
"Amora, lihat ini ya dia adalah kakakmu Chandler," ucap Duke Thedelso sembari menepuk pundak Chandler.
Wajahnya lebih tampan dari dugaanku, memang tak salah menjadikan Chandler sebagai Visual second male. Akan tetapi, Amora juga sedikit khawatir akan kematiannya sendiri. Dengan melihat kematian Calista yang lebih cepat, bahkan dia tak bisa tau jika dirinya akan mati di umur duapuluh atau kurang dari itu.
"Amora?" panggil Duke Thedelso menepuk pundaknya. Melihat Amora yang diam ketakutan, menundukkan kepala ke bawah, lantas meremas gaun miliknya. "Chandler memang sedikit kaku dan terlihat menyeramkan, tapi dia adalah anak yang baik. Dia akan menjagamu nanti selasa di sini," lanjutnya.
Amora kembali melihat ke arah Duke Thedelso, senyumannya yang menenangkan membuat kehangatan bagi Amora. Dirinya kembali melihat kearah Chandler, dengan ragu melayangkan tangan untuk bersalaman.
"S-saya adalah Amora, salam kenal kak Chandler...." ucapan Amora lirih tapi juga pelan.
"Saya tidak tau, tapi ayah saya harap ini yang terakhir kalinya," balasan Chandler langsung memalingkan wajahnya, berjalan ke dalam. mansion tanpa menjaba tangannya.
Amora hanya diam, matanya berbinar melihat telapak tangannya sendiri. Lantas Duke Thedelso memegangi Amora, menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana menurut mu Amora?" tanya Duke Thedelso.
"Me-Menakutkan...." lirik Amora.
"Menakutkan? Haha, itu lebih baik saya yakin dia menyayangimu juga," ucap Duke Thedelso mengusap kepala Amora.
Chandler Thedelso, adalah putra tunggal dari Duke Thedelso. Dia tak pernah memiliki saudara karena orang tuanya memang tak berniat untuk memiliki anak lagi. Pernikahan politik menjadikan mereka hanya suami istri dalam kontrak. Hingga umur Chandler tiga tahun, ibunya meninggal dunia. Tak ada perasaan kehilangan bagi Chandler karena dia juga tak pernah di rawat oleh ibunya. Emma, dialah yang selama ini merawat Chandler, tapi kini merawat Amora.
Beberapa hari telah berlalu, kehidupan Amora tak banyak berubah. Duke Thedelso benar-benar menjadikan mansionnya seperti rumah bagi Amora.
Dalam kamar Amora melihat keluar, perasaan sepi di tempat baru membuat dia bingung harus apa. Dia melihat banyak yang lalu lalang seperti mereka tau harus melakukan apa.
"Nona? Anda perlu sesuatu?" tanya Emma yang tiba-tiba datang untuk menawarkan sesuatu.
"Tidak, saya bosan Emma," balasan singkat Amora dengan nada ketus seperti anak kecil.
"Pftt... Jika seperti itu, Anda mungkin ingin minum teh? Saya akan menyiapkannya untuk Anda," tawar Emma.
Emma ingin menjadikan Amora sebagai putri bangsawan. Melihat Amora yang hanya di kamar tak akan membuat perubahan besar.
"Saya tak pandai minum teh, itu hanyalah minum teh dengan biskuit Amora sering melakukan itu dengan mama."
"Jika begitu Anda bisa melakukannya dengan. keluarga Anda sekarang."
"Dengan Tuan Duke?"
"Benar, begitu juga dengan Tuan Chandler."
Amora terdiam sesaat mendengar jawaban itu dari Emma. Saat dia bilang akan mengundang Duke Thedelso bisa saja Amora menyetujuinya, tapi jika Chandler Amora tak yakin untuk itu.
"Anda tak perlu khawatir, Anda tau saat Anda pindah kemari Tuan Chandler sangat penasaran tentang Anda. Dia hanya tak tau bagaimana cara mengungkap kasih sayangnya," jelas Emma untuk menenangkan Amora.
"Heem baiklah, Amora akan pergi ke tempat kerja ayah. Emma, bisa tolong persiapkan tehnya di sana?" tanya Amora menunjukan ke arah kursi di tengah taman.
Seringai suka tercipta dari bibir Emma. Perlahan dia bisa membuat Amora membuka hatinya. Mungkin cukup lama, tapi tetap saja itu membahagiakan Emma bahagia.
