Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 24 : Duke Thedelso [FLASHBACK]



Tahun sebelum kemerdekaan kerajaan Guinea. Tahun yang sulit bagi Maverick juga Thedelso. Bukan hanya mengatasi pemberontakan, mereka juga harus berpikir tentang para monster yang entah dari mana datang. Tidak lama para petinggi gereja mulai meragukan keabsahan mereka sebagai penguasa.


"Saya pikir ini cukup sulit, apalagi saat kamu harus meninggalkan istrimu dalam keadaan hamil Thedelso, maafkan saya," ucap Maverick dalam perjamuan sederhana di tenda mereka.


Benar, bukannya di istana dengan para pelayan, Maverick turun langsung ke medan perang. Di danpingi dengan Thedelso sebagai panglima tempurnya. Seorang yang sudah di akui kekuatannya, bahkan di juluki dengan bintang fajar karena ketrampilan pedangnya yang sangat di kagumi.


Ini adalah tahun pertama Thedelso menikah, meskipun begitu dirinya baru saja di kabari tentang kehamilan anak pertama. Sebuah surat cinta yang di tuliskan langsung oleh istrinya.


[Kata dokter anak ini adalah laki-laki, saya pikir saat besar nanti dia akan kuat seperti Anda. Anda tau, saya tidak pernah tenang karena anak ini selalu bergerak di dalam perut saya. Anda harus cepat kembali tuan, agar saya tidak merasakan moment ini sendirian]


Senyuman tipis Thedelso lakukan, dia tak bisa apa-apa. Balasan pesan mulai dia tulis untuk istrinya. Beberapa hari kemudian, serangan besar datang. Saat itulah Thedelso sama sekali tak bisa istirahat dengan tenang.


Hingga sebuah kabar yang menggembirakan juga menyedihkan itu datang. "Duchess sudah melahirkan, bayinya laki-laki, tapi... Duchess tidak selamat. Itulah kabarnya," penjelsan seorang pentantar surat yang biasanya datang.


Bukan untuk mengantarkan surat, tapi kabar tentang keadaan mansionnya sekarang. Bahkan tidak ada surat yang bisa di kirimkan, karena ini adalah hari kematian Duchess.


"Mari selesaikan ini dan cepat pulang!!!" teriak Thedelso langsung mebabi buta dengan para monster di sana.


Pertarungan berakhir dengan kemenangan kerajaan. Para pendeta itu juga hanya diam, melihat kejayaan bagi Maverick yang berhasil memantaskan dirinya. Di balik perayaan yang megah, Thedelso tengah berada di makam. Tepat dimana istrinya berada sekarang. Menggunakan pakaian serba hitam sebagai penghormatan, dengan beberapa pelayan juga pengawal yang mengikuti nya.


"Suami macam apa saya, bahkan saya tidak bisa melihat mu untuk terakhir kalinya. Maafkan saya," ucap Thedelso.


Salah satu pelayan menghampiri dia. Usianya cukup dewasa, sekitar tiga puluh tahun. Membawa anak bayi yang ada di gendongannya.


"Maaf menyela tuan, saya memberikan pesan terakhir Nyonya. Chandler, ini adalah nama putra yang di berukan oleh Nyonya Duchess."


"Chandler?"


"Ya, berarti ulet, terampil, dan kompeten. Saat dia lahir, Nyonya Duchess benar-benar mengidamkan dia seperti Anda, jadi Nyonya meminta agar Anda bisa merawat Chandler dengan baik agar bisa menjadi seperti Anda kelak."


Penjelasan itu membuat Thedelso terharu. Dirinya tak bisa apapun, mengambil kembali putranya lantas pergi dari pemakanan itu.


Dalam kamar Thedelso tak bisa menghentikan tangisannya. Dirinya yang tegar kini rapuh melihat putranya harus tumbuh tanpa seorang ibu. "Inikah yang kamu mau? Jika begitu, saya akan melakukannya. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak kamu tau. Kelemahan saya adalah tidak bisa menjaga orang yang saya cintai, seperti kamu...."


Empat tahun telah berlalu, Chandler tumbuh dengan baik. Dia di latih pedang dan akademi. Benar-benar turunan dari Thedelso, dimana dia sangat kompeten dan ulet dalam masalah bertarung meskipun usianya yang masih menginjak tiga tahun.


