Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 15 : Pergi Ke Akademi.



Yth. Duke Thedelso


Maaf jika saya mengirinkan surat tidak resmi ini. Saya tidak tau apa yang terjadi dengan ayah saya, tapi harap Anda bisa mengerti. Saya bingung harus mengatakan ini dari mana, tapi sungguh saya ketakutan. Tidak hanya dengan ayah saya, tapi juga dengan Diana. Saya Sering bermimpi hal aneh sejak Diana datang ke istana. Ayah menjadi fokus pada tahtanya, dan selalu mengawasi Anda. Tentang ramalannya, ayah saya sungguh percaya jadi saya harap Anda baik-baik saja khususnya Amora. Untuk beberapa waktu saya tak bisa pergi, jadi mungkin saya hanya akan mengirim surat tanda saya hidup karena saya sudah tak tahan lagi. Duke Thedelso, Diana itu mengerikan entah kemana Dewi Edwin mengirim pengendali spirit seperti dia. Dia menakutkan, tatapannya, senyumannya, bahkan tanganya yang dingin terasa dia bukanlah manusia. Jika saya boleh meminta, kirim kan Edelweis untuk menjadi mata-mata, karena dia adalah orang yang sangat berbakat dan terpercaya. Saya harap surat ini sampai di tangan Anda dalam keadaan utuh.


^^^Hormat Saya^^^


^^^Pangeran Theodor.^^^


...****************...


Tiga tahun telah berlalu. Amora tumbuh menjadi anak yang manis dan cantik. Meski lebih banyak diam, tetap saja Amora di anggap ramah apalagi dengan senyuman tulusnya.


Karena keingintahuan tentang kekuatan yang di miliki nya, Amora lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakaan. Hanya untuk belajar tentang spirit, ataupun mempraktekkan secara langsung. Di sisi lain Chandler juga sangat berbakat dalam hal bertarung dan berpedang, membuat dia beberapa kali ikut dalam pertempuran kecil di dampingi oleh Edelweis tentunya.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Amora?" panggil seorang yang tiba-tiba datang. Dalam ringkuk senyumannya, menghampiri Amora yang tengah duduk di bawah pohon taman mansion milik mereka.


"Tidak, hanya mempelajari beberapa hal. Kakak, apakah bentuk spirit itu memang ada?" tanya Amora sembari menunjukkan bukunya.


Terlihat buku lusuh tebal dengan warna kerta yang juga hampir menguning. Cover buku khas coklat, dengan kancing yang membuat buku itu tetap tertutup rapat.


"Entahlah, saya juga belum pernah melihatnya," jawab Chandler sembari duduk di samping Amora. Perlahan Chandler memerhatikan Amora, senyuman simpul tercipta tepat di bibir Chandler. "Kadang, saya merasa Amora itu lebih dewasa daripada saya," lanjutnya.


Amora yang semula tak terlalu peduli kini hanya bisa diam. Matanya membulat mengingat dirinya yang sudah berumur dua puluh tahun di kehidupan sebelumnya.


"Ma-Mana bisa begitu?" jawaban atas ucapan Chandler yang membuat Amora gugup.


"Ha... Lagipula adikku ini sangat jenius, pantas saja jika kamu terlihat lebih dewasa," kata-kata yang keluar dari Chandler seolah menenangkan Amora.


Helaan napas panjang dari Amora, terlihat dia ingin menjadi anak pada usianya. Akan tetapi, tak bisa di pungkiri jika sifat tenang Amora dan kadang pemilihannya yang bijak membuat dia terlihat seperti anak dewasa.


Seketika buku yang di pegang Amora pantas di ambil Chandler. "Biar saya yang bacakan untuk mu, saya pikir kamu akan senang jika saya yang bacakan," lanjutnya.


"Tentu saja!" senyuman tipis Amora mendekati Chandler. Beberapa saat kemudian pelukan tangan Amora tepat di lengan Chandler. Jarak yang sangat dekat untuk keduanya, membuat senyum simpul merekah pada Chandler.


Seketika kecupan singkat Chandler lakukan. Dia melihat Amora dengan tulus, lantas sedikit terkekeh pelan. "Saya akan merindukan saat ini Amora," kata Chandler setelah beberapa saat membacakan buku untuknya.


"Ah-! Kakak akan kemana!" seolah paham Amora langsung membulatkan mata, bertanya dengan nada meninggi dan perasaan khawatir.


"Kenapa ekspresi mu itu?"