Lantas Emma langsung menundukkan kepalanya. Pergi untuk mempersiapkan pesta minum teh yang Amora inginkan.
Perlahan kaki kecil Amora berjalan ke ruang kerja Duke Thedelso. Dirinya melihat berbagai ayah, sedikit berjinjit dan bernyanyi.
"Luas sekali... Rumah ini...." ucapan Amora sembari terus berjalan dengan sedikit melompati ke kanan dan kiri.
"AWAS!" teriak seseorang dari belakang Amora. langsung memegangi kerah baju Amora, membuat dia tertahan untuk jatuh. "Jika kamu berjalan bisakah lakukan dengan benar?" tanya orang itu.
Diam adalah Chandler yang entah darimana datang dan berada di belakang Amora. "Ka-kakak...." ucapan Amora terbata.
Mendengar ucapan itu Chandler langsung terdiam. Dia melihat ke arah Amora lama, lantas memalingkan wajahnya. Terlihat seperti orang yang kesal, kemungkinan Chandler tak suka di panggil dengan sebutan itu oleh Amora.
"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya seorang pelayan lain mengusap kepala Amora.
Itu adalah Barier, pengawal pribadi milik Chandler. Ayahnya adalah pengawal besar mansion Duke. Berteman akrab dengan Duke Thedelso, sehingga dia menjadikan putranya sendiri sebagai penagwal Chandler.
Dalam ingatan Amora, dialah orang yang selalu melindungi Amora. Bahkan di saat-saat terakhirnya dialah yang berani menentang Chandler untuk tidak membunuh Amora.
Amora menundukkan kepalanya. Tak kuasa menahan tangisan, orang yang selama ini berjasa untuk nya ada tepat di depan Amora. "Te-Terimakasih...." ucap Amora terbata dengan remasan gaun dan tatapan di ke bawah.
"Ah-? Nona tak masalah itu adalah tugas saya, sekarang nona jangan menangis.... Astaga imut sekali sini saya pe-"
"Jauhkan tanganmu dari dia Barier!" ucapan Chandler langsung menjadi sekat di antara Barier juga Amora.
Amora tak menyangka jika Chandler memegangi tangannya. Amora langsung membulatkan wajahnya, sesekali melihat ke arah Chandler dan tangan mereka berurutan.
"Kenapa?" tanya Chandler paham dengan ekspresi terkejut Amora.
"Hahaha! Lihat bahkan Nona Amora terkejut saat Anda melindunginya," ucapan Barier dengan nada ejekan dan candaan.
"Diamlah!"
"Maaf, jadi Nona Amora Anda mau kemana? Sepertinya Anda sangat bersemangat tadi," lanjut Barier sedikit membungkuk lantas tersenyum manis.
"Amora ingin bertemu dengan ayah," jawab Amora.
"Tuan Duke? Sepertinya dia akan pergi ke istana, saya mendengar panggilan raja sebelumnya," jelas Barier.
Amora lantas melebarkan matanya. Ingatan akan kematian Duke Thedelso membuat Amora langsung cemas. Benar saja dugaan Amora, semuanya bisa berubah meskipun itu adalah novelnya.
"Pergi?!" tanya Amora lagi dengan nada terkenal.
"Iya dia akan pergi ke istana," jawab Barier santai.
Sesaat Amora langsung melepaskan tangannya pada Chandler. Bahkan tak meminta izin apapun. Dirinya langsung saja berlari cepat, meskipun dengan kaki kecilnya masih terlihat lambat.
Di sisi lain Chandler menatap tangannya sendiri. Dia tak memalingkan wajahnya dari sana. Beberapa kali degukan saliva Chandler lalukan. Hal yang aneh di lakukan oleh Chandler membuat Barier langsung tertawa geli.
"Anda sepertinya tertarik dengan Nona Amora?" tanya Barier dengan kekehan tawa.
"Diamlah! Saya hanya pikir dia akan jatuh lagi jika berlari sepertinya itu, lebih baik kita menyusulnya."
"Tak apa-apa, lagipula dengan kaki kecil itu, dia tak akan jauh, Tuan Chandler tak perlu cemas."
"Kamu mengucapkannya dengan nada yang aneh."
"Bagaimana tidak, para pelayan tau jika Anda tertarik dengan Nona Amora bahkan di saat dia datang kemari. Tapi tuan, Anda juga sadar 'kan? Nona Amora itu adik Anda?"