy gugup.


"Ack-! Ini sakit, ah- Tremy maafkan saya! Saya terpeleset," ujar Amora langsung beranjak dari badan Tremy, lantas duduk di depannya.


Tremy dengan gugup juga duduk menghadap Amora dengan kepala yang dia tundukkan. Tremy terdiam, begitu juga dengan Amora. Tremy merasa ada sesuatu yang membuat jantungnya berdebar bahkan dia tidak bisa menahannya. Wajah merah tak bisa Tremy sembunyikan, hanya bisa diam sebelum Amora sadar karena suaranya yang gemetar karena gugup.


"Tremy kamu marah dengan saya? Saya minta maaf," ucap Amora masih merasa tak enak.


Dua orang yang sama-sama terjebak dalam kondisi yang sama. Amora yang berpikir jika Tremy marah karena kejadian barusan. Sedangkan Tremy yang masih gugup berusaha untuk memetralkan napasnya sendiri.


"Saya tidak apa-apa," sela Tremy langsung beranjak dari tempat dia duduk dan meninggalkan Amora.


"Hei? Tremy! Kamu bilang kamu tidak apa-apa, tapi kamu seperti marah!" teriak Amora berusaha berlari mengejar Tremy. "Tre-" hampir Amora berhasil meraih pundak Tremy, tapi dengan cepat Tremy meraih tangan Amora kasar.


"Sudah saya bilang saya ti-" ucapan Tremy terhenti saat melihat tatapan terkenal Amora. Di lain sisi, dia juga melihat alas kaki Amora yang dia bawa di tangannya. "Ngomong-ngomong kenapa Anda melapas alas kaki Anda?" tanya Tremy ingin mengganti topik.


"Ah, alas kaki ini susah untuk berlari, saya tidak suka."


"Itu tidak sopan untuk bangsawan."


"Tidak ada yang melihat kita, lagipula Tremy kamu sesekali harus membiarkan kakimu bebas merasaka rumput segar ini," jawab Amora kembali dengan tatapan senyumannya.


Tremy terdiam melihat Amora, lantas dia menggeleng dan menghela napasnya. "Mungkin memang benar," jawaban Tremy ikut melepaskan alas kakinya. "Maaf atas tingkah laku saya barusan, membawa Anda kemari untuk melihat bintang, jika Anda tak keberatan bisakah saya mendapatkan satu kali lagi kesempatan?" tanya trening sembari mengulurkan tangannya.


"Kamu selalu mendapatkan kesempatan Tremy, kamu itu teman saya," ujar Amora menerima uluran tangan Amora.


Mereka melangkah, beberapa saat kemudian terlihat jelas suasana desa. Entah karena malam yang cerah atau memang sudah seperti itu Amora bisa melihat suasana kota.


Dari atas bukit membuat suasana berbeda antara siang dan malam hari. 'Pantas saja, kamu mudah di serang Amora apakah kamu sadar apa yang terjadi sekarang,' batin Tremy melihat Amora Amora yang tengah menatap suasana di kota itu.


"Tremy?" panggil Amora setelah mereka berdiam beberapa saat. "Umur kamu berapa?"


"Saya? Enam belas."


"Benarkah, kenapa kamu tidak pergi ke akademi? Saat kamu di sana mungkin kamu juga bisa melihat kakak."


"Saya tidak ingin, di Akademi sulit, dan saya tidak ingin. Lagipula kakak saya saja sudah cukup membuat keluarga Marquess Schwarz menjadi terkenal di kalangan atas. Lalu bagaimana dengan Anda?" tanya balik Tremy melihat Amora.


Begitu juga dengan Amora. Keduanya saling melihat satu sama lain dengan tatapan semu Amora. "Kakak tidak memperbolehkan saya, begitu juga dengan ayah. Jujur Tremy, kadang saya tidak bisa pergi dari mansion. Saya bersyukur Tremy ada dengan saya, selain Tuan Edelweis dan ayah sepertinya juga percaya pada Tremy untuk menjaga saya. Saya harap saya tidak merepotkan Tremy kedepannya."


Di balik senyuman manis Amora dengan Tremy suasana mansion tengah mencekam. Secara tidak langsung sebuah kutukan Diana mulai mengincar keluarga Duke sendiri. Entah apa yang terjadi, beberapa waktu lalu Duke selalu menghindari Amora. Bukan karena dia dia marah atau bagaimana, tapi kutukan yang membuat Duke Thedelso ingin membunuh putrinya sendiri.


"Thedelso! Kamu harus sadar!" teriak Abigail mencoba untuk menahan Thedelso.


"Biarkan.... Biarkan saya mel- AKH!!!" teriakan Thedelso menggema tepat di kamar Amora. Hanya dengan mencium aroma nya bahkan Thedelso tidak bisa menahannya.


Sebuah tanda sihir tepat tertancap di lehernya. Tanda sebuah pentagon bintang dengan kepala hewan bewarna merah tepat ada di sana. Abigail sadar bahkan saat pertama kali dia melihat Thedelso. Abigail juga sadar jika Thedelso sendiri bahkan merasakan dirinya sendiri adalah ancaman bagi Amora.


"Abigail, andaikan saya tidak bisa menahannya bisakah kamu menjaga Amora. Saya tau Tremy itu berbekat selama Chandler tidak ada saya percayakan Amora pada Tremy, ini perintah Abigail."