"Kenapa? Kakak! Jangan membalikkan pembicaraan, ada apa!" tanya Amora kembali.


Jantung Amora semakin berdetak kencang. Selain memang dia merasa malu dengan apa yang di lakukan Chandler, dirinya juga khawatir. "Katakanlah kakak, ada apa jangan membuat saya khawatir," jelas Amora kembali, memegangi lengan Chandler yang ada di lehernya.


"Saya akan pergi ke Akademi," ucapnya perlahan setelah beberapa saat terdiam.


Kini justru Amora yang terdiam. Dirinya memegangi lengan baju Chandler. Dia terlalu nyaman menjadi seorang anak Duke hingga lupa untuk kedepannya.


Di masa depan adalah waktu yang sangat penting. Saat itu Theodor dan Chandler masuk akademi. Dalam beberapa waktu, Diana akan bertemu dengan Amora tak sengaja saat pihak gereja juga membawa Amora dalam toko baju. Toko baju itu bukanlah toko baju biasa. Akademi tertinggi tempat dimana para bangsawan kaya dan juga anak raja menyekolahkan anak mereka. Toko baju itulah yang akan menjahitkan dengan tangan. Bahan yang alus menjaga kualitas pakaian juga tampilan anak-anak dari akademi itu sendiri.


Di saat yang bersamaan, ada pihak gereja yang akan melakukan upacara penting dimana Diana yang memimpin acara itu. Penyembuhan bagi mereka yang mengaku hamba Tiga Dewi utama. Kepercayaan sangat di Junjung saat upacara ini, membuat pihak gereja juga pergi ke toko baju terbaik.


Tampilan pertama, saat pertemuan tiga orang tokoh utama dalam novel. Awal mula cinta segitiga di antara mereka. Chandler, Theodor, dan Diana.


"Kenapa kamu hanya diam?" tanya Chandler menganati Amora yang diam dengan alis mengerut tanda berpikir.


"Jangan pergi, kakak tidak boleh pergi!" ucapan Amora dengan nada meninggi.


"He? Kamu kenapa Amora?" tanya Chandler sendiri masih kebingungan dengan ekspresi Amora.


Seketika Amora terdiam. Dia beranjak dari pelukan Chandler, memegangi tangannya lantas menggeleng kan kepalanya terus. "Tidak, kaka tidak boleh pergi. Saya mohon," ucap Amora.


Chandler hanya tersenyum. Dia pikir jika adiknya itu tengah mencemaskan dirinya. Sesekali Chandler mengusap kepala Amora, lantas kembali memeluknya.


"Jika nanti saya tidak pergi, maka ayah akan di pertanyakan sebagai seorang Duke. Dia bahkan tak menyekolahkan anaknya sendiri, itu akan menjadi pemberitaan yang besar. Saya akan kembali delapan tahun lagi, saat nanti pesta kedewasaan saya pastikan kamu menjadi orang yang pertama kali saya ajak untuk berdansa," penjelasan Chandler.


Entah apa yang di pikiran Chandler. Membuat ucapan seperti itu. Masalahnya, dia ingin menjauhkan Diana dari Chandler. Setidaknya, agar Chandler tidak merasa jatuh cinta pada orang yang sama seperti Theodor. Maka saat itulah, kematiannya dalam novel tidak akan terjadi.


"Kakak! Bukan itu, tolong saya hanya tak ingin kakak pergi, bagaimana dengan saya?" ucap Amora mencari alasan.


"Kamu takut? Tenang ada Edelweis, jika kamu takut masalah saya tenang saja saya bukankah orang biasa, Barier juga ada dengan saya."


"TIDAK!! Kenapa kakak tidak mengerti!" teriak Amora kembali.


Lantas Amora pergi meninggalkan Chandler yang masih terduduk. Kakinya melangkah cepat menuju ruang kerja Thedelso. Meminta agar Chandler di sekolahkan selain di Akademi. Jika nanti Chandler bertemu dengan Diana, mungkin itulah awak dari kematiannya.


"AYAH!" teriak Amora langsung membuka pintunya.


Sesaat tubuh Amora terhenti. Saat ada seseorang di depannya. Maverick dengan seorang anak perempuan duduk tenang dengan teh di depan mereka. Entah kenapa, tatapan dari anak perempuan itu membuat tubuh Amora gemetar. Dirinta merasakan hal yang aneh, mual bahkan pusing. Sesaat Amora merasa lemas, bahkan tak bisa menopang badannya sendiri.


"Diana...."