Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 35 : Awal Mula yang Kacau



Beberapa hari setelah kejadian itu, semuanya berjalan normal. Atas permintaan Amora, Tremy tidak menceritakan pada Thedelso.


Kelas bermulai seperti biasa. Saat ini pelatihan pedang antara Amora dan Tremy. Gerakan lincah Amora lebih seimbang dengan menggunakan senjata kecil seperti belati ataupun pisau. Meskipun Amora sekarang sudah remaja, tetap tinggi badan dan kekuatan fisiknya tidak bertambah jauh. Meskipun Abigail melihat kekuatan spirit Amora tambah berkembang.


Begitu pula dengan kutukan dari Diana. Thedelso makin terlihat lemah, begitu pula saat dia berdekatan dengan Amora. Perasaan tersingkir tidak bisa Amora hentikan, meskipun berulang kali Edelweis mencoba untuk menjelaskan.


"Fokus!" teriak Tremy mengibaskan pedangnya pada Amora.


"Ah... Ha... Itu tidak adil! Saya lebih bisa menggunakan belati daripada pedang yang panjang ini, sedangakan kamu bisa Tremy!" teriak Amora tetap mencoba untuk menyerang Tremy.


"Anda bisa menggunakan ini," ucap Edelweis tiba-tiba datang memperlihatkan sesuatu di tangannya.


Hal itu membuat Amora dengan Tremy terhenti seketika. Melihat Edelweis yang datang membawa hasil dari sebuah senjata yang sudah Amora gambarkan. Sebuah panahan pas dengan pegangan agar lebih mudah.



Amora membulatkan matanya, melihat dengan seksama apa yang di bawa oleh Edelweis. "Tuan Edelweis! Itu ada-"


"Ya, bukankah itu senjata buatan Nona? Saya harap ini seperti yang Nona harapkan."


"Apakah Anda bercandaan! Ini lebih dari sempurna!" teriak Amora mengamati dengan jelas senjata itu.


"Amora, apakah itu yang akan kamu berikan pada Tuan Muda?" tanya Tremy menyela pembicaraan mereka.


Amora tidak sadar jika Tremy masih ada di sana. Amora melihat Tremy dengan wajah gemetar. Memaksakan senyuman nya, "Hehe Tremy kamu masih di sini."


"Bukankah kita baru saja berlatih? Apa yang Anda bicarakan?" tanya Tremy kembali. "Jadi itu yang Anda sembunyikan selama ini?" pertanyaan kembali Tremy lakukan.


Amora Menghela napasnya. Dia tidak bisa mengelak kembali. Amora melihat wajah Tremy, memperlihatkan senjata baru apa yang tengah dia buat.


"Meksipun ini berat tapi ini lebih baik daripada panahan seperti biasa, saya juga mungkin akan membuat senjata yang lebih ringan daripada Pedang seperti itu, ada banyak kejutan Tremy jangan merasa puas hanya karena melihat satu hal ini," jelas Amora dengan senyuman nya.


"Saya tahu, saya harap saya akan banyak kejutan di hari ulang tahun saya," ucap Tremy.


"Baiklah, jika seperti itu saya mohon pamit."


"Tuan Edelweis," panggil Amora menahan kepergian Edelweis. "Apakah nanti malam ayah bisa datang ke ruang makan? Saya ingin berbicara sesuatu. Saya tidak boleh pergi ke ruang kerja ayah, apakah ada sesuatu?" lanjutnya.


Tatapan Amora melihat Edelweis dengan seksama. Edelweis hanya bisa diam, melemparkan pandangannya pada Tremy.


"Saya akan berbicara dengan Tuan Duke nanti, tolong Anda tunggu di ruang makan dan jangan lewatkan makan malam Anda," jawabanya lantas pergi begitu saja.


Amora mengeratkan pegangannya pada senjata yang baru saja di berikan oleh Edelweis. Rasanya dia marah juga curiga dengan gerak-gerik mencurigakan antara ayahnya itu dengan Edelweis.


"Apakah kamu tau Tremy?" tanya Amora memecah keheningan antara mereka.


"Edelweis, ayah, apakah kamu tau Tremy? Mereka itu sangat mencurigakan, sejujurnya saya merindukan kakak," jelasnya.