Dalam kantornya, Thedelso masih membuka beberapa berkas yang di lihatnya penting. Khususnya surat dari kerajaan, tepat dari Maverick untuk dirinya.


"Edelweis!" teriak Thedelso langsung setelah membaca surat itu.


"Anda mema-"


Dia bergegas memunggangi kuda, lantas pergi dengan cepatnya. Sesampainya di istana, Thedelso langsung masuk ke ruang kerja Maverick.


"Hooh, siapa yang datang," ucap Maverick memberikan senyuman seolah tau dirinya akan datang.


"Apa maksudnya ini! Kamu menemukan dokter yang telah meracuni istri saya!"


"Tenanglah Thedelso, ha... Ini hanyalah baru kecurigaan karena dia memiliki hubungan dengan pihak gereja."


Itulah faktanya, setelah kematian istrinya Thedelso langsung mengadakan investigasi. Terlihat beberapa kejanggalan dimana benar istrinya di racuni saat hamil. Itulah yang membuat istrinya lemah, dan meninggal tepat saat melahirkan Chandler.


"Apa yang Anda inginkan?" tanya Thedelso tanpa basa-basi.


"Saya pikir kamu harus mengawasinya sendiri, dan lakukan apapun yang kamu mau setelah itu. Ibarat ini sebagai bayaran saya karena tidak mengizinkanmu pulang saat istrimu sakit," jelas Maverick menatap kuat Thedelso.


Kepalan tangan Thedelso lakukan. Pilihan yang sulit bagi dirinya. Memang dia ingin membalas dendam, tapi dia tidak bisa karena dia memiliki Chandler sekarang. Meskipun sudah membersihkan pelayan dan penjaga, tetap saja Thedelso tidak merasa tenang.


"Bagaimana dengan putra saya? Bisa saja saat saya pergi ini terjadi lagi padanya," kalimat yang Thedelso ucapkan menjelaskan kekhawatiran dalam atas kejadian yang menimpanya.


"Chandler, dia bisa di istana. Kamu tau kan saya juga memiliki putra, setidaknya mereka harus mengenal satu sama lain juga. Ini adalah janji saya Thedelso, jika terjadi sesuatu pada Chandler maka kekuasaan sayalah yang akan jadi taruhannya."


Maverick memang orang yang gegabah. Dia kadang-kadang memiliki sifat yang frontal dan tidak terduga. Meskipun begitu, dia tetap berhati-hati dalam ucapannya. Sekarang dia mengatakan hal samacam itu seperti keyakinan lain bagi Thedelso.


Setelah persiapan selesai, Duke Thedelso pergi sendiri. Dia yakin bisa menjaga dirinya dengan baik. Hingga sampailah dalam sebuah pinggiran kota, tepat perbatasan antara jalur dagang dan juga kerajaan.


Duke menyamar menjadi seorang biasa. Mengamati sesuatu dengan informasi yang dia bawa. Hingga sebuah ketidaksengajaan dis bertemu dengan Calista. Kembang desa yang terkenal akan kecantikannya. Seperti tumbuh di keluarga kerajaan, padahal dia hanyalah anak dari panti asuhan.


Tangannya yang terlihat halus mengukir setiap cat pada canva putih. "Bunga Azalea, cantik tapi bisa berbahaya. Saya akan melelangnya, di mulai dari lima ratus koin emas!" ucap Calista tepat saat dirinya selesai menulis.


Tentu saja, itu harga yang cukup mahal bagi orang-orang di sana. Tapi Calista tidak menyerah, dirinya juga membeli semua barang dengan hasil jualan lukisan sebelumnya. Belum lagi, dia juga membantu panti asuhan tempat dimana dia ada dulu.


"Seribu, saya akan membelinya dengan harga seribu koin emas," ucap Thedelso langsung membuat semua orang tercengang di sana.


Semuanya termasuk Calista. "Ayolah tua Anda tidak per-"


"Saya membutuhkan tempat tinggal untuk beberapa hari, jika kamu mau saya akan membayar lebih," sela Thedelso sebelum Calista bisa menjawabnya.


"Anda memang seorang bangsawan, bisakah Anda bertutur kata yang sopan. Anda pikir saya adalah wanita seperti itu?"