Become The Adoptive Sister In My Novel

Become The Adoptive Sister In My Novel
CHAPTER 33 : Anda Sudah Dewasa



[Saya tau ini berat bagi kamu Chandler, apalagi saat kamu di haruskan untuk pergi ke akademi. Saya harap kamu bisa mengerti saat saya meminta kamu untuk menjaga adikmu sendiri. Jika bisa kamu lulus untuk lebih cepat, ayah merasakan kuktukan ini semakin mengikat. Meskipun ada Marchiones juga Tremy, tapi masih belum bisa mengangkat kutukan ini. Semakin cepat kamu lulus itu semakin baik, saat ayah rasa ayah semakin berbahaya bagi Amora]


Bacaan dalam sebuah surat yang di berikan oleh Duke Thedelso. Dalam asramanya Chandler membaca, melihat buku-buku yang di tumpuk dengan rapi. Sebagian besar adalah buku untuk menguasai sihir, sebagian yang lainnya adalah cara bagaimana untuk menyembuhkan setidaknya untuk menghalau kutukan.


Belum genap Chandler delapan belas tahun. Dia belajar dengan giat berusaha untuk menguasai apa yang di butuhkan secepat mungkin karena dia juga tau jika mansion sekarang tidak akan baik.


"Anda seharusnya tidak perlu memintanya ayah, hanya menahan hingga saya datang maka semuanya akan baik-baik saja," gumam Chandler menutup surat itu.


Di lain sisi, Amora tengah sibuk untuk persiapan pesta. Dia akan pergi dengan Tremy, sosok yang di idam-idamkan oleh wanita seusianya. Amora ingat betul saat Tremy masih kecil, tepat awal mereka bertemu. Tremy berubah banyak baik dari wajah hingga bentuk tubuh.


"Emma.... Kamu pikir ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Amora melihat penampilannya sendiri.


"Anda bilang apa! Ini waktunya Anda bersinar di kalangan bangsawan."


"Kamu tau saya tidak terlalu butuh pengakuan itu Emma."


"Tapi Anda memerlukannya!"


Jawaban Emma dengan penuh semangat, membara terlihat jelas di wajah Emma. Dia senang mendandani Amora karena sebelumnya Amora belum pernah untuk pergi ke pesta. Untuk pertama kalinya Emma merasakan jika Amora sudah siap untuk menjajahi dunia kelas atas.


Setelah selesai Amora melihat dirinya sendiri pada cermin. Cantik, sungguh dia mengakui itu. Dirinya belum pernah di dandani seperti ini. 'Benar, apakah ini benar-benar aku! Astaga... Kenapa aku membuat diriku sendiri begitu sempurna,' batin Amora melihat dengan seksama dirinya sendiri.


Amora menjadi sedikit merindukan ibunya. Awal kematian menjadi sebuah cerita perjalanan dia menjadi Duchess muda. Orang-orang yang awalnya tidak menganggap Amora, kini melihat nya dengan hormat.


'Calista ya, di pikir-pikir aku lama tidak pergi ke makamnya, mungkin lain kali aku akan pergi kesana,' ucapan lain dari batin Amora.


Sesaat Amora berbalik, melihat Emma yang menatap nya dengan kagum. Beberapa pelayan lain juga hanya terdiam saat melihat kecantikan Amora.


"Emma?" tanya Amora bingung dengan tatapan itu.


"Nona, Anda sudah benar-benar dewasa. Dulu Anda hanyalah seorang anak kecil dengan buku besar di tangannya, sekarang Anda benar-benar sudah pantas untuk menjadi Duchess muda," jelas Emma berkaca-kaca menatap Amora.


Amora melihat Emma dengan gugup. Di kehidupannya dulu dia tidak pernah merasa seberuntung ini. Dia hanyalah seorang mahasiswi dengan gaya tulisnya. Amora bahkan masih tidak percaya saat melihat dirinya sendiri.


Setelah itu Amora keluar, terlihat Tremy sudah menunggunya di kereta kuda. Amora melihat sekitar, tidak melihat Thedelso sama sekali. Wajah Amora seketika berubah masam, terlihat dia sedih.


"Nona, Anda kenapa?" tanya Emma sesaat sebelum Amora pergi.


