
Amora berjalan dengan perlahan. Di sebelahnya Tremy masih menggenggam tangannya lembut. Sejujurnya Amora ingin bilang jika itu mengganggu nya, tapi dia tak berani bilang pada Tremy.
"Anda menyukai bunga? Nona Duke muda?" pertanyaan Tremy sebagai pembuka di antara percakapan mereka.
"Saya cukup suka, apalagi dengan bunga Edelweis dan juga Azalea," jawab Amora berusaha untuk menanggapi setenang mungkin.
Tremy harusnya sadar jika dirinya tak nyaman. Bukannya malah melepaskan tangan, Tremy justru terlihat bahagia. Anak yang pemalu dan jarang tersenyum kini malah menampiknya pada Amora. Perlahan tangan Tremy yang menggenggam tangan Amora mulai di kuatkan. Membuat Amora sedikit terkejut dan membulatkan mata.
"Maaf, saya terlalu senang. Saya pikir Anda tidak akan sadar, ternyata Anda sudah merasa tak nyaman, kenapa Anda tak bilang?" kalimat panjang dari Tremy dengan pertanyaan sebagai penutupnya.
'Kamu harusnya sadar diri woy! Aku udah gak nyaman malah gak di lepasin! Dasar tiran biadap!' teriakan batin Amora nembuat dirinya hanya bisa menghala napas. Dia melihat tangan Tremy yang masih menggenggam tangannya kuat. "Saya hanya tak ingin Tuan Schwarz muda merasakan tidak nyaman, sebuah ketidaksopanan jika saya menolak anak dari guru saya. Melihat dari sikap saya, sudah beruntung Nyonya Schwarz mau mengajari saya," jawaban Amora tetap mencoba untuk tenang.
Amora mengatakan itu dengan melihat bunga-bunga Azalea yang tumbuh di sekitar mereka. Melihat nya perlahan ingin menggapai tapi tidak bisa. Terlebih lagi saat dia melihat Tremy di sebelahnya. Tatapan aneh tiba-tiba tercipta dengan rona di dua pipinya.
"Tu-"
"Pffft, maaf atas ketidaksopanan saya," ucapnya tiba-tiba menahan tawa. Membalikkan wajahnya akan tidak terlihat oleh Amora. Lantas dia mulai mengusap air mata yang sedikit keluar dari sana. Menampilkan senyuman bahagia.
'Jika di pikir lagi Tremy itu tampan, sayang kenapa kamu harus menjadi tiran.' batinnya Amora melihat wajah Tremy dan terkagum dengannya. 'Oh-! Aku yang membuatnya menjadi seperti itu,' di balas tatapan murung kembali saat dia ingat dimana dia saat ini.
Novel cinta segitiga yang dia buat sendiri. Tanpa pikir panjang menggunakan namanya sebagai tokoh sampingan. Membuat kehidupan yang sangat berat bagi Amora, di kelilingi oleh ketidak beruntungan.
"Anda memikirkan apa Nona Duke?" tanya Tremy kembali membuat Amora kembali dari lamunannya.
"Tidak ada, hanya merasa Tuan Schwarz muda itu sangat tampan," jawaban Amora sebenarnya mencari alasan.
Dia tak tau bagaimana mencari alasan agar terlihat natural. Dia pikir saat mencari alasan dia membicarakan adalah dengan membicarakan hal yang tidak penting dalam pikirannya.
"Apakah kebiasaan mu seperti itu?" suara berat yang tiba-tiba datang dalam sebuah kalimat pertanyaan.
Amora lantas melihat langsung ke arah Tremy. Terlihat dirinya juga terkejut saat Amora melihat nya dengan cepat.
"Apa ada masalah nona?" tanya Tremy melihat Amora juga kebingungan.
"Maaf, tidak ada," jawab Amora masih sama.
Tiba-tiba Amora merasakan Tremy melepas tangannya. Akhirnya, dia bisa merasakan tangannya yang satu lagi, untuk saling memgusap dan tidak membiarkan Tremy untuk memegangnya kembali.
Tremy lantas pergi ke depan Amora, memperlihatkan kedua tangannya. "Kabar Anda tentang sanit tingkat satu bukanlah hal yang tabu, tapi setelah saya memegangi tangan Anda benar-benar tangan yang luar biasa, saya merasakan spirit yang menyejukkan dari sana. Saya yakin, kekuatan Anda pasti akan sangat berguna di masa depan," Jelas Tremy panjang.
