
"Maaf, tapi aku tak mau mati...." Ucapan itu yang telus Amora dengar. Suara lirih dan lembut dalam kegelapan yang pekat.
Beberapa saat kemudian Amora melihat cahaya. Yang sebelumnya dia tak tau tengah membuka atau menutup mata kini sedikit merasa tenang. Cahaya yang lembut dengan samar melihat wajah seorang perempuan.
"Selamat datang malaikat mama, selamat datang," ucapan lembut itu datang dari seorang berambut pirang.
'CALISTA?!' ucapan Amora terkejut dalam batinnya.
Amora tentu saja tau siapa orang itu. Dia adalah visual dari ibunya Amora Thedelso, Calista. Seorang yang lemah dan juga rendahan, tapi selama hidupnya Calista selalu mendapatkan tunjangan dari Duke Thedelso.
'Kenapa aku bisa di sini! Bukankah seharusnya aku mati!' ucapan berulang Amora tapi dia bahkan tak bisa mendengar ucapannya sendiri.
Sesaat kemudian Amora sadar suara yang dia keluarkan hanyalah tangisan. Lidah kecilnya tak mampu untuk mengucapkan kata. Dia bahkan melihat jari-jari kecil dan gemuk, membuat Amora sadar dia tengah menjadi bayi sekarang.
'Apa yang terjadi, apakah aku sudah.... BEREINKARNASI!!!!'
Lima tahun telah berlalu, Amora menjadi gadis yang manis dan cantik. Gen paras rupawan dari Calista dan juga Duke Thedelso tidaklah main-main. Benar, memang Amora belum yakin jika dia bereinkarnasi sekarang, tapi untuk lima tahun ini Amora benar-benar beberapa mencoba kali bunuh diri untuk membuktikan itu. Tentu saja, itu adalah hasil yang gagal membuat Amora menyerah dan memilih menerina nasibnya.
Sejak kecil Calista mengajari Amora membaca dan belajar. Apalagi di kehidupan sebelumnya Amora adalah murid teladan yang bisa masuk ke Universitas terkenal, membuat Amora tidak bisa diam.
"Jadi ibu akan meninggal dua tahun lagi, dan aku tidak bisa menghentikan kematian karena ibu sakit. Stelah itulah Duke Thedelso akan membawaku ke mansion. Delapan tahun kemudian, Duke meninggal...." Gumam Amora dalam perpustakaan gereja.
Calista sadar jika Amora adalah anak yang suka belajar. Akan tetapi dia tak mampu untuk membeli buku, apalagi untuk membuat perpustakaan bagi Amora. Sehingga Calista terus membawa Amora di perpustakaan geraja. Hingga para pendeta di sana menyayangi Calista seperti anak mereka.
'Jika seperti ini terus, aku akan mati lima belas tahun lagi,' batin Amora bergejolak memikirkan dengan serius masa depannya.
Tentu saja Amora tau jika kematiannya, karena itu adalah novel yang dia buat. Berpikir keras bagaimana dia mengubah alur ceritw, tapi sepertinya sia-sia. "Amora, apa yang kamu pikirkan sayang?" panggil Calista membuat Amora tersentak dari pemikirannya.
"Mama...." ucap Amora menanggapi lantas berdiri dan berjalan menuju Calista.
"Mama sudah selesai berdo'a?"
"Sudah, bagaimana denganmu?"
"Heem sudah, tapi Amora masih ingin membaca Amora ingin membawa buku ini," jelas Amora sembari menunjukkan buku yang ada di tangan kirinya.
Tentu saja, buku yang tebal dan berat untuk Amora. Bahkan terlihat dia kesulitan untuk membawanya. Beberapa kali kekehan pelan tercipta dari Calista melihat perilaku manis putrinya.
"Baiklah, kita minta izin pendeta untuk membawa buku lagi," ucap Calista mengambil buku dari tangan Amora.
'Apakah dia sadar, dia akan mati dua tahun lagi Bagaimana sekarang, mama itu memiliki tubuh yang lemah....' batin Amora berbicara.
