
"Perjanjian darah, ini adalah sihir perjanjian darah!" teriakan itu menyeruak ke dalam telinga Amora. Geraman dari Ernest membuat Amora paham jika itu bukanlah hal yang biasa.
"Saya pikir mereka sudah menghapuskan semuanya, kenapa masih ada di sini!" teriakan Chandler melihat suasana gereja yang memerah.
"Tunggu? Apa yang kakak katakan?"
"Ini adalah perjanjian darah Amora, kamu tidak tau karena memang ini hanya di pelajari di Akademi. Di Akademi juga tidak sepenuhnya di pelajari, hanya memberitahu saja karena para pengajar mengatakan jika itu adalah sihir yang terlarang," jelas panjang Chandler.
"Dia menggunakan tubuh para sanit untuk membuat tongkat kekuatan yang bisa di gunakan oleh siapa saja," balasan dari Ernest.
Mara Amora membuka, dia seolah teringat akan sebuah bayangan tadi. Dia melihat kepala Calista yang tepat berada di atas salib mengucurkan darah tepat di bawah tongkatnya.
"Apakah mereka akan membiarkan kepalanya untuk terus di gantung seperti itu?" tanya Amora balik.
"Darimana kamu tau itu? Amora! Darimana kamu tau itu!"
"Aku melihatnya saat memegangi makam ibu. Itu. hanyalah makam kosong," ucap Amora menjawan pertanyaan Chandler.
Geraman seperti kuat di lakukan oleh Ernest, tanpa pikir panjang dia langsung mempercepat lajunya. Hingga mereka sudah sampai di sekitar gereja. Merah darah menyeruak membasahi sebagian pemukiman yang ada di sana.
"Amora," ucapan silir itu membuat Amora menjadi semakin semakik kuat merayat ke dalam telinga Amora.
"Amora, kamu ti-"
"Hei kalian! Aku sudah menemukannya!" teriakan Airy membuat Chandler menghentikan ucapannya. "Dia ada di-" belum sempat Airy melanjutkan kalimatnya, langsung sebuah tongkat panjang melesat ke dalamnya. Tongkat itu merah seperti daging, dan sangat panjang menjulur mulai dari atas gereja hingga masuk ke dalam tubuh Airy.
Amora dan Chandler terlihat terkejut di sana. Ernest menghentikan langkahnya sebagai tanggapan atas kejadian itu.
"SIALAN! Akhirnya tertangkap," ucapan Airy langsung mengeluarkan semua spiritnya. Airnya menjadi bola api yang besar, itu terlihat panas dan sangat menyilaukan. Beberapa saat kemudian tombak itu meleleh dan terbakar, tapi perlahan tubuh Airy juga jatuh dari ketinggian.
"Saya menangkapmu!" teriakan Chandler langsung sikap membawa Airy ke pelukannya.
"Airy? Apakah dia akan baik? pertanyaan itu Amora layangkan saat Chandler sudah membawa Airy kembali ke bawah.
" Sejujurnya saya juga tidak tau," jawaban Chandler memeluk tubuh Airy yang lemas.
Airy datang dahulu itu adalah perintah Amora untuk melihat apa yang tengah terjadi. Sebuah sihir yang sangat kuat telah ada sampai sini bahkan Airy mati-matian untuk bisa melihat siapa dalangnya. Airy telah menemukan orang itu, dia adalah Calista.
Dalam. pandangan Airy, Amora bisa melihat jika Calista ada di atas gereja. Tepat di sana, jendela atas menyeruak seperti menara dia ada di sana. Menggunakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuh bahkan sebagian kepalanya. Yang membuat Amora yakin jika itu Calista adalah mata dam senyuman bibirnya. Bahkan Amora tau darimana asal suara yang memanggilnya barusan, itu adalah suara Calista.
"Itu adalah dalangnya" teriakan Chandler ingin pergi ke tempat wanita itu, tapi sayang Amora mencegahnya.
"Kemarilah, datanglah kemari. Temui ibumu, AMORA!" teriakan itu langsung membuat semua orang memvuka matanya termasuk Amora.
Dia memanggil Amora dengan sangat jelas, melepas jubah yang menutupi kepalanya. Bibir Amora sesaat tersenyum tipis, dia melihat ke arah wanita itu.
