Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTURE 66 : [Flashback End] Tidak Ada Harapan, Lebih baik Menyerah saja!



..."Jika kamu menjualnya pada iblis maka tidak ada kesempatan untuk menariknya lagi."...


.......


.......


.......


Cleo mulai membukanya perlahan, saat itu dia melihat hal yang mengerikan. Bagaimana buku itu mengajarkan sebuah ritual untuk kegelapan.


Dengan Cepat Cleo kembali membuka makam Calista. Dia membawa tubuh Calista yang belum lama di kubur itu. Masih terlihat utuh bahkan sama sekali tidak berbau.


Senyum seringai Cleo lakukan dia mulai menguliti Calista dengan perlahan. Dia membuka tubuh Calista yang sudah tidak bernyawa, mengambil setiap organ di dalamnya dan tulang milik Calista. Entah dari mana ide itu, Cleo tetap melakukannya. Tangannya bergerak sendiri seolah tau apa yang akan terjadi.


Mulai dari leher kebawah, tubuh Calista benar-benar terlihat seperti cincangan daging. Cleo mengambil setiap tulang yang ada lantas merakit nya satu demi satu. Potongan tulang di buatnya perlahan, hingga sebuah menjadikannya tongkat yang cantik. Masih terlihat menyeramkan untuk di lihat, hingga Cleo memutuskan untuk mengukirnya sedikit.



Gambar burung melambangkan kebebasan. Warna emas menandakan kemakmuran. Warna biru yang menenangkan. Banyak elemen yang Cleo tuliskan di sini. Dia membuat tongkat dari tulang Calista itu sendiri.


"Mari kita coba apakah ini berguna," ucap Cleo sembari mengangkat tongkat itu. Tidak ada apapun yang terjadi. Hanya tongkat biasa dan tidak memiliki kekuatan. "BOHONG! WANITA ITU BOHONG!" teriak Cleo melemparkan tongkat itu pada meja.


Meja itu berisi banyak darah milik Calista. Entah bagaimana seorang meninggal tapi masih memiliki darah yang keluar. Jangankan merasa jijik, Cleo benar-benar merasa kecewa karena usahanya saat itu menjadi gagal.


Dengan perasaan marah Cleo membuka jendelanya. Dia melihat sekitar, di sana terlihat bulan biru tanda pergantian bulan. "Kamu menciptakan semuanya tapi tidak bisa sebuah harapan. Kamu gagal," gumam Cleo perlahan.


Entah bagaimana sinar bulan kali ini terasa lebih terang. Dia bahkan menembus tubuh Cleo yang berada di jendela. Menyinari tongkat milik yang dia buat menggunakan tulang milik Calista. Cahaya bersinar tepat di menara itu, bahkan membuat Cleo merasa kagum.


Tiba-tiba ide gila muncul dalam dirinya. Dia mengambil tubuh Calista yang masih penuh dengan darah melumuri tongkat itu lantas dia membawanya keluar tepat saat bulan biru itu bersinar. Saat itulah keajaiban terjadi, silauan dari menara membuat semua orang terbangun dari tidurnya. Mereka mengira jika dewi sudah mengirimkan sanit lain pada daerah itu, tanpa sadar itu hanyalah Cleo dengan ucapan mistik nya.


Sejak saat itu Cleo menaruh kepala Calista yang masih utuh di atas tongkat salib. Menaruhnya keluar di dinding dan setiap hari darah Calista mengalir. Selama satu tahun tongkat itu terus di aliri oleh Darah Calista, dan saat festival akan di mulai tongkat itu akan mencari tumbal yang lainya.


Saat sinar biru itu bercahaya menyinari setiap orang yang ada di pemberkatan dia akan mencari mangsanya. Malam hari korban akan merasakan sakit yang sangat dalam lalu meledak begitu saja. Bau anyir menyelimuti ruangan, tapi Cleo meyakinkan para warga jika itu adalah pemberkatan yang sebenarnya. Sebuah pemberkatan yang seharusnya tidak pernah ada. Dia bilang jika mereka akan kembali ke sisi dewi, dia tau masalah yang di hadapi. Hanya manusia beruntung yang bisa melakukan itu.