"Hoho, Amora kenapa ini? Kamu meminjam buku yang berat lagi?" ucap pendeta Caleo. Dia adalah seorang pendeta yang benar-benar dermawan. Jika di pikir lagi, pendeta Caleo tak ada di ceritanya. Mungkin karena Caleo tak memiliki hubungan dengan tiga tokoh utama. Dia hanya memiliki hubungan dengan Calista dan Amora, itu bahkan tidak di sebutkan namanya dalam cerita.
"Apa ini, 'Cara untuk hidup panjang dan menyembuhkan penyakit dalam?' kamu benar membaca ini Amora?" tanya Caleo dengan wajah yang kebingungan.
Bagaimana tidak, umur lima tahun untuk membaca buku yang berat seperti itu sangat tak wajar. Meskipun Amora masih tak kehilangan IQ serta ingatan masa remajanya di masa lalu.
"Benar, Amora ingin membuat mama panjang umur. Di rumah hanya ada Amora dan mama, jika mama sakit Amora akaj merawatnya," penjelasan panjang nan polos dari Amora.
Dia benar-benar lelah saat bertemu dengan orang lain. Jiwa introvert Amora tak bisa dia bohongi. Saat di perpustakaan, tempat yang tenang menurut Amora adalah hal yang paling nyaman.
Calista, tak memiliki kerabat ataupun sudara. Dia bahkan tak memiliki nama belakang. Di anggap sebagai wanita rendahan, apalagi saat dia melahirkan anak tanpa status. Grand Duke Thedelso, adalah salah satu dari sekian banyak laki-laki yang terpikat dengan kecantikan Calista. Berjanji untuk tidak tamak akan harta, membuat Calista tak pernah mau di persunting oleh Thedelso.
"Amora...." panggil Calista saat mereka tengah ada di perjalanan pulang.
"Hm? Mama butuh sesuatu?"
"Tidak ada, mama bahkan sangat bersyukur sekarang karena Amora menjadi anak mama. Amora, nanti saat ada paman yang mengaku sebagai ayahmu datang, kamu harus ikut dengan dia ya?" jelas Calista perlahan.
Amora membuka matanya. Dia kenal betul kalimat itu. Kalimat yang dia tulis menjelang kematian Calista. Akan tetapi ada hal aneh, umur Amora barulau lima tahun. Dia jelas-jelas menuliskan jika Calista meninggal saat usianya tujuh tahun.
"Mama... Mama tak akan sakit, Amora akan menjaga mama...." ucap Amora sembari menguatkan genggamannya. Saat itulah Amora sadar, jika telapak Calista sedikit dingin. 'Tidak mungkin! Ini terlalu cepat! Kematian Calista lebih cepat apakah kematian ku juga?' gumam Amora dalan hatinya. mencoba untuk tenang seolah tak ada apa-apa.
Sudah seminggu Calista demam dan sakit. Amora di larang untuk mendekati kamarnya. Beberapa maid dari mansion Grand Duke Thedelso juga datang untuk merawat Calista juga Amora. Tak bisa di pungkiri jika Duke Thedelso mencintai Calista, tapi karena status mereka membuat merka tak bisa bersama.
"Mama.... Apakah mama akan wafat?" tanya Amora yang masih polos. melihat ke jendela dengan orang-orang yang berlalu lalang.
"Tidak, nyonya baik-baik saja Anda tak perlu khawatir," jelas perempuan wanita muda sekitar umur dua puluh lima tahun. jarak beberapa tahun lebih tua dari ibunya Amora.
"Tapi Emma, kenapa dada Amora sesak?" kalimat singkat itu langsung membuat Emma diam.
Ya, pelayan itu adalah Emma. Pelayan yang paling di percaya Duke Thedelso, kinu merawat Calista juga Amora. Mata Emma berkaca-kaca, mencoba untuk tegar apalagi di hadapan Amora.
Emma tidak tau jika yang membuat Calista meninggal adalah dia. Dia yang membuat cerita bengis dengan akhir yang sadis. Kemalangan yang selalu datang bagi Amora, bahkan di saat terakhirnya.
'Tunggu...Kereta kuda itu seperti.... Jangan-jangan!'
"EH-! NONA!!!! Anda akan kemana!"