"Ayah di mana? Dia tidak ada untuk mengantar ku, padahal aku akan pergi dengan seorang laki-laki sekarang," ucap Amora.


"Tuan Duke memiliki pekerjaan, saya akan memintanya untuk menyambut Anda saa Anda pulang," kata berat dari seorang yang Amora kenal.


"Pergilah, jangan biarkan pasangan Anda menunggu. Pastinya, Tuan Tremy bisa menjaga Anda di pesta nanti. Nona Tuan Duke berpesan, selalu ingatlah kamu anak siapa," kalimat yang di keluarkan oleh Edelweis membuat Amora sedikit lega.


"Terimakasih Tuan Edelweis," Ucapanya dengan senyuman. Lantas Amora masuk, di dalam dengan Tremy yang duduk di depan Amora.


Amora melihat tangannya sendiri, sebuah spirit ada di dalam dirinya, tapi dia masih tidak bisa untuk berbuat apa-apa.


"Anda tidak bisa tidur Nona Amora?" tanya Tremy sesaat membuyarkan pikiran Amora.


"Tidak ada, tapi Tremy apakah semuanya akan baik?"


"Apa maksud Anda?"


"Saya merasa tidak ada yang baik, saya takut sesuatu yang buruk akan terjadi," jelas Amora. Amoral mengalihkan pandangannya, menatap keluar memalui jalan yang indah untuk di pandang.


"Jika sesuatu terjadi, tidak apa-apa maka saya akan melindungi Anda, itulah janji saya," ucapan dari Tremy yang membuat Amora tak percaya.


Matanya melebar apalagi saat Tremy duduk di depannya. Ingatkah jika mereka masih ada di dalam kereta. Tremy meletakkan tangan Amora di tangannya. Sedikit mengecup untuk menyatakan keseriusan dalam pembicaraan nya. Debaran jantung itu tidak bisa Amora tahan, apalagi saat melihat wajah tulus Tremy yang bisa dia lihat dengan jelas.


Sesaat Amora langsung menarik tangannya. Dia tau dalam etika itu tidak lah baik. Itu dapat menyinggung perasan lawan dari pembicara. Itu bisa di lihat Amora dari wajah Tremy sekarang. Di lihat dia terkejut saat Amora melakukan itu. Dirinya pasti tak percaya, seperti sebuah penolakan bagi Tremy.


"Ma-maaf atas kelancangan saya," ucap Tremy terbata merasa tidak enak.


"Saya minta maaf juga, Tremy saya tak bermaksud seperti itu hanya saja... Kamu adalah teman ku, aku tidak bisa membiarkan teman ku yang beharga mengucapkan janji seperti itu. Tremy, kamu adalah seorang ksatria bukan? Harusnya kamu tau betapa pentingnya dalam sebuah janji," jelas Amora secara perlahan berharap tremy akan mengerjakan.


Saat itu Tremy hanya terdiam, menundukkan kepalanya ke bawah. Meremas sedikit pakainya, lantas melihat ke arah Amora.


"Tidak bisakah Anda tau seberapa beharganya Anda, jujur sebuah kehormatan bagi saya jika saya mengucapkan hal seperti itu untuk orang seperti Nona," ucap Tremy melihat Amora.


Saat itu Amora melihat senyum Tremy, senyuman yang lebih tulus baru saja Amora lihat. Dia belum pernah melihat senyuman itu sebelumnya. Tremy, Abigail, Amelia, mereka semuanya adalah bangsawan yang terkenal akan wajahnya yang dingin. Memiliki aura untuk menekan, tapi sekarang dia berhasil melihat Tremy dengan wajah tersenyum manis seperti itu.


"Saya hanyalah anak Duke, tapi terimakasih Tremy saya benar-benar berterimakasih."


Sudahi percakapan mereka. Hanya diam menjadi suasananya terlihat lebih suram. Hingga saat mereka sampai di tempat tujuan. Putri dari seorang Viscount yang mengadakan pesta. Ini pertama kalinya bagi Amora, terlihat jelas ia gugup apalagi dengan tangan gemetarnya.


"Anda baik-baik saja?"


"Ti-tidak~ mungkin aku akan mati sekarang...." ucap Amora langsung seolah kehilangan keseimbangannya.


'Sial baukan aku bisa mati sebelum masuk ke pesta,' batin Amora bergembira ingin menangis.