Setelahnya Tremy mulai melipat kedua tangannya. Menempatkan telapak tangan yang saling mengepal satu sama lain. Beberapa saat kemudian dia membukanya perlahan, terlihat cahaya mulau keluar dari sana. Setelah itu cahayanya mulai menyebar, tepat seperti kekuatan spirit saat dia lihat di gereja. Tepat saat Diana mulai memberkati, ataupun saat spirit miliknya keluar.
"Tidak, ini bukanlah spirit, tapi sihir. Anda mau mencobanya?" tanya Tremy mengulurkan tangannya tepat saat Amora memundurkan badannya.
Entah apa yang dia lakukan, tatapan Amora ingin percaya tapi ketakutan. Dirinya hanya bisa berdiam, rasa penasaran dalam dirinya membuat dia hanya bisa mengulurkan tangan dengan perlahan.
Saat menyentuh cahaya itu rasanya menyakitkan. Sesuatu seperti menusuk ke dalam tepaknya, mungkin seperti sengatan listrik kecil membuat dia hanya bisa merintih.
"Anda merasakannya bukan? Ini sihir, bagaimana pun juga memiliki efek. Akan tetapi, milik Anda berbeda rasanya nyaman dan menyejukkan itulah perasaan spirit yang sebenarnya," jelas Tremy.
Sesaat cahaya itu hilang, di selingi dengan wajah Tremy yang kembali tersenyum. Dirinya mulai memegangi tangan Amora kembali. Melangkah kakinya kembali. Amora hanya terdiam melihat apa yang terjadi.
"Anda pasti terkejut, entah Anda tau atau tidak tapi Diana itu bukanlah sanit, dia penyihir," ucapan Tremy membuat Amora langsung terdiam membeku. "Nona?" panggil Tremy setelah melihat Amora terdiam.
Di sisi lain tangan Amora mulai gemetar. Entah apa yang terjadi. Pikirannya tentang Diana itu menakutkan, beberapa hal membuat dia merinding. Di sisi yang bersamaan Tremy memegangi tangan Amora yang tengah memeluknya tepat di tangannya. "Anda pasti tau maksud saya," ucap Tremy kembali.
"Apa yang kamu tau?" tanya Amora mulai berbicara setelah lama mendengarkan bualan Tremy seperti tidak ada habisnya.
"Saya tau, karena ibu saya juga seorang penyihir. Saat awal kemunculan Diana, ibu saya bilang itu hanyalah rekayasa, dan yang tidak masuk akal bagaimana kekuatannya sihir Diana benar-benar tidak menyakitkan seperti sihir lainya, tapi saat ada kejadian itu setelah Anda pingsan ibu sama mendatangi Anda melihat kekuatan dalam diri Anda tau jika Anda adalah pemegang spirit yang sebenarnya."
"Apa yang kamu katakan, kenapa sangat membual!" kata Amora dengan nada menungginya.
Tentu saja Amora tidak percaya dengan ucapan dari Tremy, karena dirinyalah yang membuat alur cerita itu. Jelas-jelas jika pemegang Spirit itu adalah Diana bukan Amora.
'Ada apa ini! Semakin lama kenapa banyak hal yang tidak masuk akal!' batin Amora melihat Tremy dengan wajah terkejut juga tidak percaya.
"Saya tau apa yang Anda pikirkan, jelas itu terlihat dari wajah Anda. Anda pikir ibu saya kemari hanya untuk mengajari etika? Tidak itu lebih dari yang Anda kira," ujar Tremy.
Tangan Amora kini malah gemetar, pikirannya kacau tentang alur cerita yang semakin rumit.
"Bagaimana bisa, jika seperti itu kenapa kamu tidak bilang langsung ke Yang Mulia Maverick? Keluarga Schwarz pasti sangat di percaya oleh keluarga kerajaan."
"Tidak bisa, karena sihir Diana. Bisa di bilang istana sudah di kutuk. Semuanya tidak akan sadar, kecuali satu orang Pangeran Theodor."
"Bagaimana bisa?"
"Mungkin itu pertanyaan yang sama yang akan saya tanyakan pada Anda. Bagaimana bisa? Bukankah Anda sudah memberkati pangeran sebelumnya?"
Amora teringat lagi, kejadian gereja saat kekuatan spiritnya mulai menyebar. Apakah itu pemberkatan yang dia buat, bahkan Theodor yang satu tinggal dengan Diana itu tidak bisa Diana pengaruhi. Di lain sisi, pergolakan batin Amora tentang percaya atau tidak pada Tremy, calon Tiran di novel itu.
'Tremy, bisakah saya percaya? Saya tak ingin kecewa, tapi bisakah saya percaya?'