"Kamu bukan ibuku," jawaban Amora atas balasan ucapan dari Calista. "Aku tau! Ini adalah Anda! Pendeta CLEO!"
Jawaban yang membuat semua orang tambah terkejut. Benar, wajah asli dari Calista itu adalah Cleo. Oleh sebab itu kenapa dia menggunakan Jubah, karena yang tersisa dari Calista hanyalah kepalanya. Hanya itu yang bisa Cleo pakai untuk menyatukan dirinya dan Calista. Akan tetapi, Amora melihat celah. Saat teriakannya tadi Cleo membuat satu kesalahan yakni mengulurkan tangannya. Tangan itu seperti Cleo, benar-benar tidak bisa di bantah kembali.
Bibir Amora tambah menampilkan senyumannya, sesaat dia langsung pergi dari sana. Amora berlari menuju gereja dengan sangat cepat. Chandler yang melihat itu, dia ingin menahan Amora, tapi di lain sisi dia juga harus menjaga Airy.
"Jangan terlalu gegabah Amora! Tunggu!" teriakan menggema dari Chandler.
Ernest juga tak bisa melakukan apapun, tombak tadi juga melukai badanya. Semua merah berlumur darah, membuat Chandler tak bisa berbuat banyak. Chandler berusaha keras untuk menyembuhkan Airy juga Ernest dengan sihirnya, setidaknya agar mereka kembali semula.
"Kamu tidak mengenali ibumu Amora? Jahat sekali. Sayalah yang menyalurkan kekuatan ini padamu Amora!" teriakan itu menggema dari atas menara, Amora mencoba untuk tidak menghiraukannya. Terlihat beberapa tombak mulai menancap untuk menusuk Amora, tapi tidak bisa.
"Anda salah pendeta Cleo, ini adalah kesalahan. Seorang ibu tidak akan pernah menyakiti anaknya!" teriakan Amora lantas mengeluarkan pedang bersinar itu dari tangannya. Pedang yang semula dia keluarkan saat mengusir Diana. Pedang itu bersinar terang lantas memotong semua tombak itu. "Kesalahan besar," lanjut gumam Amora.
Dengan cepat dia memotong semuanya, tombak itu semakin acak dan brutal. "Ini semua berasal dari gereja maka sekarang saya akan menghancurkannya," gumam Amora.
Amora menyusuri salah satu tombak itu, dia mulai menaikinya tepat berlari ke arah Cleo yang masih di atas gereja. Geraman mulai Amora rasakan, perasaan marah, sedih, dan kecewa semuanya menjadi satu. Sosok ayah di mana Amora sangat mengagungkannya sekarang berubah menjadi monster yang memanfaatkan kekuatan dari tubuh ibunya. Bahkan Calista, dia tidak bisa beristirahat dengan tenang akibat Cleo.
"Hal yang seharusnya tidak pernah ada, itu adalah Anda," ucapan Amora sesaat sampai di menara.
Amora menusukkan pedangnya tepat di pundak Cleo. Terlihat jelas wajah Calista yang tidak bertambah tua. Andaikan saja Amora tidak memiliki hati yang tangguh, dia bisa saja di manfaatkan untuk tidak membunuh Calista.
"Apakah itu umpatan untuk ibumu sendiri Amora?" ucapan itu keluar dari wajah ibunya, bahkan suaranya sangat mirip dengan Calista.
"Berhentilah bermain-main!" teriakan Amora semakin menusukkan pedangnya dalam lantas memutarnya. "Anda bukan ibu saya, Andalah yang memyiksanya!"
"Tidak, justru saya memberikan kesempatan kedua untuk Calista hidup. Tak bisakah kamu lihat Amora, saya adalah ibumu. Justru kamu yang akan membunuhnya lagi," ucapan itu membuat Amoral terdiam sesaat. Dia melihat ke bawahnya wajah Amora yang menangis kesakitan. "Kamu tidak sadar? Saya sakit saat melahirkan kamu Amora, sekarang kamu ingin membunuh ibumu. kembali?"
Pertanyaan itu membuat Amora lemah, dia mencoba untuk terus menamcapkab pedangnya pada Calista tapi tidak bisa, hingga kumpulan daging merah mulai menyelimuti tubuh dari Amora sendiri.
"Beristirahatlah, kembali ke ibumu, Amora."