Cleo semakin gila, karena dialah kepala pendeta dan tidak ada lagi yang mengganggunya. Cleo sadat jika dia tidak bisa terus menyembunyikan Calista di kamarnya. Maka dari itu dia membuat ruangan baru yang hanya bisa di buka oleh sihir saja.


Dalam ruangan itu Cleo membuat singgasana dengan kepala Calista masih tertancap di atasnya. "Bunda, saya sudah kembali," ucapan Cleo sembari duduk di singgasana itu. Tiba-tiba sepasang tangan memeluk dirinya. Menyerayangi tubuh Cleo hingga ke wajahnya.


...-FLASHBACK END-...


Amora masih bingung dengan tindakan Cleo saat itu. Dia terasa gugup dan cepat pergi dari hadapannya. Sosok Cleo yang Amora tau, sangatlah sempurna. Dia sangat tenang bahkan memberikan khotbah yang sangat masuk akal.


"Amora?" suara berat itu memanggil namanya. Chandler yang masih menunggu nya dengan perasaan khawatir. "Syukurlah tidak terjadi sesuatu pada mu," lanjut Chandler.


"Kakak, aku merasa tidak enak badan. Sebaiknya kita kembali ke penginapan," ucap Amora perlahan sembari memenangi tangan Chandler.


Chandler langsung mengerti ada yang aneh terjadi pada adiknya ini. Dia mulai menuntun Calista, menaiki kereta kuda yang sudah mereka sewa sebelumnya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Chandler masih dengan perasaan khawatir nya.


"Kita lebih baik bicarakan ini di penginapan," balas Amora seperti tidak ingin di ganggu sekarang.


Amora menampilkan waiah yang berbeda sekarang. Lain dengan saat dia datang, perasaan senangnya bahkan bisa terlihat keluar. Sekarang Amora sama-sama melihat ke jendela, perasaan murung dia rasakan dengan suasana hati yang gusar.


Amora tidak mengatakan apapun hingga sampai di penginapan. Begitu pula dengan Chandler yang tidak ingin mengganggu adiknya. Hingga di kamar, Amora memperlihatkan wajah sedihnya. Wajah putus asa akan kehidupan yang entah membanya kemana.


"Kakak, atau kita menyerah saja? Aku pikir akan mendapatkan sesuatu tapi tidak. Lebih baik kita menyerah saja pada Diana. Dia menginginkan aku bukan? Se-" belum sempat Amora menyelesaikan ucapannya lantas Chandler langsung memeluk Amora.


"Belum, semuanya belum berakhir. Ini akan berakhir jika kita menyerah, maka bertahanlah sebentar Amora karena kitalah pemenangnya," ucap Chandler menyakinkan Amora.


Chandler semakin mengeratkan pelukannya. Membawa Amora ke ranjang untuk menidurkan nya sebentar. "Kamu terlalu banyak pikiran, jangan membebankan diri mu sendirian Amora. Kita semua ada," lanjut Chandler kembali.


Entah apa yang Amora rasakan, sungguh dia ingin menangis tapi tidak bisa. Dirinya lemas, dan kepalanya pusing. Di kehidupan sebelumnya Amora belum pernah merasakan hal seperti ini. Rasanya Amora ingin kembali ke dunianya lagi di mana dia tidak perlu bertarung dengan kekuatan ataupun yang lainya.


Perlahan mata Amora mulai menutup kelelahan. Mimpi yang sangat aneh bagi Amora, dia melayang di tempat yang benar-benar hitam. Hanya ada kehampaan, tidak ada suara atau yang lainnya.


Beberapa kunang-kung tepat menghampiri Amora. Membawanya terbang hingga sebuah cahaya terlihat di antara mereka. Itu adalah masa lalu Amora, saat dia masih menjadi manusia biasa.


Amora ingat tempat itu, itu adalah kamarnya. Dia memulis cerita pertamanya. Tidak ada yang membaca, Amora ingat perasaan itu.


"Aku nyerah aja kali ya. Gak ada bakat buat nulis soalnya," ucapan Amora pada gambar itu. Benar, itu adalah hal yang dia katakan karena sudau cukup lelah lantas menyerah. Akan tetapi, hal yang tidak Amora sadari dia terus menulis dan menulis. Dia terus menulis meskipun tidak ada orang yang membacanya. Hingga empat tahun kemudian Amora menjadi seorang penulis muda yang sangat-sangat terkenal.