Tremy hanya diam, tak ada tanggapan apapun. Amora seperti tau jawaban apa di balik diamnya Tremy. Sesaat Amora berjalan pergi untuk masuk tanpa melanjutkan kelas kali ini.


"Masih ada beberapa waktu, Anda ingin berhenti?" tanya Tremy saat melihat Amora melewatinya.


"Saya ada beberapa hal untuk di lakukan, saya akan pergi untuk menyelesaikan senjata ini," jelas Amora.


"Apakah itu belum selesai?" balasnya.


"Sebenarnya sudah selesai, hanya perlu di perhalus agar ini menjadi senjata yang sempurna. Saat kak Chandler datang untuk kedewasaan, saya akan menghadiahkan sesuatu yang benar-benar akan menjadikannya sebagai prajurit yang kuat, bahkan dia tidak perlu takut apapun Bahkan Diana," jelas Amora.


Saat itu Tremy benar-benar terdiam. Senyuman Amora seperti dia tau akan sesuatu yang di lanjutkan. Setelahnya, Amora pergi ke kamar meletakkan senjata itu di ranjangnya. Amora melihat nya sekilas, mengusap pelan.


"Saya ingin kamu di berkati dengan kekuatan suci, melindungi orang-orang yang saya sayangi. Bahkan dari kutukan yang benar-benar buruk sekalipun, untuk seseorang kuat menahannya saya berdoa atas nama dewa inilah yang akan menjadi atas dasar kebebasan kutukan," ucap Amora.


Kedua tangannya menyatu di antara jari-jarinya yang menatu. Tepat menunduk di depan senjata miliknya itu, doa tulus untuk keberhasilan Chandler saat berperang nanti. Meskipun keluarga Thedelso sangat menjaga maskulinitas atas keberhasilan perang terutama untuk lawan dekat. Amora tetap tidak bisa menjamin jika Chandler akan menang berperang nanti. Apalagi saat dia melawan istana tepat di mana ada Diana yang pasti akan licik di sana.


sesaat tiba-tiba sebuah sinar tiba-tiba keluar dari sana. Amora juga membelakak tidak percaya. Tanpa dia sadari dia mulai memberikan berkatnya. Sebuah hal berharga yang dia sembunyikan tanpa dia sadari malah membongkar nya.


"AMORA!" teriak Tremy yang tiba-tiba datang. "Apa yang Anda lakukan!" teriaknya.


"Saya hanya berdoa untuk keselamatan ayah juga kakak, saya tidak melakukan apapun," jawab Amora dengah gemetaran.


"Anda melakukan pemurnian?" tanya Tremy masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Anda tau, Anda harus menyembunyikan ini 'kan?"


"Apa yang akan terjadi? Lagipula saya hanya memberkati," ucap Amora gemetar saat tubuhnya di peluk Tremy.


Entah apa yang terjadi, Tremy terlihat cemas begitu tangannya memeluk Amora. Terlihat wajah pucat Tremy, "Anda tidak tau? Sebena-"


Suara gaduh mulai datang dari halaman luar. Terlihat jelas dari balkon kamar, terlihat banyak orang-orang dengan aura hitam dari orang-orang di sana. Tiba-tiba Amora melihat sesuatu dari sana, itu seperti kesatria hitam yang ada di dalam buku sejerah.


Dalam sejarah yang pernah dia pelajari, dalam sebuah pertempuran akhir antara dewa dan penyihir. Saat sebuah kekuatan di salah gunakan maka yang lainya akan bersiteru. Napas Amora memburu, dia yakin ini adalah kekuatan yang di timbun Diana sejak lama.


"Dia telah datang, ini adalah waktunya," ucap Tremy memperlihatkan apa yang terjadi di depan sana. "Bisakah Anda di sini, lebih baik Anda tidak tertangkap, khususnya ayah Anda," lanjutnya.


"Ayah! Ada apa Tremy!" teriak Amora, tanpa peduli Tremy langsung pergi.


Dalam kamar Amora melihat kekacauan yang ada di luar sana. Melihat Edelweis juga banyak prajurit di sana, termasuk Tremy.


"Airy!" teriak Amora memanggil hewan sihirnya. "Bisakah kamu ke akademi, beritahu kakak, saya membuat kesalahan tolong saya ingin kembali... Saya pikir hal buruk akan terjadi," ucap Amora lirih.